Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
12


__ADS_3

"Tante Alaaaa...," teriakan Rena menggema di ruang depan luas rumah besar itu. Ara dan Hanz yang baru pulang dan memasuki rumah pun tersenyum senang mendapat penyambutan sedemikian menggemaskannya dari bibir si cadel Rena. Mereka pun akhirnya menghampiri si kembar yang kini berlomba berlarian mendekati mereka.


"Tante Ala, Lena kangen tante Ala. Tante Ala pulangnya lama banget sih?" tanya Rena yang kini di gendongan Ara.


"Ia tante Ara, kami bosen nggak ada tante Ara. Mainnya gak asik lagi deh," ucap Reno yang kini dalam gendongan Hanz menimpali ucapan kembarannya.


Sepasang suami istri diam-diam itupun tertawa renyah mendengarnya. Rena dan Reno sangat menggemaskan, siapapun akan jatuh cinta pada kedua bocah ini di pertemuan pertama.


"Tante Ara kan harus belajar sayang, biar tante Ara naik kelas, kan bentar lagi ujian kenaikan. Rena dan Reno juga harus belajar dengan baik yah," ucap Ara lembut membuat si kembar mengangguk serempak.


"Ia tante Ala, Lena udah belajal kok. Leno aja yang malas." Seperti biasa, Rena akan selalu dengan senang memberitahukan kerajinannya dan sekaligus akan menjatuhkan kakak kembarnya. Reno yang kesal dengan ucapan Rena pun segera menjulurkan lidahnya untuk meledek Rena.


"Rena rajin tapi cengeng, tadi di sekolah dia di cubit teman langsung nangis," adu Reno membuat Ara menatap Rena khawatir sembari mencari-cari di tubuh Rena bekas cubitan temannya, siapa tau cubitan itu kuat berbekas dan melukai Rena.


"Rena sayang, kamu di cubitnya dimana?"


"Disini tante, Teman Lena nakal. Dia suka sama Leno, telus kilim salam, tapi Lena nggak mau kalna Leno bilang nggak suka, telus dia cubit Lena deh tante. Cubitnya sakit, telus Lena nangis, akhilnya Leno datang buat diamin Lena, Leno peluk Lena deh tante," jelas Rena panjang lebar sembari menunjuk lengannya bekas cubitan temannya yang ternyata sudah hilang. Syukurlah itu tak melukai Rena.


"Jagoan uncle ternyata hebat yah bisa bikin gadis-gadis jatuh cinta," puji Hanz pada Reno dengan bangganya. Sepertinya pesona Reno adalah copy paste dari dirinya ketika kecil dulu. Ia juga dulu seringkali di taksir gadis-gadis seperti itu hingga kadang membuatnya sangat jengah dan ingin sekali memaki mereka, tapi mamanya selalu mengingatkan itu tak baik. Akhirnya ia pun akan selalu memilih diam walaupun ia sangat kesal. Tapi syukurlah ia tak punya kembaran seperti Reno kepada Rena, apalagi kembaran yang memiliki mulut bocor seperti Rena. Ihh, ia bergidig ngeri membayangkan bagaimana ia harus menghadapi kembaran menyebalkan seperti itu nantinya, apalagi tanggung jawabnya otomatis semakin besar karna harus menjaga sang adik dari serangan buas para gadis yang akan mendekatinya seperti Reno yang menjaga Rena.


Ehh tapi, pikiran memiliki anak kembar yang menggemaskan seperti Reno dan Rena tiba-tiba menghinggapi otaknya. Entah mengapa tiba-tiba ia jadi ingin punya anak, apalagi jika menggemaskan dan kembar pasti akan lebih menyenangkan lagi. Pikiran itu membuatnya akhirnya senyam-senyum tak jelas sembari membayangkannya. Membayangkan Ara hamil dan perutnya membesar, pasti akan sangat lucu di tubuh mungilnya itu, di tambah lagi sikapnya yang akan berubah menjadi bawel akibat hormon, entah mengapa ia berharap seperti itu. Ia ingin sekali-sekali melihat Ara dalam versi menyebalkan, karna selama ini hanya sisi lembut dan baik yang selalu menguar dari Ara.

__ADS_1


"Woi Hanz, jangan senyum-senyum terus. Turunin anak kakak, mereka belum mandi tuh."


Tiba-tiba suara teguran kakanya Alea yang tak ada selow-selow nya itu membuat lamunan Hanz buyar dan pecah sudah. Ia pun segera menurunkan Reno yang entah kenapa kini terkikik geli dengan Rena di bawah. Ia sadar siapa yang di tertawakan kedua bocah mungil itu.


Dengan malu ia pun menggaruk kepalanya yang tak gatal untuk menyembunyikan kebodohannya. Tapi sudah terlanjur, Alea sudah lebih dulu mencibirnya dengan menohok.


"Gak nyangka aja, adek kakak yang biasanya konsentrasi penuh dengan tampang dingin dan sok coolnya kini melamun sembari nyengir-nyengir gak jelas."


Ia sangat-sangat malu dan malah teramat malu. Bisakah ia langsung sembunyi sekarang? Ia pun segera beralih menatap wajah istrinya takut-takut. Ia takut Ara ilfil dengan tingkah bodohnya, namun ternyata yang ia lihat adalah senyuman lembut yang di persembahkan Ara padanya untuk membuatnya sejenak melupakan rasa malunya. Ia pun akhirnya memiliki kekuatan lagi untuk membalas ucapan kakaknya.


"Kakak nggak usah urusin hidup aku. Urus aja tuh bocah kakak yang belom mandi. Oh ya, coba cek deh badan Rena, siapa tau masih ada bekas kekerasan disana. Tadi Reno bilang kalau Rena di cubit," Alea yang baru tau perihal itupun terkejut kemudian segera menarik Rena dan memutar-mutar tubuh putrinya untuk memastikan dengan jelas.


"Tadi udah aku periksa kok kak Alea, bekas cubitannya udah hilang. Kayaknya temannya nyubit nggak terlalu kuat kok," ucap Ara membuat Alea menghembuskan nafas lega.


"Ia, ini tak bisa dibiarkan begitu saja, tapi by the way kamu udah cocok deh Hanz jadi ayah. Sebaiknya kamu cepat-cepat nikah deh biar Rena sama Reno punya ade baru," ucap Alea yang malah membuat Hanz memutar bola matanya kesal. Lagi dan lagi.


Ia pun bukannya tak mau punya anak. justru itu yang sedang ia pikirkan tadi makanya ia sampai menghayal sampai senyum-senyum begitu. Tapi apalah daya, istrinya masih bocah dan masih sekolah. Huftt, resiko menikahi gadis kecil.


"Kak Alea nggak usah alihin pembicaraan deh. Lagian kalo mau Reno dan Rena punya adek ya tinggal cetak sendiri lagi. Susah amat sih?" kesal Hanz membuat Alea terkikik senang telah berhasil menggoda Hanz.


"Kak Alea, kalau kak Alea ke sekolah mereka tolong jangan kasi hukuman yang parah sama anak itu ya. Cukup diingatkan aja, kasian dia kak. Namanya juga anak kecil, mereka masih belum pintar membedakan mana yang baik dan tidak, setiap anak pasti pernah kan melakukan kesalahan? Reno dan Rena pun nanti belum tentu bebas dari kesalahan," ingat Ara membuat Alea tersenyum kemudian mengangguk menanggapinya. Menurutnya Ara ini adalah tipe gadis yang amat berhati lembut dan baik, mungkin Ara adalah gadis yang cocok untuk jadi istri Hanz, walaupun ia masih seumuran Icha tapi pemikirannya sangat dewasa. Seandainya saja Hanz bisa membuka hati untuk Ara maka ia pasti akan sangat senang punya adik ipar seperti Ara.

__ADS_1


"Tante Ala, Lena mandinya sama tante Ala yah...., Lena bosen dimandiin bi Latih, maunya sama tante Ala yang cantik," ucap Rena manja. Ara pun kemudian tersenyum lalu meraih Rena kembali dalam gendongannya yang tadi sempat ia turunkan karna perintah Alea.


"Ya udah, Rena mandi sama tante Ara aja sama-sama di kamar mandi tante ya," ucap Ara yang malah membuat Hanz tak setuju.


"Eh-eh, nggak nggak nggak, masa kamu gendong Rena sih ke atas? Kan kamu capek, tas kamu aja masih di gendong. Udah sini Rena nya biar mas yang gendong, kamu bawain tas mas aja yah," ucap Hanz yang tanpa sadar malah membuat Alea terkejut dengan mata membola. Mas? Sejak kapan ada panggilan itu? Yah, perasaan selama ini Ara belum pernah memanggil Hanz dengan sebutan apapun di depan mereka. Jadi apakah selama ini Ara memanggil Hanz dengan sebutan mas? Mengapa sepertinya menjadi menggelikan gitu di telinganya?


"Mas? Ara manggil Hanz dengan sebutan mas?" tanya Alea menahan tawa. Bukan karna itu lucu, hanya saja ia merasa kedua manusia ini diam-diam seromantis ini. Hahahaha....


Ara dan Hanz yang baru menyadari kesalahan pertama itupun segera meringis pelan. Jantung Ara bertalu-talu, ia takut jika saja Alea curiga pada mereka.


"It-itu karna... pas di kampung Ara semua orang kebiasaan manggil aku mas, jadi Ara pun manggil aku mas," ucap Hanz mencoba menutupi yang malah terlihat makin konyol di pikiran Alea.


"Sejak kapan kamu mau di panggil seseorang dengan sebutan itu? Perasaan dulu kamu selalu kesal di panggil mas karna tak mau di samakan dengan mas-mas tukang jualan bakso keliling di komplek," ucap Alea yang membuat Hanz terdiam kalah telak. Yah, dulu ia paling tak suka di panggil mas karna panggilan itu menggelikan menurutnya. Siapapun yang memanggilnya mas pasti akan dapat tatapan tajam mematikan darinya.


Tapi entahlah, jika Ara yang memanggilnya demikian malah tampak berbeda di hatinya. Malah kedengaran seksi di telinganya dan ia menyukai itu. Ia suka panggilan itu jika Ara yang mengatakannya.


"Kak Alea, kami permisi dulu yah," ucap Ara menahan malu. Ia tak mau semakin malu lagi hingga akhirnya ia lebih memilih menghindar dari pembahasan itu setelah Alea mengangguk, ia pun membawa Rena dalam gendongannya tanpa perduli perkataan Hanz yang terakhir kali lagi. Lagian ia juga masih kuat hanya untuk menggendong tubuh mungil Rena ke atas.


"Uncle, Reno juga mau dong mandi sama uncle. Masa Rena ada teman mandi tapi Reno nggak. Boleh ya uncle...," bujuk Reno yang entah mengapa membuat Hanz bersyukur habis-habisan pada Tuhan atas kehadiran Reno dalam dunia ini. Ia jadi menemukan alasan untuk menghindari kakaknya saat ini, ia tak ingin melanjutkan pembahasan ini. Lebih baik ia kabur dari sama seperti Ara yang tega meninggalkannya sendiri.


"Ia dong jagoannya uncle. Kita mandi sama-sama yuk, udah sore. Jangan mau kalah sama Rena ya," ucap Hanz kemudian mengangkat tubuh kecil Reno kembali lalu segera berlalu tanpa ijin pada Alea yang kini malah senyum-senyum tak jelas melihat tingkah keduanya yang teramat lucu di matanya.

__ADS_1


"Tingkah mereka bahkan lebih menggemaskan dari Rena dan Reno. Ckckck...." gumam Alea sembari berdecak tak habis pikir.


...


__ADS_2