Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
7


__ADS_3

Setelah sampai Hanz dan Ara berjalan beriringan memasuki rumah. Ara masih stay berjalan di belakang Hanz dengan jantung menggebu-gebu karna masih mengingat insiden ciuman itu. Sambil sesekali ia memperhatikan langkah lebar suaminya dan juga perawakannya dari belakang yang menurut Ara terlalu sempurna untuk jadi manusia. Kini ia tak yakin kalau pertahannya tak akan luruh. Hatinya tak bisa berbohong kalau sebenarnya ia sudah mulai merasakan sesuatu pada suaminya ini. Suatu hal yang membuatnya nyaman ketika mereka bersama, terkadang juga rasa nyaman berganti dengan rasa gugup, terkadang rasa panas yang melingkupi hati, namun di balik itu rasa ingin dekat selalu lebih mendominasi. Ia seperti takut kehilangan pria ini dan ia tak ingin jauh-jauh darinya. Apakah ia benaran sudah jatuh cinta?


Jika demikian, bagaimana nasib hatinya setelahnya? Karna ia tentu sangat tau, siapa yang ada di hati Hanz. Dan itu bukanlah dirinya.


"Araaaa....," teriakan cempreng yang menggema itu mengalihkan perhatian Ara. Disana, ia melihat kedua temannya sudah berdiri menyambutnya. Atau lebih tepatnya menyambut suaminya.


Yah, walaupun yang di teriakkan kedua temannya adalah namanya, tapi ia bisa lihat kalau mata mereka bukan untuknya, melainkan wajah tampan suaminya. Ia sangat yakin itu karna ia tau Nanda dan Sila mengagumi suaminya sejak di kantin tadi.


Dan menurutnya itu hal yang wajar, tak ada yang aneh. Hanz itu begitu sempurna, tak susah untuk menaruh hati padanya. Jadi ia tak begitu mempermasalahkan walaupun sebenarnya hatinya sedikit merasa cemburu karna suaminya memiliki banyak penggemar.


"Kok kamu pulangnya sama kak Hanz?" tanya Sila sambil senyum-senyum tidak jelas melihat wajah tampan Hanz yang bahkan kini memasang tampang datar dan seakan tak merasa kalau ia sudah jadi bagian dari topik pertanyaan Sila.


"Kebetulan searah," jawab Ara singkat. Hanz pun berlalu dari sana tanpa sepatah kata pun meninggalkan ketiga gadis yang kini sama-sama menatapnya.


"Astagaa hott," ucap Nanda memandang punggung Hanz yang semakin menjauh dengan mata berbinar.


"Itu selera gua banget seriusan, seksi...," tambahnya lagi membuat Sila mangguk-mangguk setuju. Sementara Ara menatap kedua temannya sambil geleng-geleng kepala. Seketika ia jadi berfikir, bagaimana kalau teman-temannya ini tau kalau ia dan Hanz sudah menikah? Apakah mereka akan menjauhinya? Hal itupun membuatnya semakin tak berani dan takut kebenaran ini terungkap. Jujur, ia benar-benar belum siap.


"Ehh, maaf yah. Aku ke kamar dulu trus mandi. Nanti aku turun lagi trus kita belajar."


Sila dan Nanda pun mengangguk setuju.


"Ia Ra, gak papa. Gak usah terburu-buru, kita punya banyak waktu kok," ucap Nanda. Ara pun mengangguk kemudian segera berlalu ke kamarnya.


Setelah membersihkan diri, Ara keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di badannya sambil tangannya sibuk mengeringkan rambur basahnya dengan handuk kecil. Kemudian ia menuju ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya karna tadi ia lupa membawanya. Yah, entah mengapa ia seringkali lupa hal kecil itu. Untung ia memiliki kamar sendiri, jadi ia tak perlu malu dan sungkan pada siapapun.


"Biasakan membawa pakaian mu kalau kamu mau mandi. Bagaimana kalau seandinya ada orang lain yang masuk ke kamar mu? Kamu ceroboh sekali."


Deggg...


Suara bariton yang agak serak itu membuatnya hampir terlonjak kaget. Ia meneguk salivanya kasar kemudian dengan pelan dan jantung berdegub kencang ia pun berbalik dan menoleh ke sumber suara.


Dan yah, ia melihat siluet suaminya yang kini duduk dengan santainya di tepi ranjang sambil menatapnya intens. Entah sejak kapan ia disana Ara pun tak tau, dan bahkan ia tak menyadari keberadaan Hanz sejak tadi.


"M\-mas, mas nga\-ngapain disini?" oh tolong lah, sepertinya saat ini ia akan tumbang.


Bagaimana tidak? Tatapan Hanz begitu tajam dan intens ke tubuhnya dan tatapan itu seakan sedang menelanjanginya. Ada sesuatu di matanya yang tak dapat ia deskripsikan, yang pasti mata itu tampak gelap dan seperti berkabut sesuatu.


Hal itupun membuat kakinya begetar dan ingin luruh sekarang juga.


"Kamu harus tanggung jawab," ucap Hanz mengabaikan pertanyaan Ara. Kemudian ia beranjak dan mendekati Ara yang kini malah semakin bergetar namun juga tak bisa begerak. Kakinya seperti terpaku dan ia tak bisa menghindar lagi disaat tangan Hanz kini sudah meraih pinggangnya dengan cepat lalu manariknya mendekat pada tubuhnya.


Kini tubuh mereka merapat. Ada sensasi aneh yang menjalar di dada nya dan sensasi itu semakin menyerangnya dan membuatnya semakin gugup tak karuan.


"M\-mas mau apa?"

__ADS_1


"Mau minta pertanggung jawaban."


"Per\-pertanggung jawaban apa?"


"Pertanggung jawaban karna kamu sudah menggoda ku."


Ara menelan salivanya susah payah. Menggoda? Kapan ia menggoda? Seumur hidup ia belum pernah menggoda siapapun.


"Tap\-tapi aku, ak\- Humpfff..." belum sempat Ara menyelesaikan ucapannya, Hanz sudah membungkam mulutnya dengan bibir pria itu dan membuat Ara tak bisa berkutik lagi.


Entah mengapa ia malah menjadi diam disaat pria itu menciumnya. Bukankah seharusnya saat ini tangannya sudah harus bekerja untuk mendorong tubuh suaminya itu? Lalu mengapa ia malah diam? Mengapa otak dan tubuhnya tidak sejalan?


"Kamu harus membuka mulut mu sayang," bisik Hanz lembut yang spontan membuat wajah Ara merona merah karna di panggil sayang oleh Hanz. Kemudian dengan malu\-malu ia membuka mulutnya. Dan hal itu membuat Hanz tersenyum penuh kemenangan, kemudian ia segera melayangkan ciumannya mautnya yang panas dan menuntut seakan meminta Ara membalasnya. Namun Ara tak mengerti dan hanya diam saja saat Hanz mengerjai mulutnya.


Hanz pun menarik diri dengan sebal kemudian menatap Ara yang kini sedang bernafas ngos-ngosan. Ia tersenyum lembut, senyum manis yang membuat Ara terbuai dan terpesona, kemudian ia pun membalas senyuman suaminya tak kalah manisnya.


"Sayang, kamu harus membalas ciuman ku, oke?" ucap Hanz dengan suara seraknya yang sialnya justru semakin seksi di telinga Ara.


"Tapi.., aku nggak tau caranya mas," ucap Ara kemudian menunduk malu.


Hanz pun terkekeh gemas dengan istri kecilnya ini. Oh sial, mengapa gadis kecil ini sangat seksi dengan balutan handuk itu? Ingin sekali rasanya ia menarik handuk itu hingga lepas kemudian segera menarik Ara ke ranjang dan menyatukan tubuh mereka berdua.


Tapi ia tau semuanya tak semudah itu. Ara mungkin belum siap dan gadis itu bahkan masih sekolah. Di tambah lagi bisa jadi masalah besar kalau sampai keluarganya tau. Karna itulah ia berusaha mati\-matian menahan hasratnya yang sejak tadi sudah membumbung tinggi.


"Kamu lakukan saja seperti yang aku lakukan nanti. Pokoknya kamu ikutin naluri kamu aja, nanti lama\-lama juga bisa. Ya?"


Namun tiba\-tiba...


"Ara, lu lama banget sih mandinya," teriakan Nanda dari luar membuat Ara membola terkejut dan dengan refleks mendorong tubuh Hanz menjauh.


"Aku masuk yah," Seketika itu juga kepanikan menyerangnya dan tak tau harus mengatakan apa. Bagaimana ini? Ada Hanz di kamarnya dan ia dalam keadaan tanpa pakaian, apa yang akan Nanda pikirkan tentang mereka nantinya?


Tidak, mereka tak boleh ketahuan. Hanz harus sembunyi tapi dimana? Seketika ia teringat kamar mandi. Ia pun segera mendorong\-dorong tubuh Hanz yang kini malah memasang tampang kesal, tapi ia tak peduli. Saat ini ia harus menyembunyikan Hanz dulu jika mereka tak ingin ini terbongkar.


"Mas jangan keluar yah," ucap Ara sembari mempertemukan kedua tangannya seperti memohon.


Hanz memutar bola matanya dan dengan tampang kesal ia pun mengangguk saja. Menurutnya teman Ara sangat mengganggu suasana, menyebalkan. Padahal ia belum puas.


Ara pun menutup pintu kamar mandi, kemudian ia segera membuka pintu kamarnya sedikit karna ia masih belum mengenakan pakaiannya.


"Masuk Nan," ucapnya mempersilahkan Nanda yang kini menerobos masuk dengan santainya sambil memberengut kesal karna Ara lama membukakan pintu.


"Kenapa lama sih Ra buka pintunya?"


"Oh, itu\-hemm..., aku baru keluar dari kamar mandi," bohong Ara gugup. Untung Nanda tak terlalu memperhatikan kegugupannya.

__ADS_1


"Lu mandinya kok lama banget sih?"


"I\-ia, aku mandinya memang lama."


"Ohh, ya udah deh lu pake baju dulu. Gua tunggu di bawah yah, Sila sama Icha juga udah nungguin di bawah," ucap Nanda membuat Ara menghebuskan nafas lega.


"Ia, aku bentar lagi turun kok," jawab Ara semangat.


"Ok deh, bye...., eh eh tunggu dulu. Kok tiba\-tiba perut gua mules yah? Aishhh..., ini pasti gara\-gara kebanyakan makan cemilan si Icha tuh. Aishh merepotkan saja, Ra gua pinjem kamar mandi yah," ucap Nanda cepat kemudian segera berlari ke arah pintu kamar mandi Ara yang seketika membuat Ara panik bukan kepalang.


"Ehh Nan jangan," teriaknya membuat Nanda menghentikan langkahnya kemudian menatap Ara kesal. Perutnya sudah sangat sakit dan Ara malah menghalangi langkahnya.


"Apa sih Ra?," kesalnya sambil mengelus perutnya yang sudah sangat sakit meminta untuk membuang sesuatu.


"It\-itu... Closetnya  rusak, lagi sumbat. Kamu ke kamar Anisa aja yah di sebelah."


Nanda menghembuskan nafasnya kesal, lalu tanpa pikir panjang, ia segera berlalu dari sana.


Barulah Ara benar\-benar bisa bernafas lega. Akhirnya Nanda pergi juga. Ia pun segera berlari menuju pintu kamar mandi kemudian membukanya.


Dan hal pertama yang ia lihat adalah suaminya yang kini berdiri tegak di depan pintu sambil menatapnya tajam.


Ia pun terkekeh merasa bersalah kemudian jarinya membentuk pis dan minta maaf.


"Mas, maaf yah."


Kemudian dengan gerakan cepat yang bahkan tak pernah ia bayangkan, Hanz sudah menarik tengkuknya kasar kemudian mendaratkam ciuman di bibirnya dengan kasar.


Perlahan\-lahan Hanz membawa Ara berjalan mundur kearah rajang dengan bibir yang masih saling menempel. Lalu setelah berada tepat di samping ranjang, Hanz pun segera menjatuhkan tubuh mereka ke atas ranjang dengan Ara di bawahnya.


Ciuman mereka semakin intens dan semakin panas. Tampak sekali kalau Hanz sedang meluapkan apa yang sudah ia tahan\-tahan sadari tadi. Ia tak perduli dengan tangan Ara yang kini memukul\-mukul dadanya dengan tangan kecilnya itu.


Ia justru semakin menyerang istri kecilnya tersebut semakin membabi buta. Bahkan tak sampai disitu, kini ciumannya sudah beralih dari bibir Ara ke leher jenjang gadis tersebut.


Kemudian sebuah ide nakal di otaknya muncul. Dengan senyum menyeringai, ia kemudian menghisap leher Ara kuat hingga menciptakan sebuah warna merah pekat disana, jejak kissmark.


Ara pun meringis merasakan sensasi berbeda saat Hanz melakukan itu. Ada sesuatu seperti menjalar di bawah sana dan ia pun tanpa sadar mendesah kuat membuat Hanz tertawa senang kemudian ketagihan ingin melakukannya lagi, karna ia ingin mendengar suara itu lagi. Suara seksi Ara yang sialnya sangat menggoda itu, suara desahan.


Namun tiba\-tiba...


"Ara, Nanda, kalian kok lama banget sih."


Degggg....


.....

__ADS_1


 


__ADS_2