Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
28


__ADS_3

___


Hanz dan Ara cepat-cepat berlari masuk ke rumah setelah mereka sampai dan keluar dari mobil. Ya, mereka langsung memutuskan pulang tadi setelah menerima telfon dari Anisa.


Saat ini keduanya sedang diliputi rasa was-was yang dalam. Bagaimana jika orang tua Ara sudah menceritakan tentang pernikahan mereka? Karna bagaimanapun orang tua Ara sama sekali tak tau kalau mereka menyembunyikan hubungan mereka dari keluarga Zeino. Bagaimana kalau saat ini semua orang sudah tau tentang hubungan mereka?


Astagaa...


"Itu mereka udah datang!" ucap Anisa saat melihat Ara dan Hanz datang bersamaan memasuki rumah. Perasaan was-was Ara dan Hanz kian menjadi saat melihat tatapan semua orang kini menatap keduanya dengan ekspresi yang sulit mereka tebak. Keduanya sama-sama meneguk saliva kuat. Apakah memang mereka sudah ketahuan?


"Ayah, ibu," sapa Ara dengan wajah pucat dan suara bergetar. Ada rasa haru bercampur ketakutan saat menatap wajah kedua paruh baya yang sangat ia cintai itu.


Ia terharu dan bahagia melihat kedua orang tuanya disini. Ia ingin memeluk mereka dan menangis mengungkapkan betapa ia sangat merindukan mereka. Namun di lain sisi juga ia merutuki pertemuan ini karna ia tak pernah membayangkan ini akan terjadi disaat seperti ini.


"Ara, kamu nggak mau peluk ayah dan ibu?" tanya Wahida saat melihat putrinya masih terdiam berdiri di tempatnya seperti canggung.


Ara yang mendapat pertanyaan itupun dari ibunya segera beranjak mendekati kedua orang tuanya. Wahida dan Pardi pun berdiri dari duduknya untuk menyambutnya pelukan putrinya. Kemudian Ara pun memeluk ibunya terlebih dahulu dengan rasa haru yang membuncah.


"Ibu, Ara rindu sama ibu," tangis bahagia Ara pun tak bisa terbendung lagi.


"Ibu juga sangat rindu sama kamu. Tiap hari ibu berdoa supaya kamu selalu sehat dan baik-baik saja disini nak," ucap Wahida lembut kemudian mencium puncak kepala putrinya.


"Ayah nggak di peluk nih ceritanya?" tanya Pardi yang cemburu karna merasa di abaikan istri dan anaknya.


Ara pun tertawa pelan kemudian segera mendekat lalu memeluk ayahnya, ia membenamkan kepalanya di dada sang ayah. Sungguh memang pelukan dari seorang ayah sangat menenangkan.


"Ara juga rindu sama ayah. Udah lama Ara pengen peluk ayah kayak gini lagi," ucap Ara sendu membuat sang ayah menghujami ciuman di puncak kepala Ara dengan sayang.


"Kamu bahagia disini nak?"


"Ara bahagia banget yah." lagi-lagi pun Pardi memberikan kecupan di puncak kepala Ara dengan haru.


Sementara Hanz, sedari tadi matanya wanti-wanti menatap mata keluarganya. Ia ingin mendalami ekspresi mereka satu persatu, ia ingin memastikan apakah keluarganya sudah tau perihal hubungannya dan Ara atau tidak.


"Kami ingin berterimakasih pada nak Hanz yang sudah menjaga Ara selama ini. Kami juga ingin berterimakasih karna kebaikan nak Hanz pada kami di kampung," ucap Pardi tiba-tiba setelah melepas pelukannya dari Ara. Ia pun kemudian menatap wajah menantunya dengan seksama, namun entah mengapa Hanz merasa tatapan yang di berikan ayah mertuanya itu amat tajam dan menusuk.


"O-oh... Tidak masalah," hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut kelu Hanz saat ini. Entah mengapa ia ciut di bawah tatapan tajam ayah mertuanya itu, padahal selama ini tak ada seorang pun di dunia yang mampu membuat Hanzen Zeino bergetar gugup ketakutan seperti ini. Ia pun meneguk salivanya paksa, mencoba untuk mengalihkan suasana hatinya yang tiba-tiba merasa tak enak.


"Ayah dan ibu sudah kenalan dengan..." Ara menggantung pertanyaannya kikuk, merasa tak tau harus menyebut mertunya dengan sebutan apa di depan orang tuanya.


"Tadi ayah dan ibu sudah kenalan dengan TUAN dan NYONYA Zeino dan juga mereka semua," ucap Wahida sembari tersenyum sumbang.


Hanz dan Ara terdiam sembari meneguk saliva susah payah bercampur dengan rasa menohok di hati atas jawaban yang diberikan oleh Wahida. tampak sekali nada penekanan yang di berikan Wahida saat menyebutkan kata tuan dan nyonya.

__ADS_1


Keduanya kini sama-sama menunduk takut namun saling lirik melalui ekor mata masing-masing seperti mengisyaratkan tanya 'apa yang harus kita lakukan sekarang?'.


"Mengapa kakak ngerasa kayak ada atmosfer aneh ya Cha disekitar sini?" bisik Alea pada Anisa yang duduk di sebelahnya. Anisa pun mengangguk setuju dengan ucapan sang kakak, ia pun merasakan hawa ketegangan saat ini. Ada apa ini?


"Pak Pardi dan Ibu Wahida silahkan duduk kembali, kita bincang-bincang lagi," tawar Reksa ramah memecah suasana.


Kedua orang tua Ara pun mengangguk setuju, kemudian mereka kembali duduk diikuti oleh Hanz dan Ara juga yang kini mengambil posisi duduk di sofa yang kosong, namun tak ayal jika wajah keduanya kini sudah gugup menahan takut.


Damn for Hanz and Ara. Baru saja mereka ingin bersenang-senang, sekarang malah harus berhadapan dengan maut di depan mata tanpa harus bisa melakukan apa-apa.


"Terimakasih tuan dan nyonya sudah merawat putri kami selama disini, dia tampak sehat dan semakin cantik. Sepertinya dia sangat bahagia disini," ucap Wahida sembari tersenyum tulus.


Ara dan Hanz saling lirik kembali, sepertinya Pardi dan Wahida belum memberitahukan apapun pada keluarga Zeino. Mereka berdua sama-sama mendesah lega dalam hati.


"Tak masalah bu Wahida, Ara ini anak yang baik dan pintar. Kami semua sangat menyukainya," ucap Samira tak kalah tulus.


"Lena juga suka tante Ala."


"Reno juga." Seakan tak mau kalah, si kembar yang sedari tadi juga ikut bergabung menyuarakan pendapat mereka.


Pardi dan Wahida pun tersenyum melihat kedua anak kecil yang sangat menggemaskan itu. Entah mengapa, mereka malah jadi ingin memiliki cucu saat melihat si kembar ini. Tapi sepertinya untuk meminta cucu pada Ara dan Hanz saat ini bukanlah waktu yang tepat.


"Kami senang kalau Ara di sukai disini. Putri kami sangat beruntung tinggal di keluarga ini," kini Pardi yang menyuarakan pendapatnya.


Hingga akhirnya 2 jam kemudian berakhirlah acara bincang-bincang keluarga itu dengan keputusan pamitnya orang tua Ara untuk pulang. Padahal Reksa sudah menawarkan agar mereka menginap, namun mereka tetap kekeh untuk pulang dengan alasan masih harus menjaga toko besok.


Ara mendesah kecewa, padahal ia masih sangat merindukan kedua orang tuanya. Rasanya baru sebentar mereka bertemu, namun orang tuanya malah sudah harus pergi lagi.


Tapi di balik rasa kecewa itu, ada juga setitik rasa lega. Karna bagaimanapun kedua orang tuanya seperti mengerti dan tidak membocorkan perihal pernikahannya dengan Hanz pada keluarga Zeino. Jika tidak, kalau sampai itu terjadi, mungkin ia tak akan tau lagi bagaimana caranya ia menghadapi keluarga itu nantinya.


"Apa tidak sebaiknya kalian makan malam dulu," tawar Samira sebelum kedua orang tua Ara beranjak.


"Nggak perlu nyonya, kami makan di jalan aja nanti," tolak Wahida halus.


"Kalau gitu biarkan Hanz mengantar kalian ke terminal bus," kini Reksa menawarkan, dan Hanz pun mengangguk antusias menanggapi itu, ia harap kedua mertuanya tak menolak tawaran itu kali ini.


Dan akhirnya ia pun tersenyum senang saat menerima anggukan dari ayah mertuanya. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk minta maaf dan menjelaskan semuanya nanti.


"Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang," ucap Hanz.


"Aku ikut mas," ucap Ara cepat dan tanpa sengaja. Ia pun menggigit bibir bawahnya setelah sadar jika ia keceplosan memanggil Hanz dengan sebutan mas di depan banyak orang.


Dan kini ia bisa melihat satu persatu dari mereka yang kini tampak terkikik geli mendengar ucapannya, termelebih Alea dan Anisa. Ia pun meringis, wajahnya merona menahan malu.

__ADS_1


"Kalau mau ikut, kamu ganti baju dulu sana," ucap Hanz membuat Ara mengangguk mantap kemudian segera berlalu dari sana menuju kamarnya dengan cepat. Bukan karna terburu-buru saja makanya ia melakukan itu, melainkan dominan rasa malu yang menjalar hingga ke tulang-tulangnya.


^^^


Dan kini, disinilah Ara, Hanz dan kedua orang tua Ara. Sudah 10 menit mereka dalam mobil untuk perjalanan ke terminal bus. Hanz menyetir dengan Ara duduk disebelahnya, sementara kedua mertuanya duduk di kursi belakang mereka. tak ada perbincangan sama sekali, mobil rasanya seperti di selimuti kabut kecanggungan. Hingga akhirnya Hanz memantapkan hati untuk memulai kata yang sedari tadi ia rangkai dalam hatinya.


"Ehhem... Ayah, ibu, aku minta maaf tentang masalah tadi. It-itu semua nggak seperti yang kalian bayangkan, kam..."


"Nak Hanz gak usah jelasin apa-apa lagi. Kami sadar diri dan kami sadar putri kami ini tak layak untuk nak Hanz kenalkan pada keluarga nak Hanz sebagai istri. Jadi tak perlu merasa sungkan pada kami," ucap Pardi cepat memotong ucapan Hanz.


Hanz dan Ara pun sama-sama terdiam sejenak. Rasa bersalah tiba-tiba melingkupi hati Ara, mungkin ia sudah membuat orang tuanya terluka karna kebodohannya.


"Tadi ayah dan ibu sangat terkejut saat besan kami sendiri memanggil kami dengan sebutan bapak dan ibu pengurus vila. Mereka tak tau kalau kami besannya, rasanya kami terkejut tapi kami lebih terkejut lagi saat mereka bahkan tak tau kamu adalah menantunya. Mereka menyebut mu dulu adalah pengasuh cucunya dan sekarang sudah di anggap sebagai anak sendiri. Ayah tertawa miris dalam hati, kenapa putri ayah harus mengalami semua ini? Ayah kira kamu bahagia disini," lirih Pardi sembari menatap mata Ara dalam. Ara pun meringis sedih dalam hati, sungguh ia tak bermaksud membuat kedua orang tuanya sedih.


"Ayah, maafin aku. Ini semua salah ku, mas Hanz nggak salah sama sekali. Aku yang meminta mas Hanz buat nggak ngasi tau tentang pernikahan kami pada siapapun. Mas Hanz selama ini juga udah bujuk aku buat ngungkapin pernikahan kami, tapi aku yang keras kepala buat nutupi semua ini, dan ayah jangan berkata seakan-akan aku tak bahagia disini, aku sangat bahagia disini ayah," jelas Ara membuat kedua orang tuanya menatapnya terkejut.


"Tapi kenapa kamu lakuin itu nak? Kenapa kamu yang minta itu? Itu namanya tidak sopan Ara, karna kamu udah menyangkal pernikahan kamu pada mertua kamu sendiri. Kasian mereka yang sudah di bohongin anak dan menantunya selama ini," ucap Wahida tak habis pikir dengan putrinya sendiri.


"Ayah, ibu, kalian jangan marah pada Ara ya. Ini nggak sepenuhnya salah Ara, aku juga turut andil disini karna aku yang membantu Ara selalu untuk menutupi pernikahan ini dan mencari berbagai alasan agar tidak terbongkar sedikitpun pada keluarga kami. Kami ngelakuin ini murni untuk kebaikan Ara. Karna Ara masih sekolah, kami harus menjaga nama baiknya agar dia tak di keluarkan dari sekolah," ucap Hanz untuk meyakinkan kedua mertuanya.


Pardi dan Wahida pun akhirnya menghela nafas pasrah.


"Terserah nak Hanz saja jika itu menurut kalian yang terbaik. Karna bagaimanapun juga Ara sekarang sudah jadi tanggung jawab nak Hanz, kami nggak punya hak lagi untuk mengatur-ngatur Ara selama itu untuk kebaikannya. Tapi kami harap nak Hanz dan Ara segera memberitahu keluarga kalian tentang ini, sebelum nanti mereka taunya dengan cara yang di luar kendali kalian, mungkin mereka akan kecewa nanti," ucap Pardi mengingatkan membuat Hanz dan Ara pun mengangguk setuju.


"Ya bu, ayah, kami pasti akan milih waktu yang tepat buat ngasi tau keluarga perihal pernikahan kami, makasih ayah dan ibu udah bersedia ikut membantu menyembunyikan fakta ini tadi," ucap Hanz sembari menatap kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca haru. Kedua orang tuanya pun tersenyum menanggapinya.


"Nak Hanz, apa ibu boleh tanya sesuatu?"


Hanz pun mengangguk kemudian menjawab ia untuk pertanyaan ibu mertunya itu.


"Apa nak Hanz mencintai Ara?"


Senyuman lebar pun terukir di wajah tampan Hanz, kemudian dengan mantap ia pun menjawab...


"Aku sangat mencintai Ara, sangat-sangat mencintainya. Aku bahkan tergila-gila padanya."


Kedua mertuanya pun tertawa kuat mendengar penuturannya yang terlalu bersemangat itu. Sementara Ara, kini wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Suaminya mengakui cintanya seantusias itu dihadapan orang tuanya. Wanita mana yang tidak akan bahagia coba?


"Kalau begitu segeralah beri kami cucu yang lucu seperti si kembar."


Cucu?


Degg...

__ADS_1


...


__ADS_2