
Dengan langkah pasti lelaki itu berjalan memasuki ruangannya. Sapaan dari para karyawan yang lewat hanya dijawabnya dengan anggukan.
"Selamat pagi, Pak." Nisa menyambut kedatangan bosnya dengan senyum merekah.
"Pagi." jawabnya cuek, kemudian membuka pintu.
Ruang kerja kerja berukuran lima kali enam meter itu terlihat apik dengan sentuhan interior yang berkelas. Simple tapi nyaman dan sejuk dipandang. Ada sebuah meja kerja lengkap, juga satu set sofa serta buffet yang menyediakan berbagai macam snack untuk para tamu. Tak lupa sebuah kulkas yang berisi berbagai macam minuman dingin.
Dulu ada foto Saskia di ruangan itu, tapi setelah kematiannya, Nero tak lagi menyimpannya. Kenangan indah bersama sang almarhumah istri kini tersimpan apik di dalam hatinya. Tak akan terganti oleh kehadiran Tania, karena mereka mempunyai tempat tersendiri yang tidak bisa dicampur adukkan.
Melihat sikap Nero yang dingin, Nisa segera membuka tas. Menyemprotkan sedikit parfum yang baru dia beli, lalu membuka dua kancing sebelah atas dress-nya, menampakkan belahan dada yang menantang. Tangannya mengambil sisi kecil dari dalam tas untuk merapikan rambut dan memperbaiki make-up.
Lalu, dia mengambil setumpuk kertas dan membawanya ke hadapan Nero.
__ADS_1
"Permisi, Pak. Ini ada yang mau di tanda-tangani." Dia mengetuk pintu dan dengan santainya berjalan masuk.
"Ya," jawab Nero.
Matanya masih fokus menatap layar di depannya. Ada beberapa kesepakatan yang harus dia tinjau ulang berdasarkan deal terakhir dengan beberapa kontraktor. Kontrak kerjasama yang baru harus segera diselesaikan, tinggal memikirkan cara bagaimana agar istrinya mau ikut terlibat dalam proyek ini.
Memikirkan Tania membuat kepalanya tambah sakit. Sudah dua minggu ini mereka saling mendiamkan. Nero sudah berusaha meminta maaf tapi entah kenapa istrinya masih saja merajuk.
Malam itu ketika suasana sudah mulai membaik, hampir saja dia dan Tania akan bercumbu. Tiba-tiba telepon dari Ovi berdering mengatakan bahwa Bram mulai memberi respons, dengan gerakan tangan.
Batal jadinya.
"Pak, ini berkasnya." Nisa menyodorkan kertas-kertas itu.
__ADS_1
Nero mendongak dan terpana melihat penampilan Nisa yang berbeda kali ini. Harum tubuh merasuk indera penciumannya. Lekuk tubuhnya sengaja ditampakkan dengan memakai dress selutut berkancing depan yang formal, tapi pas di tubuh. Ketika gadis itu menunduk menyerahkan berkas, dua belahan di dadanya terlihat sangat menggiurkan.
Nero menelan ludah. Kenapa disaat-saat begini godaan datang bertubi-tubi? Dulu rasanya setelah kematian Saskia dia bahkan kehilangan rasa dengan wanita. Tapi semenjak menikah dengan Tania, dia seperti kecanduan. Jika saja istrinya mau, dia bahkan ingin mencumbunya setiap hari. "Duh sayang kenapa kamu menyiksa mas seperti ini," rutuknya dalam hati.
"Kenapa bengong, Pak?" tanya Nisa. Berpura-pura tidak tahu padahal senang bahwa sedari tadi mata Nero tak berkedip memandang dirinya.
"Engg, eng-ga apa-apa." Lelaki itu mengambil berkasnya kemudian membubuhkan tanda tangan.
"Bapak ada lagi yang mau saya kerjakan?"
Gadis itu menyampirkan rambut panjangnya yang terurai di bahu sebelah kiri. Kemudian tangannya turun memainkan rambut yang tepat di depan dadanya.
Cerita ini telah dicetak buku. Mohon di approve untuk dihapus sebagian partnya. Jika berminat bisa hubungi nomor 08115584815
__ADS_1