
Hari ini Ara mulai masuk sekolah bersama Anisa. Ia berada di kelas XI IPA 1. Kelas yang sama dengan Anisa. Mengapa ia loncat kelas? Karna ketika Ara lolos test akselerasi, guru-guru sangat kagum dengannya. Ara adalah gadis yang pintar, bahkan ketika mereka memberikan soal yang lebih rumit dari yang seharusnya pernah Ara pelajari sebagai tamatan SMP, gadis itu tetap bisa mengerjakannya dengan waktu yang tepat dan jawaban yang tepat. Ara itu cerdas, dan sangat sayang jika ia harus memulai dari awal kembali sementara ia sangat pintar. Mereka yakin meskipun Ara loncat kelas, pasti gadis itu bisa mengejar ketertinggalannya meskipun nanti tugas-tugas yang akan Ara hadapi tak akan se-simpel yang kan temannya hadapi. Karna Ara akan mendapatkan tugas yang lebih banyak dan sulit.
Hari pertama ia masuk sekolah, banyak mata yang tertuju menatapnya. Terutama kaum pria yang menatap seperti penuh pemujaan, jujur ia risih dibuatnya. Sementara Anisa yang memang sedari awal sudah yakin jika hal ini akan terjadi hanya bisa menanggapinya dengan senyuman.
"Welcome my School primadona Ara," ucap Anisa senang membuat Ara mengernyit. Primadona? Ingin sekali ia tertawa mendengar julukan yang tidak pas itu padanya.
"Anisa jangan bilang gitu ah, aku bukan primadona. Aku itu malah upik abu," ucap Ara merendah.
"Sttt..., Jangan bilang upik abu juga dong Ra, udah ahh, masuk kelas yuk," ajaknya dan Ara pun mengikutinya.
Ara pulang sekolah sore pukul 17.00 wib. Anisa sudah pulang terlebih dahulu tadi siang saat jam pelajaran usai. Yah, mereka berbeda karna Ara harus mengikuti pelajaran tambahan karna statusnya sebagai siswa loncatan.
Kini ia sedang di gerbang menunggu ojek lewat, tapi sudah setengah jam tak ada juga ojek disana. Namun sebuah mobil mewah yang sangat ia kenali berhenti tepat di depannya. Itukan mobil suaminya?
Dan benar saja, sesaat kemudian Hanz keluar dari mobil tersebut yang masih lengkap dengan jas kantornya kemudian menghampirinya. Tak lupa seyuman yang melekat di wajah pria itu menambah kadar ketampanannya yang luar biasa.
Ara menatapnya heran, selama seminggu ini mereka sama sekali tidak bertegur sapa, tepatnya setelah kejadian malam itu. Sebenarnya ia selalu ingin menyapa dan berbicara pada Hanz duluan. Ia ingin berterimakasih karna Hanz sudah membayar hutang orang tuanya dan pria itu juga mengijinkannya sekolah, tapi ia takut pria itu akan marah karna merasa terganggu, ia juga lebih banyak tau diri sejak mengetahui tentang Sahara malam itu meskipun tidak secara rinci.
"Mas mau ngapain ke sekolah ku? Anisa sudah pulang mas," ucap Ara polos membuat Hanz mengacak rambut panjangnya yang ter'urai dengan gemas.
"Aku tidak mencari Anisa kemari. Aku mau menjemput istri ku," ucapnya membuat wajah Ara merona malu.
"Tapi mas, aku bisa pulang sendiri kok."
"Mana buktinya? Buktinya kamu masih disini."
"Iyaa, tapi sebentar lagi juga ojek pasti datang."
"Ojek biasa itu jarang lewat disini. Karna sekarang jamannya ojek online. Makanya aku jemput kamu, takutnya kamu kemalaman nunggu ojek."
"Ojek online apa mas?"
"Ojek yang dipesan melalui aplikasi online. Karna kamu belum punya ponsel, jadi aku yakin kamu pasti nungguin ojek yang biasa. Makanya aku tadi beliin kamu ponsel, biar kapan\-kapan kalau aku gak sempat jemput, kamu bisa pesan ojek atau taksi online," jelas Hanz membuat Ara menatapnya tak percaya.
"Mas benaran beliin aku hp? Nggak usah mas, keluarga mas udah banyak bantu aku. Aku juga belum sempat berterimakasih karna mas udah bayar hutang keluarga aku, aku nggak mau semakin banyak ngerepotin mas."
"Stttt...., kamu ngomong apa sih? Kamu udah buat aku seperti orang lain saja. Aku itu suami kamu, jadi sudah tanggung jawab ku untuk memenuhi semua kebutuhan kamu. Pokoknya aku gak mau dengar kamu bilang gitu lagi, ngerti?"
__ADS_1
"Ia mas, maaf. Dan makasih untuk semuanya. Aku nggak tau lagi harus berterimakasih seperti apa."
"Kalau kamu mau berterimakasih, kamu harus menurut sama ku. Mengerti?"
"Iya mas."
"Yaudah, sekarang masuk ke mobil."
Ara pun masuk ke mobil setelah Hanz membukakan pintu mobil untuknya. Di dalam mobil Hanz menunjukkan ponsel keluaran baru yang ia beli untuk Ara, lalu ia memberikan ponsel tersebut pada gadis itu.
Sebenarnya ada alasan lain mengapa ia membelikan ponsel itu untuk Ara. Sebenarnya seharian ia tak bisa tenang di kantor memikirkan Ara yang mulai masuk sekolah hari ini. Seminggu ia mendiamkan gadis itu membuatnya jadi sangat merindukan Ara entah mengapa. Ditambah lagi Anisa menelfonnya dan mengatakan kalau hari ini banyak cowo tampan mendekati Ara di sekolah, entah apa alasan adiknya tersebut mengatakan itu padanya yang jelas karna hal itu, ia jadi semakin tak tenang dan ingin sekali rasanya menghubungi Ara. Tapi ia ingat kalau Ara sama sekali tidak memiliki ponsel. Karna itulah ia berinsiatif menjemput Ara dan menanyakan pada Anisa jam berapa Ara pulang. Ia juga melarang Anisa untuk menjemput Ara karna tadinya Anisa yang akan melakukan itu. Dan jadilah ini semua terjadi.
"Mas, ini mahal sekali. Ara gak butuh yang canggih\-canggih sekali kok mas. Yang seperti hp ayah sama ibu di kampung aja, pokoknya bisa sms sama nelfon."
"Sttt, kalau ponsel seperti itu gimana bisa pesan ojek online? Lagian ayah sama ibu di kampung juga udah beli ponsel baru kok yang seperti ini. Tadi aku yang suru biar bisa video call an sama kamu."
"Video call an itu apa mas?" aduh Hanz lupa kalau istrinya ini gaptek. Ara memang pintar dalam pelajaran, tapi ia masih belum sepenuhnya paham teknologi modern.
"Kamu sering lihat Anisa kan kalau lagi bicara di telfon trus tatap muka sama orangnya langsung? Itu dia namanya video call," jelas Hanz mencoba sabar.
"Mereka tau, disana ada kok yang ngajarin."
"Siapa mas?"
"Aku udah buat anak buah aku disana. Mereka juga bantuin ayah sama ibu memulai usaha tokonya."
Ara terkejut mendengar orang tuanya punya usaha toko.
"Usaha toko mas? Tapi kan ayah sama ibu nggak punya modal."
"Sttttt...., kamu nggak usah pusingin itu yah. Semua sudah aku atur, pokoknya ayah sama ibu di kampung nggak akan susah lagi. Kamu juga disini harus bisa bersosialisasi. Oke?"
Ara menatap suaminya terharu, air mata pun lolos membasahi wajah cantiknya membuat Hanz gelagapan dan bertanya dimana salahnya?
__ADS_1
"Stttt..., kok kamu nangis sih? Kamu marah yah sama ku? Maafin aku yah Ara"
"Nggak kok mas, Ara justru sangat berterimaskasih sama mas. Mas udah banyak banget bantuin keluarga ku. Aku benar\-benar berterimakasih." tangisnya sesenggukan membuat Hanz segera menarik istrinya tersebut kepelukannya, tak perduli jika tangis Ara akan membahasahi bajunya.
"Kamu nggak usah berterimakasih terus sama ku yah, itu sudah sewajarnya aku lakuin sebagai suami kamu. Kalau kamu merasa berterimakasih sama ku, aku minta kamu jangan nangis lagi. Oke?" Ara pun mangguk\-mangguk di dada bidang suaminya.
"Sekarang kita pulang yah."
"Ia mas. Tapi nanti ajarin aku gunain ponselnya juga ya mas." Hanz pun tersenyum kemudian mencubit wajah Ara kiri dan kanan dengan gemas.
"Iaa, nanti aku ajarin."
Setelah sampai di rumah, si kembar Rena dan Reno pun segera berlarian pada mereka berdua. Kini si kembar sudah memiliki pengasuh baru. Namanya Ratih, seorang janda tanpa anak. Tapi meskipun begitu Ratih sangat menyayangi si kembar. Siapa sih yang tidak mudah sayang dengan kedua anak-anak yang lucu ini?
"Tante Ala sama uncle pulang sama, yeyyyy," teriak Rena membuat Reno menatapnya tajam sembari cemberut. Anak kecil itu masih menaruh hati pada Ara.
"Uncle, gendong...," pinta Rena manja pada Hanz. Pria itupun segera berjongkok agar Reno menaiki punggungnya seperti biasa, kemudian ia akan menggendong Rena di depan. Ara menatap mereka sambil tersenyum senang.
"Mengapa kalian bisa pulang sama-sama?" Alea tiba-tiba datang dan bertanya mengintimidasi.
"Kami kan searah kak, jadi aku bawa Ara saja sekalian." jawan Hanz mencoba tenang.
"Kamu tau dari mana Ara pulang jam segini?" seakan tak ingin berhenti mencecarnya Alea terus bertanya menyudutkan.
"Tadi Anisa nelfon katanya gak bisa jemput Ara, terus dia minta tolong sama aku karna kebetulan searah." bohongnya yang dalam hti berdoa semoga kakaknya yang cablak ini tidak bertanya lagi, apalagi jika sampai bertanya pada Anisa. Bisa ****** dia.
"Oh yaudah."
"Rena, Reno sana sama bibi. Uncle sama tante Ara mau mandi dulu. Mereka bau asem, ayo turun." ucap Alea pada anaknya yang masih stay menggantung di tubuh Hanz.
"Ya udah deh, Reno main sama bibi aja."
"Lena juga, paman tulunin dong."
Hanz pun akhirnya menurunkan kedua keponakannya tersebut yang langsung di bawa Ratih. Kemudian ia segera berjalan menuju kamarnya dan diikuti Ara yang mengekor di belakang. Sementara Alea menatap kepergian keduanya sambil geleng-geleng kepala.
"Pacaran aja sembunyi-sembunyi," gumamnya yang di dengar oleh Anisa yang tiba-tiba datang.
"Siapa kak?" tanya Anisa
Alea pun sangat terkejut. Tapi akhirnya ia pun menjawab.
"Siapa lagi kalau bukan Hanz sama Ara?"
"Ia kak, aku juga dari awal curiga deh sama mereka. Kayaknya mereka itu punya hubungan diam-diam. Kakak tau nggak, tadi aku nest kak Hanz. Aku telfon dia trus bilang kalau di sekolah banyak cowok tampan naksir sama Ara. Trus dia jawab aku tuh kayak nggak selow gitu, masa dia langsung bentak aku? Trus gak lama kemudian dia nelfon aku lagi nanyain Ara sudah pulang atau nggak? Trus aku bilang kalau aku lagi di jalan mau jemput Ara ke sekolah. Dia malah nyuru aku putar balik, katanya biar dia aja. Alasannya 'kebetulan searah'. Aneh nggak kak?"
"Astagaa..., dia bilang nya sama kakak lain malah. Dia bilangnya kalau kamu nggak bisa jemput Ara makanya kamu minta dia yang jemput. Wahh, kakak kamu pacaran main kucing-kucingan Cha."
"Ia kak, tapi sebenarnya aku senang banget kak. Akhirnya kak Hanz nemuin seseorang yang bisa buka hati dia kembali. Aku harap Ara bisa membuat trauma kak Hanz hilang yah kak."
"Ia amin, kakak juga berharap gitu. Selama ini kakak udah capek liat dia yang setiap saat di liputi rasa trauma. Kakak mau dia mulai hidup baru lagi. Dan kakak lihat sejak kembali dari kampung, dia udah mulai sedikit berbeda dari biasnya."
"Benar kak, tapi aku masih nggak nyangka deh, gadis yang bikin kak Hanz itu berubah Ara. Ara masih sangat muda dan dia bukan termasuk tipe kak Hanz selama ini."
"Mungkin karna itulah Hanz nggak mau publikasi hubungannya sama kita. Mungkin dia masih belum seutuhnya yakin, atau bisa jadi karna dia malu mengakui menyukai gadis seumuran kamu."
__ADS_1
Keduanya pun terkekeh dan tertawa bersama.
....