Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
15


__ADS_3

Ara sampai di rumah sakit dan segera menuju ke ruangan Hanz di rawat dengan buru-buru, sebelum kesana tadi ia sempat menelfon Anisa menanyakan di rumah sakit mana Hanz di rawat sekalian dimana ruangannya.


Sebelum masuk Ara menguatkan hati terlebih dahulu sembari menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Jantungnya berdetak kuat tak karuan, rasa takut menggerogoti dadanya, ia berharap Hanz baik-baik saja. Ia sangat takut akan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi.


Setelah merasa siap, ia pun membuka pintu ruang rawat itu secara perlahan. Kepalanya terlebih dahulu masuk ke dalam untuk melihat keadaan, dan disana ia sudah melihat seluruh keluarga Zeino kecuali si kembar sedang mengelilingi ranjang dimana suaminya masih terbaring dengan mata tertutup. Kepala Hanz di kelilingi perban di bagian dahi, kedua tangannya pun mendapat perlakuan yang sama, dan kaki kirinya tampak di gips membuat Ara menahan tangis melihatnya. Sepertinya kondisi Hanz lumayan serius, kenapa bisa seperti ini?


"Ara, kamu udah datang. Kemari deh, kamu harus tau kondisi kakak," ucap Anisa setelah menyadari keberadaan Ara. Semua mata pun menatap gadis itu bersamaan, mereka tak menyangka Ara akan datang.


Ara mengangguk dengan wajah menahan tangis, kakinya yang sudah lemas melihat keadaan Hanz mendekat untuk memastikan kondisi Hanz lebih jelas lagi.


"Kenapa dia bisa kecelakaan?" tanya Ara sendu sembari menatap wajah suaminya khawatir. Ia tak menujukan pada siapa pertanyaan itu ia tanyakan, tapi Gery bersedia menjawabnya sekalian menjelaskan kondisi Hanz karna kebetulan ialah dokter yang menangani adik iparnya tersebut.


"Dari hasil penelitian, polisi menjelaskan kalau Hanz sepertinya menyetir sambil melamun, hingga akhirnya dia tak sengaja menabrak trotoar jalan lumayan kencang untuk menghindari penyebrang jalan di depannya. Akhirnya dia yang celaka, kaki kirinya terjepit hingga tulangnya sedikit retak. Kepalanya terbentur stir cukup kuat hingga mengakibatkan luka, syukur saja tak ada luka dalam. Dan kedua telapak tangannya yang memegang stir pun luka karna pegangannya terlalu kuat makanya harus di perban. Tapi kamu nggak usah khawatir, menurut hasil keseluruhan Hanz baik-baik aja kok, dia hanya akan di rawat selama satu minggu disini dan sebentar lagi dia pasti akan sadar." Gery tak tau mengapa ia perlu menjelaskan itu secara detail pada Ara, tapi hatinya mengatakan kalau ia perlu melakukan itu.


Melihat wajah Ara yang tampak jelas sekali menahan tangis siapapun mereka disana pasti tau kalau Ara sangat mencintai Hanz terlepas dari hubungan mereka yang tak seorangpun tau.


"Ra, kamu nggak usah khawatir, kak Hanz kuat kok. Dia pasti bisa sembuh secepatnya, kamu jangan sedih ya," ucap Anisa menguatkan. Semua orang pun tak habis pikir melihatnya.


Ya walaupun sepertinya Ara dan Hanz memikili hubungan diam-diam, tapi itu kan masih dugaan mereka. Mereka semua tak tau jelas seperti apa sebenarnya hubungan keduanya. Lalu mengapa Anisa menghibur Ara sementara dia sendiri yang sudah jelas adiknya Hanz pun butuh penghiburan atas kecelakaan yang menimpa kakak kesayangannya itu. Sepertinya ada yang tak beres dengan Anisa, tapi mereka diam saja karna saat ini tak ada yang lebih penting selain menunggu Hanz segera siuman.


Sementara Ara hanya bisa diam sedari tadi. Dalam hati ia tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan suaminya. Ia tau ini semua terjadi pasti karna dirinya, Hanz mungkin tak konsentrasi karna memikirkan penolakannya semalam. Ia memang tak becus, jadi istri ia tak bisa membahagiakan suami malah mencelakai Hanz. Sungguh ia menyesali perbuatannya. Bodoh.


Beberapa saat kemudian jemari Hanz mulai bergerak menandakan ia akan sadar sebentar lagi. Mereka semua segera siaga menantinya membuka mata dengan penuh harap. Setelah tadi mereka semua sangat khawatir hingga tak bisa tenang, kini mereka mulai bisa menghembuskan nafas lega secara perlahan. Mata Hanz akhirnya terbuka sepenuhnya meskipun tampak masih sedang berusaha menyesuaikan pencahayaannya.


"Hanz, kamu baik-baik saja kan sayang? Kamu liat mama, kamu kenal mama Hanz? kamu bisa liat dengan jelas kan?" tanya Samira bertubi-tubi dengan wajah khawatir.


Hanz yang masih lemas pun hanya menanggapi ucapan sang mama dengan anggukan. Dan semua orang pun bernafas lega  melihatnya.


Mata Ara sudah berkaca-kaca, ingin sekali ia sekarang menghambur ke pelukan suaminya. Tapi melihat keluarga Zeino disini membuatnya harus menahan diri lebih keras.

__ADS_1


"Berikan dia sedikit ruang. Kalian membuatnya sesak bernafas kalau di kelilingi seperti ini, aku mau mencek keadaannya juga. Tolong semuanya menyingkir sedikit," ucap Gery membuat mereka semua mengangguk paham kemudian segera mundur beberapa langkah, kecuali Ara yang masih terdiam dengan wajah khawatir menatap Hanz. Ia bahkan tak menyadari perkataan Gery hanya karna ke khawatirannya. Hanz masih tampak lemah di matanya, bagaimana bisa Gery mengatakan itu baik-baik saja? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang fatal pada tubuh bagian dalam suaminya karna pemeriksaannya tidak detail? Ia takut membayangkan hal itu terjadi.


Namun ia tak sadar kalau kini semua mata sudah menatapnya heran. Termasuk Hanz sendiri.


"Ara, kamu mundur dulu. Kak Hanz mau di periksa," bisik Anisa di telinga Ara membuat gadis itu segera tersadar kemudian melangkah mundur dengan kikuk.


"Siapa dia?" tanya Hanz dengan suara lemah nun sudah berhasil membuat mata semua orang membola terkejut tak terkecuali Ara.


Jantungnya memompa dengan cepat, tubuhnya bergetar, kakinya melemas dan air mata ingin sekali merebak keluar. Bagaimana bisa Hanz tak mengenalinya?


"Hanz, dia Ara. Apa kau tak mengenalinya? Kamu yang bawa dia kemari," ucap sang oma heran.


"Ia Hanz, kamu yang bawa Ara dari kampungnya. Kamu bilang kalau dia akan jadi pengasuh si kembar makanya kamu bawa dia ke rumah kita," timpal Alea. Tapi Hanz masih menampakkan wajah yang tampak ragu membuat mereka semua semakin menatapnya khawatir.


"Hanz, tadi kamu kenal mama. Tapi kenapa kamu nggak kenal sama Ara?"


"Jangan bercanda kamu Hanz. Kamu udah buat banyak orang khawatir, jangan main-main," kali ini Reksa yang angkat bicara dengan begitu tegasnya. Tapi tetap saja Hanz seperti menatap linglung pada keluarganya.


"Tapi bagaimana bisa dia tak mengenali Ara tapi mengenali mama. Lalu apa dia tak mengenali ku juga? Hanz, apa kamu ingat kakak? Ini kak Alea, ingat kan?" tuntut Alea sembari mendekati Hanz kembali. Ia tak mau jika Hanz tak mengenalinya juga.


"Sabar sedikit Alea. Kita harus bertanya pelan-pelan padanya. Biar aku yang tanyakan," ucap Gery kemudian menarik istrinya menjauh dari Hanz. Emosi Alea ini melonjak-lonjak, tak baik untuk pasien yang masih lemah seperti Hanz.


"Hanz, aku tanya kamu. Dari semua yang ada di ruangan ini, siapa saja yang tidak kamu kenali?"


Hanz terdiam sejenak kemudian menatap wajah semua orang satu persatu. Lalu pandangannya jatuh paling lama pada Ara. Ia melihat wajah gadis itu yang tampak menahan tangis. Sejenak mereka saling tatap, hingga akhirnya Hanz menunjuknya dengan tangan.


"Cuma dia aja. Siapa dia?" tanya Hanz lagi membuat air mata yang audah di tahan sedari tadi itu akhirnya mengalir di wajah cantik Ara. Hanz benar-benar tak mengenalinya. Bagaimana bisa?


"Sepertinya Hanz mengalami Amnesia." ucap Gery membuat semua orang memekik kaget.

__ADS_1


"Tapi ini belum pasti. Aku masih harus memastikannya dengan melihat hasil pemeriksaan ulangnya nanti."


"Hanz, apa kamu ingat sekarang tanggal berapa? Bulan berapa?"


hanz tampak diam lagi seperti memikirkan sesuatu. Kemudian ia pun mengangguk menjawab pertanyaan Gery.


"Sepertinya sekarang awal maret. Tapi mengapa aku ada di rumah sakit? Kenapa kepala dan kaki ku sakit? Tangan ku pun di perban seperti ini, ada apa? Bukankah aku sedang menangani proyek wisata di kampung Mekar Sari? Apa aku kecelakaan saat menangani proyek?"


Semua orang terdiam mendengar ucapan Hanz tak terkecuali Ara. Kini air matanya benar-benar sudah menganak sungai. Dadanya semakin terasa sempit dan sulit bernafas.


Penjelasannya Hanz semakin membuat Ara frustasi, Hanz melupakan kejadian setelah pertemuan mereka. Hanz hanya ingat dia bekerja di kampungnya dua bulan lalu. Ingin sekali ia luruh dan menangis kencang sekarang. Mengapa bisa begini?


"Sepertinya Hanz mengalami Amnesia Anterograde, Amnesia ini jenis Amnesia yang terjadi karna adanya peradangan pada jaringan otak sehingga mengakibatkan penderita dapat melupakan sebagian dari memorinya. Dan sepertinya Hanz melupakan kejadian dari 2 bulan yang lalu. Hal ini biasa terjadi pada pasien yang mengalami kecelakaan apabila sebelum terjadi kecelakaan tersebut si pasien sedang mengalami syok berat terhadap beberapa kejadian yang secara tak sengaja dia lupakan itu. Itu bisa terjadi mungkin karna alam bawah sadarnya tak ingin mengingat karna terlalu menyakitkan atau bisa karna beberapa faktor lain. Tapi tenang, jenis Amnesia ini bisa di sembuhkan dengan terapi psikilog."


Anisa menatap wajah Ara yang kini tampak sangat kacau, ia sangat kasihan pada Ara. Pasti saat ini Ara sudah merasa sangat bersalah. Ya Tuhan cobaan apa ini?


"Kira-kira berapa lama dia bisa sembuh Gery?" tanya Reksa.


"Tergantung Hanz sendiri. Bisa satu minggu, satu bulan, satu tahun, atau bahkan bisa permanent. Itu tergantung bagaimana Hanz ingin ingatkannya kembali atau tidak."


Semua orang disana sangat syok mendengarnya. Ada apa ini? Mengapa banyak kemalangan yang menimpa putra mereka? Tak ada habis-habisnya Hanz di datangi kemalangan itu.


"Lakukan yang terbaik Gery."


"Ia pah, kalau memang hasil tes nya mengatakan Hanz benar Amnesia, aku pasti akan melakukan yang terbaik," ucap Gery yakin. Semua orang pun terdiam dengan hati kalut. Mereka bahkan tak dapat memikirkan apapun lagi.


"Sebaiknya kalian semua pulang saja. Ini sudah sangat malam. Biar Hanz aku yang jaga, dia aman disini dan dia juga butuh istirahat, lagian si kembar hanya berdua di rumah," usul Gery. Mereka semua pun saling tatap, yang Gery katakan ada benarnya. Hanz harus istirahat dan mereka pun harus kembali untuk membicarakan ini dengan baik.


"Aku nggak mau sendiri disini. Lagian kak Gery pasti sibuk dengan pasien lain juga nanti. Biarkan dia tinggal disini, bukankah tadi kalian mengatakan dia itu pengasuh?" ucap Hanz sembari menunjuk Ara dengan dagunya dan berhasil membuat semua orang kembali saling tatap lalu kemudian menatap Ara tak yakin.

__ADS_1


Sementara Gery, ia sudah memincing curiga menatap Hanz, sepertinya ada yang tak beres. Lihat saja, ia akan menangkap kedok manusia satu ini. Dari awal memang dia sudah curiga, karna ia yakin tak ada kesalahan dalam hasil tes nya yang pertama, semuanya aman. Hanz tak mengalami sedikitpun cedera dalam. Tapi tunggu saja, ia harus mengumpulkan bukti dulu untuk membalas Hanz. Seenaknya Hanz membuatnya harus bicara panjang lebar memberi penjelasan yang tak ada gunanya sama sekali. Awas kau Hanz.


....


__ADS_2