
Hanz membawa Ara ke kamar yang akan ditempati oleh gadis itu. Kamar Ara tepat di sebelah kamarnya. Yah, ia sengaja membawa Ara kesana, kebetulan ada sisa satu kamar kosong di lantai atas. Tentu saja ia tak akan membiarkan istrinya jadi salah satu penghuni mess para pelayan di belakang rumah.
"Kamar ini besar sekali mas, sangat indah. Apa nggak masalah pengasuh tidur Disini?"
"Kamu kan istri ku, jadi tidak masalah. Sudah seharusnya kau berada di kamar yang nyaman."
"Tapi mas, mereka kan taunya aku pengasuh."
Hanz pun mulai tersadar, astagaa...
Ia tak memikirkan itu, ia sudah memancing kecurigaaan keluarganya. ****** dia.
"Aduhh, sudahlah. Semuanya sudah terlanjur, nanti aku yang cari alasan kalau mereka nanya," ucap Hanz yang saat ini tampak ragu dengan perkataannya sendiri.
"Mas, aku tidur di kamar pembantu aja gak papa."
"Nggak, kamu tetap disini. Aku nggak mau di bantah." Ara pun hanya bisa terdiam pasrah dengan keputusan suaminya yang keras kepala.
"Istirahatlah, kau pasti lelah," ucap Hanz, kemudian entah dorongan dari mana ia mengecup kening Ara lembut. Hal yang seketika membuat gadis itu terdiam kaget dengan wajah yang lagi-lagi merona. Bahkan ketika pria itu pergi keluar dari kamarnya, ia masih saja mematung sempurna.
Setelah membersihkan diri, Ara keluar dari kamarnya. Ia rasa, sudah saatnya ia melakukan tugasnya sebagai pengasuh. Meskipun ia tidak telaten untuk mengurus anak kecil, tapi ia sangat menyukai anak\-anak. Termelebih seperti si kembar yang sangat menggemaskan.
Ia pun turun kebawah dan mencari\-cari keberadaan si kembar. Tapi ia tak menemukan mereka, hanya ada Anisa disana yang sedang asyik menonton televisi.
"Ara, aku ingin bicara dengan mu sebentar."
Ara yang hendak pergi berbalik kembali setelah mendengar suara Anisa.
"Ia nona?"
Anisa memperhatikan Ara dari bawah sampai ke atas. Alisnya mengernyit melihat gaun selutut yang dipakai Ara. Seingatnya tadi siang ia melihat Ara datang dengan baju kumal, memakai rok khas orang kampung. Mengapa sore ini ia memakai gaun rumah yang cantik?
"Wah, selera berpakaian mu bagus sekali. Kau sangat cantik menggunakan gaun ini Ara. Pesona mu yang sebenarnya semakin terlihat. Kalau kau bersekolah di sekolah ku, kau akan jadi primadona." ucap Anisa antusias. Yah, ia merasa si kembar memang benar, pengasuh mereka kali ini sangat cantik. Wajah Ara ini tidak cocok jadi pengasuh.
"I\-ini bukan saya yang pilih nona. Ma\-Tuan Hanzen yang membelikannya tadi." ucap Ara canggung. Hampir saja ia keceplosan memanggil Hanz dengan panghilan mas.
"Benarkah? Wow, bahkan kakak ku yang dingin pada wanita itu membelikan pengasuh baju, dia sendiri yang pilih bahkan," ucap Anisa mangguk\-mangguk dengan seringaian di wajahnya membuat Ara meringis dalam hati karna ia sudah salah bicara.
"Ara, mengapa kau tidak sekolah?"
"Ah itu..., orang tua saya tidak sanggup lagi membiayai sekolah saya nona."
"Jangan panggil aku nona, aku kesal dengan panggilanmu itu, panggil saja aku Icha. Dan kau tak perlu bicara seformal itu padaku."
"Ia A\-Anisa."
"Ara, kalau kau mau aku bisa mengatakan pada mama sama papah agar kau bersekolah di sekolahku. Mama sama papah pasti akan membiayai seluruh biaya sekolahmu." ucap Anisa membuat ara terkejut. Ia tak menyangka Anisa sebaik ini ingin menawarinya penawaran yang dulu sangat ia harapkan. Dulu ia sangat berharap ada orang baik hati yang bisa membantunya mewujudkan mimpi, ia berjanji kalau ia sukses nanti, ia akan membalas jasa orang itu. Tapi sekarang, penawaran itu datang di saat yang tidak tepat. Ia sudah menikah, tak mungkin lagi dirinya bisa sekolah. Tak mungkin juga Hanz mengijinkanya.
"Terimakasih Anisa, itu tidak perlu. Saat ini aku hanya ingin bekerja saja untuk membantu ayah sama ibu di kampung," ucapnya tak sepenuhnya bohong. Ia memang masih berniat membantu melunasi hutang ayah dan ibunya dengan gajinya sebagai pengasuh. Padahal tanpa ia ketahui, Hanz sudah melunasi semua hutang orang tuanya waktu itu.
"Yahh, sayang sekali. Padahal aku ingin ingin sekali punya teman seperti mu. Sama\-sama berangkat ke sekolah, sama\-sama belajar. Pasti sangat seru," ucap Icha kecewa. Ara pun jadi tidak enak hati padanya.
__ADS_1
"Aunty...." tiba\-tiba si kembar berteriak. Kemudian berlarian menuju Anisa dan Ara.
"Aunty Icha belum mandi yah? Bau asem tau. Mending Reno sama tante Ara saja deh," ucap Reno kemudian memegang tangan Ara dan mengajaknya duduk di sofa.
Anisa mendelik kesal pasa Reno, kemudian ia pun berlalu dari sana dengan wajah kesalnya. Sudah dipastikan ia akan ke kamarnya kemudian segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Rena sama Reno udah wangi\-wangi. Siapa yang mandiin sayang? Kok nggak panggil tante Ara aja biar tante Ara yang mandiin."
"Lena di mandiin sama bunda tante. Kalau Leno mandi sendili." ucap Rena.
"Reno nggak mau tante di mandiin sama bunda, Reno kan udah gede, Reno malu."
"Lain kali tante Ara yang mandiin yah sayang, jangan bunda lagi. Itu kan kerjaan tante Ara. Reno juga nanti dimandiin sama tente Ara yah."
"Ihh, Reno nggak mau tante Ara. Reno malu di liat tante Ara. Kata guru Reno, kita nggak boleh telanjang di depan cewe kita, itu dosa."
"Ihh Leno, tante Ala kan bukan cewe kamu. Tante Ala itu cewe nya uncle. Leno masih kecil, belum bisa pacalan. Bleee..." ledek Rena pada Reno yang kini cemberut.
Sementara Ara sedari tadi hanya tertawa saja melihat tingkah lucu kedua bocah kembar ini.
"Tante Ala, tadi kan lena bilang sama bunda kalau Lena mau dimandiin sama tante Ala, tapi bunda bilang tante Ala lagi istilahat. Katanya tante Ala cape."
"Tante Ara udah nggak capek kok, sekarang tante Ara mau maen sama kalian."
"Benalkah? Oke deh tante, tante Ala ikut ke kamal Lena aja yu, Lena tunjukin boneka Lena yang besal\-besal."
"Nggak, tante Ara ikut ke kamar Reno aja. Mainan Reno lebih canggih\-canggih."
"Kalau gitu kita ke kamar Rena aja dulu sama\-sama. Habis itu baru ke kamar Reno. Gimana?" tanya Ara lembut membuat kedua anak itu pun berteriak hore lalu mencium pipinya satu\-satu.
Ara sangat senang, Rena dan Reno menyukainya. Dan mereka juga anak yang baik dan mudah diatur.
Makan malam pun tiba, semua keluarga berkumpul di meja makan. Ara mengantarkan Rena dan Reno duduk di kursi mereka masing-masing setelah tadi kedua anak itu bermain puas dengannya, saling menunjukkan isi kamar mereka masing-masing.
"Ara, kamu duduk disini saja makan sama kami," ucap Anisa sembari menunjuk tempat duduk di sebelah kirinya dan bertepatan di sebelah kanan Hanz.
Kedua manusia itu salah tingkah. Termelebih Hanz yang sedari tadi asyik memperhatikan Ara yang ternyata jadi begitu cantik ketika ia memakai pakaian yang layak. Ia terpesona, entah mengapai sedari tadi ia tak bisa mengalihkan matanya dari Ara.
"Tapi... "
"Sudah, kamu duduk aja. Nggak usah canggung." kini sang tuan besar angkat bicara membuatnya mau tak mau pun duduk disana dengan canggung.
"Horee, tante Ara duduk makan juga," teriak Reno sambil menepukkan kedua tangan mungilnya.
"Ia, Lena juga senang tante Ala makan disini sama kita," kini si cadel Rena yang bicara. Semuanya pun menatap si kembar sambil tersenyum.
Setelahnya makan malam pun berjalan dengan hening. Tak ada suara selain suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Itu memang sudah peraturan dalam keluarga Zeino. Dan si kembar pun sudah di ajarkan hal-hal kecil itu makanya mereka juga makan dengan diam dan tentram. Takut opa nya yang tegas akan marah.
__ADS_1
Yah, di rumah itu semuanya takut pada Reksa, tak ada satupun yang berani melanggar perintah pria itu. Ketegasan dan wibawanya memberikan banyak contoh yang baik pada keluarganya. Termasuk pada Hanz sendiri yang mengagumi dan mengidolakan papahnya.
Tak lama kemudian makan malam pun usai. Dan seperti biasa semua keluarga akan berkumpul untuk berbincang-bincang sejenak. Kecuali si kembar yang sudah masuk ke kamarnya masing-masing untuk tidur.
Itu semua peraturan yang di tetapkan Reksa agar keluarganya yang sama-sama sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing seharian bisa menyempatkan waktu dengan keluarga.
Anisa menarik tangan Ara membuat gadis itu terkejut dan merasa tak enak. Anisa membawanya ikut bergabung bersama keluarga mereka.
"Ayo ikut, ada yang akan di sampaikan papah sama mu."
Ara bingung, jantungnya berdegub tak karuan. Kira-kira apa yang akan di sampaikan tuan besar padanya?
"Ara kemarilah, duduk disini."
Hanz pun sebenarnya heran mengapa papahnya mengajak Ara juga ikut bergabung dengan mereka. Padahal mereka kan taunya Ara itu pengasuh. Jika makan tadi ia bisa maklum karna Rena dan Reno pasti menyukainya, makanya keluarganya mengijinkan Ara bergabung. Tapi ini acara keluarga, tak sewajarnya Ara yang mereka tau sebagai pengasuh ikut serta.
Tapi meskipun begitu, ia tetap diam karna ia juga senang Ara bergabung dengan keluarganya. Bagaimanapun Ara adalah istrinya, meskipun ia belum sanggup mengakuinya sekarang.
"Ara, tadi Icha meminta kami agar menyekolahkan mu di sekolahnya juga..." seketika semua mata membelalak terkejut mendengar penuturan Reksa, selain Anisa dan Samira tentunya.
Hanz pun sama terkejutnya, tapi ia mencoba untuk lebih tenang lagi.
"Tapi kau menolak, mengapa kau menolak niat baik Ara? Jika kau mau, kami akan membiayai semua uang sekolah mu. Kau tak perlu takut."
Ara pun terdiam, sekilas ia menatap Hanz seperti ingin bertanya bagaimana ini?
Hanz mengerti arti tatapan Ara, ia tau Ara pasti dilema. Dan ia tau Ara sebenarnya ingin sekali sekolah lagi, tapi karna pernikahan mereka, mungkin Ara berat menerimanya.
Sebenarnya ia juga senang jika Ara sekolah lagi, entah mengapa dan sejak kapan yang jelas ia jadi merasa aneh dengan dirinya sendiri yang merasa ingin melihat Ara bahagia. Dan ia tau, bersekolah adalah salah satu keinginan dan impian Ara, pasti gadis itu akan sangat bahagia.
"A-aku nggak bisa tuan. Aku harus bekerja untuk melunasi hutang ayah sama ibu di kampung. Lagian saya juga disini untuk mengasuh Rena sama Reno. Kalau saya sekolah, siapa yang akan mengasuh mereka?"
Hanz meringis dalam hati saat mendengar jawaban Ara. Ia lupa memberitahukan jika ia sudah melunasi semua hutang orang tua Ara sebelum mereka kesini. Bahkan ia sudah memberikan uang untuk modal usaha pada kedua mertuanya tersebut.
"Kalau masalah itu kau tak perlu khawatir, kami bisa mencarikan pengasuh baru untuk mereka. Dan untuk masalah hutang orang tua mu kau tenang saja, kami akan membayar semuanya sampai lun..."
"Tidak perlu pah." dengan cepat Hanz memotong perkataan papahnya. Ia sangat terkejut saat papah nya mengatakan akan membayar hutang itu. Jika papahnya turun tangan untuk membayar hutang itu, maka bisa dipastikan tamat lah riwayatnya. Karna bagaimanapun, rahasia pernikahan mereka pasti akan terbongkar nantinya. Sungguh ia belum siap.
Sementara kini semua mata menatapnya dengan penuh tanya.
"Ahh itu..., kemarin a-aku sudah membayar semuanya sebelum kami kemari." ucapnya jujur membuat semua orang melongo tak percaya menatapnya.
Ara pun tak beda jauh dengan yang lainnya. Ia juga sangat terkejut mengetahui Hanz sudah membayar hutang orang tuanya sebelum mereka pergi. Ia tak menyangka Hanz sebaik itu dan pria itu sangat bertanggung jawab. Entah mengapa hatinya menghangat, seperti ada sesuatu yang menjalar dan membuat kulitnya berdesir.
"Mengapa kau membayar semua hutang orang tua Ara?" tanya Gery sang kakak ipar curiga.
"I-itu..., aku hanya ingin membantu. Aku melihat mereka kesusahan jadi aku rasa selagi bisa, aku harus membantu." kilahnya membuat semua orang hanya mengangguk saja pura-pura mengerti walaupun sebenarnya dalam hati masing-masing di penuhi tanya.
"Kalau begitu bagaimana Ara? Apakah kau mau sekolah dengan Icha?" tanya Reksa kembali membuat Ara kikuk tidak tau alasa apa lagi untuk menolak. Tidak mungkin ia mengatakan jika dia sudah menikah.
Ekor matanya pun mengarah pada Hanz seakan meminta pendapat pria itu. Dan betapa takjubnya ia saat melihat kepala suaminya mangguk-mangguk seperti mengatakan mengijinkannya.
Akhirnya dengan senyum sumringah dan senang hati pun ia mengangguk mantab. Ia sangat ingin sekolah, ini adalah kesempatan emas baginya.
"Ia tuan, saya mau." jawabnya membuat semua orang bernafas lega. Yah, semua orang memang merasa kasihan dengan Ara, gadis sebaik Ara harus putus sekolah hanya untuk membantu membiayai hutang orang tuanya, gadis yang sangat baik hati.
"Ara, boleh aku bertanya sesuatu?" kini Alea yang bicara.
"Apa nyonya?"
"Oh no, jangan panggil nyonya, panggil kakak saja oke?"
"Ah yah, Kak Alea." ucap Ara canggung
"Ara, kamu punya kakak perempuan tidak?" Ara mengernyit heran. Mengapa Alea bertanya begitu?
"Tidak, aku anak satu-satunya."
"Owhhh..." ucapnya mangguk-mangguk pada dirinya sendiri membuat yang lain menatapnya heran.
"Ada apa Alea?" tanya sang oma.
"Nggak oma, Alea fikir Ara punya kakak perempuan makanya Hanz mau membayar hutang orang tua Ara. Siapa tau Hanz menyukai kakak nya Ara makanya dia berubah gitu." seketika itu juga Hanz tersedak air liurnya sendiri mendengar mulut cablak kakaknya yang asal bicara.
"Kenapa Hanz? Kok terkejut gitu? Apa jangan-jangan yang kau cintai itu Ara?" Alea tak henti-hentinya bicara omong kosong membuat Hanz menatapnya tajam.
"Kak Alea jangan suka asal bicara yah," kesal Hanz membuat yang lain tertawa puas terbahak-bahak. Menggoda Hanz sangatlah menyenangkan.
"Kalau begitu kapan kau akan menikah Hanz? Kau sudah 27 tahun, sudah saatnya berumah tangga. Temukan wanita lain, jangan menutup diri terus. Sahara tidak akan pernah kembali lagi sampai kapanpun." ucap Reksa membuat semuanya seketika terdiam.
Jika sudah menyangkut Sahara, maka Hanz akan bersikap lain lagi. Pria itu memilih diam kemudian beranjak pergi dari sana, ia tak akan pernah berdamai dengan keadaan jika mengingat tentang Sahara. Ia akan membenci setiap keadaan dan menyalahkan keadaan yang dulu membuatnya dan Sahara terpisah dengan cara yang begitu kejam dan tragis.
Semua menatap punggung Hanz yang beranjak pergi menuju kamarnya di atas. Tak terkecuali Ara yang kini tertinggal dengan rasa penasaran yang luar biasa.
__ADS_1
Siapa Sahara? Apakah Sahara wanita yang di cintai oleh Hanz? Ia mengingat malam itu juga saat hujan lebat, samar-samar Hanz menyebut nama itu. Ingin sekali ia bertanya pada mereka, tapi ia takut itu akan mengundang kecurigaan. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunduk sedih, ternyata Hanz mencintai seseorang. Entah mengapa hatinya bagaikan patah dan sakit. Apakah ia sudah jatuh cinta?
....