Permintaan Terakhir Papa

Permintaan Terakhir Papa
Penggoda


__ADS_3

Nero menarik kain yang menutup tubuhnya. Dingin. Lantai rumah sakit ini benar-benar seperti es yang membuatnya menggigil. Ada selembar kasur tipis sebagai alas tapi tetap saja masih terasa dinginnya.


Setelah pulang dari klubnya Raka, dia bergegas ke rumah sakit. Melihat kondisi Bram yang belum ada perubahan sama sekali akhirnya dia memutuskan menginap di sini.


Gila! Dia tidur bersama dengan yang lainnya di ruang tunggu khusus untuk keluarga pasien yang dirawat instensif. Di rumah sakit ini, ada disediakan satu ruangan seperti itu. Nero sempat berkenalan dengan seorang ibu yang kemudian berbaik hati meminjamkannya bantal dan kain sarung.


Dan di sinilah dia, bercampur baur dengan yang lain. Entah kenapa rasanya malas mau pulang ke rumah. Melihat Tania yang selalu marah membuat hatinya sakit.


Sebenarnya dia bisa menginap saja di hotel atau di apartemen, tapi Nero lebih mengkhawatirkan kesehatan Bram, walaupun sebenarnya sudah ditangani dengan cukup baik.


Seorang owner sebuah perusahaan pasti mendapat perlakuan yang berbeda bukan? Mengapa dia harus khawatir?


"Mas, Mas. Ada yang nyariin." Seorang ibu menggoncang bahu Nero. Masih sangat mengantuk sebenarnya, tapi dia paksakan untuk bangun.


Nero tersadar lalu mengucek matanya. Dia melihat sekeliling, ketika mendapati Ovi berdiri di depannya, dia tersentak.

__ADS_1


"Eh," Nero tertunduk malu. Tampilannya semrawut dengan rambut acak-acakan dan bekas ileran.


"Enakan tidur disini ya, dari pada di kamar sendiri?" Ovi meledeknya. Dia berdiri tegak sambil memperhatikan sekeliling. Tak bisa dia bayangkan jika tidur bersama dengan orang lain yang bahkan tidak dikenal.


"Eh, kamu. Kirain siapa." Dia mengusap wajahnya, juga menguap beberapa kali karena masih mengantuk.


"Kamu nggak pulang tadi malam? Nginap di sini?" tanya Ovi.


"Iya, nih. Khawatir sama Mas Bram. Jadi nginep aja," jawab Nero. Lalu dia berdiri, dan membersihkan bajunya yang kotor.


Nero tersenyum kecut. Baru saja hubungannya membaik, dan menikmati malam pengantinnya. Kini sudah rusak lagi semuanya. "Aku mau pulang dulu. Mau ganti baju." Dia berpamitan.


"Iya, sana! Kamu bau. Keringat campur alkohol." Ovi menutup hidungnya.


Lelaki itu berjalan menjauh dari keramaian orang di ruangan itu. Dia bahkan tak perduli dengan tampangnya yang kusut, bahkan sama sekali tak menanyakan kabar istrinya pada Ovi.

__ADS_1


Secepatnya harus sampai ke rumah. Dia harus ke kantor pagi ini, ada tanggung jawab yang harus diselesaikan.


* * *


Dengan perlahan masuk ke dalam ruangannya. Hari ini dia memutuskan pergi ke kantor. Dalam kondisi begini, perusahaan tidak boleh di tinggal sama sekali.


Dia tetap harus memantau semuanya, proyek, karyawan, omset. Bahkan hari ini mereka sepakat mengadakan rapat direksi dadakan. Membahas semua pengelolaan perusahaan selama Bram terbaring koma di rumah sakit.


Nero yang memimpin rapat. Tidak banyak orang karena memang sebagian ada yang sedang ada keperluan di luar negeri. Jadi mereka mengadakan teleconference di ruang rapat.


Setelah berjam-jam akhirnya mereka memutuskan segala sesuatunya. Posisi Bram akan di gantikan Tania anaknya. Walaupun belum berpengalaman, tanda-tangan Tania di butuhkan untuk beberapa dokumen dan perjanjian kerjasama dengan klien.


Cerita ini telah dicetak buku. Mohon di approve untuk dihapus sebagian partnya. Bagi yang berminat bisa hubungi 08115584815


__ADS_1


__ADS_2