Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
23


__ADS_3

Setelah selesai makan, Hanz membawa Ara  duduk di tepi ranjang. Matanya menatap manik mata Ara dalam dan berhasil membuat wajah Ara merona di tengah penerangan cahaya lilin. Tangan Hanz terulur untuk menyentuh wajah Ara dengan lembut. Jantung Ara semakin bertalu-talu kuat.


"Sayang, kamu takut sama mas?" seketika Ara menggeleng dengan cepat.


"Kalau kamu takut kamu ngomong ya!" kali ini Ara mengangguk.


Hanz tak bodoh, sebenarnya ia bisa merasakan kegugupan Ara sejak tadi, tapi gadisnya itu berusaha untuk menutupi agar tak membuatnya kecewa.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Ngg-aa-it-itu mas aku..."


"Kamu belum siap juga?" tebak Hanz cepat dan di balas gelengan cepat juga oleh Ara.


"Kamu jangan bohong sama mas, kalau kamu memang belum siap, mas nggak akan maksa."


Ara terdiam cukup lama, otaknya sibuk berpikir. Sebenarnya ia ingin mengatakan kalau ia belum siap, tapi sungguh ia tak mau Hanz kecewa. Teringat kembali kata-kata ibunya di kampung kalau ia tak bisa menolak keinginan suami jika ingin di layani. Tapi ini beda, dulu Ara mengiyakan pada ibunya karna tidak tau kalau ia akan sekolah, tapi sekarang... Ia sedang sekolah, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tak terduga? Tapi tetap juga pikirannya semakin berkecamuk. Sebelum sekolah, ia adalah seorang istri. Tak seharusnya ia egois, Hanz adalah seorang pria dewasa dan itu kebutuhannya. Tidak mungkin ia membiarkan Hanz menahan hasratnya sementara ada dirinya, kalau hal seperti itu saja ia tak bisa berikan sebagai seorang istri, lalu apa gunanya dirinya? Lagi pula Hanz sudah terlalu baik padanya selama ini, dan yang terutama, ia mencintai Hanz.


"Aku siap kok mas," ucap Ara mantap, namun kini keraguan malah ada di pihak Hanz, tampak dari mata kelamnya yang seperti memancarkan ketidak yakinan akan jawaban Ara.


Hanz meletakkan kedua tangannya di bahu kiri-kanan Ara dengan lembut, matanya mengisyaratkan tatapan penuh makna. Sebuah senyuman tipis terukir di wajah tampannya untuk memberitahukan pada Ara kalau ia tak semenakutkan itu, jadi ia ingin Ara bicara yang sejujurnya dan ia tak akan marah.


"Ara, kalau kamu memang belum siap, mas nggak akan maksa kamu. Kamu jangan takut buat nolak mas, karna mas nggak mau nyakitin kamu. Mas akan berusaha sabar nunggu sampai kamu siap, kamu jangan merasa ini semua sia-sia, karna bagi mas walaupun kita nggak jadi lakuin itu, ini tetap kencan yang membahagiakan asalkan kamu bahagia," ucap Hanz dengan senyuman terukir di wajah tampannya, dan Ara terpesona melihatnya, melihat suaminya.


"Ara, mas nggak tau kenapa perasaan ini ada, tapi sejak kenal kamu rasanya dunia mas sudah berubah. Mas juga kadang merasa tergila-gila dan ingin sekali selalu dekat sama kamu, aneh rasanya karna mas nggak tau cara mengartikannya. Mas nyaman setiap di dekat kamu, terkadang jantung mas akan berdegub kuat sampai sesak, terkadang mas kayak anak kecil yang gugup saat melakukan kesalahan padahal mas nggak tau salahnya dimana. Mas ingin selalu lindungin kamu walaupun mas nggak tau apa maksud semua ini. Selama ini mas selalu mensugesti diri kalau arti rasa itu adalah rasa sayang mas sama kamu, mas selalu meyakinkan diri kalau itu bukan cinta karna bukan rasa seperti itu yang mas rasakan ketika mencintai Sahara. Tapi kemudian mas menyadari suatu hal, yang mas rasakan selama ini benar, hanya pemikiran mas yang salah..."  Hanz bernafas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Mas sudah jatuh cinta sama kamu. Itu cinta, tapi mas bodoh dan nggak tau mengartikannya hanya karna selama ini mas terlalu sibuk mengenang rasa yang selama ini mas berikan untuk Sahara. Mas tenggelam di dalamnya sampai mas tidak tau membedakan antara cinta yang mas miliki untuk Sahara dan juga cinta untuk kamu..." sebulir air mata haru menyeruak dan mengalir bebas di wajah Ara.


"Mas mencintai Sahara dengan banyak hal indah yang ada pada dirinya. Dia cantik, baik, lembut, sama halnya dengan mu, dia penyayang. Dia juga pintar, dia anggun, dia mempesona, dia sempurna. Semua itu bisa mas lihat dengan jelas sampai akhirnya mas terpikat oleh daya tariknya. Tapi beda dengan mu..."


"Kamu memang cantik, penyayang, lembut, manis, polos, indah. Tapi saat pertama mengenal atau bahkan mulai tumbuh rasa padamu, mas tidak melihat itu semua. Rasanya mata mas buta dan semuanya mengalir begitu saja, semua rasa itu tiba-tiba ada sehingga akhirnya mas bisa melihat semua kelebihan diri kamu itu. Lebih tepatnya, mas mencintai Sahara karna melihatnya menarik, tapi mas mencintai kamu dan akhirnya tau kalau kamu menarik, itu dua hal yang berkebalikan yang membuat mas tersesat di dalamnya dan akhirnya bingung dan baru menyadarinya akhir-akhir ini. Mas mencintai kamu dan kali ini mas yakin sekali..." air mata itu semakin mengalir deras akibat terpaan rasa haru di dada Ara yang begitu dalam. Kata-kata dan ucapan Hanz sudah membuat dadanya mengembang bahagia.

__ADS_1


"Karna itulah tujuan mas ingin memiliki kamu seutuhnya untuk mas timbul semakin kuat. Mas lakuin ini bukan karna kebutuhan biologis  semata, tapi karna mas egois. Mas ingin miliki kamu untuk mas seorang. Terakhir kali kamu sibuk dengan sekolah dan belajar, mas merasa bodoh sendiri karna iri dengan pelajaran kamu itu. Selintas mas menyesal membiarkan kamu sekolah lagi, tapi kemudian mas sadar itu keterlaluan, mas akhirnya menyalahkan diri karna lahir terlalu cepat, seandainya mas seusia kamu, mas akan ke sekolah dengan mu dan akhirnya kita jumpa setiap saat, rasanya sedikit saja jauh dari mu seperti ingin membunuh mas. Mas takut kamu dekat dengan seseorang di sekolah dan akhirnya meninggalkan mas, Bodoh sekali memang, sangat bodoh. Tapi akhirnya karna kebodohan itu, mas berinsiatif mencari tau makna perasaan mas sama kamu, hingga kesimpulan akhirnya adalah cinta. Bagaimanapun mas menolak mengakui itu cinta, tetap saja jawaban terakhir yang mas temui adalah cinta. Dan karna cinta itu, mas memutuskan harus memiliki kamu seutuhnya..."


"Tapi kemudian mas sadar saat melihat kegugupan dan ketakutan di mata kamu. Mas benci sama diri sendiri karna terlalu egois dan memaksa. Mas mengucapkan pada diri sendiri,  'mau se-egois apa lagi mas sama kamu?' dan akhirnya mas memutuskan lagi untuk menghentikan ke-egoisan itu."


"Mas nggak akan maksa kamu apa-apa lagi Ara. Mas mencintai kamu tulus dan mas juga akan dengan tulus menunggu sampai kamu siap untuk mas miliki, mas akan menunggu walaupun nanti di pertengah-tengahannya mungkin sulit menahan diri, tapi mas akan..."


Cupp


Kecupan Ara di bibirnya membuat Hanz menghentikan ucapannya.


Ara menatap Hanz lembut dengan senyuman terharu dan air mata bahagia yang ia teteskan tadi. Sungguh rasanya ia melayang saat mendengar semua penuturan panjang Hanz. Ia tau, ia paham maksud Hanz, ia tak ingin mendengarkan apapun lagi, ia ingin Hanz berhenti mengucapkan apapun.


Karna ia hanya ingin memiliki Hanz untuknya saat ini. Ia juga ingin memiliki Hanz.


Sekarang ia tau, mengapa ia masih belum siap selama ini. Karna ada satu hal yabg ia tunggu. Ucapan cinta dari Hanz.


Ya, ungkapan cinta itu sudah ia dapatkan kini. Lalu apa lagi yang membuatnya ragu? Ia tak akan meragukan apapun lagi.


"Apa kamu yakin sayang?" Ara mengangguk cepat.


"Aku yakin mas, sangat yakin."


"Kamu harus pikirkan ini baik-baik sekali lagi. Mas kasi kamu waktu 10 menit, karna mas tak mau kamu menyesal."


"Aku yakin mas, nggak perlu 10 menit lagi karna itu buang-buang waktu. Aku juga ingin dimiliki mas," ucap Ara cepat dengan wajah tersipu-sipu.


Hanz meneguk salivanya kasar. Baiklah, ini permintaan Ara sendiri. Tak ada kata mundur lagi.


"Ara, mas peringatkan sama kamu, saat mas buka baju kamu ini, itu tandanya nggak ada lagi kata mundur untuk kamu walaupun kamu tiba-tiba menyesal dan menangis, mas nggak akan berhenti. Jadi sebelum ini benar-benar terlepas, kamu harus ngomong kalau kamu ragu," ucap Hanz sambil meraih pinggiran bawah gaun Ara. Ara pun meneguk salivanya gugup, namun dengan tekad yang kuat dan keputusan yang bulat, ia mengangguk.


Dan di detik berikutnya ia sudah merasakan bibir Hanz menyambar bibirnya dengan rakus dan nakal. Bibir Hanz menuntut dalam ke setiap rongga mulutnya ******* habis-habisan dan mengabsen setiap deretan senti isi mulutnya. Lidah Hanz yang lihai beradu dengan lidahnya yang bahkan tak tau caranya membalas dengan benar.

__ADS_1


Perlahan tangan Hanz yang tadi di pinggangnya kini naik sebelah menyusuri setiap jengkal tubuhnya yang masih terbalut gaun yang ia kenakan. Mendebarkan. Dan..


Yah, Hanz meremas dadanya kuat membuat sesuatu seperti suara erangan meluncur bebas dari mulutnya tanpa ia sadari. Dan entah mengapa setelah itu Hanz malah semakin gencar mermas dadanya semakin kuat secara bergantian.


Ciuman Hanz turun ke lehernya, menyentuhnya dengan lembut dengan sapuan lidahnya dan membuat Ara merasakan kegelian yang luar biasa.


"Hentikan Ara... Hentikan mas," ucap Hanz di sela-sela ciumannya. Tapi Ara tak mengatakan apapun. Ia terlalu sibuk dengan rasa nikmat yang baru dirasakannya. Ia tak peduli Hanz mengatakan apa, ia ingin ini berlanjut.


"Arghhh...," suara erngan lolos dari bibir mungil Ara saat Hanz menghisap kuat lehernya dan menciptakan sengatan aneh yang baru ia rasakan.


Hanz menghentikan kegiatannya. Matanya yang berkabut tajam dengan tatapan penih hasrat menatap Ara dengan nafas ngos-ngosan.


"Ara, hentikan ini. Kalau tidak, mas tidak akan bisa menahan diri lagi nanti."


Tapi Ara menggeleng, sudah ia katakan kalau ia tak akan berhenti.


"Kalau mas tak sanggup berhenti, maka jangan berhenti," ucap Ara membuat Hanz menggeretakkan rahangnya kuat kemudian dalam kecepatan kilat, ia kembali menerjang Ara dengan ciuman mautnya dan menidurkan Ara di ranjang kemudian menindihnya dengan  tumpuan pada tangan kirinya.


"Kamu yang meminta ini," ucap Hanz kemudian dengan sekali tarikan ia berhasil merobek gaun yang Ara gunakan hingga membelah ke bawah. Ara sempat menatapnya tercengang.


Hanz melepas gaun itu hingga terlepas seutuhnya dari tubuhnya. Kini tubuhnya hanya tersisa bra dan juga cd nya, wajahnya memerah menahan malu. Hanz memperhatikan setiap jengkal tubuhnya dengan begitu intens hingga membuatnya seperti di tusuk-tusuk. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya gelisah, ia malu.


"Kamu indah sekali sayang," ucap Hanz dengan suara berat dan serak. Wajah Ara pun semakin merona sekali.


Kemudian dalam sekali tarik, bra Ara terlepas seiring dengan bergoyangnya kedua gundukan itu. Hanz menelan salivanya kasar, sungguh pemandangan itu sangat indah. Kulit putih dan halus Ara membuatnya melayang sempurna. Hebat sekali.


Akhirnya karna tak tahan lagi, tangan kanan besarnya pun segera mendarat di dada kiri Ara dan meremasnya lembut. Ara mengerang lagi membuat kerja jantungnya semakin kuat memompa.


Mengapa gadis kecilnya ini sangat seksi dengan proporsi tubuh mungil namun menggoda itu? Menurutnya segala hal dalam tubuh Ara itu pas, pas untuknya. Bahkan kedua gundukan itupun terasa pas di telapak tangannya seakan-akan memang itu di ciptakan untuknya.


"Mas akan mulai sayang," bisik Hanz dengan lirih di telinga Ara.

__ADS_1


...


__ADS_2