
Ara baru saja selesai video call dengan orang tuanya dan memberitahu perihal nilainya. Kedua orang tuanya tertawa senang dan bahagia mendengarnya. Mereka pun tak lupa mengucapkan selamat dan memberikan nasehat agar Ara semakin rajin dan terus menjadi anak yang baik. Tak lupa mereka pun menasihati agar Ara bisa menjadi menantu dan istri yang baik. Mereka memang belum tau kalau Ara dan Hanz merahasiakan pernikahan mereka dari keluarga Hanz.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu kamarnya membuat Ara baranjak dari duduknya di pinggiran ranjang tadi kemudian segera membukakan pintu.
"Sayang, mas boleh masuk kan?"
Ara tersenyum sembari mengangguk menjawab pertanyaan Hanz. Kemudian ia pun membukakan pintu lebih lebar lagi lalu membiarkan Hanz masuk. Setelahnya ia kembali menutup pintu dan menguncinya untuk berjaga-jaga. Ia takut kejadian seperti terakhir kali kepergok oleh Icha terulang kembali.
"Mas nggak ada yang liat kan?"
"Nggak ada kok sayang. Aman," ucap Hanz percaya diri membuat Ara tertawa pelan.
"Sayang, mas rindu banget sama kamu. Mulai dari ujian kemarin kamu cuekin mas terus, kan mas jadi sedih," ucap Hanz manja sembari memeluk tubuh Ara dari belakang. Kedua tangannya melingkar sempurna di pinggang ramping istrinya dan kepalanya ia sandarkan di bahu Ara sembari mencari kesempatan menghirup aroma vanila Ara yang selalu berhasil membuatnya mabuk kepayang.
"Itu kan karna mas ngerjain aku, jadinya aku harus belajar ekstra agar aku bisa ngerjain ujian dengan baik," jelas Ara membuat Hanz meringis. Ara masih saja ingat masalah itu.
"Mas kan udah minta maaf, kamu juga udah maafin mas, kenapa di ungkit lagi sayang?"
"Maafin aku ya mas," ucap Ara merasa bersalah. Padahal Hanz sendiri tau, tak seharusnya ia merasa bersalah karna Ara tak pernah bersalah. Tapi tetap saja ia ingin mengambil kesempatan ini, bagaimana bisa iblis membuang-buang kesempatan hebat di depan mata.
"Kalau kamu mau mas maafin, kamu harus nurut sama mas, waktu itu kan kamu udah janji kalau kamu bakal mau di sentuh sama mas. Tapi sampe sekarang itu belum kesampaian juga. Mas udah nggak sabar jadiin kamu milik mas seutuhnya sayang."
Ara meneguk salivanya kasar mendengar penuturan Hanz yang blak-blakan mengarah kesana. Ia jadi kembali terbayang dan teringat kejadian terakhir kali saat ia memandikan Hanz. Ia pun kembali mengingat bagaimana besarnya milik Hanz hingga ia bergidig ngeri. Setelah semua itu, ia tak tau apakah ia masih bisa melakukan itu.
"Bagaimana Ara?"
"Ak-aku...."
Ara tampak ragu membuat Hanz mendesah kecewa. Ia pun segera melepaskan pelukannya pada tubuh Ara dan bergegas ingin beranjak keluar, namun Ara segera menahan lengannya.
"Mas, mas mau kemana?"
"Keluar," jawab Hanz singkat dan ketus.
"Mas marah?"
"Nggak tau," lagi-lagi ketus.
"Maafin aku mas," ucap Ara sembari menunduk sedih.
__ADS_1
"Kalau kamu mau dimaafin kamu harus jadi istri yang baik dong."
Persetan jika Hanz sekarang seperti ******** yang mengharapkan layanan dari gadis polos dan menodainya yang masih suci. Ia tak peduli, setidaknya jika pun ia ********, ia adalah ******** yang ingin menodai istrinya sendiri.
"Mas, ak-aku..., aku mau. Aku akan layanin mas," ucap Ara gugup dan pelan.
Seketika senyuman gembira pun terukir di wajah tampan Hanz. Ia menang.
Cup
Hanz mengecup kening Ara lembut.
"Kamu tenang aja, kita akan lakuin di hotel biar kita nggak ketahuan," ucap Hanz membuat Ara mengangguk pelan. Dalam hati ingin sekali kini ia berteriak dan mengatakan kalau ia sangat takut. Jantungnya pun sudah berdegub kencang membayangkan apa yang akan terjadi padanya.
Tapi bagaimana lagi? Inilah resikonya jika harus menikah muda. Ia tak bisa mengabaikan dan memungkiri hal seperti ini. Dari awal harusnya ia sudah meyakinkan hati kalau ini akan terjadi padanya cepat atau lambat.
"Besok kamu ikut mas ya, kita bawa si kembar jalan-jalan ke mall, sekalian mas juga mau bawa kamu jalan-jalan dan beliin kamu pakaian dan apapun yang kamu mau. Kamu bisa ambil apapun sesuka kamu sebagai hadiah dari mas karna hari ini kamu udah buat mas bangga sekali," ucap Hanz membuat Ara tampak berfikir. Ia sendiri bingung apa yang ia inginkan. Ia rasa ia sudah memiliki semuanya di rumah ini. Tapi entahlah, biarkan besok ia lihat sendiri. Karna jika ia menolak sekarang, ia yakin Hanz akan kesal padanya.
"Ia mas."
"Ara, mas bangga banget sama kamu. Mas gak nyangka istri kecil mas ini pinter banget. Kamu hebat," entah udah keberapa kalinya Ara mendengarkan kata-kata itu hari ini. Tapi tetap saja ketika Hanz yang mengatakannya rasanya seperti berbeda. Hatinya jauh 2 kali lebih senang saat Hanz yang mengatakan ia hebat.
"Makasih mas."
^^^
Hari ini Hanz memenuhi janjinya pada si kembar. Ia membawa Reno, Rena dan juga Ara jalan-jalan ke mall. Mereka berjalan beriringan, Ara memegang tangan Rena dan Reno di bawa oleh Hanz. Banyak mata yang menatap mereka takjub, mereka seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Tante Ala, Lena mau boneka, yang banyak."
"Uncle, Reno mau mobilan yang keren."
"Ya udah kalau gitu kita ke toko mainan yuk," ajak Hanz membuat keduanya berteriak senang bersamaan. Ara tersenyum melihat keantusiasan kedua bocah lucu tersebut.
Mereka pun akhirnya ke toko mainan seperti permintaan si kembar. Ara menemani Rena memilihkan bonek yang cantik-cantik, sementara Hanz menemani Reno memilihkan mobil-mobilan terbaru yang cukup membuat Reno bersemangat melihatnya. Benar-benar seperti keluarga sungguhan, banyak yang salah paham tapi mereka tak peduli.
"Uncle, boneka aku kelen kan? Walna pink, tante Ala yang pilihin, Lena suka banget," ucap Rena bangga.
"Mobilan aku juga keren, bisa jalan sendiri kalau aku perintah, bisa berubah jadi robot, terus kalau aku suru mukul kamu, pasti mobilnya mau," ucap Reno membuat Rena cemberut kesal.
"Reno sayang, nggal boleh gitu. Kamu nggak boleh nyuru robotnya pukul Rena, kan kasian adik kamu," ucap Ara lembut membuat Reno akhirnya mengangguk. Rena dan Reno itu pasti akan menurut apapun perkataan Ara. Hanz hanya senyum-senyum saja melihat mereka sedari tadi.
__ADS_1
"Ya udah, karna kalian udah selesai beli mainan, sekarang kita temanin tante Ara ya beli baju," ucap Hanz. Si kembar pun mengangguk antusias.
"Holee, tante Ala beli baju balu."
"Pasti tante Ara makin cantik deh."
"Tap-tapi, baju aku kan masih banyak mas," bisik Ara di telinga Hanz.
"Mas mau kamu beli baju baru buat di pake pas kita kencan nanti malam," bisik Hanz balik di telinga Ara.
Ara pun meneguk salivanya kasar. Kencan? Apakah kencan yang Hanz maksud itu...
"Ak-ak... "
"Sttt, mendingan sekarang kamu ikut aku, ayo!" ucap Hanz sembari menarik tangan Ara dengan tangan kirinya kuat.
"Ahh, mas pelan-pelan, tangan aku sakit," protes Ara sembari meringis karna tangannya terlalu kuat di tarik Hanz.
"Maaf sayang maaf, mana yang sakit? Kita ke dokter dulu ya," ucap Hanz spontan membuat Rena dan Reno terkejut kemudian saling tatap.
Sayang?
"Mas gak hati-hati sih."
"Maaf sayang, mas kan gak sengaja."
Hanz sibuk mengusap tangan Ara yang tadi ia tarik dengan lembut untuk meredakan sakit yang Ara rasa. Sementara Rena dan Reno melepaskan diri dari pegangan kedua manusia itu.
"Leno, kalo panggil sayang itu bukannya pacalan?" bisik Rena membuat Reno mengangguk setuju.
"Ia, setau Reno sih kalo sayang itu pacaran. Jangan-jangan uncle dan tante udah pacaran betulan?" bisik Reno kembali membuat Rena menutup mulut dengan kedua tangannya.
Mereka saling tatap kembali, kemudian...
"Kita halus bilang bunda," ucap keduanya serempak membuat Ara dan Hanz langsung menoleh pada keduanya.
"Bilang apa sayang?" tanya Ara heran, Hanz memincing curiga.
"Bil..."
Baru saja Rena akan membuka mulutnya, tapi Reno langsung menutupnya dengan sebelah tangannya. Adiknya benar-benar tak bisa menjaga rahasia.
__ADS_1
"Bilang mainan kami keren, hehe..., " ucap Reno sembari terkekeh garing. Ara dan Hanz pun hanya mangguk-mangguk walau masih sedikit heran dan tak yakin.
...