Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
6


__ADS_3

"Pagi tante Alaa," sapa Rena riang saat Ara melihat Ara datang dan bergabung bersama mereka di meja makan.


Ara tersenyum pada Rena kemudian mencubit pipinya gemas.


"Maaf semuanya, aku terlambat," ucap Ara merasa bersalah.


"Gak papa Ara, santai aja. Kami semua tau pasti kau menghadapi pagi yang berat hari ini," ucap Alea sembari senyum-senyum tidak jelas membuat Ara menatapnya heran.


"Ia Ara sayang, kau pasti capek yah menata baju mu yang longgar ini. Maafin Hanz yah, dia memang suka aneh anaknya, makanya sampe sekarang gak nikah-nikah. Gak ada yang mau," bisik Samira namun bisa di dengar oleh semua orang termasuk Hanz. Dan hal itu sontak membuatnya menghembuskan nafas kesal. Tak cukup sedari tadi ia menjadi bahan ledekan karna mulut ember Anisa yang melebih-lebihkan fakta, sekarang mama nya menambah takaran kekesalannya karna telah mengatainya tidak laku dan itu sangat mengesalkan. Bagaimana bisa ia tak laku? Banyak gadis yang mengantri demi mendapatkan cintanya atau bahkan sekedar perhatian darinya, tapi ia tak pernah menggubris satupun, jadi sudah di pastikan bukan ia tak laku, hanya saja ia tak ingin.


"Gak papa nyonya, aku nyaman kok pake baju ini."


"Ia, tante Ara pake baju apapun tetap aja cantik," puji Reno dengan mata berbinar menatap Ara.


"Leno, udah di bilang jangan godain tante Ala lagi, kamu gak dengel kemalin bunda bilang apa? Kata bunda, tante Ala itu calon istli uncle, meleka cocok. Ia nggak bunda?" seketika itu juga Hanz menceburkan air yang sedang ia minum, dan semua orang menatapnya panik termasuk Ara yang reflek segera memukul-mukul punggungnya pelan.


"Tuh kan meleka cocok," tambah Rena lagi membuat Ara salah tingkah kemudian segera menarik tangannya menjauh dari Hanz.


"Kamu gak papa Hanz? Kok kaget gitu sih?" tanya Gery membuat Hanz berusaha berdehem menormalkan kembali ekspresinya.


"Lagian kalian aneh, siapa yang bilang Ara calon istri aku?" (dia itu istri aku) batin Hanz.


"Itu bercanda Hanz, gak usah di bawa ke hati. Tapi kalau kamu mau benaran juga gak papa kok, nanti kita urus pernikahannya." Hanz memutar bola matanya kesal. Keluarganya seenak hati saja menafsirkan.


"Sudah, jangan di teruskan lagi. Sebaiknya sekarang kita sarapan agar semua tidak terlambat," titah Reksa membuat mereka pun segera sibuk dengan piring masing-masing.



"Ara, Icha, tugas kalian udah selesai belom?" teriak Ashilla yang baru datang dan menghampiri kedua gadis yang kini sudah duduk rapih di kursinya masing\-masing.



Ashilla adalah sahabat Anisa sejak ia duduk di bangku SMP. Namun ia dan Ara pun menjadi akrab walau baru kemarin mereka kenal. Bukan hanya Ashilla, ada satu gadis lagi namanya Nanda. Dulu Anisa, Ashilla, Nanda adalah tiga sekawan, namun sekarang sejak Ara datang maka mereka jadi berempat.



"Udah dong, kan ada Ara," cengir Anisa tanpa rasa bersalah. Yah, kemarin ia datang ke kamar Ara untuk belajar bersama mengerjakan tugas, tapi pada akhirnya malah Ara sendiri yang bekerja sementara ia sibuk video call'an dengan pacarnya.



"Ara memang the best deh. Aku mau dong tugas nya pleasee..," mohon Sila sembari membuat pupy eyes nya hingga membuat Ara terkekeh merasa lucu dengan temannya ini. Kemudian ia pun mengambil buku nya dan memberikannya pada Sila yang dengan kecepatan ganda segera meraihnya dan bergegas memindahkannya ke dalam bukunya.



Tak lama kemudian bell pun berbunyi, dan Nanda si ratu sejajaran bell pun berjalan dengan santainya ke arah meja nya. Yah, dia di juluki ratu sejajaran bell oleh Anisa karna ia selalu sampai bersamaan dengan bell berbunyi.



"Nan, tugas kamu udah?" tanya Anisa santai dan ia sangat yakin kalau setelah ia bertanya maka Nanda akan heboh sendiri lalu memohon\-mohon contekan.



Dan yah, tebakannya tepat sasaran karna mata Nanda segera membola lalu segera mengambil buku dari dalam tasnya kemudian tanpa perlu panjang lebar segera merapat dengan Ashilla yang saat ini masih berjuang dengan contekannya.



"Banyak gak?" tanya Nanda panik.


"5 soal dan jawabannya 5 lembar. Angka semua sampe mata ku kunang\-kunang," jawab Ashilla karna yang sedang mereka kerjakan kini adalah matematika.



"Aishhh ta...,"



"Pagi semuanya..."



Saat itu juga rasanya dunia mereka hampir berujung, \*\*\*\*\*\* dah. Ibu guru galak datang.



"Anjirttt..., kesal banget gua sama bu Windy. Masa gak siap tugas aja di jemur di lapangan selama 4 jam? Kan gilak tuh orang," umpat Nanda kesal sembari menghirup jus jeruk nya hingga tandas. Saat ini mereka berempat sedang di kantin karna sudah jam istirahat.


"Ya lagian, kamu udah tau ada tugas, mau nyontek, datangnya masih lama. Kan itu namanya jemput maut kamu tuh," cibir Anisa membuat Nanda mendengus kesal.

__ADS_1


Nanda ini adalah tipe gadis berbeda dari mereka. Ia tomboy dan suka bicara kasar, tapi sebenarnya ia sangat baik dan teman yang paling perhatian.


"Ihhh, kulit aku juga udah merah gosong gini. Padahal tadi udah tinggal satu soal doang, sial banget kan?" ucap Sila dengan nada manjanya membuat Nanda dan Anisa memasang tampang ingin muntah seketika. Berbeda dengan Ara yang menanggapinya dengan senyuman lembut.


"Eh, btw kami dapat tugas double dari bu Windy, gimana dong nih?" ucap Nanda prustasi membuat Sila menghembuskan nafasnya lelah.


"Ra, bantuin kami dong please, kami mana ngerti tuh ngerjainnya," pinta Sila.


"Boleh, Tapi aku cuma bisa bantu kalian pas jam istirahat aja di sekolah. Karna kita jam pulangnya kan beda, jadi waktu kita gak pas," ucap Ara membuat Sila segera memutar otak.


"Kamu kan tinggal di rumah Icha Ra, jadi biar kami ke rumah Icha aja belajarnya. Malam juga gak papa kok, kami mah dah biasa di kasi ijin keluar malam kalau ke rumah Icha doang," saran Sila semangat.


Ara pun berfikir. Menurutnya ada baiknya juga seperti itu, karna kalau di sekolah pas jam istirahat, waktu mereka terbatas. Tapi ia merasa tidak enak dengan keluarga Zeino, bagaimana kalau kehadiran mereka disana untuk belajar malah mengganggu untuk yang lainnya?


"Santai aja kali Ra, kamu gak usah pusing mikirin orang rumah. Kedua makhluk ini datang buat maen trus bikin keributan aja di rumah udah biasa kok, apalagi kalau belajar doang. Kalo kamu memang mau ngajarin makhluk jadi-jadian berdua ini juga gak papa." ucap Anisa seakan tau isi pikiran Ara.


"Tapi...,"


"Stttt..., udah di rumah aku aja. Kalian datang aja nanti malam jam 19.00," putus Anisa membuat Sila dan Nanda berteriak kegirangan.


"Semangat banget sih kalian," dengus Anisa sebal karna sudah tau watak temannya ini. Ia tau apa yang ada di pikiran mereka, dan itu bukan belajarnya.


"Kak Hanz gak kemana-mana kan Cha?" tanya Sila hati-hati dan Anisa pun terkekeh pelan. Sudah ia duga.


"Kebiasaan banget sih kalian?"


"Ya lagian kakak kamu ganteng banget Cha, ganteng nya gak normal lagi. Uhh, jatung ku setiap dekat dengannya jadi bekerja sepuluh kali lipat," ucap Sila sembari senyum-senyum tidak jelas membayangkan wajah tampan Hanz.


Sementara Anisa sedari tadi diam-diam sedang memperhatikan ekspresi Ara. Namun tak ada apapun yang ia temukan disana, tak ada semacam ekspresi cemburu atau kesal, datar dan benar-benar datar seperti kakaknya. Aishhh...


"Kak Hanz belum punya pacar kan Cha?" kini Nanda yang bertanya.


"Hmm, aku tak yakin..," jawab Anisa ragu-ragu. Ia sendiri bingung, hubungan seperti apa yang di miliki Ara dan kakaknya. Kedua manusia itu terlalu susah di tebak.


"Aku mau dong di comblangin sama kakak kamu Cha."


"Ehh, gua dong. Lu nggak usah kegenitan deh."


"Aku...."


"Gua woii."


"Gua."


"Ak... "


"Udah stop, kalian kayak anak kecil aja deh. Rena sama Reno aja nggak gitu. Gak ada satupun dari kalian titik."


Sila dan Nanda pun bungkam menahan kekesalan. Padahal sedari dulu mereka sudah sangat mengagumi dan mengidolakan Hanz, sayangnya tak ada kesempatan agar mereka bisa dekat dengan kakaknya Icha yang terkenal dingin itu.



Ting nong... Ting ning...



Anisa yang sedang video call'an di ruang tv menghebuskan nafasnya kesal mendwngar suara bell yang tiada hentinya. Ia tau ini kebiasaan siapa, pasti kedua teman gesreg nya. Tapi mengapa kedua temannya ini sangat gila? Ia sudah mengatakan datang jam 19.00, bukan 17.00. Lalu mengapa mereka bisa datang secepat ini? Ara saja bahkan belum pulang sekolah.



"Bii, tolong buka pintu bi. Ada tamu tuh di luar," teriak Anisa karna tak ingin video call dengan pacarnya terganggu hanya karna kedua manusia tak penting itu.



"Ia non," sahut salah satu pembantu, kemudian segera melaksanakan perintah Anisa.



Dan beberapa saat kemudian, menggemalah suara cempreng Sila yang menyapa nya secara berlebihan seperti tak bertemu 5 tahun.



"Haloo Icha sayang, aku sangat merindukan mu baby. Apa kabar? Uppss, cieeee yang lagi pacaran."



Anisa memutar bola matanya malas. Ia pun akhirnya mengakhiri panggilan tersebut dengan terpaksa.

__ADS_1



"Kenapa sih kalian cepat sekali datangnya? Aku aja belum mandi loh."



"Ya gak papa, lu mandi aja dulu, biarin kami disini. Lagian kami datang cepat bukan buat lu kok, kami mau nyambut kedatangan idola kami dong," ucap Nanda santai membuat Anisa menggeram kesal. Kalau seperti itu, untuk apa dia memutuskan panggilan tadi?



Aishh terserah lah, lebih baik sekarang ia membersihkan diri dulu agar otaknya tenang sebelum ia membunuh manusia nantinya.



Tanpa permisi atau mengatakan apapun pada kedua temannya yang kini duduk dengan santainya di sofa sambil memakan cemilan di meja, ia melengos dengan kekesalan membumbung.



Sementara keduanya menataonya sekilas, namun kemudian mengangkat bahu tidak peduli.



Di lain sisi Ara mendapat pesan dari Anisa kalau kedua temannya sudah sampai di rumah. Hal itupun membuat Ara segera bergegas memesan ojek di aplikasi online. Ia tak mau membuat kedua temannya menunggunya lama walaupun sebenarnya mereka yang datang lebih cepat dari perjanjian.


Setelah membereskan barang-barangnya kembali kedalam tas, ia pun segera bergegas keluar dari gedung sekolahnya menuju gerbang.


Namun saat sampai di gerbang, alisnya mengernyit heran melihat sebuah mobil yang sangat familir terparkir tepat di hadapannya. Yah, tentu familiar, itu mobil seperti mobil suaminya. Apa Hanz menjemputnya lagi?


"Atas nama Ara?" tanya seorang tukang ojek yang ia duga adalah ojol pesanannya. Ia pun segera mengangguk mengiyakan.


"Ini helm nya non," ucap tukang ojek itu sambil menyodorinya helm. Ara pun meraih helm itu dan hendak memakainya.


Namun suara Hanz yang baru saja keluar dari mobil yang sejak tadi ia perhatikan menghentikan kegiatannya.


"Kamu sama aku aja."


"M-mas, mas kenapa disini?"


"Jemput istri aku lah," ucap Hanz santai membuat tukang ojol tadi menatap Ara terkejut. Mungkin ia berfikiran itu terlalu aneh bagi seorang siswi menikah.


"Tap-tapi mas, aku udah pesan ojek tadi."


"Gak papa di cancel aja. Pak, ini uang ganti ongkos istri saya tadi. Makasih," ucap Hanz sembari memberikan uang ratusan ke tangan ojol tersebut. Padahal ongkos Ara sebenarnya sudah berbayar melalui aplikasi, tapi ia diam saja karna ia rasa itu rejeki tukang ojol tersebut. Hal itupun membuat tukang ojek tersebut tersenyum senang kemudian berterimakasih lalu segera berlalu dari sana.


"Mas harusnya gak usah jemput aku. Mas pasti capek kalau harus jemput aku terus."


"Nggak capek kok, kan searah. Jadi sekalian saja." Ara pun menatap suaminya sembari tersenyum.


"Gimana sekolah kamu tadi?" tanya Hanz, ia bisa lihat kalau Ara tampak sangat lelah. Mungkin karna jam belajarnya ekstra lebih banyak untuk mengejar ketertinggalannya.


"Baik kok mas."


"Kamu lelah yah?"


"Lumayan, tapi belajar itu menyenangkan. Jadi aku menikmati semuanya," jawab Ara sembari tersenyum lebar membuat Hanz seketika terpesona dengan senyum lebar istrinya, sangat cantik. Tangannya pun terulur untuk merapikan anak rambut Ara yang menutupi wajahnya. Dan itu berhasil membuat wajah Ara merona merah. Ia pun menundukkan wajahnya malu, namun Hanz segera menahan dagunya membuat Ara salah tingkah dan berusaha mengalihkan tatapannya dari mata Hanz karna ia sangat takut kalau jantungnya akan meledak saat ini juga.


"Apa aku boleh cium kamu?" seketika itu juga mata Ara membola mendengar pertanyaan Hanz. Cium? Berciuman? Ia rasa kini wajahnya semakin panas saja. Jika ia berciuman dengan Hanz, berarti ini adalah ciuman pertamanya.


"Ah.. It-itu mas aku..." Hanz masih menunggu Ara melanjutkan ucapannya. Ia harap Ara setuju ia menciumnya. Entah mengapa sejak tadi ia sudah memperhatikan Ara yang terus menggigit bibirnya tanpa sengaja. Dan tanpa ia sadari kalau perbuatannya itu sudah berhasil membuat Hanz tergoda dan ingin sekali mendaratkan bibirnya di bibir manis Ara.


Dan beberapa saat kemudian Ara mengangguk malu-malu membuat Hanz semakin gemas kemudian segera menarik pinggang istrinya merapat ke tubuhnya. Lalu tangannya segera menarik tengkuk Ara dan bibirnya pun mendarat sempurna di bibir manis yang selama ini sudah ia impi-impikan.


Seketika rasanya seperti terbang melayang. Rasa bibir Ara begitu memabukkan dan ia rasa setelah ini ia akan kecanduan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia pun menggerakkan lidahnya menjilat di sekitar bibir Ara yang masih terkatup rapat.


Hal itu membuatnya membentuk senyum tipis di wajahnya. Ia bisa merasakan betapa kaku dan tegangnya tubuh Ara kini. Ia tentu sangat tau, kalau ini adalah ciuman pertama Ara.


Ia menarik diri dari tubuh Ara kemudian memperhatikan istrinya yang saat ini masih menutup matanya dengan seksama, wajahnya merona merah dan bibirnya basah bekas jilatan yang ia berikan tadi.


Gemas sendiri melihat Ara membuat Hanz kembali mendaratkan ciuman mautnya di bibir Ara, kali ini lebih menuntut lagi. Lidahnya menari-nari di bibir Ara seperti memintanya untuk membuka mulut. Dan Ara yang merasa geli membuka mulutnya. Hal itu pun tak di sia-siakan oleh Hanz untuk segera memasukkan lidahnya ke mulut Ara untuk mengeksplor setiap sudut bibir istrinya tersebut. Tangannya semakin menarik tengkuk Ara untuk mendekat padanya dan bibirnya tak henti-hentinya menyerang mulut Ara membuat gadis tersebut lama kelamaan semakin kualahan karna merasa ia mulai kehabisan nafas.


Ia pun segera memukul-mukul dada Hanz dengan sisa tenaga yang ia miliki, kemudian segera mundur menjauh setelah Hanz melepasnya. Ia menatap wajah Hanz dengan nafas ngos-ngosan. Pria itu masih tampak tenang sambil mengusap sisa air liur di sudut bibirnya bekas ciuman tadi. Ara heran, apa pria itu tidak kehilangan nafas setelah ciuman panjang tadi?


"Ayo masuk," ucap Hanz kemudian manariknya masuk ke dalam mobil. Mereka pun berlalu pergi dari lingkungan sekolah.


Setelah beberapa saat di perjalanan, ciuman itu terngiang kembali di pikirannya membuat wajah Ara kembali merona merah. Sungguh ia terkejut dengan rasanya, ternyata berciuman itu bisa senikmat itu, Ia pun menundukkan kepalanya malu, takut Hanz menyadarinya dan kemudian tau apa yang di pikirannya lalu pria itu akan mencapnya sebagai gadis mesum nantinya. Tidak, ia tak mau Hanz mencapnya mesum.


Tapi mengapa setelah ciuman mereka tadi Hanz jadi banyak diam? Apa Hanz menyesal menciumnya? Apa Hanz kecewa karna ia tidak tau caranya membalas? Lalu apakah Hanz  tidak akan mau menciumnya lagi?

__ADS_1


Mengapa memikirkan itu membuatnya sedih? Mengapa hatinya jadi gundah?


....


__ADS_2