Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
30


__ADS_3

___


"Haaaaaaanzz....,"


Suara teriakan kuat menggelegar itu berhasil mengusik tidur nyaman Hanz dan Ara yang baru saja terjadi 2 jam yang lalu. Keduanya pun menggeliat dalam pelukan masing-masing pasangannya.


Hingga akhirnya mata mereka sama-sama terbuka dan saling tatap sejenak. Mereka terdiam sama-sama mendalami dan mengumpulkan kesadarannya masing-masing.


"Sayang, kamu cantik banget saat baru bangun tidur," ucap Hanz masih sempatnya menggoda Ara yang kini wajahnya masih tampak mengantuk dan sedikit pucat.


"Kamu kenapa sayang? Kok wajah kamu pucat?" tanya Hanz khawatir, ia sama sekali benar-benar belum menyadari kehadiran keluarganya di ruangan itu yang kini menatap mereka berdua dengan tatapan emosi nan membunuh.


"Ini semua gara-gara mas. Badan aku capek dan pegel semua, sakit lagi. Mas semalam nggak mau berenti-berenti melakukannya sampai aku mau nangis," rengek Ara manja. Ia pun sama dengan Hanz, keduanya benar-benar belum menyadari keberadaan keluarga mereka. Fokus mereka hanya untuk mereka.


"Hehe, maaf ya sayang. Mas terlalu gemes sama kamu," ucapnya lagi kemudian mengecup kening istrinya lembut.


"Oh ya sayang, tadi mas kebangun pas mimpi kalau papah teriak kuat banget kayak petir, seram banget sampe merinding," tutur Hanz  sambil bergidig.


"Mas, kok mimpi kita sama? Aku juga mimpi papah teriak kuat banget tadi neriakin nama mas. Mimpinya terasa nyata sekali mas, makanya aku terbangun," ucap Ara mulai heran dengan mimpi mereka.


Kenapa ini aneh sekali? Kenapa mimpi mereka bisa sama-sama dan terasa nyata?


Sejenak keduanya terdiam sembari mengambil nafas dalam untuk menenangkan diri. Semoga saat ini yang ada di pikiran mereka tak terjadi.


Hingga akhirnya...


"Keterlaluan kalian berdua, bisa-bisanya kalian berbuat zinah disini." suara melengking sarat emosi itu membuat keduanya terdiam membeku di tempat. Masih dalam posisi yang sama.


Tadi suara papah, sekarang suara Alea, lalu apakah ada orang lain lagi selain mereka? Ataukah seluruh keluarga kini ada disana?


Dan untuk memastikan itu keduanya segera bangkit untuk duduk sembari menarik selimut sampai sebatas dada untuk menutupi tubuh telanjang mereka.


Mereka pun kemudian menoleh ke arah pintu dan....


Jreng... Jreng...


Mata keduanya membulat dengan wajah menganga terkejut.


Ya, seluruh keluarga mereka ada disana. Semuanya.


Bukan hanya itu saja. Bahkan kini terlihat beberapa pembantu kepo pun seperti pura-pura lewat untuk melirik-lirik, dan Ara sangat tau kalau mereka sedang mencari informasi untuk di gosipkan.


Deg deg deg...


Butuh lebih banyak kesadaran untuk mencerna semua ini. Apakah sekarang mereka ketahuan?


Tidak... Ara tak mau itu terjadi, Ara belum siap, Ara belum setuju, bukan saat ini, bukan dengan cara seperti ini, bukan bukan bukan.......


Dengan di kuasai ketakutan yang membuncah, kekuatan Ara memudar, tubuhnya melemah, dan akhirnya kesadarannya pun hilang bersamaan dengan tumbangnya dirinya di pelukan Hanz kini.


Hanz dan seisi penghuni rumah pun kaget. Ia segera meraih tubuh istrinya dan semakin mengeratkan selimut, satu-satunya penutup tubuh mereka.


"Ara... Ara... Ara, kamu kenapa sayang? Ara?" teriak Hanz sembari menepuk-nepuk wajah istrinya pelan dengan ekspresi panik dan ketakutan. Takut terjadi sesuatu pada Ara.


"Dokter... Aku butuh dokter, aku butuh dokter," racau Hanz tak jelas saking khawatirnya.


"Biar aku yang periksa," ucap Gery membuat Hanz pun mengangguk cepat pada kakak iparnya tersebut.


^^^


Hanz terus saja mondar-mandir tak jelas di kamar Ara. Saat ini Gery sedang melakukan pemeriksaannya terhadap tubuh istrinya menggunakan stetsokop.


Setelah kejadian tadi, semua orang keluar sejenak dari kamar Ara agar Hanz bisa segera memakai kembali pakaiannya den memakaikan kembali pakaian Ara. Lalu kemudian tanpa pikir panjang ia pun segera meminta kembali kakak iparnya itu masuk untuk memeriksa keadaan istirnya secepatnya. Bersamaan dengan itu keluarganya pun ikut berhamburan masuk. Dan kini, kamar Ara dipenuhi oleh seluruh anggota keluarga kembali.


Namun kini bukan wajah horror seperti tadi yang mereka tunjukkan, melainkan wajah khawatir. Tapi Hanz tak peduli, saat ini pikirannya bergelayut ketakutan akan keadaan istrinya.


"Bagaimana? Bagaimana kondisi Ara?" todong Hanz cepat setelah Gery menyelesaikan pemeriksaannya.


Keluarganya kini masih menatap diam antara pada Ara, Hanz dan Gery bergantian.


"Ara baik-baik saja. Mungkin dia tadi pingsan karna terlalu kaget dan di tambah lagi dia kelelahan," jelas Gery membuat Hanz dan yang lain pun mendesah lega.

__ADS_1


"Disamping itu semua, aku curiga..." Gery menghentikan ucapannya sejenak membuat mereka semua menatapnya serius.


"Sepertinya dia hamil."


Deg...


Hening, diam, tentram.


Semua orang terkejut, semua otak mencerna, semua tubuh mendadak tegang.


"Bagaimana bisa? Kami selalu memakai pengaman," ucap Hanz pelan tanpa sengaja menyuarakan pemikirannya, namun masih bisa di dengar jelas oleh semua orang.


Hingga akhirnya...


Bugh bugh bugh


Bertubi-tubi bogeman kuat Hanz terima di layangkan oleh Reksa di wajahnya.


"Ini untuk kelakuan ******** seperti mu yang tak bisa mengontrol nafsu mu," teriak Reksa tajam dan kuat. Samira sang istri pun berusaha melerai suaminya dengan tangisan yang menghiasi wajahnya, namun Reksa seakan tak peduli.


Ia kembali menerjang Hanz yang sudah terkapar menyedihkan di lantai itu dengan kuat.


Bugh bugh bugh


"Ini karna kau sudah menghamili Ara saat ia masih sekolah," teriak Reksa lagi masih dengan wajah berapi-api penuh amarah. Semua orang di ruangan itu ketakutan luar biasa, jika Reksa sudah marah pasti akan sangat menakutkan seperti ini. Tak ada yang berani lagi melerainya. Memang Hanz dan Ara sudah keterlaluan kali ini.


Bugh bugh bugh


Seakan belum ada puasnya, Reksa kembali melayangkan bogeman bertubi-tubi itu di wajah Hanz.


"Dan ini... Ini untuk yang sudah tertunda lama ingin ku lakukan karna kau berani menyembunyikan pernikahan mu dari kami."


Hah? Pernikahan?


Berita mengejutkan bagi semua orang di ruangan itu, semuanya membatu dan masih tak mampu mencerna segala kejutan yang mereka terima pagi ini.


Hanz mengelus sudut bibirnya yang berdarah sembari menatap nanar dan tak percaya pada papahnya kini. Ia sama sekali tak menyangka jika papahnya ternyata sudah tau hal ini.


"Kamu pikir papah bodoh? Papah dan mama sudah tau kalau kau sudah menikahi Ara di kampungnya saat kau sedang kerja disana."


Pernyataan yang diberikan Reksa semakin membuat semua orang kian tercengang kaget.


Menikahi Ara?


Alea menutup mulutnya tak percaya, Gery terdiam mematung, sang oma memegang tepat di area jantungnya dan syukurnya jantung itu tak copot. Sementara Anisa, ia merasa tertohok hingga susah meneguk salivanya. Syukur si kembar tadi sudah pergi di bawa oleh pengasuhnya.


"Jadi papah dan mama selama ini pura-pura nggak tau. Ternyata kami di bodohi selama ini," ucap Hanz sembari terkekeh bodoh.


"Diam Hanz, bukan kamu yang dibodohi, tapi kamu yang membodohi kami semua," teriak Gery tak terima. Baru kali ini ia mengeluarkan emosinya di keluarga ini, terutama pada adik iparnya yang di segani banyak orang ini.


"Lalu apa lagi sekarang? Apa mau kalian? Kami sudah menikah, yang kami lakukan itu bukan zinah, kami suami istri jadi wajar jika kami melakukannya. Lalu kenapa kalian tampak marah?" tantang Hanz yang juga sudah mulai di kuasai emosi.


Dan satu bogeman kuat lagi pun ia terima dari Gery yang sudah benar-benar murka. Baru kali ini pak dokter yang satu ini melukai orang, biasanya ia dalam posisi sebaliknya.


"Kamu benar-benar belum sadar ya, mungkin yang kalian lakukan ini bukan zinah dan itu tidak salah. Tapi masalahnya kalian menikah dan malah menyembunyikannya dari kami. Dan sekarang, Ara hamil saat dia masih sekolah," teriak Gery berapi-api.


"Mas...," panggil Ara lemah.


Ara sadar, Hanz pun dengan sigap dan cepat segera mendekati Ara dan mengabaikan teriakan Gery tadi padanya.


"Sayang, kamu udah sadar? Ada yang sakit?" tanya Hanz lembut. Ara pun menggeleng lemah. Wajahnya masih sama pucatnya seperti tadi. Hanz jadi merasa bersalah, ini semua karnanya. Jika saja ia tak terlalu memaksa Ara semalam, maka Ara tak akan selelah dan selemah ini pagi ini.


"Maafin mas ya sayang, kamu pasti kelelahan karna mas," ucap Hanz merasa bersalah. Ara pun mengangguk kemudian menatap sekelilingnya dengan wajah ketakutan.


Semua orang ada di kamarnya, dan mata mereka semua menatapnya dalam hingga membuatnya semakin lemah dan gemetaran. Ia pun berusaha bangkit untuk duduk dan dibantu oleh Hanz.


"Mas, aku takut....," tangisnya tiba-tiba sembari terisak di pelukan Hanz. Ia tak berani menatap wajah semua orang kini, ia tak berani menatap mata siapapun. Rasanya ia hanya ingin pergi dan terlempar ke laut dalam agar tak siapapun dapat melihat wajahnya. Ia menyembunyikan wajah itu di dada bidang suaminya sembari terus bergetar dan menangis ketakutan.


Sementara Hanz, pria itu kian panik mendapati Ara yang seperti ini. Ia pun mengeratkan pelukannya di di tubuh istrinya berharap hal itu dapat meredam sedikit ketakutan Ara.


"Sepertinya kita harus keluar terlebih dahulu. Ara ketakutan melihat kita, mungkin itu faktor hormon ibu hamil makanya sikapnya tiba-tiba seperti ini," ucap Gery membuat yang lain mengangguk.

__ADS_1


Tapi tidak dengan Ara, wajahnya seketika menegang sempurna dan ia langsung menoleh pada Gery.


"Ha-hamil?" tanya nya lemah dengan nada terkejut. Gery pun mengangguk mengiyakan pertanyaan Ara.


Saat itu juga rasanya dunia Ara pecah, ribuan kunang-kunang memenuhi otaknya. Hanz berusaha meraih Ara kembali dalam pelukannya, tapi wanita itu menolak. Matanya menatap penuh tanya pada Gery seakan meminta penjelasan lebih.


"Ak-aku tidak mungkin hamil, aku nggak mungkin hamil. Ka-kami..."


"Walaupun kalian menggunakan pengaman, tapi itu nggak seratus persen menjamin tak terjadi kebocoran. Memang agak sulit karna persentasenya hanya sedikit, tapi jika tetap saja tak menutup kemungkinan terjadi kehamilan," jelas Gery membuat air mata lolos kembali meluncur bebas di wajah Ara. Tangannya pun tanpa sadar menyentuh perutnya, bibirnya bergetar dan akhirnya tangisan itu kembali pecah hingga membuat Hanz menatapnya khawatir.


"Sayang, sayang kamu jangan nangis kayak gini, aku takut melihatnya. Ara.... sayang...," panik Hanz sembari mengguncang-guncang bahu Ara.


"Apa kamu tidak mau bayi nya? Kamu tidak mau melahirkannya?" tanya Hanz seketika membuat Ara menggeleng.


"Aku... Aku mau mas, aku... Aku cuma kaget aja," isak Ara terdengar perih. Hanz pun menarik tubuh istrinya kembali kedalam pelukannya. Dan kali ini Ara tidak menolak lagi meskipun isakan tangisnya belum juga berhenti.


Ara menangis seperti itu bukan karna ia tak menginginkan janin itu, hanya saja ia terlalu syok karna kini ia sudah mengandung di usia semuda ini dan bahkan masih sekolah. Ia tau bahwa itu memang resiko dari perbuatan mereka. Tapi tetap saja, ia tak menyesal melakukannya dan juga tak marah akan kehadiran janinnya kini, tangisannya adalah campuran rasa syok dan bahagianya. Ternyata akan ada nyawa baru di perutnya kini atas buah cintanya dan Hanz. Meskipun ia sadar kalau hal itu akan menghancurkan masa depannya.


Tapi tak apa, ia yakinkan dalam hati bahwa itu tak masalah. Karna bagaimanapun ia sukses atau tidak nantinya, pada akhirnya tujuan terakhirnya hanyalah hidup bahagia bersama Hanz dan keluarga kecilnya nanti. Tak ada yang lebih penting dari kabar bahagia ini kini.


"Kalian harus memastikannya ke dokter kandungan. Tapi aku yakin kalau Ara memang hamil, aku bisa merasakannya tadi," ucap Gery meyakinkan.


"Kita akan punya bayi mas," lirih Ara membuat Hanz semakin mengeratkan pelukannya kemudian memberikan kecupan di puncak kepala Ara.


"Apa kamu akan sayang bayinya?" tanya Hanz, Ara pun mengangguk.


"Kalau begitu kita akan membesarkannya dengan penuh cinta." ucap Hanz yang lagi-lagi membuat Ara mengangguk dalam pelukannya.


Semua orang yang tadi tak jadi keluar pun seketika terenyuh melihat keromantisan sesaat di depan mereka kini.


"Sepertinya Ara harus home scholling," pendapat Reksa membuat semua orang menatapnya tiba-tiba, tak terkecuali Hanz dan Ara.


Jujur, Ara tadinya mengira ia akan berhenti sekolah karna kehamilannya. Lebih daripada itu, tadi ia mengira kalau keluarga Hanz akan marah dan membencinya, apalagi tadi mereka menemui mereka dengan keadaan yang sangat memalukan. Namun saat melihat bagaimana wajah semua orang kini tampak tersenyum tulus, ia yakin mereka tak marah. Apalagi saat mendengar penuturan Reksa barusan, Ara semakin yakin mereka tak membencinya.


"Me-mereka tau mas?" tanya Ara pelan pada Hanz, dan Hanz pun mengangguk mengiyakan pertanyaan istrinya kemudian mencium puncak kepala Ara lagi dengan sayang.


"Aaah, aku belum menyangka ini, semuanya terasa lucu dan sangat mengejutkan," teriak Alea tiba-tiba membuat semua perhatian beralih padanya.


"Hanz, Ara, ternyata kedua pasangan yang aku kira pacaran diam-diam ini suami istri? Arkhhh, bisa-bisanya seorang Alea kecolongan," tambahnya lagi tak habis pikir hingga semua orang pun terkekeh dibuatnya.


"Hei Hanz, pintar sekali kamu nyembunyiin ini dari kami semua. Kamu kayak dewa akting, kakak nggak nyangka kutub es kayak kamu bisa lakuin ini dan... Dan Ara... Si polos menggemaskan ini ternyata adik ipar ku selama ini, padahal aku dengan bodohnya punya rencana memcomblangkan kalian sampai menikah, tapi tenyata rencana ku belum bergerak saja Ara sudah hamil, Ck...," ucap Alea antusis kemudian berakhir decakan.


"Oh ya, papah dan mama sejak kapan tau aku dan Ara sudah menikah? Dan bagaimana kalian bisa tau?" tanya Hanz tiba-tiba membuat semuanya menatap Reksa dan Samira bergantian.


"Kami dari awal memang sudah curiga, tapi semua kecurigaan kami diperkuat beberapa bulan lalu. Saat itu Rena datang ke kamar kami membawa buku nikah, dia nanya itu buku apa? Awalnya kami mengira itu milik Gery dan Alea, lalu kami tanya dia dapatnya dari mana, terus dia bilang dapat dari kamar Hanz. Entah gimana dia dapat itu papah dan mama nggak tau, yang jelas kami heran, di tambah lagi Rena nanya lagi, Kenapa ada wajah uncle dan tante Ara di foto? Terus papah dan mama pun langsung ngambil buku itu dari tangan Rena, dan saat itu kami langsung terkejut. Apalagi saat melihat tanggal pernikahannya, rasanya papah nggak nyangka kamu bisa lakuin hal seperti itu di belakang kami Hanz. Kamu nyembunyiin pernikahan kamu selama itu dari kami. Papah saat itu marah dan mau mukul kamu, tapi di tahan sama mama, katanya biarin aja, kita lihat sampai mana akting mereka berdua, papah sebenarnya keberatan, tapi lama kelamaan seru juga melihat kalian bermain kucing-kucingan tanpa tau kalau mama dan papah udah perhatiin kalian," jelas Reksa panjang lebar membuat Hanz dan Ara sama-sama meringis. Semua orang pun tertawa kuat, Rena lagi Rena lagi.


"Bukan cuma itu aja, setelah kami tau tentang hal itu, papah dan mama langsung bergegas ke kampung Ara buat mastiin sama orang tua Ara, dan ternyata mereka membenarkan dan menceritakan perihal kejadiannya. Kami sangat syok hari itu, dan ternyata orang tua Ara pun sama syoknya karna tak mengira putri mereka tega menyembunyikan pernikahannya dari kami, mereka minta maaf hari itu, tapi itu bukan masalah buat kami. Karna bagaimanapun sejujurnya kami sangat senang Hanz akhirnya menikah walaupun dengan cara tak bermoral seperti itu," kini Samira yang menyuarakan rahasia ini.


Ara dan Hanz pun terpekik kaget. Ara tak menyangka jika orang tuanya sudah tau rahasia ini sedari awal. Berarti kemarin orang tuanya juga ikut berakting di depan mereka? Yang mereka katakan semua itu ternyata itu hanya akting? Pantas saja mereka santai sekali minta cucu.


"Tunggu dulu ma, maksud mama cara tak bermoral tadi itu apa? Memangnya apa yang terjadi sampai Hanz dan Ara harus nikah?" tanya Alea penasaran, dan semua orang pun menatap Samira tak kalah penasaran seperti menuntut penjelasan. Terkecuali Reksa tentunya yang bersifat santai. Sementara Ara dan Hanz sudah menunduk menahan malu menantikan Samira akan menceritakan aib mereka.


"Hanz dipaksa menikahi Ara di kampung itu karna mereka kedapatan sedang berbuat zinah," ucap Samira enteng tanpa beban, namun hal itu berhasil membuat semua orang membelalak terkejut.


"Hanzzzzzz....., ternyata memang kamu udah buat zinah sebelum nikah," teriak Alea kuat melengking dengan wajah berapi-api.


Hanz pun memeluk Ara kuat menantikan amukan kakaknya yang tak berdasar itu. Yang lain malah terkekeh senang menantikan pertunjukan seru ini.


"Ka-kami nggak zinah, kami cuma tidur bersama," ucap Hanz membela diri.


Tapi Alea tetap Alea, ia tak peduli. Siapa yang akan percaya itu?


"Keterlaluan kamu,  berani-beraninya kamu menodai Ara yang polos, aku bakal patahin leher kamu," ucap Alea sembari menghampiri Hanz yang kini semakin mengeratkan pelukannya pada Ara hendak meminta pertolongan. Karna jika Alea bertindak, maka bisa saja rambutnya botak.


"Aku nggak nodain Ara, kami cuma tidur," tegas Hanz bersikeras.


"Sini kamu, aku bakal botakin rambut kamu." Nah kan?


"Sini hanzzzzzzzzzzzzzzzzzz....., " teriak Alea kuat, Hanz ketakutan dan yang lain tertawa bahagia mengakhiri kisah ini.


'Ara tersadar, semua yang ia takutkan selama ini ternyata sia-sia. Walaupun ketakutan itu masih belum sepenuhnya hilang saat ini, tapi kebahagiaan dan momen ini sangat berharga untuk dilewatkan, mungkin ia akan menyesal jika terus mengulur waktu dan akhirnya terlambat atau bahkan tak punya kesempatan menyaksikan momen indah ini.'

__ADS_1


...


__ADS_2