
___
"Astagaa..., ap-apa yang kamu lakuin di kamar Ara sepagi ini? Dan-dan... Kenapa kamu lepas baju?"
Ahh shitt...
"Kakak ngapain kesini?" tanya Hanz gugup akan kedatangan Alea yang tiba-tiba. Baru saja ia lolos dari si kembar, sekarang ada cobaan baru untuknya.
"Jangan alihin pembicaraan, ngapain kamu ke kamar Ara?" tegas Alea menuntut dengan tajamnya.
Ara meringis mendapati tatapan tajam Alea yang menatapnya seakan ingin menghunusnya sampai tembus. Ia pun mendekati suami dan kakak iparnya itu dengan wajah menunduk. Sungguh saat ini jantungnya bertalu-talu seakan ingin meledak, sangat kuat hingga menciptakan getaran pada tubuhnya. Dan ia sangat yakin kalau kini wajahnya sudah memucat saking takutnya, karna itulah ia menunduk tak berani membalas tatapan Alea.
Jika tadi si kembar saja sudah membuatnya teramat ketakutan, apalagi sama Alea? Jelas-jelas ini lebih berbahaya lagi.
"Aku tadi nyari kecoa. Pas aku lewat kamar Ara, aku dengar dia teriak terus aku masuk dan dia tampak pucat. Trus dia bilang ada kecoa di kamarnya dan dia ketakutan, ya udah aku bantu aja dia nyari kecoa nya," jelas Hanz tampak tenang dan santai. Padahal jangan tanya bagaimana gugupnya ia kini, jika saja jantungnya di periksa, maka mereka akan terkejut dengan getarannya.
Sementara Alea, ia memincing menatap adiknya dan juga Ara secara bergantian. Siapa yang akan percaya dengan alasan konyol itu? Ia bukan anak kecil yang bisa Hanz bodoh-bodohi.
"Dengan buka baju?" tekan Alea membuat Hanz terdiam sejenak. Dalam otaknya berpikir alasan apa lagi yang cocok untuk itu.
"Ya kan nyari kecoa, tadi aku liat kecoanya, terus aku berusaha nangkap, tapi karna susah ya aku buka baju buat ngibas-ngibas kecoanya. just reflex," ucap Hanz berusaha di buat-buat senormal mungkin.
"Kamu jangan bohong Hanz, kakak gak sebodoh itu. Semalam kalian pulang jam berapa?" Cecar Alea tak puas.
"Ak-aku pulang jam 12, sementara Ara... Aku nggak tau dia pulang jam berapa. Tapi Ara pulang lebih dulu dari ku."
"Kan kamu bohongin kakak lagi, gimana aku bisa percaya sama kalian kalo kalian bohong terus seperti ini?" marah Alea membuat Hanz dan Ara terdiam dengan menelan saliva. Ekspresi keduanya kini sama seperti orang yang sedang menunggu putusan eksekusi mati.
"Tadi kakak gak sengaja dengar para pembantu di dapur lagi bicarain kalian. Katanya salah satu dari mereka gak sengaja liat kalian masuk ke rumah ngendap-ngendap pagi buta tadi. Karna itulah kakak datang kesini buat mastiin, Apa maksudnya itu?"
Degg...
Ara dan Hanz saling tatap kemudian. Tatapan mereka sama-sama menyiratkan kekhawatiran. Apakah kini mereka akan ketahuan? Tidak, Ara tak mau itu terjadi.
Sementara Hanz ia menatap Ara dengan pandangan yang susah Ara artikan. Tatapannya seperti menyiratkan seseorang yang sedang minta ijin. Apa maksudnya itu? Kenapa Hanz menatapnya seperti itu? Jangan bilang Hanz mau membongkar semuanya.
Ara menggeleng tak setuju, tidak akan. Ini bukan waktu yang tepat, hatinya belum siap. Hanz pun terlihat mendesah kecewa akan gelengan yang di berikan Ara.
"Katakan apa maksudnya itu Hanz, Ara! Kalian jelasin sekarang!" paksa Alea.
"Ya, aku tadi sama Ara ngendap-ngendap masuk ke rumah," ucap Hanz berhasil membuat kedua bola mata Ara dan Alea membola terkejut bersamaan.
"Kenapa? Jangan bilang kalian berdua semalaman..," Alea tak menyelesaikan ucapannya. Ia memekik membayangkan apa yang ada di otaknya. Sementara Ara sudah menatap cemas pada Hanz dan kakak iparnya itu bergantian.
"Semalaman kami kencan sampai lupa waktu dan akhirnya pulang pagi-pagi buta sekali agar tak satupun ada yang liat, puas!" ucap Hanz cepat dan seakan tak bersalah. Alea semakin memekik dan membulatkan matanya terkejut, sementara Ara lemas di tempat. Wajahnya yang tadi pucat kini kian pucat.
"Mak-maksud kamu, ka-kalian pacaran?"
"Kenapa kakak kaget? Bukannya selama ini kalian udah nebak gitu?" tanya Hanz santai dan berhasil membuat Alea terdiam.
Benar memang selama ini mereka sudah menebaknya, namun saat Hanz yang mengatakan itu langsung dari mulutnya rasanya seperti ada yang beda. Sungguh terasa sangat mengejutkan walaupun mereka sudah berkali-kali menebaknya.
Alea kemudian beralih menatap Ara yang kini sudah menunduk dengan tangan saling bertautan di bawah dengan gemetaran. Alea rasa Ara sepertinya ketakutan saat ini, tapi ia tak bisa mengontrol keingintahuannya lebih lagi.
"Ara, apa itu benar?"
__ADS_1
Ara tersentak dengan pertanyaan Alea yang di tujukan padanya. Sungguh ia tak berharap di bawa-bawa dalam pembicaraan ini sama sekali walaupun yang kini di bahas berkaitan besar dengan dirinya.
"Ak-aku...," Ara tak sanggup melanjutkan ucapannya, akhirnya ia pun mengangguk saja karna suaranya tiba-tiba seakan hilang.
Alea pun menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Entah saat ini apa yang ia rasakan, seperti ada perasaan nano-nano antara lega, lucu dan aneh. Segalanya bersamaan menghinggapi otaknya. Entah mengapa ia bahagia mendengar ini, tapi ia seakan tak puas saat ini. Ia seperti merasa ada yang janggal dan kurang beres. Tapi dimana letaknya?
"Lalu kemana kalian kencan sepanjang malam? Kalian nggak macam-macam kan?"
Hanz dan Ara tertohok mendengar tudingan Alea yang sangat benar itu.
"Kan semalam Ara sudah mengatakan kalau dia ke rumah pamannya, akupun ikut kesana dan akhirnya kami kencan di rumah pamannya sepanjang malam," kilah Hanz benar-benar tak masuk akal namun berhasil membuat Alea terdiam dan tak bertanya lagi. Tapi bukan berarti wanita itu percaya begitu saja perkataan konyol adiknya, hanya saja ia tak mau semakin menekan Ara yang sudah tampak semakin bergetar saat ini.
"Kalian ini benar-benar aneh, mengapa pacaran saja harus diam-diam sih? Ada apa dengan kalian?"
"Kami bukan mau diam-diam, kami sedang mencari waktu yang pas buat bicara."
"Memang apa susahnya mengatakan itu sampai kalian harus butuh waktu yang pas?"
"Sudah deh, kak Alea nggak usah banyak tanya lagi. Aku minta kakak nggak usah bilang ini sama siapapun."
"Tanpa kamu yang bilang yang lain udah tau."
"Tapi hanya tebakan kan? Kakak nggak usah kasi tau kebenaran yang aku kasi tau hari ini."
Alea menghembuskan nafasnya kasar. Ada ya orang meminta namun ketus seperti Hanz ini? Menyebalkan sekali.
"Nggak tau deh, liat mulutnya kakak aja nanti kalau nggak licin," ucap Alea santai kemudian segera berlalu dari kamar Ara dengan santainya.
Hanz dan Ara pun seketika menghembuskan nafas lega setelah kepergian Alea. Aman walaupun tak sesuai harapan Ara, karna bagaimanapun Hanz mengatakan kalau ia kekasihnya, sangat menjengkelkan.
"Mas kenapa bilang aku pacar mas tadi?" tanya Ara sembari mengerucut sebal.
Ara pun mendesah pasrah. Yah, yang dikatakan Hanz memang ada benarnya. Walaupun alasan itu tak beda jauh dengan kenyataannya, tapi setidaknya itu mampu meredam kebenaran untuk sementara. Setidaknya sampai ia siap.
"Lagian mas juga udah bosan main kucing-kucingan terus sayang. Tadi mas mau bongkar saja semua sama kak Alea, mas udah capek nyari alasan gak jelas terus. Kenapa sih nggak kita kasi tau aja kebenarannya?"
"Aku belum siap mas," ucap Ara lesu.
"Apa sih yang buat kamu merasa berat terus? Kalau ada beban di pikiran kamu kasi tau sama mas, mas kan suami kamu jadi mas berhak tau kegelisahan kamu."
"Nggak ada mas, hanya saja aku masih belum siap."
"Tapi kenapa belum siap? Kalau masalah kamu takut sama keluarga mas, kan sudah berapa kali mas bilangin kalau mereka pasti akan sangat senang kalau tau kita udah nikah. Mereka nggak akan marah atau kecewa sama kamu. Lagian kalau sampai yang di pikiran kamu itu terjadi pun, mas pasti akan selalu ada buat kamu. Mas pasti bakal lindungin kamu, mas nggak akan biarin Siapapun nyakitin kamu termasuk keluarga mas sendiri. Percaya sama mas ya," bujuk Hanz namun Ara tetap tak bergeming dari keputusannya, ia malah menunduk sedih akan perkataan Hanz. Entah apa yang membuat Ara terus merasa berat, Hanz pun tak tau.
Hanz pun mendesah pasrah, sebenarnya ia pun tak mau Ara jadi tampak sedih seperti ini hanya karna tuntutannya. Sekali lagi, ia harus berusaha menerima keputusan Ara walaupun ia tak suka.
"Ya udah jangan dipikirin lagi. Mas minta maaf, mas nggak akan maksa kamu lagi sampai kamu benar-benar siap. Maafin mas yaa," ucap Hanz merasa bersalah. Ara pun kembali lagi mendongak menatap wajah suaminya.
"Mas, aku seperti ini juga bukan hanya tentang keluarga mas aja, tapi juga tentang pandangan orang lain dan juga diri ku sendiri. Ak-aku, entah mengapa aku selalu merasa nggak pantas buat mas karna aku bukan siapa-siapa," ucap Ara sedih. Teringat kembali bagaimana para pembantu yang sering bergosip tentangnya dan statusnya yang merupakan gadis kampung dan miskin, Ara selalu merasa tertekan dan sedih. Hal itu membuat kepercayaan dirinya selalu luntur.
"Ara, mas nggak pernah liat kamu seperti itu. Siapa yang bilang kamu nggak pantas buat mas? Mereka salah. Justru mas merasa sangat beruntung dapatin wanita sesempurna kamu."
"Tapi tetap saja merasa itu benar mas. Aku ini gadis kampung, miskin, gak berpendidikan. Andai saja mas nggak bawa aku kesini mungkin aku bukan siapa-siapa. Itulah pandangan orang lain tentang aku."
"Siapa yang bilang gitu hah? Kamu bilang sama mas siapa orangnya," kesal Hanz yang mulai emosi. Ia tak suka ada orang yang beranggapan demikian tentang istrinya, jika saja ia mendapatkan orang yang terus meracuni pikiran Ara seperti itu, ia berjanji akan membuat orang itu menyesal.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa mas, aku cuma beranggapan gitu aja. Aku merasa tidak pantas. Karna itulah aku mau lulus dulu, setidaknya dengan begitu aku dapat merasa kalau aku sedikit pantas karna aku sudah memiliki ijazah walaupun hanya SMA." Hanz mendesah tak habis pikir. Kenapa Ara membuat semuanya rumit sekali?
"Baiklah, terserah kamu aja."
Hanz pun tersenyum menatap Ara. Kemudian dalam detik berikutnya ia sudah berhasil menarik tengkuk Ara dan menabrakkan bibir mereka. Ia mencium bibir istrinya dengan gemas dan ********** dengan sedikit kasar.
"Arghhh..."
Ara mengerang di tengah-tengah ciuman mereka yang amat panas dan memabukkan itu. Saat ini ciuman Hanz sangat agresif dan menuntut, Ara yakin itu akibat emosi yang sesaat ia keluarkan tadi.
"M-mas, a...ku kehilangan nafas," ucap Ara tersengal-sengal setelah ia berhasil menodorong tubuh Hanz menjauh.
"Maafin mas ya, mas kelewatan gemas sama kamu," kekeh Hanz tanpa rasa bersalah. Ara pun mengangguk malu-malu dengan wajah merona.
"Mas keluar deh, nanti ada yang liat lagi," ucap Ara wanti-wanti, takut kejadian tadi terulang kembali.
"Ya udah, mas pergi sekarang."
Hanz pun mengecup puncak kepala istrinya kembali kemudian segera berlalu pergi.
^^^
Sudah dua bulan berlalu sejak kejadian itu, hubungan Hanz dan Ara kian lengket dan membaik. Walaupun mereka masih menyembunyikan status mereka, tak pernah hal itu menghalangi kemesraan mereka yang selalu main kucing-kucingan.
Hanz pun sudah mulai mau bersabar untuk menunggu Ara siap mempublikasikan hubungan mereka, ia tak mau lagi terus-terusan menuntut Ara tentang hal itu, karna terakhir kali mereka membahas itu lagi, Ara ngambek dan akhirnya ia tak dapat jatah. Tentu hal itu sangat menyebalkan untuknya karna ia sudah terlalu terbiasa dengan menyentuh Ara. Sehari saja Ara mendiamkannya, maka ia akan merasa hampa seperti hanya hidup sendiri di dunia.
"Sayang, kita ke hotel mana hari ini?" tanya Hanz setelah menjemput Ara pulang sekolah.
Sebenarnya semakin hari Ara semakin banyak dosa saking banyaknya ia melakukan kebohongan. Bagaimana tidak? Sebenarnya Ara sudah tidak lagi mengikuti les tambahan karna sekarang ia sudah sejajar tentang pelajarannya dengan lainnya. Jadi ia pun pulang seharusnya sudah di jam yang sama dengan Anisa.
Namun agar memiliki waktu bermain kucing-kucingan dengan Hanz, akhirnya ia berbohong pada semua orang dan mengatakan kalau ia masih mengikuti les tambahan. Padahal les tambahan yang Ara maksud itu adalah les tambahan berkencan atau bercinta dengan Hanz. Itu semua ide busuk Hanz agar tidak ada yang curiga pada mereka dan mereka punya banyak waktu untuk berduaan.
"Terserah mas aja," ucap Ara datar. Jika tentang hal seperti ini Hanz akan sangat bersemangat. Padahal ia tak tau kalau Ara sudah terlalu lelah karna tiap hari melayani Hanz yang tak pernah ada bosan-bosannya. Ingin Ara mengatakan kalau ia capek dan malas, tapi ia tak tega melihat wajah semangat suaminya nanti berubah sedih karna penolakannya, akhirnya ia memilih untuk terus mengesampingkan egonya, anggap saja itu bayaran karna Hanz begitu baik dan bersedia menunggunya sampai siap mempublikasikan pernikahan mereka.
"Kalau gitu mas akan bawa kamu ke suatu tempat, mas jamin kamu pasti suka," ucap Hanz sumringah dengan nada bangga dan yakin. Ara pun tersenyum melihat bagaimana wajah suaminya kini. Sungguh Hanz jadi tampak menggemaskan jika seperti ini, jauh beda dengan kebiasaannya yang selalu memasang wajah datar dimanapun.
Kini Ara sadar, senyuman suaminya mahal, tapi untuknya itu gratis. Karna Hanz selalu memberikan senyuman terbaik yang tak pernah orang lain lihat padanya. Dan Ara merasa sangat tersanjung akan hal itu.
Hingga suara telfon mengalihkan perhatian keduanya. Itu suara ponsel Ara, ia pun segera meraih benda pipih itu dari saku bajunya kemudian mengernyit melihat panggilan dari Anisa. Tumben Anisa menelfonnya jam segini?
Ara pun segera menggeser tombol hijau untuk menganggkat panggilan Anisa kemudian menekan tombol speaker agar Hanz juga mendengarnya.
"Halo Sa..."
"Ra kamu dimana? Masih di sekolah ya?"
"Ng-i-iya, ada apa ya Sa?"
"Orang tua kamu datang Ra, ini lagi ngobrol-ngobrol sama papah, mama, dan oma. Kamu cepat pulang ya, mereka nungguin kamu sama kak Hanz katanya. Oh ya, tolong kamu telfonin kak Hanz juga ya, suru pulang aja dulu, pulsa aku dah mau habis, hehehe..."
Glekk.
Ara meneguk salivanya kasar bersamaan dengan Hanz yang juga membola terkejut.
******, ******, ******...
__ADS_1
Berakhir sudahhh.
....