Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
20


__ADS_3

Sebulan setelah kejadian itu dan 3 minggu setelah ujian sekolah usai, Anisa, Nanda, Sila dan juga Ara sedang deg-deg'an menantikan nilai raport mereka.


Saat ini sang wali kelas sedang memberikan arahan-arahan tentang bagaimana perjuangan mereka akan semakin lebih berat di kelas selanjutnya. Semua siswa di kelas mendengarkan dengan serius namun juga gugup. Sebahagian ada yang takut jika nilainya menurun dan sabahagian ada yang berharap nilainya naik ataupun menetap. Namun lebih dari itu Ara lebih takut lagi kalau ia gagal dan akhirnya tinggal kelas. Ia tak yakin apakah ia bisa menyusul yang lainnya untuk naik ke kelas XII.


"Ok, sekarang waktunya ibu akan akan bacain peringkat tertinggi di kelas, yang masuk kategori 5 besar. Yang lainnya silahkan cek raport masing-masing setelah ibu bagikan nanti," ucap sang wali kelas semakin membuat semuanya merasakan kegugupan. Terutama para peringkat yang dulu selalu memegang posisi itu. Mereka was-was apakah mereka akan terseret ke belakang atau semakin maju ke depan. Yang jelas semua pasti berdoa yang terbaik.


"Gua mah gak ngarep peringkat, naik kesal aja sukur," ucap Nanda gamblang, syukur saja hanya ke-3 temannya yang mendengar karna kursi mereka berdekatan. Jika sampai sang wali kelas dengar maka bisa habis dia.


"Semester lalu aku peringkat 7, kalau sampai nurun bisa habis aku sama papah. Apalagi kak Hanz, mati aku tuh," ucap Anisa cemas. Ya walaupun akhir-akhir ini ia rajin belajar di tambah lagi ada Ara yang ngajarin, tetap saja ia tak percaya diri.


"Untung mama aku baik, hal-hal kayak ginian gak di protes. Buat mama aku asalkan aku hidup aja walaupun **** gak masalah," ujar Sila sembari terkikik geli. Yang lainnya malah memutar bola mata jengah.


"Peringkat 5 diraih oleh, Anisa Zeino."


Hah? Anisa masih membola terkejut mendengar namanya disebut. Peringkat 5? Seriusan itu dia peringkat 5?


"Ak-aku bu?" tanyanya heran.


"Kalau kamu nggak mau gak papa, nanti ibu kasi yang lain aja peringkatnya," ucap sang wali kelas membuat Anisa cepat-cepat menggeleng.


"Nggak bu, jangan. Ia aku mau." yang lain pun tertawa melihat betapa konyolnya tingkah Anisa.


"Ya udah sekarang kamu maju," ucap sang wali kelas membuat Anisa segera maju dengan wajah sumringah dan langkah semangat.


Tadinya ia kira kalau nilainya akan menurun semester ini akibat patah hati kemarin, ternyata malah sebaliknya. Ini pasti karna om dokternya. Hehe, setelah ini ia akan dengan bangga mendatangi om dokter dan menunjukkan nilainya.


"Peringkat ke 4 di raih oleh...."


"Peringkat ke 3 di raih oleh...."


"Peringkat ke 2 di raih oleh...."


"Dan peringkat pertama di raih oleh...."


Semua menanti dengan gugup. Dalam hati mereka sudah bisa menebak-nebak. Karna si peringkat pertama yang biasa sudah sampai di peringkat 2, jadi mereka sudah dapat memastikan siapa yang akan memperoleh bintangnya kali ini.


"Kiara Larasati."


Degg...


Kini giliran Ara yang terdiam tak percaya. Tadinya ia hanya berharap bisa naik kelas, tapi kini sang wali kelas mengatakan ia peringkat pertama. Bagaimana bisa?


"Ara, selamat ya. Kamu bisa meraih posisi ini dengan perjuangan keras. Kamu pantas mendapatkannya," ucap sang wali kelas membuat air mata haru lolos di wajah Ara. Sungguh ia tak menyangka ini.


"Silahkan maju Ara."


Ara pun melap air mata di wajahnya kemudian menggantinya dengan senyum terharu. Ia pun mengangguk kemudian melangkah maju ke depan setelah Nanda dan Sila memberinya selamat dari bangku.


"Ara, aku dari awal udah yakin kalau itu pasti kamu, kamu itu memang hebat, congrats Ra," ucap Anisa senang kemudian segera memeluk Ara dengan bangga. Ara pun membalas pelukan Anisa tak kalah bangganya.


"Makasih Cha, kamu juga hebat kok. Aku bangga sama kamu."




Anisa dan Ara pulang ke rumah dengan hati berbunga\-bunga dan bahagia. Mereka tak sabar ingin menunjukkan nilai mereka pada semua orang. Terutama Ara, ia sangat gugup dan penasaran melihat reaksi Hanz nanti ketika tau kalau ia dapat peringkat pertama.



"Halo semua, kalian udah pada nungguin kan gimana hasil raport kami," ucap Anisa percaya diri saat menjumpai seluruh keluarganya sudah stay menunggu di sofa ruang utama.



"Gimana gimana? Nilai kamu turun nggak?" tanya Alea penasaran membuat Anisa mencibir kesal. Kakaknya yang satu ini senang sekali kalau nilainya menurun lalu ia akan kena marah oleh papahnya. Benar\-benar tak mencerminkan kakak yang baik.



Anisa menarik tangan Ara dan membawanya duduk di sofa yang masih kosong. Ia pun melihat wajah si kembar tampak berseri\-seri.



"Reno Rena dapat nilai bagis nggak sayang?" tanya Anisa penasaran. Si kembar juga menerima raport hasil belajar semester hari ini.



"Bagus aunty, nilai Lena nggak ada yang melah, tinggi semua," ucap Rena antusias.



"Kalau Rena mah nggak usah di ragukan lagi. Rena paling pinter deh, rajin belajar dan lucu. Jadi pasti bu guru bikin nilai Rena bagus. Kalau Reno gimana?" ucap Anisa memuji Rena sekalian bertanya pada Reno. Namun Reno malah memalingkan wajah darinya. Kenapa? Apa ia tadi salah bicara?



"Ini aunty, aunty liat sendili deh nilai kami," ucap Rena sembari memberikan raportnya dan juga Reno pada Anisa.



Anisa pun membuka raport itu satu persatu dan membacanya. Senyuman bangga jelas\-jelas tercetak di wajahnya. Keturunan Zeino ini memang pintar\-pintar.


__ADS_1


"Nilai Reno bagus juga kok. Lebih bagus dari Rena malah, tapi kenapa mukanya cemberut?" tanya Anisa heran.



"Soalnya aunty tiap hari muji Rena terus. Aunty sering bilang Reno bodoh karna gak suka belajar, makanya aku gak suka aunty. Aku sukanya tante Ara," ucap Reno membuat Anisa tertohok. Ya itu benar, selama ini memang ia sering melakukan itu pada Reno.



Reno ini sangat jarang belajar dan tak suka di ajari. Bahkan di sekolah juga guru mengatakan kalau Reno terlalu nakal dan gak suka belajar. Tapi siapa sangka Reno itu jenius? Nggak belajar pun bisa sepintar ini. Gimana kalau belajar?



"Reno maafin aunty ya. Aunty salah deh. Sekarang aunty udah tau kalau Reno itu memang pinter dan terbaik. Maafin aunty ya," bujuk Anisa membuat Reno akhirnya luluh dan menatapnya serius.



"Aunty nggak akan ledekin Reno lagi kan? Aunty janji?"



"Janji."



Si kembar pun teriak hore bersamaan. Terkadang mereka semua heran melihat kekompakan kedua bocah ini. Benar\-benar ikatan batin sekali hingga hal kecil seperti teriak pun selalu bersamaan.



"Kalna nilai Lena dan Leno bagus, uncle halus penuhi janji uncle bawa kami ke mall. Kan kaki uncle sudah sembuh," ucap Rena membuat Hanz meringis.



Tuh kan, bocah ini kalau soal hadiah sampai kapan pun tak akan lupa menagihnya.



"Hanz, kamu tuh ya, jangan buat anak kakak ngarep terus. Kaki kamu udah sembuh dari dua minggu lalu tapi sampe sekarang kamu nggak menuhin janji sama mereka," kesal Alea membuat Hanz mendengus. Bukan ia ingin mengingkari janji, ia hanya tak punya waktu yang tepat.



"Rena dan Reno tenang aja ya, uncle pasti bawa kalian jalan\-jalan besok. Kalian bisa beli apapun sesuka kalian," ucap Hanz yang lagi\-lagi membuat si kembar berteriak hore bersamaan.



"Sekarang papah mau tau nilai Icha dan Ara. Bagaimana nilai kalian berdua? Icha, kamu nggak nurun kan? Papah selalu bilang kalau nggak bisa naik setidaknya harus menetap. Kamu jangan buat papah kecewa ya," ucap Reksa wanti\-wanti pada nilai putri bungsu nya.



"Nilai Icha bagus kok pah. Nilai Icha naik malahan. Sekarang aku jadi peringkat 5," ucap Anisa bangga sembari melambaikan kelima jarinya.




"Tuh liat aja sendiri raport nya," ucap Anisa marah.



Alea pun mengambil raport Anisa yang sudah ia letakkan di meja tadi. Seketika ia pun membola kaget melihat hasilnya. Lumayan banyak peningkatan. Harus ia akui adiknya ini banyak kemajuan. Karna ia tau di sekolah mereka mengambil nilai seperti ini sangat susah, persaingan sangat ketat karna memang disana bersarangnya para murid\-murid unggul dan cerdas.



"Kamu hebat dek, wahh... Kalau gini kan kakak jadi bangga," puji Alea kemudian membuat Anisa tersenyum senang. Semua orang disana pun berlomba\-lomba mengucapkan selamat pada si bungsu yang kadang menyebalkan ini di mata mereka.



"Papah bangga sama kamu Cha, papah harap di semester selanjutnya kamu bisa lebih ningkat lagi. Papah harap kamu bisa 3 besar, gimana? Kamu sanggup terima tantangan papah?"



Anisa tampak menimang\-nimang ucapan sang papah. Tapi kemudian sebuah ide terlintas di otaknya. Kemudian dengan semangat ia pun menyanggupi ucapan sang papah.



"Oke pah, tapi nanti kalau aku berhasil dapat nilai segitu, papah harus janji kalau papah harus nurutin kemauan aku, apapun itu," tantang Anisa membuat Reksa pun tersenyum. Ia rasa apapun permintaan Anisa pasti bisa ia sanggupi.



"Oke, apapun pasti akan papah turutin," ucap Reksa mantap.



Semua orang tertawa melihat tentangan daughter and father tersebut. Tapi tidak dengan Hanz, saat ini pikirannya hanya tertuju pada bagaimana nilai istrinya. Apakah Ara bisa naik kelas? Karna ia sangat merasa bersalah kemarin sempat mengganggu belajar Ara karna ia pura\-pura amnesia. Ia takut Ara sampai ketinggalan dan akhirnya tak bisa naik kelas.



"Ara, gimana nilai raport kamu?" tak tahan lagi akhirnya ia putuskan untuk bertanya sendiri. Ia tak perduli lagi apa pikiran keluarganya tentangnya, bodoh amat karna mengetahui nilai Ara lebih penting baginya. Ia tak sabar jika harus menunggu salah satu keluarganya yang bertanya.



Kini semua orang fokus menatap pada Ara. Mereka hampir lupa menanyakan nilai Ara tadi, tapi sekarang mereka dihantui rasa penasaran lagi.

__ADS_1



"Tante Ala kan pintal, pasti tante Ala nilainya bagus. Ia kan Leno?"



"Ia, Reno yakin banget, nilai tante Ara pasti hebat."



Si kembar sudah lebih dulu menyuarakan pendapat mereka. Bagaimanapun Ara adalah tante kebanggaan mereka. Mereka percaya kalau tante Aranya pasti hebat.



"Nilai Ara bukan cuma bagus lagi loh. Luar biasa malah. Ara dapat peringkat pertama," ucap Anisa heboh menjawab pertanyaan dalam hati setiap orang.



Hanz membola terkejut secepat kilat tangannya langsung menyambar raport Ara yang masih ia pegang sedari tadi. Istrinya itu terlalu lama angkat bicara hingga ia tak sabar melihat sendiri.



Dan yah, senyuman lebar terukir di wajahnya. Ia terharu melihat raport istrinya, sungguh rasa bangga yang luar biasa menyeruak dalam hatinya untuk Ara. Bagaimanapun ini adalah pencapaian yang luar biasa, Ara adalah anak akselerasi, tapi ia bisa melampaui teman\-temannya yang bahkan lebih dulu darinya. Ia sudah ketinggalan pelajaran mulai dari kelas junior dan sekarang, ia bahkan bisa menginjak tangga teratas. Ia tau Ara selama ini sudah banyak berjuang dan belajar keras. Jika saja kini mereka hanya berdua, sudah dapat ia pastikan kalau ia akan menghadiahi Ara dengan ciuman yang bertubi\-tubi.



"Kamu hebat, nilai kamu semuanya sempurna dan ahh..., ini lebih dari luar biasa," puji Hanz tak bisa lagi menyembunyikan rasa bangganya.



Semua orang memang heran melihat tingkah berlebihan Hanz kini, segala hal yang tak biasa Hanz lakukan akan terjadi jika itu menyangkut Ara. Tapi melebihi itu, mereka lebih di dominasi lagi oleh rasa bangga pada Ara. sungguh Siapapun tak akan menyangka ini. Mereka bahkan heran sejenius apa otak Ara ini. Hebat sekali.



"Ara, saya bangga sama kamu. Kamu luar biasa. Kamu memang benar\-benar anak yang pintar dan membanggakan Ara. Saya tidak menyesal menyekolahkan kamu lagi. Jika dulu kamu tidak jadi sekolah, entah bagaimana saya meratapi nasib karna kehilangan kesempatan melihat bagaimana ada otak jenius seperti kamu di rumah saya," ucap Reksa tak kalah bangga. Ini keajaiban baginya.



"Makasih Tuan," ucap Ara tulus dan bahagia. Ia senang karna semua orang puas dengan nilainya. Ia senang karna tak mengecewakan Siapapun.



"Ara, selamat ya sayang. Oma bangga sama kamu."



"Ia Ara, saya juga bangga sama kamu," tambah Samira tersenyum lembut.



"Kak Alea pun bangga banget sama kamu Ra, luar biasa."



"Ya, kamu hebat Ara. Di perjuangin terus ya nilainya," tambah Gery.



Ara menatap semua orang terharu. Ia tak menyangka keluarga ini begitu menyambut baik prestasinya.



"Makasih semuanya. Ini semua juga terjadi bukan karna hebatnya aku saja, tanpa dukungan kalian mungkin aku nggak bisa peroleh ini semua. Makasih," ucap Ara sembari menangis terharu. Ia tak bisa lagi menahan air matanya yang ingin merebak keluar sedari tadi.



Anisa yang berada duduk paling dekat dengan Ara pun segara menarik sahabatnya itu kedalam pelukannya, berusaha untuk menenangkan Ara.



"Hua.... Tante Ala, tante Ala jangan nangis. Lena nggak suka tante Ala nangis."



"Reno juga, Reno nggak mau tante Ara nangis. Tante Ara nggak boleh sedih, huaaa..."



Si kembar ikut\-ikutan menangis saat melihat Ara menitikkan air mata. Hal itupun sontak membuat Ara terdiam dan melepaskan pelukan Anisa kemudian beralih mendekat dan memeluk si kembar kesayangannya tersebut.



"Sttt... Jangan nangis dong sayang. Tante Ara nggak nangis kok, tante Ara cuma terharu aja karna semua orang sayang sama tante," ucap Ara lembut membuat si kembar melepaskan pelukannya kemudian menatap Ara serius seperti ingin memastikan kalau Ara tak berbohong.



"Benalan? Tante Ala nggak sedih?" tanya Rena, Ara pun mengangguk cepat kemudian meraih si kembar lagi dalam pelukannya.



Semua orang pun tersenyum senang melihatnya. Si kembar memang tak bisa di pisahkan dari Ara.

__ADS_1



...


__ADS_2