
Seperti biasa, Ara bangun pukul 05.00 pagi, kemudian cuci muka lalu segera bergegas ke dapur membantu para bibi memasak. Yah, walaupun ia tidak diminta melakukan itu, tapi ia akan dengan senang hati melakukannya. Karna ia sadar diri jika ia sudah berutang banyak pada keluarga ini, dan tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengembalikannya selain dengan cara ini.
Baru saja kakinya menapak di lantai bawah dan kini ia sedang berjalan menuju ke dapur, namun suara bisik-bisik bergosip ria membuat langkahnya terhenti dan ia mencoba menguping dari balik tembok. Tidak, ia bukan tukang nguping dan ia tak pernah perduli pada gosip, hanya saja ia mendengar namanya di sebut-sebut.
"Ehh, si Ara itu enak banget yah dapat perlakuan yang beda dari kita? Sepertinya keluarga Zeino di pelet deh sama dia makanya dia bisa dapat perlakuan khusus."
"Ia benar tuh, masa dia dapat kamar di lantai atas? Di sekolahin lagi. Trus yah, dengar-dengar katanya hutang orang tuanya di bayarin sama tuan Hanz. Aneh kan, padahal status dia sama kita sama-sama pembantu. Gak ia banget kan?"
"Menurutku ku tuh yah, si Ara itu kayaknya simpanannya tuan Hanz deh. Idih-idih, muka polos gitu kelakuannya bejat banget."
"Kan zaman sekarang banyakan kayak gitu. Yang nampak polos dan sok alim itu sebenarnya lebih berbahaya."
"Ihh amit-amit deh. Aku nggak mau dekat sama orang kayak gitu, ihhh serem..."
"Hushh..., gak boleh ngomong kayak gitu. Ara itu baik kok, dan tuan Hanz pun nggak mungkinlah punya wanita simpanan apalagi itu masih gadis se usia Ara, jangan bicaran sembarangan, kalau ada yang dengar gimana? Mau kalian di pecat?"
Ara terdiam di, hatinya sakit. Yah, sejak awal ia pun sudah merasakan aura tak suka dari banyak pembantu disana padanya. Tapi ia tak menyangka bahwa selama ini mereka beranggapan seburuk itu terhadapnya, tapi ia tak marah. Sebab yang mereka semua katakan itu memang benar adanya.
"Pagi semuanya," sapa Ara sembari tersenyum ramah kemudian menghampiri mereka semua.
"Pagi Ara, kau sudah bangun ternyata," balas bi Rimah tak kalah ramah. Bi Rimah adalah satu-satunya pembantu yang baik dan bersikap ramah padanya. Wanita paruh baya itu sudah seperti ibu menurutnya. Dan yang tadi membelanya, ia tau itu suara bi Rimah.
"Ia bi, seperti biasa. Aku juga mau bantu-bantu masak."
"Sebaiknya gak usah lagi Ara. Kemarin nyonya besar berpesan kalau kau tak usah lagi melakukan itu. Nyonya besar marah pada kami semua kemarin," ucap bi Rimah saat mengingat pesan sang nyonya yang melarang Ara di ikut sertakan dalam pekerjaan rumah. Lata sang nyonya, Ara hanya perlu belajar bukan bekerja.
"Tapi bi..."
"Kalau di bilang gak usah ya gak usah. Kamu itu gak usah ngeyel jadi orang. Kamu mau kami semua di pecat gara-gara kamu?" teriak Evi memotong ucapan Ara. Evi adalah salah satu pembantu yang sudah bekerja lama disana sejak usia 16 tahun dan kini ia berusia 24 tahun. Dan sudah sejak lama pula ia menaruh hati pada Hanz. Sayangnya pria itu bahkan tak meliriknya sama sekali.
Ara terdiam menunduk. Sebenarnya ia tak bermaksud begitu, ia tak tau kalau keinginanya membantu malah membuat yang lainnya berada dalam kesulitan.
"Ara, maaf yah nak. Bukan bibi gak suka kamu disini, tapi memang kau tak perlu lagi membantu kami disini, karna kalau nyonya tau, kami semua bisa di pecat. Ngerti yah nak?"
"Ia bi gak papa. Maaf yah semua, aku udah buat kalian dalam masalah karna aku. Permisi..., " ucap Ara kemudian segera berlalu pergi meninggalkan para pembantu yang menatapnya kesal.
Ara naik kembali ke lantai atas kemudian ia segera menuju kamarnya. Sesampainya di kamar ia segera merebahkan diri di ranjang, wajahnya menghadap ke langit-langit kamar. Ia termenung masih memikirkan perkataan para pembantu tadi. Sebenarnya ia juga selalu merasa tidak enak akan kebaikan keluarga Zeino padanya. Karna ia takut, ia takut suatu hari nanti keluarga Zeino kecewa dan marah padanya saat tau kalau ia sudah menghianati kepercayaan mereka. Karna ia sudah berani menikah dengan Hanz tanpa sepengetahuan mereka.
Tok.. Tok.. Tok...
Suara ketukan pintu membuat Ara tersadar dari lamunannya. Ia pun segera bangkit kemudian bergegas membuka pintu kamarnya.
"Mas, mas ngapain kesini? Kalau yang lain lihat gimana?" tanya Ara panik saat melihat yang ada di depan pintu adalah suaminya.
__ADS_1
Namun, seakan tak perduli dengan kepanikan Ara, Hanz menerobos masuk dan tak perduli dengan ketakutan istrinya. Ara pun segera menutup pintu dengan cepat.
"Mana baju sekolah kamu?" Ara heran mengapa Hanz menanyakan baju sekolahnya.
"Kenapa?"
"Mana cepat berikan," ucap Hanz sambil mengulurkan tangannya. Walaupun Ara bingung dan tak mengerti, tapi tetap saja ia mengambil baju sekolahnya yang ia gantung kemudian memberikannya pada Hanz.
Hanz berdecak sembari geleng-geleng kepala melihat seragam yang ada di tangannya. Kemudian dalam hitungan detik, seragam sekolah Ara sudah robek-robek di tangannya membuat gadis tersebut terpekik kaget.
"Mas, kenapa seragam aku di robek?" teriak Ara, matanya sudah berkaca-kaca dan siap tumpah. Belum selesai kekacauan di hatinya perihal omongan pembantu tadi, kini ia pun semakin di buat kacau karna perlakuan pria yang menjadi suaminya ini.
"Aku gak suka liat seragam kamu."
"Kenapa mas harus gak suka dan kenapa harus di robek?"
"Aku gak suka karna seragam kamu itu kekecilan, tipis, dan rok nya juga pendek. Aku gak mau liat kamu pake itu lagi."
Ara menatap suaminya tak percaya. Ia bahkan tak tau lagi harus mengatakan apa. Entah bagaimana caranya ia mengatakannya lagi. Menurutnya seragam itu biasa saja dan pas di tubuhnya. Ia tak merasa sempit atau kekecilan. Soal tipis memang sengaja di rancang sedemikian rupa agar di pakainya nyaman dan tidak panas, lagian mereka juga pakai blezer di luar dan roknya juga pas di lutut. Lalu apanya lagi yang kurang? Apa Hanz datang ke kamar nya sepagi ini masih dalam keadaan mimpi?
"Mas kenapa sih? Mas berlebihan tau nggak? Seragam aku tuh cuma itu, aku gak punya uang buat beli lagi. Trus aku harus pake apa ke sekolah hari ini?" tangis Ara pun pecah sudah. Ia bingung bagaimana caranya ia kesekolah. Tak mungkin ia libur padahal ia harus mengejar ketertinggalan nya.
Hanz pun mendekat kemudian menarik Ara kepelukannya dan membenamkan wajah mungil sang istri di dada bidangnya. Ia bisa merasakan tubuh Ara bergetar, segitunya Ara kalau sudah kenyangkut sekolahnya. Hal itupun membuatnya terkekeh pelan, istrinya ini sangat lucu dan menggemaskan dimatanya.
"Stttt...., sayang udah yah nangisnya." bujuk Hanz setelah beberapa lama Ara menangis hingga membasahi bajunya. Tangis Ara pun mulai reda, wajahnya merona mendengar Hanz memanggilnya sayang. Tapi ia berpura-pura tak terpengaruh karna ia masih marah pada pria itu.
"Tapi itu gak kecil mas, ukurannya sesuai kok."
"Apanya yang sesuai? Kemarin aku bahkan bisa liat warna dalaman di balik baju kamu itu, pas di mobil juga aku lihat rok kamu itu tersingkap kalau duduk. Itu kekecilan, pasti Anisa yang milihin kan?"
Ara terdiam. Yah, Anisa memang yang memilihkan, tapi Ara rasa itulah ukuran yang pas untuknya.
"Terus aku gimana mas? Bagaimana aku ke sekolah tanpa seragam?"
"Ada kok di kamar mas, kemarin aku udah pesankan yang ukurannya lebih besar." Ara menarik tubuhnya dari pelukan Hanz kemudian memutar bola matanya malas, jadi apakah Hanz sudah mengerjainya?
"Aku kesal sama mas tau gak? Sayang bajunya di robek-robek, padahal seragam itu mahal mas," sesal Ara melihat bekas seragamnya yang sudah robek dan teronggok di lantai.
"Sttt..., udah yah gak usah di pikirin. Mending sekarang kamu mandi biar nanti gak terlambat ke sekolah. Mas juga mau siap-siap ke kantor nih," ucap Hanz kemudian mendorong tubuh Ara ke dalam kamar mandi membuat gadis itupun pasrah kemudian.
Hanz pun melakukan hal yang sama setelah ia kembali ke kamarnya. 10 menit kemudian ia keluar dari kamar mandi lalu segera berpakaian. Tak lupa ia mengambil baju sekolah Ara, mungkin saat ini Ara sudah selesai mandi dan menunggu seragamnya.
Setelah rapih ia pun segera bergegas ke kamar Ara, tentu setelah ia memastikan kalau di luar aman dan tak ada siapa-siapa yang melihatnya. Ia tak perlu repot-repot mengetuk pintu lagi karna ini sudah pagi, ini waktunya Anisa juga berkeliaran dan ia tak mau ketahuan hanya karna menunggu Ara membukakan pintu.
__ADS_1
Namun ternyata dugaannya salah besar. Hampir saja ia terlonjak kaget saat ia melihat siluet Anisa di dalam kamar Ara yang kini juga menatapnya tak kalah terkejut. Gadis itu duduk di tepi ranjang dengan santainya sementara Ara, dimana istrinya? Mengapa jadi Anisa yang disana? Matilah ia sekarang juga.
"Kakak ngapain masuk ke kamar Ara? Nggak ngetuk pintu lagi...," tanya Anisa heran dan tak habis pikir. Dan disaat yang sama pula Ara keluar dari kamar mandi. Ia pun sama terkejutnya melihat keberadaan Hanz disana, apalagi saat ini ia hanya memakai handuk yang di lilitkan di tubuhnya.
Ia meneguk salivanya kasar, melihat tatapan tajam kakak-beradik di depannya membuatnya bergidig takut. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan selain berdiri mematung disana menyaksikan kelanjutan dari ketegangan keduanya.
"Aku mau mengantar seragam Ara," ucap Hanz santai sembari meletakkan seragam Ara di tepi ranjang, dan pergerakannya tak lewat sedikitpun dari ekor mata Anisa yang menatapnya curiga. Namun ia tetap berusaha tenang seperti tak terjadi hal yang sangat fatal, walaupun kini jantungnya sudah bertalu-talu hampir meledak.
"Kenapa seragam Ara ada sama kakak?" tanya Anisa jelas-jelas makin curiga.
"Hmm..., itu seragam baru. Seragam Ara yang itu sudah robek, jadi kakak ganti."
Anisa semakin memicing curiga, bagaimana bisa robek? Jelas-jelas kemarin baik-baik saja. Lagian tak mungkin bisa robek secepat itu, oh ayolah..., seragam itu masih di pakain sekali oleh Ara, sangat tak masuk akal sekali.
"Kenapa bisa robek coba? Aku gak percaya, kakak gak usah bodoh-bodohin aku yah," ucap Anisa tak yakin membuat Hanz menghembuskan nafasnya kesal. Huftt, terpaksa ia harus jujur atau masalahnya akan semakin rumit.
"Kalau kamu gak percaya, liat aja di tong sampah," ucapnya sembari menunjuk tong sampah dengan dagunya membuat Anisa segera bergegas ke arah tong sampah untuk memastikannya.
Yah, tadi memang sebelum keluar Hanz menyempatkan diri untuk membuang robekan baju Ara ke tong sampah.
"Ini..., ini robekannya parah banget. Kok kayak robek di sengaja sih? Kenapa bisa gini?" tanya Anisa yang semakin terkejut dan tak mengerti apa yang terjadi. Sementara Ara yang sedari tadi menyaksikan perdebatan kakak-beradik tersebut hanya bisa meringis dan berharap kalau setelah ini statusnya masih tetap bisa tersembunyi.
"Aku yang robek. Bajunya kekecilan dan jelek, bahannya juga tipis, tembus pandang dan roknya kependekan. Aku gak suka Ara ke sekolah pake baju kurang bahan," ketus Hanz membuat Anisa melongo di tempat. Jelas-jelas seragam Ara tak seburuk yang di deskripsikan kakaknya ini. Lalu mengapa harus berlebihan seperti ini?
"Jadi karna itu doang kakak robek baju Ara sampe gak bisa di pake lagi?"
"Itu doang kamu bilang? Itu udah berlebihan buat anak sekolah. Ke sekolah tuh bukan tempat menggoda, tapi belajar. Baju Ara itu kekecilan, makanya laki-laki di sekolah kamu itu banyak yang naksir trus liatin dia kayak yang kamu bilang kemarin." dan Anisa benar-benar semakin tak habis pikir.
"Perasaan baju sekolah aku aja yang lebih ketat dan pendek dari Ara gak pernah tuh di tegor sama kakak. Kenapa cuma Ara doang yang di larang?" saat itu juga Hanz gelagapan. Ia sendiri pun bingung dan tak tau apa jawabannya. Ia sendiri pun heran dengan dirinya yang terlalu overprotektif pada Ara.
"I-itu, kamu kan gak bisa di bilangin. Makanya kakak malas negor, kalau Ara kan nurut sama kakak. Udah ah gak usah di bahas, kakak mau turun dul..," ucapan Hanz terpotong saat matanya menangkap siluet Ara yang kini berdiri dengan ekspresi takut-takut disana. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah karna Ara hanya menggunakan selembar handuk yang melilit di tubuhnya.
Ia meneguk salivanya kasar, sungguh itu pemandangan yang indah dan membius matanya hingga ingin terus disana dan menatap Ara seperti itu. Tapi kemudian satu kenyataan mengingatkannya, bahwa disana juga ada Anisa yang sangat merepotkan di hadapi. Ia harus segera mengembalikan kesadaran dan ekspresinya atau tidak itu akan membuat gadis tengil itu curiga dan berpikiran yang tidak-tidak nanti.
"Aku duluan," ucapnya kemudian berlalu dengan cepat menyisakan Anisa dan Ara yang kini saling bertatapan. Tatapan yang membuat Ara gugup karna Anisa menatapnya sangat intens dan penuh selidik.
"Ra, kakak aku nggak sering datang kesini kan pas kamu cuma pake handuk doang?"
Jelas saja Ara sangat terkejut dengan pertanyaan ngawur itu. Bagaimana bisa? Tadi saja ia tak bermaksud dan tak ingin dilihat Hanz dalam keadaan itu, hanya saja kakinya seperti kaku dan tak mampu bergerak hingga ia tak bisa pergi dari sana sebelum memastikan akhir perdebatan mereka.
"Nggak kok, aku pake baju dulu yah," ucap Ara cepat kemudian segera berlalu ke kamar mandi setelah ia meraih seragamnya yang di letakkan Hanz di ranjang. Ia tak ingin berlama-lama di interogasi oleh Anisa, karna gadis itu gencar sekali menanyakan pertanyaan yang sangat tak masuk akal demi memuaskan keingintahuannya.
Sementara Anisa berdecak sembari menggeleng-geleng kepala, lalu beberapa saat kemudian ia tersenyum sendiri saat menyadari betapa ini sangat konyol. Betapa tadi ia sudah sangat berhasil menciptakan wajah tegang kakaknya dan juga Ara tadi. Sangat menyenangkan.
__ADS_1
Sepertinya berbagi dengan yang lainnya pasti akan lebih seru lagi. Ia pun tertawa jahat dalam hati.
...