Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
13


__ADS_3

Susah payah menahan diri akhirnya Hanz tak sanggup juga. Sedari tadi ia berusaha mengenyahkan bayangan Ara dari pikirannya agar ia bisa konsentrasi mengerjakan pekerjaan kantornya yang tadi sempat tertunda karna ulahnya yang pulang begitu saja dari kantor.


Tak ingin semakin diliputi oleh rasa tak nyaman itu, ia memilih untuk segera menuntaskannya. Ia akan segera menemui Ara apapun yang terjadi. Ia pun akhirnya segera memilih keluar dari ruang kerjanya dan diam-diam menuju ke kamar Ara sambil melihat-lihat apakah ada orang yang melihatnya atau tidak.


Dan setelah dirasa aman ia pun segera mendekat ke pintu kamar Ara kemudian mengetuknya pelan. Hingga tak lama kemudian daun pintu bergerak menandakan pengisinya di dalam bersedia membukakan untuknya. Dan terpampang lah wajah cantik yang sejak tadi terus membayanginya hingga membuatnya hampir gila.


"Mas, kena..."


Belum sempat Ara menyelesaikan ucapannya, Hanz sudah terlebih dahulu menyosor masuk dan menarik Ara kedalam kemudian menutup pintu kembali.


"Mas, mas ngapain ke kamar aku malam-malam? Nanti kalau ada yang liat gimana mas?" tanya Ara panik. Sungguh ia sangat takut jika saja mereka ketangkap basah saat ini.


"Sttt... Sayang, mas rindu sama kamu," ucap Hanz manja. Ia sendiri tak sadar betapa menggelikannya dirinya kini.


"Tapi mas, kita lagi ada di rumah. Kita nggak boleh sembarangan gini. Lagian juga kita baru ketemu sejam yang lalu di meja makan," protes Ara lembut, ia tak mau membuat suaminya marah.


"Tapi mas udah rindu sayang. Lagian juga mas udah mastiin tadi kalau nggak ada siapapun yang liat mas. Kamu jangan marah ya," bujuk Hanz membuat Ara hanya bisa mendesah pasrah.


"Terus sekarang mas mau ngapain disini?" Hanz pun menyeringai senang mendengar pertanyaan Ara.


"Mas mau cium kamu."


Seketika sekujur tubuh Ara meremang mendengar ucapan Hanz. Tiba-tiba ia merinding membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya. Ingin sekali ia kabur tapi kakinya terpaku seperti tak dapat ia gerakkan.


"Mas, ak-aku mau masih mau belajar," ucap Ara dengan rasa gugup yang mendominasi.


"Cuma sebentar kok sayang."


"Tap-tapi tugas ku banyak."


"Baru mau mas cium aja kamu udah gemetaran gini, gimana kalau mas minta hak mas sekarang Ara?" tanya Hanz gemas melihat tingkah Ara yang ketakutan seperti ini. Sementara jantung Ara sudah bertalu-talu kuat mendengarnya.

__ADS_1


Perlahan Ara merasakan kedua tangan Hanz menyentuh lembut kedua sisi wajahnya. Sepasang matanya masih bertatapan dengan sepasang mata Hanz yang kini malah menjadi tampak gelap entah karna apa. Ia pun meneguk salivanya gugup.


Wajah Hanz perlahan mendekati wajah Ara hingga akhirnya bibir tebalnya mendarat di bibir mungil istrinya. Manis, kenyal, lembut dan memabukkan. Itu adalah dominasi yang selalu ia rasakan ketika bibirnya bertemu dengan bibir Ara.


Ara bisa merasakan jantungnya semakin berdetak tak karuan, tanpa ia sadari matanya perlahan terpejam, bibirnya terbuka, dan ia menanti, menanti kelanjutan dari penyatuan rasa kenyal di bibirnya kini.


Dan akhirnya penantian itupun berakhir seiring dengan bibir Hanz bergerak memangut bibir atasnya, kemudian berganti memangut bibir bawahnya, setiap pangutan yang Hanz lakukan serasa membuat jiwanya melayang. Hanz begitu lihai menciptakan rasa memabukkan dalan setiap pangutannya hingga mampu mengimbangi setiap hembusan nafasnya dan membuatnya terengah.


Sejenak Hanz melepas pangutannya dan menatap wajah Ara yang masih terpejam sembari manarik nafas dalam akibat kehilangan oksigen sejenak tadi. Namun sedetik kemudian Hanz kembali menempelkan bibir mereka dengan kepala di telengkan ke sebelah sisi dan memperdalam ciuman mereka, ia mengulum bibir Ara, ******* kemudian melesakkan lidahnya kedalam mulut Ara dan bersiap mengeksplor seluruh isi dalam mulur Ara dengan telaten tanpa terlewat sedikitpun.


Dan entah sejak kapan Ara bukanlah lagi hanya pihak yang menerima, ia terbuai hingga tanpa sadar ia mengalungkan tangannya di leher Hanz memperdalam ciuman mereka.


Hanz tersenyum merasa jika Ara sudah takhluk padanya, tangannya pun turun ke bawah dan menarik pinggang Ara mendekat dan menempel dengan tubuhnya, Ara membalas ******* bibir Hanz, lidah mereka menari-nari erotis saling membelit.


Ara pasrah ketika Hanz membawanya ke kasur dan merebahkan tubuhnya disana diikuti dengan tubuh Hanz yang menaungi di atasnya. Tangan kanan Hanz menopang tubuhnya agar tak sepenuhnya menindih Ara, sementara tangannya yang lain bertengger indah di pinggang Ara. Bibirnya semakin dalam ******* dan menyerang bibir Ara yang masih tampak kaku membalas ciumannya.


Perlahan tangan kirinya semakin naik menyusuri setiap jengkal tubuh Ara hingga akhirnya berhenti di sebuah gundukan menggoda yang terasa pas di tangannya. Ia pun meremasnya pelan, namun hal itu berhasil membuat Ara tersentak dan bagai di kejutkan kesadarannya pun kembali.


Tapi kemudian ia juga sadar kalau ia salah telah mendorong kuat tubuh suaminya. Di tatapnya wajah Hanz dengan panik, ia takut telah membuat Hanz kesal. Dan ternyata memang ia sudah membuat Hanz kesal.


"Kamu kenapa dorong mas?" tanya Hanz sembari menatap Ara tajam.


"Ak-aku refleks mas, maaf," sesal Ara sembari menunduk merasa bersalah. Tapi sepertinya Hanz benar-benar sudah diliputi kekesalan yang dalam.


"Refleks? Setelah tadi kamu balas ciuman mas? Setelah kamu berhasil goda mas? Setelah kamu bikin hasrat mas naik baru kamu refleks? Ara, kamu nggak tau ya kalau itu udah buat mas sakit?" teriak Hanz emosi.


Bagaimana tidak? Ia merasa sudah di php oleh Ara. Ia kira penerimaan Ara pada ciumannya adalah ijin untuknya menuntut akses lebih. Tingkah Ara tadi sudah sangat berhasil menggoda dan mengusik hasratnya untuk keluar, dan ia ingin sekali menuntaskannya dengan Ara, tapi gadis itu malah mengacaukan semuanya dan membuat sesuatu di bawah sana sakit.


"Maaf mas, ak-aku belum siap," satu kalimat dari Ara itu bagai bom di kepala Hanz. Belum siap? Bukankah itu sudah kesepakatan mereka tadi sore? Lalu kenapa sekarang menjadi belum siap lagi?


Arghhh, tak ingin semakin kesal lagi karna menatap wajah polos Ara yang tampak menyesal ia pun memilih pergi begitu saja dari kamar Ara membawa kekesalannya. Lebih baik ia sekarang menuntaskan bagian bawahnya dulu dengan sabun agar otakknya bisa kembali waras lagi berfikir.

__ADS_1


Namun hal itu sudah berhasil mengusik Ara, ia sudah ketakutan setengah mati karna Hanz pergi begitu saja dengan kemarahan. Ia takut Hanz akan membencinya karna tak bisa menjadi istri yang baik. Tidak, ia harus bicara dengan Hanz untuk menjelaskan semuanya. Ia tak akan bisa belajar dengan tenang kalau masalah ini masih menggantung seperti ini.


Ia pun segera bergegas beranjak dari kamarnya. Namun saat ia baru membuka pintu, wajah Anisa yang memang akan mengetuk pintunya membuat Ara menghentikan langkahnya.


"Ara, kamu mau kemana?" tanya Anisa saat menyadari sepertinya tadi Ara mau keluar.


"Ah an-anu itu, aku mau keluar, buat... Buat cari angin, ia-cari angin," jawab Ara yang sangat kentara sekali gugup membuat anisa mengernyit curiga namun sedetik kemudian ia menyeringai jail saat menyadari mau kemana Ara sebenarnya. Ia yakin tadinya Ara mau menemui kakaknya. Tapi ia diam saja tak ingin membuat Ara malu. Lagian masih ada yang perlu ia tanyakan pada Ara.


"Ra, tadi di sekolah di kasi tugas nggak?"


"Ehm, ia. Tugas matematika, tadi aku lagi ngerjain," jawab Ara seadanya. Yah, tadi ia memang sedang mau mengerjakan itu, tapi kedatangan hingga kepergian Hanz dari kamarnya mengurungkan semuanya.


"Berarti kamu blum siap dong."


"Belum Sa."


"Oh ya udah kalau gitu kita ngerjain bareng yuk, aku blum ngerti soalnya. Urusan nyari angin nanti aja, tugas lebih penting," ucap Anisa semangat membuat Ara terdiam pasrah kemudian mengangguk. Ara tak mau mengecewakan Anisa. Jarang-jarang Anisa semangat tentang tugas, apa mungkin itu efek putus cinta? Jika begitu berarti itu hal baik menurut Ara. Setidaknya Anisa sudah sadar kalau saat ini mereka perlu belajar lebih giat lagi karna sebentar lagi akan ujian kenaikan.


Akhirnya niatnya untuk menemui Hanz malam ini terpaksa gagal sudah.


 


Pagi harinya di meja makan, tampak semuanya berjalan normal. Kecuali satu hal, itupun jika ada yang menyadari. Hanz dan Ara yang diam\-diaman, Hanz tampak cuek dan berusaha menghindar dari tatapan Ara yang seakan memohon untuk di tatap karna ia ingin mengisyaratkan permintaan maaf.


Padahal biasanya mata Hanz yang paling jelalatan pada Ara, diam\-diam curi pandang. Sepertinya memang kini Hanz benaran marah padanya. Ara jadi semakin frustasi dan tak tenang. Bagaimana cara menjelaskannya pada Hanz?


"Ara kamu udah selesai blum? Berangkat yuk," ajak Anisa membuat Ara hanya bisa mengangguk pasrah dengan berat hati. Ingin sekali ia sekarang berlari memeluk Hanz dan meminta maaf sebelum ia ke sekolah, karna jelas harinya hari ini pasti tak akan sukses jika diliputi rasa bersalah terus.


Dengan langkah berat Ara pun mengikuti langkah Anisa ke luar setelah tadi mereka pamit dan menyalim tangan oma, dan kedua mertuanya. Sebenarnya ia juga ingin melakukan itu pada Hanz, bagaimanapun itu seharusnya kewajibannya, tapi tentu sangat tak mungkin dengan status mereka kini.


....

__ADS_1


 


__ADS_2