Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
1


__ADS_3

___


"Bagaimana saksi, sah?"


"Sahh..."


Gadis yang kini menjadi istrinya itupun kini mencium punggung tangannya. Tapi ia tak melakukan apapun untuk membalasnya, ia hanya mengikuti hal yang dilakukan gadis itu untuk melakukan hal yang sama dengan orang tuanya. Bisa ia lihat Ara menitikkan air mata ketika menyalim tangan orang tuanya.


Yah, ia maklum. Siapalah gadis yang akan rela menikah dengan cara memalukan seperti ini? Setelah insiden pagi itu, mereka berdua di giring ke kantor kepala desa untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka yang sebenarnya tak ada hal yang tak seharusnya terjadi. Mereka di nikahkan secara paksa. Dan ia pun terpaksa harus menerima semua ini meskipun ia tak menginginkan ini.


Malam itu ia benar-benar sakit dan hanya meminta bantuan Ara saja, murni tak mengharapakan melakukan hal lebih sedikitpun. Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia hanya bisa pasrah menerima Ara, gadis berusia 17 tahun itu menjadi istrinya.


Ia tak tau entah bagaimana ekspresi keluarganya nanti saat ia menikah tanpa izin dan dengan cara seperti ini. Di tambah lagi jika ada media yang tau maka bisa hancur reputasi keluarganya.


Media pasti akan membesar-besarkan berita nantinya. Seorang Hanzen Zeino menikahi seorang gadis desa karna di gerebek warga sedang berbuat zinah. Oh astaga, membayangkan saja sudah membuatnya bergidig. Tidak, ia tak akan membiarkan itu terjadi, ia tak akan membiarkan siapapun tau soal pernikahannya ini. Biar dia, Ara, warga desa dan Tuhan saja yang tau.


"Nak Hanz tolong jaga Ara dengan baik yah. Walaupun kalian menikah dengan cara seperti ini, tapi tolong perlakukan ia dengan baik. Dia putri kami satu-satunya. Kami sangat menyayangi dan menjaganya selama ini," ucap Pardi ayahnya Ara.


Ia pun tak banyak bicara, hanya anggukan yang bisa ia berikan sebagai jawaban. Jujur ia masih berat menerima Ara yang tiba-tiba hadir dan akan menjadi bagian dari hidupnya.


"Setelah ini kalian harus segera memberikan berkas-berkas kalian agar pernikahan kalian di daftarkan secara hukum," ucap sang penghulu.


"Baik pak."


 


Siang pun berlalu berganti dengan malam. Malam ini Ara sudah pindah ke vila nya setelah tadi ia menemani menjemput beberapa pakaian gadis itu ke rumahnya yang kecil, bahkan ia sendiri ragu itu bisa disebut sebuah rumah.


Gadis itu tampak enggan memasuki kamarnya di vila dimana tadi pagi ia di grebek oleh warga. Seperti ketakutan, dan ia tak tau apa yang di fikirkan gadis itu.


"Ara, aku ingin bicara dengan mu."

__ADS_1


"I-ia m-mas," ucap ara mencoba mengubah panggilannya. Tadi memang ia sempat mendengar ibunya mengajarkan Ara agar membiasakan diri memanggilnya dengan panggilan itu. Ia sendiri pun sebenarnya tidak keberatan.


"Aku tidak mau pernikahan ini bocor pada publik, termasuk orang tua ku. Aku tidak mau mereka tau mengapa kita sampai bisa di nikahkan. Apa kau mengerti?"


"I-iya mas, aku mengerti," jawab Ara.


Sebenarnya Ara sendiri pun belum siap di kenalkan sebagai istri pada keluarga Hanzen. Ia takut mereka tak akan menerimanya, bagaimanapun ia hanyalah gadis miskin dari desa, anak dari sepasang manusia paruh baya yang dipercaya untuk menjaga dan merawat vila keluarga Zeino.


Semenjak lulus SMP ia memang sudah sering ikut membantu ibunya membersihkan vila tersebut. Karna ia tak melanjut sekolah lagi karna terhalang biaya, ia giat bekerja mencari uang untuk membantu kedua orang tuanya yang sudah tua dan memiliki banyak hutang yang selama ini banyak meminjam untuk membiayai sekolahnya. Ia terpaksa mengubur dalam cita-citanya yang ia tau kandas di tengah jalan. Ia tak mempermasalahkan itu asalkan ia bisa membantu ayah dan ibunya.


Dan menikah dengan Hanz seperti ini, itu di luar nalar dan keinginannya.


"Tapi mas, bagaimana jika keluarga mu bertanya tentang ku nanti?" bukan tanpa alasan Ara menanyakannya. Tapi karna tadi siang ketika ia pulang mengambil pakaian dan perlengkapannya Hanz meminta ijin pada orang tuanya dan mengatakan jika minggu depan mereka akan pindah ke Jakarta, kota dari mana asal Hanz.


Awalnya ia pun sangat terkejut dan kurang setuju, ia tak siap berpisah dengan kedua orang tuanya. Tapi sang ibu meyakinkannya dan mengatakan jika memang sudah seharusnya ia mengikuti suaminya jika ia sudah menikah. Jadiah ia yang pada akhirnya tak bisa lari lagi dari kenyataan, walaupun ada debaran dan rasa takut di hatinya. Ia belum pernah menginjak kota besar sama sekali, yang ia tau orang-orang disana bukanlah seperti penduduk di desanya. Ia tak tau apakah ia bisa menyesuaikan diri nantinya.


"Aku akan mengatakan kau adalah pengasuh baru untuk keponakanku."


"Ia mas, aku tidak masalah."


"Dan jangan menganggap pernikahan ini sebenar-benarnya pernikahan. Di hadapan keluarga ku kita hanya sebagai hubungan majikan dan pelayan, tidak lebih. Jangan berharap banyak pada pernikahan ini, jangan campuri urusanku, akupun tidak akan mencampuri urusan mu, kau paham?"


"I-iya mas."


"Baiklah, kau boleh tidur disana. Selama disini kau akan tidur sekamar dengan ku. Karna hanya kamar ku yang terbuka di vila ini. Tapi tak akan ada hubungan sex diantara kita sampai kapan pun."


Ara membola mendengar pria yang sudah jadi suaminya ini bicara begitu frontal padanya. Yah, ia rasa seperti itu lah anak yang besar di kota. Ia pun menatap ranjang tempat tidur itu dengan gugup. Ada debaran di jantung ketika membayangkan ia harus kembali tidur disana bersama sang tuan, seperti malam kemarin. Astaga itu sangat menakutkan meskipun sang tuan mengatakan tak akan ada hubungan intim diantara mereka.


"Kau bisa menyusun pakaian mu di lemari itu untuk sementara," ucap Hanz sambil menunjuk lemari besar di pojok ruangan.


"I-iya mas."

__ADS_1


Ara pun membawa tas pakaiannya untuk di susun di lemari, sementra Hanz sudah meninggalkannya menuju ke kamar mandi. Mungkin pria itu akan membersihkan diri. Kalau dia sudah lebih dulu membersihkan diri di rumah orang tuanya sore tadi sebelum kemari. Ia pun membuka lemari yang menurutnya sangat besar itu, ia melihat disana beberapa pakaian Hanz tertata rapi. Lemari sebesar itu sangat mubazir menurutnya karna hanya ada beberapa potong pakaian saja di dalamnya, lebih banyak tempat kosong meskipun nanti akan diisi oleh pakaiannya juga. Dengan rapih ia pun mulai menyusun pakiannya di bagian sebelah dari pakaian Hanz.


Setelah merapihkan pakaiannya, ia pun membaringkan diri di ranjang besar yang menjadi bagian dari skenario mengapa ia dan Hanz harus menikah hari ini. Matanya pun menyapu menatap sekeliling ruangan yang kemarin tidak sempat ia perhatikan, memang sudah jadi kebiasaannya ketika datang membersihkan, ia akan sangat mengangumi vila keluarga Zeino ini, tapi ia tak pernah menyangka akan mendapat kesempatan untuk menikmati pemandangan kamar Hanz juga. Kamar ini begitu indah, mewah dan sangat luar biasa besar menurutnya. Bahkan lebih besar daripada rumahnya. Ia heran, mengapa orang-orang kaya sangat suka berlebihan. Kamar sebesar ini di huni oleh satu orang, sedangkan rumahnya yang kecil saja masih sanggup di huni bertiga oleh ia, ayah dan ibunya. Memang pada dasarnya mereka tak akan pernah sepemikiran dengan para orang-orang kaya ini.


Tak lama kemudian suara derak pintu kamar mandi mengalihkan perhatiannya. Kemudian terpampang lah wajah tampan yang sangat menggoda. Ia hampir tak tau cara bernafas saat melihat pria di hadapannya kini yang sibuk melap rambut basahnya dengan handuk kecil, sementara handuk besar melilit di pinggangnya. Badan pria yang menjadi suaminya tersebut sangatlah indah dengan dihiasi otot-otot yang kalau ia hitung ada 6 kotak. Jika orang kota mengatakannya maka itu dikatakan sixpack. Ia meneguk salivanya kasar, oh tolonglah.... Apakah tadi ia sedang berfikiran mesum? Astaga, ia harus segera sadar atau tidak ia akan membuat Hanz marah padanya.


"Belum tidur?" tanya Hanz cuek saat melihat Ara masih melek dan menatapnya dengan mata melotot dan wajah memerah seperti tomat.


"I-ini mau tidur mas," ucap Ara kemudian segera menarik selimut dengan cepat, lalu menelungkupkan dirinya malu.


Hanz terkekeh melihat reaksi lucu Ara, gadis itu sangat imut menurutnya. Sebenarnya jika ia perhatikan Ara ini adalah gadis yang cantik, bahkan bisa dibilang sangat cantik. Hanya saja cara berpakaiannya yang kampungan membuat kecantikannya tak begitu mencolok. Tapi ia sendiri tau, dari gosip yang beredar dan sempat ia dengar di kampung itu selama ia berada disana 3 minggu terakhir, Ara adalah gadis tercantik dan banyak di incar para pemuda disana, tidak heran jika Ara disebut sebagai bunga desa.


Hanya saja ia tak semudah itu bisa menerima Ara yang tiba-tiba sudah berstatus sebagai istrinya. Di hatinya hanya ada nama seorang saja, Sahara.


Ia sangat mencintai Sahara, hanya saja Tuhan menjemput wanita itu terlebih dahulu 4 tahun yang lalu karna kecelakaan tepat hari dimana seharusnya mereka menikah dan terikat janji suci. Hari yang menjadi alasan di balik rasa trauma yang ia alami pada hujan.


Yah, pada hari dimana seharusnya mereka bahagia itu, hujan turun sangat deras mengguyur kota itu. Jalanan menjadi sangat licin dan kabut pun sangat tebal. Sementara Sahara mengabarinya masih dalam perjalanan menuju gedung tempat pernikahan mereka.


Namun sejam, dua jam mereka tak mendapatkan kabar apapun dari Sahara karna keterlambatannya. Ponselnya tak bisa di hubungi dan tak satupun bahkan orang tua gadis itu tau dimana keberadaannya, karna mereka pisah mobil. Sahara berangkat dengan sopir pribadinya. Mereka semua panik dan cemas.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka menerima kabar bahwa Sahara mengalami kecelakaan dan tewas di tempat. Bagai tersambar hatinya kala mendengar berita itu saat itu. Tangis dan teriakan tak terima pun pecah di tempat itu. Dan dirinya adalah orang terhancur saat itu, bahkan hingga kini semua itu masih membekas di hatinya dan meninggalkan trauma yang amat dalam padanya.


Setiap hujan tiba, ia akan mimpi buruk dan mengalami demam tinggi. Ia akan sangat ketakutan dan di mimpi itu ia seperti di datangi oleh Sahara yang terus-terusan meminta tolong padanya, tapi ia tak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa menangisi setiap mimpi menyedihkan itu selalu datang menghantuinya.


Sudah segala cara ia lakukan agar menghapus traumanya. Konsultasi pada psikolog pun sama sekali tidak membantu apapun. Kejadian itu banyak mengubah karakternya yang menjadi lebih tertutup dan menghindari yang namanya hubungan. Orang tuanya sudah melakukan berbagai cara untuk membujuknya menikah, ia selalu menolak dan mengatakan belum siap.


Tapi ia tak menyangka, Tuhan mempertemukannya dengan jodohnya dengan cara seperti ini. Dan orang itu adalah Ara yang ia rasa masih terlalu kecil untuk menjadi seorang istri.


Oh ayolah, Ara ini masih seumuran dengan adiknya Anisa yang masih sekolah SMA. Betapa memalukannya ia menikahi gadis yang seharusnya lebih cocok menjadi adiknya sendiri. Ia dan Ara terpaut usia 10 tahun, sungguh jauh dan ia tak tau sampai dimana pernikahan ini nanti. Yang jelas tak mungkin ia menceraikan Ara, dalam keluarga mereka tak ada kata perceraian. Jika orang tuanya tau maka akan lebih runyam lagi. Dan ia pun tak ingin mengecewakan orang tua Ara yang sudah mempercayakan Ara padanya. Jadi tak ada yang bisa ia lakukan selain menjalani semua ini dengan cara diam-diam untuk sementara waktu.


...

__ADS_1


 


__ADS_2