Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
8


__ADS_3

"Ara, Nanda, kalian kok lama banget sih?"


Deggg...


Suara jantung Ara bertalu-talu saat mendengar suara itu, itu suara Anisa. Segera saja ia mendorong Hanz menjauh dari tubuhnya. Kemudian ia meringis menggigit bibir bawahnya kuat saat matanya bertemu dengan mata Anisa yang kini menatap mereka dengan pandangan terkejut dan melotot. Yah, Anisa melihat semuanya. Seharusnya tadi ia mengunci pintu terlebih dahulu. Sekarang tamatlah riwayatnya.


"Ap-apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Anisa dengan bibir pucat. Ia tak menyangka akan melihat pemandangan seperti itu.


"Jangan di tiru, kamu masih kecil," ucap Hanz santai kemudian segera berlalu dari kamar Ara meninggalkan kedua gadis yang kini sama-sama berdiri dengan kakunya. Dalam hati Ara merutuki suaminya yang tega meninggalkannya dalam kondisi seperti ini, sangat tidak bertanggung jawab. Ia yang berbuat, tapi kemudian pergi begitu saja meninggalkan beban yang amat berat untuk ia tanggung.


Bagaimana ini? Jawaban seperti apa yang akan ia berikan pada Anisa? Ia masih belum ingin semua ini terbongkar.


"Ra, i-itu tad-tadi, kalian..."


"Sa, Kejadian tadi sama sekali tidak seperti yang kamu pikirin sekarang Sa, kamu percaya yah sama aku," ucap Ara cepat memotong ucapan Anisa.


"Gimana nggak kayak yang aku pikirin Ra, leher kamu ada kissmark nya."


"It-ituu..."


"Sebenarnya kalian ada hubungan apasih?"


"Sa, aku gak bisa jelasin apapun sama kamu sekarang. Yang pasti, apa yang kami lakuin tadi nggak ada yang salah kok, kamu percaya yah sama kami?"


"Tap-tapi Ra.."


"Aku juga mohon, kamu jangan kasi tau kejadian tadi yah sama siapa-siapa. Aku nggak mau banyak yang salah paham nantinya. Kami nggak lakuin apa-apa kok serius," ucap Ara yang sedari tadi mencoba untuk tenang seperti tak ada masalah besar, sementara sedari tadi jantungnya sudah berdegub kencang seperti akan meledak. Tapi ia tak bisa gugup atau Anisa akan semakin menaruh curiga yang tidak-tidak pada mereka.


"Ra, kalau kalian pacaran gak papa kok. Kalian bilang aja sama kami, kami nggak marah. Tapi kalian gak harus sembunyi-sembunyi seperti ini."


"Nanti ada saatnya kok Sa, kami pasti akan menjawab pertanyaan di hati kalian semua. Tapi kali ini aku mohon, kamu jangan kasi tau yang lainnya yah," mohon Ara membuat Anisa menghela nafas. Kemudian ia mengangguk saja. Ia tak tega melihat Ara yang tampak gugup dan ketakutan seperti itu. Ia tau, Ara dan kakaknya pasti punya alasan tersendiri makanya mereka menyembunyikan hubungan mereka. Tapi yang jelas, dalam hati saat ini ia sedikit merasa lega, karna memang benar yang ia pikirkan selama ini, kalau kakaknya dan Ara memiliki hubungan khusus.


"Baiklah, tapi kejadian tadi jangan di ulang lagi yah. Bilang sama kak Hanz, kalau kamu juga masih kecil. Jangan di garap dulu," goda Anisa membuat Ara tersipu malu.


"Makasih yah Sa, kamu udah ngerti."


"Sttt.., udah ah jangan lebay. Nanti aku jadi terharu," canda Anisa dan Ara pun tergelak tawa.


"Icha, kamu di dalam kamar Ara yah?" itu suara Nanda dari luar. Ara pun terkesiap, kalau sampai Nanda melihatnya masih sama seperti tadi ia tinggal, maka dia akan curiga.


Dan Anisa yang mengerti kegugupan Ara pun seperti mengangguk untuk menenangkannya. Kemudian ia pun memutuskan untuk keluar menemui Nanda.


"Ia Nan, kita turun yok. Bentar lagi juga Ara akan turun. Tadi dia sempat sakit perut makanya agak lama," bohong Anisa sembari menarik Nanda menjauh untuk turun ke bawah. Namun Nanda memicing curiga.

__ADS_1


"Sakit perut? Tadi gua juga sakit perut kok di kamar Ara. Terus pas gua mau ke toilet, dia larang gua, katanya toilet nya sumbat gak bisa disana. Makanya gua terpaksa jalan nahan sakit ke kamar lu."


Penjelasan Nanda membuat Anisa senyum-senyum sendiri. Ia tau sekarang, pasti tadi kakaknya sudah di kamar Ara pas Nanda datang. Pantas saja Ara tumben lama, rupanya ada serigala lapar di kamarnya. Dan mengingat itu membuatnya jadi terkekeh geli dalam hati, kedua manusia itu sangat lucu menurutnya.


"Ara sakit perut karna datang bulan kok, bukan sakit perut mau pup kayak kamu yang makannya banyak. Dasar rakus."


Nanda pun mendecih kesal melihat Anisa.




Setelah mereka selesai belajar bersama, tadi mereka semua berkumpul untuk makan bersama termasuk juga Nanda dan Sila.



Dan kini, setelah makan malam selesai, Nanda dan Sila pun ikut berkumpul bersama seluruh keluarga Zeino. Hal itu memang sudah sering terjadi saat Nanda dan Sila main ke rumah Anisa.



"Bagaimana sekolah kalian semua? Sebentar lagi kalian akan mau ujian kenaikan, apa kalian sudah siap?" tanya Reksa mengingatkan mereka berempat pada waktu mereka yang hanya tinggal sedikit dan mereka tak boleh lagi main\-main.




"Ara, kau bagimana? Apa kau bisa mengejar ketertinggalan mu?"



"Ia tuan saya bisa," jawab Ara sopan. Dan mata Hanz tak lepas dari wajah istrinya sedari tadi. Ia sangat mengagumi Ara yang menjadi sangat cantik di matanya kini, mungkin karna insiden ciuman tadi. Entah apa yang Ara ucapkan untuk meyakinkan Anisa, ia pun tak tau. Yang pasti, saat ini ia sudah memiliki keyakinan untuk membongkar hubungan mereka pada semua orang, tapi ia harus menunggu persetujuan Ara terlebih dahulu. Ia juga tak akan memaksa kalau Ara belum siap.



"Hmm, natapnya biasa aja kali," tiba\-tiba suara Anisa menginterupsi membuat Hanz meringis ingin mencubit wajah adiknya itu kini. Anisa suka sekali membuat onar.



"Maksud kamu siapa Cha?" kini kakaknya Alea yang super bawal yang bertanya.



"Nggak kak, maksud aku Nanda sama Sila tuh natap kak Hanz gak selow banget deh. Dari tadi itu mata mau keluar aja bawaannya," jawab Anisa yang memang tak berbohong. Karna itu juga kenyataan. Jadi bisa di katakan, sindirannya dua arah sekaligus.

__ADS_1



Hal itupun sontak membuat Nanda dan Sila tertunduk malu. Bukan hal baru lagi bagi mereka tentang kedua teman Anisa yang menaruh hati pada Hanz. Tapi sayangnya Hanz tak pernah peduli dan menggubris itu semua.



Ia anggap Nanda dan Sila itu seperti bocah kecil yang sedang puber dan cinta\-cinta monyet. Ia tak bawa pusing, tapi ia menganggap keduanya seperti adiknya sendiri sebagaimana ia menganggap Anisa. Hanya saja, tentu sikap cuek nya mendominasi. Karna ia tak ingin mereka jadi salah paham dan semakin berharap padanya yang tak akan mungkin membuka hati pada siapapun lagi.



Tapi sejak ia mengenal Ara, ia menjadi heran atas dirinya sendiri. Hati dan otaknya tak pernah sinkron. Di otaknya mengatakan agar ia bersikap biasa dan menganggap Ara itu seperti adiknya saja. Tapi di hatinya, ia menampik perasaan adik kakak yang coba ia tanamkan, sebab ia tak bisa berbohong kalau ia memiliki sesuatu yang berbeda terhadap Ara. Semacam perasaan nyaman dan tak ingin kehilangan. Tapi ia tak mengerti perasaan apa itu. Untuk menyatakan itu cinta? Ia tak begitu yakin. Yang pasti ia akui kalau ia sudah sangat menyayangi Ara.



"Opa, Lena sama Leno nggak di tanya sekolahnya gimana?" tanya Rena dengan lucunya yang cemburu karna tidak di tanyai opa nya. Yah, mereka memang masih belum tidur dan belajarnya pun sudah selesai. karna itulah mereka ikut bergabung.



"Memangnya sekolah Rena sama Reno gimana sayang?" tanya Reksa gemas pada cucunya ini.



"Kata bu gulu, Lena pintal opa. Tapi Leno nggak, kalna Leno di sekolah suka pacalan sama teman Lena, makanya bu gulu malah," jawab Rena polos membuat Reno yang merasa di sudutkan menatapnya marah.



"Oh yah? Jadi Reno gak cinta sama tante Ara lagi nih ceritanya? Sekarang Reno sama teman Rena nih jadinya?" goda Anisa membuat Reno mengangguk malu\-malu.



"Kata bunda, tante Ara sama uncle aja. Kalau ndak, kata bunda uncle gak akan nikah lagi sampe tua. Makanya Reno mengalah aja, karna Reno nggak mau lihat uncle jomblo sampe tua," terang Reno membuat semua orang tergelak tawa. Kecuali Ara yang kini tunduk tersipu malu dan Hanz dengan tampang datarnya tentunya.



"Gak papa kok Reno, nanti kalau sama tante Ara nggak jadi, sama tante Sila juga boleh kok," ucap Sila tanpa malu\-malu membuat Nanda memukul tangannya kesal. Ia malu dengan Sila yang sangat tak tau malu.



Sementara yang lainnya melihat mereka justru semakin tertawa kuat. Astaga, sepertinya malam ini terasa begitu ramai dan lucu.



...

__ADS_1


__ADS_2