
----
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuat Ara menghentikan gerakan tangan Ara saat ia sedang asyik menulis mengerjakan tugas sekolahnya. Ia pun menghela nafas sejenak kemudian segera beranjak untuk membukakan pintu. Ia rasa itu pasti Anisa yang ingin ikut belajar bersamanya.
Ceklek
"Sayang, mas rindu sama kamu."
Ara melotot ternganga melihat wajah tanpa bersalah Hanz yang kini tersenyum lebar seakan yang ia lakukan saat ini bukanlah masalah besar. Santai sekali dia melakukan itu.
"Mas, kenapa mas kemari?" tanya Ara mulai gusar sembari celingak-celinguk kiri kanan untuk memastikan tak ada orang yang melihat suaminya kini.
"Kan mas udah bilang kalau mas rindu sama kamu."
"Tapi mas..."
Ucapan Ara terpotong karna Hanz menerobos masuk tanpa menghiraukan ucapannya. Ia pun mendesah pasrah, selalu saja seperti ini. Hanz selalu saja melakukan segalanya sesuai apa yang ia mau dan ia suka tanpa berpikir resikonya apa.
"Mas, nanti kalau yang lain tau mas ada disini gimana?" ucap Ara khawatir setelah ia menutup pintu.
"Nggak akan sayang. Ini udah malam, mereka semua pasti udah tidur," ucap Hanz santai sembari membaringkan dirinya teletang bebas di ranjang kecil Ara.
"Mas...," rengek Ara menatap suaminya sebal. Hanz pun bangkit kemudian balas menatap istrinya tak kalah sebal.
"Kamu kenapa sih? Mas kan cuma mau tidur di kamar istri mas sendiri, emangnya salah?"
Ara membola terkejut mendengar ucapan santai Hanz. Ia tak salah dengar kan? Hanz tadi mengatakan kalau ia ingin tidur di kamarnya?
"Mas, ngapain mas tidur disini? Mas kan punya kamar sendiri."
"Mas maunya sama kamu."
"Tapi ranjang aku kecil mas. Lagian kita lagi di rumah, itulah masalahnya. Kalau yang lain liat gimana?"
"Nggak akan ada yang liat, kan ini udah malam sekali, pasti mereka sudah pada tidur. Mas tidur sini ya ya ya," bujuk Hanz dengan wajah penuh permohonan membuat Ara menghembuskan nafasnya pasrah. Jika seperti ini bagaimana bisa ia menolak? Ia paling susah menolah Hanz jika sudah menunjukkan wajah seperti itu.
"Oke, tapi cuma malam ini aja. Besok pagi-pagi sekali mas harus kemmbali ke kamar mas sendiri sebelum yang lain bangun," ketus Ara mengiyakan. Hanz pun berosorak senang seperti anak kecil yang diberi permen lolipop.
"Tapi ingat loh mas, besok pagi harus cepat bangun dan cepat kembali ke kamar mas. Aku nggak mau kejadian seperti terakhir kali terjadi lagi, aku nggak mau kita ketahuan gara-gara itu. Kalau sampai nanti it..."
Belum selesai Ara menyesaikan ucapannya, Hanz sudah terlebih dahulu menariknya hingga akhirnya ia pun terjatuh di atas tubuh suaminya itu. Hanz membenamkan kepala Ara di dadanya kemudian memeluk pinggang Ara erat.
"Mas," pekik Ara kaget.
"Stt..., jangan berisik, nanti yang lain dengar terus mereka datang dan akhirnya kita ketahuan. Kamu mau itu terjadi?" ucap Hanz membuat Ara akhirnya terdiam menerima takdirnya.
"Sayang..."
"Hmm..."
"Kamu udah ngantuk blom?"
"Belum mas, tadinya aku masih mau ngerjain tugas buat dikumpul hari senin," jawab Ara seadanya.
"Kenapa harus di kerjain sekarang sih sayang? Kan besok hari minggu, waktu kamu masih panjang," ucap Hanz membuat Ara mengernyit bingung.
"Kan nggak masalah mas, mumpung aku ada waktu lebih cepat lebih baik," ucap Ara bijak namun Hanz malah menggeleng tak setuju.
"Masalahnya kamu nggak ada waktu sekarang untuk itu."
Ara semakin mengernyit bingung akan ucapan Hanz. Apa sih maksud suaminya itu?
__ADS_1
"Maksud mas?"
"Kalau mas udah disini berarti waktu kamu harusnya hanya milik mas, nggak ada kerjaan lain selain kerjasama sama mas."
"Kerjasama? Kerjasama buat apa?"
"kerjasama buat bikin dede bayi lah." ucap Hanz enteng namun berhasil membuat Ara terselek air liurnya sendiri.
"Mas apa-apaan sih? Aku kan nggak mungkin hamil, aku masih sekolah mas," ucap Ara kesal setelah ia berhasil melepaskan diri dari pelukan Hanz.
"Tapi orang tua kamu pengen cepet punya cucu sayang, mas yakin orang tua mas juga pengen, bahkan bukan cuma mereka, mas juga mau punya anak. Umur mas udah cocok punya anak Ara," ucap Hanz sembari bangkit untuk duduk mensejajarkan diri dengan Ara yang kini terdiam, tapi bukan terdiam setuju, melainkan terdiam karna tak habis pikir dengan pemikiran Hanz.
"Mas, ucapan ayah dan ibu hari itu nggak usah di bawa kehati secepat itu, mereka cuma bercanda mas, mereka juga nggak mungkin tega biarin aku hamil pas masih sekolah. Dan masalah orang tua mas, mereka kan nggak tau kalau kita udah nikah, nggak mungkinlah mereka nuntut cucu sebelum mas nikah. Yang ada mereka malah akan ngira anak kita anak luar nikah nanti, aku nggak mau mas," tolak Ara cepat membuat mas mengehala nafas.
"Jadi kalau masalah mas pengen punya anak gimana?"
Ara terdiam mendengar pertanyaan Hanz. Yah, ia tau bagaimana perasaan Hanz yang ingin segera memiliki anak. Apalagi usia Hanz yang sudah hampir 28 tahun, tapi bagaimana ia harus mengucapkannya? Ia juga terlalu muda untuk jadi seorang ibu, disamping itu juga ia masih sekolah.
"Mas, aku ngerti maksud mas. Aku paham perasaan mas, tapi untuk masalah itu, harus ada salah satunya yang mengalah antara kita, aku masih terlalu muda untuk jadi seorang ibu, aku juga masih sekolah dan masih banyak alasan lainnya yang buat aku nggak bisa hamil sekarang. Sementara untuk mas? Mas hanya harus menahan sedikit lagi dan menunggu sampai semuanya stabil, aku harus lulus dulu, kita harus publikasiin hubungan kita dulu, setelah itu aku janji kalau aku akan terima kemauan mas itu," ucap Ara sungguh-sungguh membuat Hanz pun akhirnya menghela nafas pasrah kemudian mengangguk.
Ya, Ara benar, ia harus bisa menahan sedikit lagi saja egonya. Istrinya masih terlalu muda, itulah resiko dari pernikahan mereka yang usianya jarak jauh, ia harus bisa menyesuaikan keadaan.
"Maafin mas ya Ara, mas tadi kebawa suasana hati. Mas janji kalau mas akan nungguin semuanya tepat," ucap Hanz yakin membuat Ara pun tersenyum mendengarnya.
"Makasih ya mas, mas selalu ngertiin aku," ucap Ara kemudian kembali kepelukan suaminya lagi.
"Kalau begitu kita main aja, main aman seperti biasa, gimana?" Ara mendongak menatap wajah Hanz ragu.
"Mas udah bawa pengamannya sayang, ini dia," ucap Hanz santai sembari mengeluarkan sebuah benda yang sudah sangat Ara hapal dari saku celananya, ******?
Astagaa, pria ini sudah pasti mempersiapkan ini sebelum kemari. Memang pada ujungnya yang jadi permintaan Hanz adalah hal yang sama.
"Mas, aku capek."
"Tapi pelan-pelan ya mas, jangan sampai yang lain dengar," ucap Ara wanti-wanti.
"Ia sayang, mas janji. Lagian kan biasanya kamu yang berisik," goda Hanz membuat Ara tersipu dan memukul-mukul dada Hanz kesal.
Hanz yang tak ingin mendapat pukulan bertubi-tubi lagi dari istrinya pun segera menarik tengkuk Ara kuat kemudian menyatukan bibir mereka dan terjadilah ciuman yang panas, dahsyat, dan menggetarkan hingga sampai ke sekujur tubuh. Memaksa jiwa merontah-rontah karna dorongan hasrat yang timbul dengan sangat mudahnya, tunduk di bawah kekuatan cinta yang membuat kedua manusia itu akhirnya menuju pelampiasan terakhir.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
S
E
N
S
O
R
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
^^^
"Gimana sayang? Kalian udah manggil tante Ara dan juga uncle nya?" tanya Alea pada kedua putra dan putrinya.
Saat ini mereka semua sedang berada di meja makan untuk menyantap sarapan pagi. Semua orang sudah lengkap, hanya tinggal kedua manusia itu, Hanz dan Ara yang masih belum hadir dan mereka tunggu-tunggu sejak tadi.
Jam sarapan mereka pun sudah terlambat 15 menit dari biasanya, namun keduanya sama sekali belum menampakkan batang hidungnya masing-masing. Karna kesal Alea pun menyuru si kembar untuk memanggil tante dan uncle nya itu, namun apa yang terjadi sekarang?
__ADS_1
Kenapa wajah putra dan putri kembarnya itu tampak lesu setelah turun dari atas? Semua orang di meja makan menatap si kembar penuh tanya.
"Sayang, kalian udah manggil tante dan uncle nya belum?" tanya Alea kembali.
"Nggak jadi bunda, Lena nggak belani."
"Hm-mm, Reno juga nggak berani," tambah Reno membenarkan ucapan kembarnya. Semua orang pun malah semakin tampak bingung plus bertanya-tanya akan maksud si kembar saat ini.
"Kenapa nggak berani sayang?" tanya Gery sambil menghusap kepala Rena dengan lembut.
"Itu ayah, telakhir kali Lena dan Leno ganggu uncle kayak gitu, Lena dan Leno di ancam sama uncle. Lena nggak mau lagi deh gangguin uncle kalau udah kayak gitu, nanti Lena di ancam lagi telus mainan Lena di ambil," ucap Rena dengan bibir mengerucut mengingat kejadian yang terakhir kali ia dan Reno alami di kamar Ara.
Semua orang pun tampak syok dan tak percaya akan apa yang Rena ucapkan. Memangnya melakukan apa sampai Hanz mengancam seperti itu?
"Memangnya kayak gitu yang Rena maksud itu apa sayang?" tanya Alea sembari menggerakkan jarinya tanda kutip pas mengucapkan kayak gitu.
"Ituloh bunda, kayak gitu yang bunda dan papah pelnah lakuin di kamal telus bilang kalau itu lahasia sama Lena dan Leno kalna kami nggak sengaja liat. Waktu itu bunda dan ayah sama-sama nggak pake baju. Nah, waktu itu kami juga liat tante Ala dan uncle juga sepelti itu bunda... Nggak pake baju, dan tadi juga kami liat meleka sepelti itu lagi bunda. Makanya kami nggak mau gangguin lagi, takut nanti uncle malah telus ancam kami lagi," ucap Rena ringan dan lancar.
Semua orang pun seketika syok dan kaget di tempat. Bahkan Alea dan Gery yang dipermalukan putrinya saja tak sempat untuk merasa malu lagi saking terkejutnya mendengar penuturan Rena. Anisa yang tadi sempat mencomot slai di depannya pun sampai terbatuk-batuk keselek slai itu sendiri. Sementara sang oma malah menjatuhkan gelas di tangannya yang tadinya ingin ia gunakan minum.
"Oh my god, aku nggak lagi salah dengar kan?" tanya Anisa lebih kepada dirinya sendiri, namun semua orang masih dapat mendengarnya dengan jelas tapi tak satupun yang berniat menjawab, mereka semua terdiam tegang di tempat.
Ini mengejutkan mengejutkan dan sangat mengejutkan. Ini hal luar biasa yang amat di luar nalar dan ekspektasi mereka.
Sementara si kembar, mereka berdua malah terlihat bingung dan heran dengan kelakuan oma,orang tua dan juga aunty nya.
"Kenapa sih pah?" tanya Rena menyuarakan keheranannya.
Gery yang tersadar akan pertanyaan putrinya tersebut pun kembali kepermukaan untuk menyadarkan dirinya sendiri. Tidak, mereka tak boleh terlalu lama kaget seperti ini, hal ini perlu di selesaikan dengan benar agar semuanya jelas.
"Sayang, kalian yakin pernah liat uncle dan aunty kayak gitu?" tanya Gery memastikan.
"Ia ayah..., udah lama. Ya kan Leno?" Reno pun mengangguk mengiyakan pertanyaan kembarannya. Semua orang pun menutup mulut antara syok dan tak percaya ini.
"Dimana? Kapan?"
"Di kamal tante Ala. Kalau nggak salah..." Rena menggerak-gerakkan telunjukkan di dagu seakan-akan sedang berpikir keras. Dan....
"Ah yaaa, Lena ingat. Waktu itu tante Ala pamit ke lumah pamannya dan akhilanya gak bisa temanin Lena dan Leno main. Tapi kalna kami lindu, paginya kami ke kamal tante Ala buat nyali tante Ala. Tapi telnyata disana ada uncle juga. Uncle dan tante Ala tidul pelukan dan nggak pake baju, telus uncle malah sama kami dan akhilanya ancam kami, katanya nggak boleh kasi tau siapapun atau nggak uncle akan bilang ke bunda kalau Lena udah bocolin lahasia bunda dan papah itu sama uncle," jelas Rena cepat tanpa rasa bersalah seakan-akan itu bukanlah masalah besar.
Semua orang pun semakin dihinggapi rasa syok yang luar biasa. Termelebih Alea yang kini mengingat hari itu, hari itu adalah hari yang sama ketika ia melihat Hanz disana dengan bertelanjang dada.
Pantas saja dari awal ia sudah curiga kalau ada yana tak beres, ternyata seperti itu kejadiannya?
"Bukan cuma itu, di rumah sakit pun kami pernah liat uncle dan tante Ara tidur pelukan seperti itu. Itu waktu bunda mau temuin papah keruangannya dan aunty pergi entah kemana," tambah Reno lagi begitu entengnya seakan-akan kedua bocah itu lupa kalau mereka berjanji untuk tak membocorkannya pada siapapun karna sudah di beri sogokan tutup mulut. Padahal...
"Ia, kalna itu Lena dan Leno dapat mainan dali uncle dan di bawa jalan-jalan ke mall, selu kan Leno?" sahut Rena sembari terkikik senang mengingat saat itu, Reno pun membalas kikikan Rena dengan tawa tak kalah senangnya. Kedua bocah itu tak tau bagaimana semua orang dewasa di hadapannya kini sudah memerah menahan amarah.
"Dari awal aku sudah curiga sama mereka berdua. Aku udah nggak yakin sama mereka, dan sekarang keyakinan itu ternyata benar. Ini nggak bisa di biarin, kita nggak bisa biarin mereka berdua gitu aja. Hanz dan Ara sudah keterlaluan, mereka berbuat zinah di rumah kita pah, ini memalukan dan sangat tak bermoral," ucap Alea berapi-api penuh amarah seperti ingin meledak. Kemudian ia pun bangkit dari kursinya dengan membawa emosinya.
"Kita harus hentikan ini, kita harus beri mereka pelajaran," tambahnya lagi kemudian segera beranjak dari kursinya dan menuju ke lantai atas. Hal itupun sontak membuat semua orang terkejut dan akhirnya mereka pun ikut untuk mengikuti Alea ke atas.
Hingga akhirnya mereka pun sampai di depan pintu kamar Ara. Dan tanpa pikir panjang, Alea segera membuka pintu itu kasar hingga akhirnya terbuka lebar. Dan...
Deg...
Mereka semua terperangah melihat pemandangan di depannya kini.
Hanz dan Ara tidur berpelukan dalam satu ranjang, satu bantal bahkan satu selimut dan siapapun dapat memastikan kalau kini kedua insan beda gender itu sedang tidak mengenakan sehelai benang pun di balik selimut mereka.
"Haaaaaaanzz....," teriak Reksa dengan suara menggelegar kuat seperti petir.
Lupa lagi nutup pintu, sekarang betul-betul hancur semua pertahanan.
__ADS_1
...