
___
Setelah insiden itu, Hanz menutup pintu kamar Ara dan menguncinya dari dalam. Kini si kembar pun ikut terkurung dengan wajah kebingungan di dalam.
"Kenapa kalian ke kamar tante Ara sepagi ini?" tanya Hanz tanpa basa-basi pada si kembar yang kini sudah ia dudukkan di tepi ranjang. Sementara ia duduk di kursi belajar Ara yang ia tarik hingga menghadap kedua bocah itu. Dan Ara, wanita itu kini sedang di kamar mandi untuk menggunakan pakaiannya kembali setelah tadi ia menarik-narik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Tak mungkin ia menggunakan pakaiannya kembali di depan si kembar. Ia bukan Hanz yang tak tau malu langsung mengenakan celana di depan kedua bocah itu tanpa canggung. Sementara badannya masih telanjang, sepertinya ia tak ingin repot-repot kembali memakai bajunya.
"Kami rindu sama tante Ara uncle. Semalam tante Ara nggak nemanin kami main karna pergi sama uncle," adu Reno polos. Si kembar kini gugup karna merasa diintimidasi oleh tatapan tajam nan menusuk Hanz.
"Tapi ini masih pagi sekali. Harusnya kalian masih tidur sekarang."
"Tapi kami nggak ngantuk lagi uncle, ia kan Leno?"
"Hm-m," Reno mengangguk setuju.
"Tapi uncle, kenapa uncle dan tante Ala telanjang?" tanya Rena lagi dengan wajah polosnya dan mata yang mengerjab-erjab lucu.
"Ahh-it-ituu, uncle kepanasan, hahaha ia kenapasan.... Makanya uncle tadi buka baju," jelas Hanz salah tingkah.
"Tante Ara juga kepanasan?" kini Reno yang bertanya.
"I-ia, tante Ara tadi kepanasan."
"Telus kenapa uncle ada di kamal tante Ala?"
Mata Hanz membola mendengar pertanyaan mengerikan itu. Sedari tadi ia tak berharap pertanyaan itu terlontar karna ia belum menyiapkan alasan yang tepat.
"It-ituu.., tadi tante Ara lagi sakit. Terus uncle datang buat obatin."
"Sakit? Tante Ara sakit? Kalau gitu Reno harus panggil papah, papah aja yang obatin tante Ara biar cepat sembuh," ucap Reno khawatir sekali sembari turun dari ranjang untuk mencari papahnya, tapi belum apa-apa Hanz sudah menggendong dan menaikkannya kembali ke tempatnya semula.
__ADS_1
"Jangan, tante kalian nggak mau orang lain tau dia lagi sakit. Tante Ara takut buat semua orang khawatir. Tante Ara juga udah mulai sembuh kok, karna tadi udah uncle obatin, kalian nggak usah khawatir," jelas Hanz seadanya.
Tadi jantungnya hampir saja lari maraton karna ulah Reno. Jika saja Reno benaran memanggil papahnya datang maka habislah mereka kali ini.
"Oh gituu, syukul deh tante Ala udah sembuh. Tadinya Lena pikil tante Ala dan uncle lagi buat dede bayi," ucap Rena terkikik yang malah spontan membuat Hanz membola dan hampir keselek air liurnya sendiri. Bagaimana bisa bocah ini tau dan dari mana dia dapat kata-kata itu?
"Kamu tau dari mana kata buat dede bayi hah? Siapa yang ngajarin?" tuntut Hanz yang mulai emosi. Ia tak terima bocah sekecil mereka di racuni hal-hal kotor seperti itu.
"Maaf uncle, uncle jangan malahin Lena," ucap Rena merasa bersalah sembari menunduk ketakutan.
"Katakan dapat dari mana kata-kata itu?" Hanz masih tak mau kalah. Ia tetap menuntut.
"Bunda uncle, waktu itu kami pernah liat bunda dan papah seperti uncle dan tante Ara tadi. Terus bunda bilang itu rahasia supaya kami punya dede lagi," kini Reno yang menjelaskan dengan polos karna kasian melihat Rena yang di intimidasi unclenya yang kini sudah mengerjab-erjab tak percaya.
Astagaa...
Hanz tak habis pikir, bisa-bisanya kakaknya itu mengatakan hal seperti itu pada anak kecil seperti mereka. Sungguh menjengkelkan. Kakaknya memang tak pernah menyaring untuk bicara.
"Sayang, kalian nggak papa?" tanya Ara lembut sembari menghampiri si kembar saat melihat kedua bocah itu tampak tertunduk ketakutan. Ia tau ini pasti ulah Hanz, karna tadi ia juga masih sempat mendengar umpatan Hanz itu.
"Tante Ala, Lena takut,"
"Reno juga," ucap si kembar bergantian sembari turun dari ranjang dan memeluk kaki Ara yang masih berdiri dengan erat.
Ara menghela nafas sembari melihat wajah dingin suaminya yang kini tampak jengkel. Ia tak tau apa alasannya Hanz berwajah dingin seperti itu, yang jelas sepertinya Hanz benar-benar membuat kedua bocah itu ketakutan kini.
Ara heran dengan kejadian aneh ini. Bukankah seharusnya kini yang ketakutan adalah Hanz dan dirinya yang tertangkap basah oleh Rena dan Reno? Lalu mengapa jadi berkebalikan seperti ini?
"Sayang, jangan takut ya. Ada tante Ara disini," ucap Ara lembut sembari menggendong si kembar bergantian dan mendudukkannya lagi ke tepi ranjang. Si kembar pun mengangguk sembari menatap wajah tantenya dengan becut, karna kini tatapan uncle mereka itu masih sama tajamnya pada mereka.
"Uncle akan hukum kalian dan kasi tau ke bunda kalian kalau kalian udah bocorin rahasia bunda kalian itu," ancam Hanz membuat si kembar seketika berubah panik dan semakin ketakutan. Mereka takut di marahi bunda karna sudah membocorkan rahasia cara punya dede bayi.
__ADS_1
"Hiks... Hiks... Hiks..., uncle jangan kasi tau bunda yaa, Lena janji kalau Lena akan balikin semua boneka yang uncle beli," tangis Rena yang sudah tak tahan lagi.
"Reno juga, Reno bakal balikin semua mainan Reno yang uncle beli. Uncle kalau mau jual lagi gak papa kok, Reno udah puas main. Uangnya nanti balik lagi sama uncle," tambah Reno juga membuat Hanz terkekeh kuat dalam hati. Siapa yang membutuhkan uang dan mainan itu? Ia pun berdecih kemudian.
"Uncle nggak akan ambil mainan kalian dan juga nggak akan kasi tau bunda, tapi dengan satu syarat...," ucap Hanz menggantung membuat kedua bocah itu menatapnya antusias.
"Ini jadi rahasia kita lagi, seperti terakhir kali. Jadi sekarang kita sama-sama jaga rahasia masing-masing. Jangan kasi tau rahasia uncle dan tante Ara, dan uncle juga nggak akan kasi tau rahasia kalian, gimana?" tawar Hanz membuat kedua bocah itu pun mengangguk antusias. Menurut mereka itu ide yang lebih baik daripada di beritahu bunda atau kehilangan mainan mereka.
"Baiklah uncle, Reno dan Rena janji nggak akan bilang siapa-siapa," ucap Reno mantap.
Hanz tertawa senang dalam hati. Dia memang sengaja menakut-nakuti keduanya agar ketakutan padanya dan ia bisa mengancam keduanya seperti ini. Menurutnya ini cara terjitu agar sikembar dapat menutup mulut mereka tanpa pamrih. Bukan ia pelit atau tak mau memberikan sogokan pada mereka seperti terakhir kali, tapi Hanz tau jika ia melakukan itu lagi maka akan banyak yang curiga di rumah atas tindakannya itu, sebab selama ini ia memang sangat jarang memberikan mainan pada Rena dan Reno secara langsung seperti ini.
"Kalau gitu kalian harus keluar dari sini sekarang, sebelum yang lainnya melihat kalian. Ingat, yang tadi harus di rahasiakan. Mengerti?"
Si kembar pun mengangguk bersamaan.
Kemudian dengan di bantu Ara, keduanya pun turun dari tepi ranjang dan segera keluar dari kamar Ara dengan berlari-lari.
"Mas juga keluar sekarang, aku nggak mau nanti kita ketahuan lagi," tegas Ara yang kini menampakkan raut kesalnya pada Hanz. Hanz tau, sepertinya istri kecilnya ini sedang merajuk padanya. Tapi tak apa, ia senang melihat wajah merajuk itu, tampak semakin menggemaskan.
"Kalau gitu mas pergi ya, bye sayang," ucap Hanz sembari mengecup kening Ara singkat kemudian ia nyengir tak jelas yang malah mendapatkan dengusan sinis dari Ara.
Tak ingin mendapatkan kecelakaan yang sama lagi, Hanz meraih bajunya di lantai kemudian segera beranjak hendak berlalu keluar.
Namun saat ia akan membuka pintu, terpampanglah wajah Alea di depannya yang kini sudah membelalak sempurna.
"Astagaa..., ap-apa yang kamu lakuin di kamar Ara sepagi ini? Dan-dan... Kenapa kamu lepas baju?"
Ahh shitt...
...
__ADS_1