
Hanz menatap Ara yang kini berdiri tampak bergetar di depannya dengan tajam. Ia sengaja melakukan itu untuk mengintimidasi gadis ini. Dan sepertinya Ara sungguh ketakutan dengan ulahnya. Diam-diam dalam hati ia tertawa geli.
Sedari tadi ia sudah melakukan banyak hal untuk mengerjai Ara, meminta minum, minta dinyanyiin, minta di pijit, minta di kipas walaupun ada ac, dan banyak hal lagi yang tak masuk akal asalkan ia puas melihat Ara tampak menuruti semua permintaannya. Mengapa kemarin gadis ini tak menurut saja sih saat akan ia sentuh? Apakah harus celaka dulu baru dia mau dan ketakutan seperti itu?
"Mengapa berdiri di sana? Duduk disini. Kamu harus menjaga ku," perintahnya membuat Ara melangkah mendekat dengan wajah menunduk.
"Rasanya dingin, naikkan selimut ku," perintahnya lagi.
Sebenarnya Ara merasa aneh dengan permintaan Hanz yang sangat plinplan. Tadi panas sampai minta di kipasin, sekarang dingin sampai minta selimutnya di naikin. Tapi ia tetap saja diam, ia masih merasa bersalah atas kecelakaan Hanz dan ia pun masih sangat khawatir akan kesehatan suaminya. Ia rasa itu mungkin efek dari sakitnya makanya mood Hanz tak baik. Dan lagi, setau Hanz kan saat ini ia pengasuh, jadi wajar pria itu menyuru-nyurunya seperti itu.
Ara pun segera menaikkan selimut Hanz yang hanya sebatas perut kini sampai ke dada. Tapi setelahnya pria itu tetap bergumam dingin.
"Ini masih dingin. Bantu hangatkan aku." Ara bingung bagaimana caranya menghangatkan Hanz. Tapi akhirnya ia paham, di gosok-gosokannya kedua tangannya kemudian menyentuhkannya ke wajah suaminya membuat Hanz tampak memejamkan matanya nyaman. Ara pun tersenyum senang melihatnya, sepertinya cara ini ampuh.
Namun beberapa saat kemudian Hanz membuka matanya dan menatapnya protes. Ada apa? Bukankah tadi sudah tampak nyaman.
"Masih dingin," ketus Hanz membuat Ara kikuk. Ia tak tau lagi cara seperti apa agar Hanz merasa nyaman dan tak kedinginan lagi.
"Ak-aku tidak tau lagi caranya menghangatkan tuan," ucap Ara merasa bersalah.
Hanz pun menyeringai senang, ini yang ia tunggu-tunggu. Ia pun segera menggeser badannya sedikit ke samping dan menyisakan ruang di sebelahnya.
"Tidur disini, peluk aku," perintah Hanz sembari memukul-mukul tempat di sebelahnya. Namun perintah itu malah membuat Ara menatapnya tercengang. Apakah itu wajar? Hanz kan sedang sakit, Bagaimana kalau ia tak sengaja menyenggolnya nanti?
"Jangan tuan."
"Kenapa?"
"Nanti aku nyenggol luka tuan gimana?"
"Udah sini, aku bilang sini ya kesini. kamu harus nurut perintah aku. Aku ini tuan mu," Ara pun menghela nafas.
"Tuan ini sempit, ranjangnya kecil. Cuma muat buat satu orang aja."
"Kamu kasian sama diri sendiri atau sama aku?"
"Sama tuan, soalnya aku kalau tidur lasak. Lihat tangan sama kepala tuan, gimana kalau nanti aku gak sengaja kena in, tuan bisa kesakitan," ucap Ara dengan nada khawatir.
"Makanya kalau kasian sama aku mending kamu nurut atau aku akan mati kedinginan nanti."
Ara pun bungkam tak tau harus menjawab apa lagi. Ia menghela nafas pasrah kemudian mengangguk walau berat.
"Udah sini berbaring dengan ku."
__ADS_1
Ara pun menurut saja, kemudian berbaring di samping Hanz dan menarik selimut untuk mereka berdua.
Namun berbaring seperti ini dengan jarak sesempit ini dengan Hanz membuat jantung Ara berdegub kencang, ia sampai takut kalau Hanz mendengarnya.
Ara menelan salivanya kasar. Entah mengapa ia jadi segugup ini. Belum pernah ia tidur sedekat ini dengan Hanz meskipun dulu saat di vila mereka pernah tidur satu ranjang.
"Tuan kalau merasa nggak nyaman bilang aja tuan," ucap Ara yang coba menormalkan diri dan suasana yang tiba-tiba tampak canggung diantara mereka atau memang hanya ia saja yang merasakannya.
"Bukannya kamu yang nggak nyaman?" Oh tidak, apakah Hanz menyadari kegugupan nya?
"Ak-aku biasa aja tuan."
"Tapi jantung kamu berdetak kuat banget tuh. Kamu gugup yah dekat aku?" Hanz menggoda Ara.
"Ng-nggak tuan, aku nggak gugup. Oh ya, tadi tuan ingin di peluk kan. Ak-aku akan peluk," ucap Ara mengalihkan pembicaraan. Namun ia tak tau kalau Hanz justru menyeringai senang mendengar ucapannya.
"Tapi sekarang yang kedinginan itu sepertinya kamu, tubuh kamu terasa sekali bergetarnya. Bagaimana kalau aku saja yang peluk kamu?" Ara meneguk salivanya kaget mendengar Hanz. Bagaimana bisa Hanz menawarkan hal seperti ini pada pengasuh? Apakah suaminya memang se-playboy ini tanpa sepengetahuannya?
Beberapa detik kemudian Ara sudah merasakan tubuhnya di tarik menempel pada tubuh Hanz. Pria itu melingkarkan tangannya di pinggangnya dan mereka begitu dekat atau bisa di bilang tak ada celah diantara mereka. Jantungnya sudah berpacu semakin kuat, dadanya semakin menyesakkan dan berkali-kali ia sudah meneguk salivanya gugup.
Hanz membenamkan kepala Ara di dada bidangnya dan ia menyerukkan kepalanya di sela-sela leher Ara untuk menghirup aroma vanila khas tubuh Ara yang selalu sukses membuatnya berdesir dan hasratnya bangkit tiap kali di dekat istrinya seperti kini.
Brengsek! Sialan!
"Ara," panggil Hanz dengan suara serak.
"I-ia tuan," jawab Ara gugup.
"Kamu bisa rasakan?"
"Ra-rasakan apa?"
"Rasakan adik kecil ku di bawah sana."
Ara pun lagi-lagi meneguk salivanya. Ia tak menyangka kalau Hanz akan bicara sefrontal ini padanya. Padahal kan Hanz taunya ia pengasuh, jika tadi pembantu atau pengasuh lain yang ada disini, apakah Hanz masih akan melakukan hal yang sama pada mereka?
"Tu-tuan, it-itu... Aku tak mengerti tuan," ucap Ara mencoba berbohong walaupun sebenarnya ia tau maksud Hanz, ia pun bisa rasakan tanpa Hanz ucapkan. Tapi baginya lebih baik pura-pura tak tau atau akan bahaya jika mereka tetap membahas ini. Lagi pula saat ini ingatan pria itu hilang tentangnya dan ia bahkan tak tau kapan Hanz akan pulih. Seperti kata dokter, bisa saja itu permanen dan ia rasa ia tak akan sanggup menghadapi itu.
Namun Ara merasakan Hanz seperti menggeram kesal mendengar jawabannya. Ada apa dengan suaminya? Apa kecelakaan itu juga mengambil sebagian kewarasannya dan mengubah sikapnya jadi mesum begini?
Walaupun ia tau kalau sebelumnya Hanz kadang suka mencari-cari kesempatan padanya, tapi ia masih senang karna Hanz melakukan itu padanya. Tapi kini? Walaupun itu dia, tapi saat ini statusnya bukan istri, tapi sekali lagi harus ia ingatkan kalau ia pengasuh di mata Hanz. Wajarkah seorang pengasuh tidur dengan tuannya seperti ini?
"Ya sudah kalau kamu nggak ngerti tidur aja. Jangan gerak-gerak seperti itu."
__ADS_1
Ya, emang sedari tadi Ara banyak gerak-gerak karna gelisah di dekat Hanz. Tapi ia tak tau kalau hal itu justru semakin memancing hasrat suaminya berkembang.
"Tap-tapi aku nggak bisa tidur tuan, aku takut nanti kalau aku tidur aku akan melukai tuan. Kalau tuan sudah tidak dingin lagi, lebih baik aku tidur di sofa saja ya tuan," ucap Ara sembari mendongak dan sedikit melonggarkan pelukan Hanz agar ia bisa melihat wajah suaminya, namun Hanz menggeleng cepat tak setuju.
Bagaimana bisa ia membiarkan istrinya tidur di sofa tanpa selimut dan kedinginan sepanjang malam? Tidak, lebih baik rasanya ia menahan sakit saja jika Ara menyenggol lukanya daripada ia membiarkan Ara tidur di sofa.
"Disana tak ada selimut."
"Tidak apa tuan, aku baik-baik saja tanpa selimut, ak-aku nggak bisa tidur disini sama tuan. Aku takut melukai tuan dan aku tidak nyaman."
Baiklah, Hanz menghembuskan nafasnya pasrah.
"Kalau begitu bawalah selimut ku. Kau saja yang pakai," ucapnya membuat Ara menggeleng dengan cepat.
"Jangan tuan. Tuan lagi sakit, seharusnya tuan yang memakai selimut. Aku baik-baik saja tuan tanpa selimut."
"Kalau begitu jangan tidur disana, kau hanya boleh pilih satu di antara kedua pilihan yang ku berikan itu."
Ara pun menghela nafas berat. Jika ia tidur di sofa, mana tega ia membiarkan suaminya kedinginan seperti itu. Apalagi Hanz sedang sakit. Tapi kalau disini juga bersama Hanz, ia takut akan melukainya. Tapi tak ada pilihan lain, lebih baik ia tidur disana dan berjaga sepanjang malam agar tidak melukai Hanz.
"Baiklah, aku tidur disini tuan." Hanz pun tersenyum senang dengan keputusan Ara. Yah, memang itu yang ia harapkan.
"Tapi kamu jangan banyak gerak lagi ya. Aku sangat tersiksa dengan itu." Ara yang tak tau maksud Hanz sebenarnya pun mengangguk dengan cepat, ia kira Hanz kesakitan karna ia bergerak-gerak.
"Baiklah, sekarang kamu tidur," perintah Hanz kemudian semakin menarik Ara kembali mendekat padanya dan membenamkan kepala istrinya di dada bidangnya kemudian memeluknya kembali dengan erat. Ia hanya ingin Ara tidur senyenyak mungkin malam ini.
Tapi Ara merasa ini salah, saat ini keadannya seperti terbalik. Justru Hanz lah yang tampak sedang menjaganya dan seperti melindunginya, padahal kan yang sakit suaminya ini.
"Tuan, apa tuan benar-benar tidak kedinginan lagi?"
"Tidak, tidurlah. Jangan khawatirkan aku."
Malam pun berlalu. Bulan berganti dengan Matahari yang sudah meninggi di atas langit. Kedua manusia itu masih tertidur nyenyak sambil sama-sama berpelukan mesra.
Ternyata janji Ara untuk tak tidur malam itu tetap saja tak mampu ia lakukan. Bagaimana tidak? Pelukan suaminya begitu nyaman hingga ia tak mampu menolak untuk tenggelam dalam menikmatinya. Bahkan hari sudah pagi pun tak ia hiraukan kehadirannya lagi sebab alam bawah sadarnya seperti ingin mengatakan kalau ia tak ingin meninggalkan kenyamanan ini. Padahal sebelumnya ia selalu bangun pagi tepat waktu.
"Leno, lihat tante Ala dan uncle?"
"Hm-m."
"Kita bilang bunda yuk?"
....
__ADS_1