Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
11


__ADS_3

"Apa yang ingin kamu tau?" tanya Hanz dengan tatapan menusuk masuk ke retina Ara.


"Semuanya, siapa dia? Seperti apa hubungan mas dengannya dan dimana dia sekarang." jawab Ara serius walauoun sebenarnya kini janyungnya sudah berdetak gugup tak karuan.


Hanz pun terdiam dengan pikiran yang ingin sekali marah pada Ara yang telah mengulik luka yang coba ia sembunyikan jauh dalam lubuk hatinya. Tapi ia pun tak tega dan merasa yang di lakukan Ara adalah benar. Bagaimana pun juga Ara adalah istrinya dan berhak tau masa lalunya itu.


"Sahara adalah mantan calon istri mas. 4 tahun yang lalu kami hampir saja menikah jika saja dia tak mengalami kecelakaan di hari pernikahan kami dan akhirnya meninggal." Ara meneguk salivanya dengan paksa. Ia menatap wajah suaminya yang kini memancarkan tatapan tampak meremang menerawang jauh ke masa lalu. Seperti enggan menjelaskan namun tetap saja Hanz menjelaskannya.


"Kecelakaan itu terjadi karna hujan lebat turun yang mengakibatkan jalanan licin dan berkabut. Itu adalah awal dari segalanya setiap penderitaan datang menghantui mas setiap kali hujan turun Ara," ucap Hanz sendu sembari menunduk sedih. Rasa nyeri menggerogoti dadanya dan perasaan bersalah itu menghampirinya kembali. Yah, selama ini ia memang selalu menyalahkan diri atas kepergian Sahara. Ketidakmampuannya melawan takdir membuatnya selalu membenci diri karna tak ada yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan Sahara saat itu.


Ara pun terdiam dengan sejuta rasa menohok di hati. Tak terbayang olehnya bagaimana Hanz selama ini menderita karna hal itu, tak terbayang bagaimana rasanya Hanz selama ini di hantui kesakitan itu. Dan ia sudah membuka kembali luka itu, ia sudah membuka kembali hal yang seharusnya terkubur dalam itu. Sungguh ia menyesal karna telah menanyakan itu.


"Apa mas masih mencintainya?" meskipun ia tau jawaban dari pertanyaannya tapi tetap saja ia menanyakan itu, tetap saja mulutnya tak tahan untuk bertanya. Bodoh sekali dirinya.


"Selama ini tak ada alasan untuk mas tidak mencintainya. Senyumannya, kebaikannya, kelembutannya, setiap hal dalam dirinya selalu membius mas hingga terperangkap dan jatuh cinta padanya. Tapi..." Hanz menghentikan ucapannya kemudian beralih menatapnya. Dan beberapa detik kemudian bisa ia rasakan telapak tangan besar suaminya sudah membelai menyapa wajahnya dengan lembut.


"Setelah kamu hadir dalam hidup mas, perlahan segala hal tentang Sahara memudar dari ingatan mas. Entah mengapa semua hal dalam diri kamu membuat mas sejenak melupakannya. Mas tak tau kenapa rasanya sangat nyaman saat bersama mu hingga kamu terus-terus mempengaruhi mas hingga setiap detik sulit bernafas rasanya saat kamu jauh dari mas. Mas nggak tau kenapa bisa seperti itu dan mas sudah hampir gila memikirkan jawabannya. Mas tidak tau apa yang salah dalam diri mas Ara. Mas takut kehilangan mu makanya mas mencoba menyembunyikan hal ini dari mu, mas takut kamu pergi hanya karna kamu tau masa lalu mas dan trauma mas yang mungkin tak akan bisa sembuh. Mas takut kamu tak bisa menerima mas yang tidak sempurna ini."


Sebulir air mata menetes membasahi wajah Ara mendengar penuturan suaminya. Tiba-tiba rasa bernama bahagia membuncah kuat mengiringi sesuatu yang mengalir dalam dadanya. Walaupun itu tak spesifik tapi penjelasan Hanz membuatnya yakin kalau suaminya juga ternyata mencintainya, karna ia juga merasakan hal yang sama seperti penjelasan Hanz. Ia pun merasakan setiap perasaan yang di gambarkan Hanz dalam kalimatnya tadi dan walaupun ia bukanlah orang berpengalam dalam cinta tapi ia tau itu rasanya jatuh cinta. Sayangnya suaminya sepertinya tak yakin untuk menyatakan itu cinta hingga ia berputar-putar dengan penjelasan rumit yang betapa bodohnya itu.


Cupp...


Entah dapat keberanian dari mana, Ara pun tak tau hingga ia berani mengecup bibir suaminya untuk menyalurkan rasa bahagia di hatinya. Hanz pun terdiam membisu dengan mata melotot kaget.


"Makasih mas, makasih karna sudah mengatakan ini pada ku. Aku senang mas jujur tentang masa lalu mas dan aku ingin mengatakan kalau ketakutan mas selama ini itu salah mas. Karna selama ini tak pernah terbesit sedikitpun di hatiku untuk pergi dari hidup mas kecuali jika mas yang meminta ku pergi. Dan aku, aku bisa menerima masa lalu mas dan aku berjanji akan membantu mas untuk keluar dari kungkungan rasa menyakitkan itu. Aku akan ada dan berusaha untuk membawa mas keluar dari penderitaan itu. Aku janji."


Hanz menatap Ara dengan mata berkaca-kaca. Katakanlah ia lemah karna hanya kata-kata sederhana Ara saja sudah membuat hatinya terharu luar biasa hingga ingin menangis rasanya. Ia senang karna Ara bersedia menerima masa lalunya dan bahkan berjanji untuknya, ia tak menyangka kalau Tuhan begitu baik padanya hingga menitipkan jodoh yang sempurna seperti Ara untuknya yang banyak sekali kekurangan.


Tanpa pikir panjang lagi ia segera meraih Ara dalam pelukannya dan mengecupi puncak kepala Ara berkali-kali dengan sayang. Ia bersyukur pada kesalahan malam itu karna akhirnya ia bisa merasakan hari ini. Dan entah mengapa ia juga bersyukur karna adanya trauma itu, karna trauma itu adalah awal dari ia bisa bertemu bidadari secantik Ara hingga akhirnya mereka bersama. Ia tak menyangka kesalahan yang dulu ia kira aib besar itu menjadi sesuatu hal yang pada akhirnya ia syukuri terjadi.


"Ara, mas juga janji akan berusaha melupakan itu untuk kamu. Mas akan berusaha melupakan Sahara, meskipun mas tak bisa janji kalau itu akan cepat. Tapi mas yakin kalau mas bisa dengan bantuan kamu yang terus berada di sisi mas," ucap Hanz yakin membuat senyuman di wajah Ara yang terbenam di dada bidang Hanz pun terbit.


"Makasih mas, aku cinta mas."

__ADS_1


Degg...


Pengakuan yang kali ini tak kalah hebohnya membuat hati Hanz bergelora riang dan ingin sekali membuatnya lompat-lompat kegirangan mendengarnya. Tapi benarkah telinganya tak salah dengar?


"Ara, mas tadi kayaknya lagi mimpi deh. Masa mas dengar kamu bilang cinta?" ucap Hanz tak yakin sembari melepas pelukannya dan menatap wajah istrinya bingung.


"Mas nggak mimpi, aku memang mencintai mas," ucap Ara yang membuat Hanz detik itu juga tersenyum lebar membuncah bahagia kemudian menerjang bibir Ara dengan bibirnya dengan cepat tanpa pikir panjang. Memang benar sesuatu dalam dirinya merespon dengan begitu senangnya pernyataan yang Ara katakan dan ia tak bisa menahan diri untuk tak menyalurkan perasaan itu pada gadisnya.


"Eumpphh..." Ara memukul-mukul dada Hanz yang tak ada habisnya ******* bibirnya kasar dan rakus dengan waktu yang lumayan lama hingga membuatnya hampir kehilangan oksigen. Hanz pun melepas ciumannya kemudian melap sisa-sisa air liurnya di bibir Ara dengan ibu jarinya lembut.


"Maaf sayang, mas terlalu senang kamu bilang cinta sama mas," sesal Hanz membuat Ara mengangguk malu-malu dengan wajah merona merah. Hanz jadi gemas melihatnya dan ingin sekali menghadiahi ciuman yang lebih dalam lagi pada Ara. Tapi ada satu hal yang harus ia pastikan lagi.


"Jadi sekarang bagaimana? Kamu mau kan publikasikan hubungan pernikahan kita dengan mas?" tanya Hanz dengan penuh harap. Namun pertanyaan berhasil membuat Ara terdiam tanpa kata.


"Maaf mas, ak-aku belum siap," jawab Ara dengan rasa bersalah kemudian menunduk takut. Takut Hanz kecewa padanya, namun kenyataannya memang ia sudah membuat Hanz kecewa.


"Kenapa lagi?"


"Ak-aku belum siap menghadapi keluarga mas. Aku..., aku malu mas karna pernikahan kita terjadi karna hal yang memalukan di mata masyarakat," aku Ara membuat Hanz terdiam tak habis pikir.


"Aku tetap nggak bisa mas, maafkan aku. Aku nggak mau merubah pandangan mereka pada ku sekarang dan aku nggak mau kecewain keluarga mas yang udah baik banget sama aku. Kasi aku waktu ya mas, pleasee....," mohon Ara. Hanz pun menghembuskan nafas pasrah.


Bagaimanapun ia tak bisa memaksakan kehendak pada Ara. Ia tau Ara pasti punya ke kahwatiran sendiri dalam hatinya meskipun ia rasa Ara hanya buang-buang waktu dan tenaga saja mengkhawatirkan hal yang tak ada gunanya itu, karna ia tau jelas seperti apa keluarganya.


"Baiklah, mas nggak akan paksa kamu. Tapi mas juga butuh kepastian kamu, sampai kapan pernikahan ini akan ditutupi. Mas nggak mau terlalu lama menunggu," tegas Hanz membuat Ara tampak berfikir.


"Mungkin sampai aku lulus sekolah dulu mas. Setelah itu aku janji kalau aku nggak akan nolak lagi," ucap Ara meyakinkan, tapi Hanz tampaknya malah terkejut dengan ucapannya.


"Lama sekali itu Ara? Kamu masih 1 tahun beberapa bulan lagi buat lulus. Apa kamu mau dalam kurun waktu itu keluarga mas maksa mas nikah terus jodohin mas sama orang lain? Kamu tau kan kalau umur mas sudah 27 tahun dan selama ini keluarga mas selalu desak mas buat nikah? Dan lagi..., mas juga gak yakin dalam waktu itu mas bisa nahan diri sama kamu," ucap Hanz yang memelan di kalimat terakhir. Ara pun mengernyit heran mendengarnya, ia tak mengerti maksud dan arah dari perkataan Hanz yang terakhir.


"Mas kan selama ini udah biasa nolak mas. Cuma setahun aja mas, bentar lagi kami juga udah ujian kenaikan kelas. Gak sampai setahun lebih lagi kok. Dan masalah nahan diri, aku yakin mas pasti bisa menahan diri agar tak memberitahukan ini pada siapapun," ucap Ara yang malah membuat Hanz mengumpat dalam hati. Ara tak mengerti maksud menahan diri yang ia sebutkan tadi, bukan menahan diri dari mulutnya, tapi menahan hasratnya. Karna bagaimanapun akhir-akhir ini tubuh Ara sudah membayang-bayang di otaknya, ia sudah hampir gila rasanya karna hanya bisa menatap Ara tanpa bisa melakukan lebih dari fantasy yang ia harapkan. Ia tak yakin ia mampu. Saat ini saja ia sudah sangat bergairah berdekatan dengan Ara padahal gadis itu tak melakukan apapun untuk menggodanya. Lalu bagaimana ia bisa bertahan selama itu?


"Baiklah, mas akan kasi kamu waktu sampai lulus. Tapi ada syaratnya." Ara menatap Hanz penuh tanya, syarat?

__ADS_1


"Apa syaratnya mas?"


"Kamu harus layanin mas sebagai istri dengan baik," Hanz menyeringai senang dengan pikirannya. Dan kali ini, ia tak akan mengalah.


"Baiklah, aku akan layani mas dengan baik," ucap Ara dengan senyum mengembang di bibir mungilnya yang teramat menggoda itu di mata Hanz.


Tapi tunggu dulu, sepertinya ada yang salah dengan Ara, Hanz bahkan heran mengapa Ara bisa dengan begitu mudah mengiyakan permintaannya. Apakah kali ini otak polos Ara berjalan lagi? Apa ia tak mengerti dengan maksud kata-kata Hanz itu yang sebenarnya?


"Bagaimana cara kamu layanin mas dengan baik?" pancing Hanz untuk menest pemikirannya. Dan benar saja, kali ini wajah Ara tampak kaku dan tak tau harus mengatakan apa. Bibirnya bungkam dan sepertinya otak cantiknya itu tak berfungsi dengan baik dan terus membuatnya berfikir apa yang harus ia lakukan dengan melayani dengan baik.


"I-ia mas, gimana caranya aku layani mas dengan baik? Kalau aku bantu mas nyiapin baju, sepatu, dasi kalau mau kerja nanti yang lainnya curiga kalau liat. Kalau aku bantu sendokin sarapan mas nanti malah makin curiga lagi. Kalau aku nungguin mas pulang kerja terus bantu bawain tas mas juga nanti akan buat mereka tanya-tanya. Terus gimana dong caranya aku layanin mas dengan baik?" tanya Ara yang kebingungan sembari mengutarakan konsekuensi dari melayani dengan baik yang ada di otak polosnya itu.


Hanz pun menghembuskan nafas tak habis pikir dengan cara berfikir Ara yang kelewatan polos. Kadang ada kalanya ia akan gemas sendiri dengan tingkah dan pemikiran polos Ara, tapi kadang juga ia akan kesal sendiri jika ia sedang sangat serius seperti saat ini.


"Kamu nggak usah lakuin itu buat jadi istri yang baik layanin mas. Kamu cukup layanin mas secara biologis saja," ucap Hanz santai namun berhasil membuat Ara membelalak terkejut bersamaan dengan rasa gugup yang menghampiri. Kali ini ia mengerti.


Dulu sebelum kemari ibunya banyak memberikan nasehat padanya agar berlaku sebagai istri yang baik dan menurut perkataan suami. Ibunya juga banyak memberikan pelajaran tentang berbagai hal yang baik untuk menyenangkan hati suami termasuk dengan membantunya dalam menuntaskan kebutuhan biologisnya. Jika suami meminta haknya itu maka ia tak boleh menolak jika tidak sedang halangan. Tapi bukankah kebutuhan bilogis itu adalah sex? Bukankah Hanz pernah mengatakan kalau tak akan ada sex di antara mereka?


"Tap-tapi kan mas, dulu mas pernah bilang nggak ada sex," tutur Ara pelan dengan wajah menunduk takut.


"Itu sebelum kita memutuskan untuk serius Ara, bukankah sekarang kita akan serius menjalani rumah tangga ini hmm?" Ara pun mengangguk cepat. Ia memang serius, tak ada candaan. Tapi apakah harus seperti itu jika serius? Tak bisakah ia menolak?


"A-aku bisa nolak nggak ma.."


"Nggak," ucap Hanz cepat memotong ucapan Ara. Ia tak mau kalah kali ini.


"Tap-tapi..., bagaimana kalau hamil mas? Aku kan masih mau sekolah," ucap Ara polos membuat Hanz tersenyum simpul merasa ia menang. Perkataan Ara seperti semacam persetujuan untuknya.


"Mas akan pake pengaman, nggak akan hamil." Ara pun bergidig menatap Hanz ngeri, membayangkan itu membuat jantungnya memompa kuat, dadanya berdesir aneh dan rasa panas terasa begitu nyata melingkupi sekitar wajahnya. Ia malah jadi teringat terakhir kali mereka berciuman sangat panas di kamarnya. Ia yang masih di balut handuk dan Hanz yang malah ambil kesempatan terus menyerangnya dengan ciuman menuntut yang akhirnya membuatnya terbuai.


"Tap-tapi mas, kalau keluarga mas tau gimana?"


"Udah sayang, jangan banyak tapi lagi yah. Serahkan semua sama mas, kita pasti aman dan nggak akan ketahuan. Pokoknya kamu harus setuju, ya?" Ara pun tak punya alasan lagi untuk menolak, perkataan ibunya terngiang di otak tentang ia tak boleh mengecewakan suami karna itu dosa. Ia pun akhirnya menghembuskan nafas pasrah, kemudian ia pun mengangguk pelan membuat senyuman bahagia tersungging lebar di wajah Hanz.

__ADS_1


Dengan sekali tarikan kuat Hanz pun sudah membenturkan kepala Ara di dada bidangnya kemudian mengecupi kembali kepalanya berkali-kali.


....


__ADS_2