
"Aku perhatiin kamu dari semalam kayak nggak mood gitu deh Ra, ada masalah apa? Kamu bertengkar yah sama kk Hanz?" tanya Anisa saat mereka kini sudah ada di mobil menuju ke sekolah. Ara pun terdiam, setampak itukah?
Anisa menyadari keterdiaman Ara berarti jawabannya, ya. jelas sekali tampak dimatanya bagaimana kedua manusia itu tak seperti biasanya di meja makan. Walaupun memang interaksi mereka di meja makan biasanya tak ada yang mencolok, tapi selama ini Anisa selalu memperhatikan bagaimana kakaknya menatap Ara dengan pandangan memuja selalu. Tapi tadi sangat berbeda, kakaknya yang justru malah menghindar, sepertinya kakaknya lah yang marah hingga Ara sampai galau dan banyak diam seperti ini.
"Ada masalah apa antara kalian Ra? Cerita deh sama aku, siapa tau aku bisa bantu. Kak Hanz itu kan kakak aku, jadi aku pasti tau gimana dia, coba deh ceritain," ucap Anisa membuat Ara tampak berfikir.
Sepertinya ide untuk bercerita dengan Anisa tak terlalu buruk, lagian juga Anisa sudah tau ia ada hubungan dengan Hanz walaupun tidak tau kalau mereka sudah menikah. Dan ia juga butuh masukan dari Anisa bagaimana caranya ia meminta maaf.
"Dia marah sama aku Sa," terang Ara memulai ceritanya.
"Kenapa?"
"Aku..., aku nggak nurut sama dia, jadi dia marah sama aku. Gimana dong Sa? Aku harus gimana lagi? Aku juga udah minta maaf tapi dia nggak peduli," ucap Ara sedih membuat Anisa tersenyum mendengarnya.
Aneh, menurutnya permasalah Ara dan kakaknya hanyalah masalah sepele, tapi mengapa serasa besar seperti itu sih? Kakaknya memang tak pernah bisa berhenti membuat orang susah. Kasihan Ara yang jadi terus kepikiran kan?
"Kamu nggak usah mikir terlalu keras Ra, kakak ku memang kayak gitu, suka bikin orang susah. Gak orang lain, gak keluarga, gak pacar sendiri semuanya di buat susah sama sikapnya yang nggak nentu, heran deh. Tapi kamu gak usah khawatir, dia pasti nggak benar-benar marah sama kamu, mungkin dia cuma kesal aja. Kamu tunggu aja sampai kekesalannya hilang trus kamu minta maaf lagi deh, pasti nanti dia maafin kamu," ucap Anisa membuat Ara menatapnya seperti ingin bertanya, benarkah? Dan Anisa pun mengangguk meyakinkan membuat Ara bisa merasa sedikit tenang.
"Makasih ya Sa, aku jadi bisa sedikit tenang. Nanti aku coba minta maaf lagi deh." Anisa hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Ara yang itu. Menurutnya percintaan kakanya dan Ara sangat menggemaskan, Ara yang polos dan kakaknya yang dominan. Huftt, pasangan serasi sih, walau pastinya lebih berat di Ara yang harus ekstra banyak belajar untuk bisa mengimbangi sikap kakaknya.
Jam berlalu, angka menunjuk pukul 17.05, Ara keluar dari gedung sekolahnya menuju gerbang. Tadi ia sudah memesan ojek online untuk pulang, saat ini ia hanya tinggal menunggu sebentar lagi ojeknya datang. Dan beberapa saat kemudian ojek itupun datang.
"Atas nama Ara?"
"Ia pak."
"Naik neng." Ara pun mengangguk kemudian segera naik setelah memasangkan helmnya.
Setengah jam dalam perjalanan akhirnya Ara sampai juga di kediaman Zeino. Ia pun melangkah memasuki rumah, namun ada yang aneh, mengapa tampak sepi? Seperti tak biasanya, kemana semua orang?
"Tante Alaaaaa...," teriakan Rena membuat Ara segera menoleh ke sumber suara lucu si cantik Rena. Ia melihat Rena dan Reno berjalan menghampirinya dengan wajah lesu dan mata mereka tampak sembab seperti habis menangis. Ada apa ini?
"Kalian kenapa sayang? Kok seperti habis nangis? Apa ada yang nakal lagi di sekolah?" tanya Ara lembut namun sarat akan ke khawatiran, si kembar pun hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Terus kenapa dong?" tanya Ara lagi, tapi ia tak mendapat jawaban dari pertanyaannya. Yang ada justru si kembar menghambur ke pelukannya setelah ia merendahkan tubuhnya untuk di sejajarkan dengan mereka lalu tangisan keduanya pun pecah seketika. Hal itu membuat Ara semakin bingung.
"Tante Ala jangan pelgi ya..., tante Ala jangan tinggalin Lena yaaaa..."
"Tante Ara jangan tinggalin Reno juga, Reno sayang sama tante Ara...."
Rena dan Reno tak henti\-hentinya menggumam di pelukannya. Kenapa mereka mengatakan itu? Kapan ia mengatakan akan pergi? Ara pun melepas pekukannya kemudian menatap wajah si kembar bergantian dengan serius.
"Reno... Rena... Tante Ara nggak ngerti maksud kalian, coba deh cerita sama tante Ara, Reno dan Rena kenapa?" tanya Ara lembut dan menenangkan, ia sudah tak sabar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Kata bunda meleka pelgi ke lumah sakit tante..., kata bunda kami nggak boleh ikut. Soalnya uncle lagi sakit, nggak boleh di ganggu. Huaaaaaaa, uncle nggak akan meninggal kan tante?"
Deggg...
Ucapan Rena yang diiringi isak tangisnya yang kuat membuat Ara terdiam dengan jantung berdegub kencang. Hanz di rumah sakit? Kenapa?
"Tante nggak akan ninggalin kami karna uncle sudah sakit kan? Tante Ara nggak putusin uncle kan? Jangan ya tante Ara, kasian uncle, huaaaa....," kali ini Reno yang mengucapkannya diiringi tangis yang tak kalah kuatnya.
Pikiran Ara kalut, ia bahkan tak punya tenaga hanya untuk mendiamkan kedua bocah itu. Ia sedang di serang ke khawatiran yang luar biasa besar. Kenapa dengan Hanz? Mengapa bisa masuk rumah sakit?
"Ara, kamu apain tuk kedua bocah? Kenapa nangis kencang kayak gitu?" tanya Evi ketus, salah satu pembantu yang selalu menggosipi dan tak suka pada Ara.
"Kamu tuh ya, gak sopan banget sih. Di tanya malah nanya balik, percuma banget di sekolahin kalau otaknya nggak di pake, lagian manggil\-manggil tuan Hanz dengan sebutan mas lagi, mulut kamu tuh nggak tau aturan banget tau nggak? Kamu itu sejajaran sama pembantu disini walaupun kamu di sekolahin. Jadi jaga sikap kamu sama tuan Hanz, jangan kecentilan," ucap Evi tajam membuat Ara harus ekstra bersabar menahan amarah.
"Mbak tolong kasi tau aku tuan Hanz kenapa? Mengapa dia bisa ada di rumah sakit?" tanya Ara akhirnya memanggil suaminya dengan sebutan tuan. Evi pun tersenyum senang mendengarnya, menurutnya itu lebih cocok di telinganya. Ara sama sekali tak punya urat malu dimatanya karna berani memanggil Hanz demikian. Jika saja Hanz atau orang rumah tau pasti mereka akan sangat marah pada Ara. Makanya ia perlu menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu. Lagian ia tak akan pernah membiarkan penghalang sekecil apapun untuk menghalangi niatnya mendekati Hanz yang sedari dulu sudah ia taksir. Termasuk ****** kecil ini.
"Tuan Hanz kecelakaan," jawab Evi singkat namun berhasil membuat jantung Ara hampir berhenti berdetak. Kecelakaan? Bagaimana bisa?
"Kapan mba? Kenapa bisa?" Evi memutar bola matanya malas menanggapi Ara.
"Mana aku tau jelasnya, memangnya aku kayak kamu yang suka kepo sama kehidupan majikan sampai\-sampai minta gabung dalan kumpulan keluarga? Gak tau malu banget, kamu masih untung keluarga Zeino baik dan nggak buang kamu karna sikap ular kamu itu. Kamu diam\-diam pasti mau ngerebut harta keluarga inikan? Dasar matre," Evi tak henti\-hentinya menuduh dan memakinya. Tapi Ara sudah biasa dan tak peduli lagi, saat ini yang ada di pikirannya hanya Hanz Hanz dan Hanz.
"Tante Ala nggak matle kan Leno? Bibi nggak usah bikin tante Ala sedih yah, nanti Lena aduin ke bunda," ucap Rena yang ternyata sedari tadi sudah kesal mendengar ucapan salah satu pembantu yang tak terlalu ia kenali itu. Maklum lah, pembantu keluarga Zeino terlalu banyak untuk diingat satu persatu oleh bocah kecil sepertinya. Mengenali pengasuhnya saja menurutnya sudah lebih dari cukup.
"Rena sayang, kamu jangan panggil bibi dong. Panggil tante aja yah," bujuk Evi sok ramah.
__ADS_1
"Bibi udah tua, Lena maunya panggil bibi aja. Ia kan Leno?" ucap Rena polos membuat Evi menggeram kesal dalam hati. Ingin sekali ia cabik\-cabik mulut bocah ini sekarang. Ia masih muda dan cantik, bisa\-bisanya ia di katai tua. Lihat saja jika suatu saat ia berhasil mendapatkan Hanz, jangan harap bocah ini selamat dan aman di rumah ini.
"Hm\-m, cuma orang cantik yang jadi tante kami kayak tante Ara dan aunty. Bibi mah jelek, nggak cocok," ejek Reno semakin membuat Evi geram dan ingin menguliti kedua bocah itu. Tapi Ara segera melerai mereka.
"Reno, Rena, kalian nggak boleh bicara gitu ya sayang. Nggak baik ngomong kasar gitu sama yang lebih tua, yang lebih tua harus di hormati. Jangan lagi ya," bujuk Ara.
"Habis Reno kesal tante, bibi ini bilang tante Ara nggak tau malu. Padahal kan tante Ara baik banget, bibi itu yang jahat," bela Reno membuat Ara tersenyum tipis menanggapinya sembari membelai kepala kecil Reno dan Rena bergantian.
"Tante Ara nggak papa kok, kalian jangan marah lagi ya. Lebih baik sekarang Reno dan Rena doain uncle biar cepat sembuh ya."
"Tapi tante Ala janji kan kalau tante Ala nggak putusi uncle?" ucap Rena membuat Ara hanya bisa tersenyum sembari mengangguk menanggapi.
"Kalau gitu sekarang Rena dan Reno sama bi Ratih dulu ya, tante Ara mau mandi, habis itu mau ke rumah sakit jengukin uncle." ucap Ara dan sikembar pun mengangguk kemudian segera berlalu dari sana. Meninggalkan Ara dan Evi yang kini menatap Ara sengit.
"Kamu ngapain ke rumah sakit segala? Kamu itu pembantu, gak ada hak tau nggak?" ketus Evi yang mungkin sedari tadi belum puas akan kekesalannya. Ara hanya bisa menghembuskan nafas lelah. Biarlah Evi mengatakan apapun sesukanya, ia tak akan peduli lagi. Karna saat ini, ada hal yang jauh lebih penting untuk di urus.
Ara pun melangkahkan kakinya ke kamar pergi meninggalkan Evi setelah tadi ia permisi namun tak di jawab. Yang ada Evi malah semakin melotot kejam kearahnya, tapi ia berusaha mengabaikannya.
"Tante Ala mau ke lumah sakit ya?" tanya Rena yang kebetulan melihatnya akan keluar.
"Ia sayang, kamu sama Reno baik-baik ya di rumah, kalian jangan lupa makan malam ya bentar lagi, habis itu belajar, baru bisa tidur," ucap Ara mengingatkan.
"Ia tante Ala, tapi tante Ala hati-hati ya. Telus nanti tante bilang sama uncle supaya cepat sembuh, kalau uncle lama-lama sembuh nanti Lena akan malah sama uncle." Ara tersenyum lembut mendengarnya.
"Tante Ala jangan bilang bunda ya kalau tadi Reno nangis, bilang Rena aja yang nangis. Reno nangisnya gak kuat kok tante," Reno menambahi membuat Ara semakin menyunggingkan senyuman di wajahnya.
"Ia sayang, tante pasti bilangin pesan Rena. Dan tante nggak akan kasi tau Reno nangis, kalau gitu tante pergi ya," ucap Ara membuat keduanya bocah kembar tersebut mengangguk mantap.
"Bi Ratih, biii...," teriak Ara memanggil pengasuh si kembar.
"Ia Ara kenapa?"
"Bi tolong jagain si kembar dengan baik ya. Nanti di kasi makan, di temani belajar terus di tidurin ya bi," terang Ara. Bi Ratih pun mangguk-mangguk mengerti.
__ADS_1
"Ia Ara, bibi tau kok. Kan tiap hari juga udah kerjain itu. Kalau kamu mau ke rumah sakit pergi aja gak papa, si kembar aman kok disini."
....