Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
18


__ADS_3

Setelah kepulangan Alea, Anisa dan si kembar, Hanz meminta Ara membawanya ke kamar mandi, katanya dia mau mandi karna sudah sangat kegerahan.


"Tuan di lap aja yah," saran Ara karna masih merasa khawatir, bagaimana bisa Hanz mandi dengan kondisinya itu?


"Nggak mau, aku mau mandi aja. Di lap nggak bersih."


Ara mendesah pasrah, Hanz memang rajanya kebersihan. Bahkan biasanya pria itu mandi hingga 3 kali sehari. Sangat gila bersih seperti takut di tempeli kuman.


Ara pun akhirnya bergegas menyiapkan pakaian suaminya itu. Setelah itu barulah ia membantu Hanz duduk di kursi roda dan membawanya ke kamar mandi.


"Kamu mau kemana?" tanya Hanz saat Ara mau keluar.


"Keluar tuan. Tuan kan mau mandi?" ucap Ara heran.


"Trus aku gimana dong mandinya? Kan tangan ku dua-dua nya di perban."


Ara pun melotot kaget, jadi maksudnya ia harus memandikan Hanz gitu?


"Ak-aku tuan yang mandiin?"


"Ya kamu lah, siapa lagi? Suster? Aku nggak mau, kamu aja." Ara pun meneguk salivanya salah tingkah. Ara tidak tau harus bagaimana? Ingin ia menolak, tapi takut Hanz marah. Ia kira Hanz tadi mau mandi karna bisa sendiri, ternyata ia harus campur tangan. Bagaimana ini?


"Ya-yaudah deh tuan," ucap Ara gugup kemudian mendekat lagi pada suaminya. Ara pun mulai membuka kancing atasannya satu persatu dengan wajah yang sengaja di palingkan dari Hanz.


"Tangan kamu gemetaran banget sih? Kapan selesainya kalau gitu?"


"I-ia tuan sabar sebentar. Ini lagi usaha." ucap Ara yang malah membuat Hanz terkekeh. Dalam hati, ia tertawa puas telah berhasil mengerjai Ara.


Ara pun melanjutkan kembali aktivitasnya membuka kancing itu sampai selesai kemudian melepas baju itu dari tubuh suaminya.


Lalu kemudian ia sedikit merendahkan badan dan meraih bagian pinggang celana suaminya dan menurunkannya secara perlahan bersamaan dengan celana dalamnya. Hanz sedikit menaikkan bokongnya untuk mempermudah Ara. Tangan Ara sudah sangat bergetar, butuh nyali yang lebih besar untuk pekerjaan berbahaya ini.


"Gimana kamu mau mandiinnya sih kalau muka kamu di palingin gitu? Gimana bisa bersih nantinya?" protes Hanz membuat Ara meneguk salivanya gugup. Jadi apakah ia harus melihat Hanz dengan tubuh telanjang itu? Haruskah?

__ADS_1


"Tap-tapi tuan, buk-bukannya harusnya tuan di lap saja tadi? ak-aku kira tuan bisa mandi sendiri," ucap Ara pelan dan was-was.


"Sudah aku bilang aku nggak mau di lap karna nggak bersih. Kamu kan pengasuh, jadi kamu pasti sudah biasa dong mandiin si kembar. Jadi apa susahnya mandiin aku?"


Ara menatap tak habis pikir pada Hanz. Bisa-bisanya pria ini mengatakan itu padanya dengan santai. Antara memandikan si kembar dan memandikannya jelas itu sangat jauh berbeda, dan tahap kesulitannya ibarat langit dan bumi. Tidak tahukah Hanz kalau sedari tadi ia berusaha mati-matian melawan detak jantungnya yang terus bergemuruh di dada? Bisa-bisa ia mati jantungan jika ini terus di lanjutkan.


"Kalau begitu kenapa tuan tidak minta di mandiin suster aja?" Akhirnya Hanz pun diam. Mungkin karna tak mau kebohongannya terbongkar.


"Aku maunya sama kamu."


"Tapi kenapa harus aku?"


"Karna kamu pengasuh. Ahh, sudah jangan tanya, sekarang kamu mandiin yang benar, muka nggak usah di palingin gitu," kesal Hanz membuat Ara akhirnya menarik nafas panjang kemudian menghembuskankannya pelan.


"Ba-baik tuan," ucap Ara pasrah.


Kemudian ia mula menoleh ke arah Hanz, namun ia masih tak berani menatap sang suami yang kini sudah telanjang sempurna di hadapannya. 


"Ap-apanya yang sama tuan?"


"Tadi kamu malingin muka, sekarang kamu mejamin mata. Gak ada bedanya." Ara pun meringis. Yah, ia lupa kalau mata nya secara refleks tertutup. Ara segera membuka matanya kembali secara perlahan dan wanti-wanti agar ia tak serangan jantung dadakan. Dan...


Ia meneguk salivanya kasar. Baru melihat tubuh berotot dan perut kotak-kotaknya saja jantung Ara sudah lari marathon lebih kuat dari tadi. Bagaimana kalau ia harus melihat ke bawah lagi?


"Gak usah ngiler kamu. Disini mau mandi, gak usah mikir aneh-aneh."


Seketika itu juga Ara tertohok, rasa kagum tadi berganti dengan kekesalan yang membumbung dalam hati. Tak ingin membuang waktu lagi, Ara segera menyirami tubuh Hanz dengan air shower hangat secara perlahan. Hanz mengangkat kakinya yang di gips dan juga tangannya yang di perban agar tak kena air.


Sementara Ara sudah mati-matian berusaha sok kuat menahan diri karna bagaimanapun matanya akhirnya tak bisa lolos dari pemandangan tongkat besar yang mengacung tegang tersuguh di depan matanya. Sungguh seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat benda lelaki dewasa seperti ini, dan itu tampak sangat menyeramkan di matanya hingga beberapa kali ia di buat bergidig ngeri. Ia tak bisa bayangkan bagaimana benda itu nanti memasuki dirinya, ahhh tidak. Ia takut sekali.


Ara mengambil sabun cair dan mulai menyabuni tubuh Hanz secara perlahan mulai dari atas hingga ke bawah. Berusaha mati-matian ia melewatkan hal-hal yang membuat otaknya makin kacau.


"Kok itunya aku nggak kamu sabunin?"

__ADS_1


Ara terdiam menutup mata mendengar ucapan Hanz. Sebenarnya suaminya ini kenapa sih? Mengapa ia seperti tampak sengaja? Tapi bukankah ia sedang lupa ingatan?


"Be-berarti ak-aku harus pegang tuan?" tanya Ara dengan suara bergetar di paksakan keluar.


"Ia lah, gimana lagi nyabuninnya kalau nggak di pegang?"


"Tap-tapi..."


"Cepatan, aku udah kedinginan banget disini. Kamu mau buat aku sakit?"


Ara pun menggeleng cepat, mana mungkin ia mau membuat Hanz sakit? Tapi.... Untuk menyentuh itu? Tidak, ini adalah pekerjaan, ia harus melakukannya.


Dengan meneguk saliva kasar, tangan Ara pun mulai perlahan menyentuh benda keras itu pelan, tangannya bergetar menahan ketakutan. Ia heran, mengapa benda itu bisa membengkak sebesar itu? Apakah karna Hanz lagi sakit makanya dia bengkak? Dan sedetik kemudian ia mendengar Hanz mengerang. Ia pun panik, apa Hanz kesakitan karna ia pegang? Tapi ia menyentuhnya pelan, ia tidak bermaksud menyakiti Hanz.


"Tuan, tuan baik-baik saja kan? Tuan sakit karna aku sentuh ya tuan? Maafkan aku tuan, maaf maaf maaf," ucap Ara merasa sangat bersalah. Air mata hampir saja lolos di wajahnya. Tapi kemudian Hanz menggeleng kuat membuatnya mengernyit bingung.


"Itu tidak sakit Ara, itu enak. Kamu harus menyentuhnya lagi, cepat lakukan lagi," ucap Hanz membuat Ara menatapnya tak yakin. Jelas-jelas tadi ia melihat Hanz mengerang seperti kesakitan, bagaimana bisa ia melakukan itu lagi? Ia tak mau menyakiti suaminya.


"Tapi tuan..."


"Sttt..., kamu lanjutin pegang kalau kamu nggak mau aku kesakitan lagi. Urut dia."


Ara membola, urut? Bagaimana caranya?


"Tuan, mengurut itu tidak boleh sembarangan. Nanti salah urat, aku nggak mau nanti tuan sakit."


"Jangan banyak bicara Ara, kamu harus urut dia kalau kamu nggak mau aku sakit. Cepatan," perintah Hanz yang sedari tadi sudah mati-matian menahan diri.


Arghhh, ia menyesal menyuru Ara memandikannya. Hasratnya jadi bangkit hanya karna berduaan saja dengan Ara di ruangan sempit dan lembab ini. Dan kini, ia harus mati-matian menerangkan pada gadis polos ini apa yang harus di lakukan. Namun Ara tampak terlihat ragu-ragu setiap kali ia menyuruhnya hingga membuatnya kesal tak tahan lagi. Seandainya tangannya tak di perban, sudah ia pastikan kalau ia akan menarik tangan mungil Ara itu agar melingkari miliknya dengan sempurna.


"Lakukan Ara atau aku akan mati," ancam Hanz berhasil membuat Ara kelimpungan dan tak pikir panjang lagi untuk menyentuh tongkat panjang dan besar itu kembali. Meskipun ada rasa geli-geli gimana, Ara tetap berusaha bertahan walaupun ia sudah sangat merinding sekarang. Tak cukup hanya melihat ia juga harus menyentuh bahkan di suru mengurut itu, sungguh ia tak pernah membayangkan kejadian ini terjadi padanya seumur hidupnya.


....

__ADS_1


__ADS_2