
Seperti biasa, jangan lupa voment...
"Selamat datang ke rumah lagi sayang," sambut Samira sembari memeluk Hanz yang baru pulang dari rumah sakit bersama Gery.
Yah, hari ini tepat seminggu sejak kejadian Hanz kecelakaan, ia pun sudah bisa pulang. semua orang menyambut kedatangannya di rumah. Kepala dan tangannya yang di perban sudah di buka, hanya tersisa kakinya yang di gips. Hanz juga tak memakai kursi roda lagi, tapi ia sudah bisa menggunakan tongkat.
"Hanz, oma senang kamu sudah sembuh," ucap sang oma sembari bergantian memeluk cucu kesayangannya dengan sayang. Hanz pun membalas pelukan sang oma dengan kecupan di wajah wanita tua kesayangannya tersebut.
"Hanz rindu banget sama oma, oma tuh paling jarang jengukin Hanz ke rumah sakit," ucap Hanz seperti merajuk, semua orang pun tertawa melihatnya. Jarang-jarang Hanz seperti ini.
"Kamu kan tau kalau oma sudah tua Hanz, oma gak kuat lagi kalau harus naik kendaraan terus, apalagi kalau ngadepin macet."
"Ia oma gak papa kok, aku cuma becanda."
"Uncle, Lena lindu deh sama uncle."
"Reno juga, Reno jadi kesepian, gak ada teman main robot-robotan."
Si kembar tak mau kalah, mereka juga mengangkapkan kerinduan. Karna memang pertama dan terakhir mereka bertemu di rumah sakit adalah hari itu.
Hanz menanggapi kedua bocah itu dengan senyuman mengembang di wajahnya. Kemudian ia pun sedikit menunduk untuk mencubit wajah keduanya bergantian dengan gemas.
"Uncle lebih rindu sama kalian berdua," ucap Hanz membuat si kembar pun tertawa kompak. Mereka sangat senang mendengar uncle nya mengatakan rindu.
"Uncle, uncle gak lupa kan hadiah kami? Lena mau balbie balu."
Shit, Rena bukan Rena kalau sampai lupa yang namanya hadiah. Gadis kecil menggemaskan ini nggak akan berhenti menuntut kalau belum juga mendapatkan apa yang ia mau.
"Kalau kaki uncle sudah sembuh, uncle janji deh pasti beliin kalian, kita beli semua yang kalian mau."
"Benalan uncle? Lena bisa pilih sendili?"
"Bisa dong."
"Horeee, berarti Reno dan Rena ikutan dong belinya uncle? Kita jalan-jalan ke mall kan uncle," tambah Reno antusias. Hanz pun mengangguk mantap menjawabnya. Seketika si kembar pun berteriak heboh dan gembira.
"Tumben kak Hanz mau ngajak si kembar jalan? Biasanya kan waktu kakak paling mahal," sindir Anisa membuat Hanz dan Ara terdiam. Dalam hati Ara ingin sekali topik ini berganti ia takut Rena keceplosan seperti terakhir kali.
"Mereka ada something tuh, katanya rahasia berempat," ujar Alea membuat yang lainnya memicing bingung.
__ADS_1
"Ehhem, sebaiknya kita semua duduk dulu. Ada yang perlu aku omongin," ucap Gery menginterupsi memecah suasana. Ara pun bernafas lega.
Akhirnya mereka semua pun duduk dan berkumpul dengan tenang. Mereka hanya tinggal menunggu Gery membuka map coklat yang ia bawa sedari tadi. Mereka yakin itu kondisi kesehatan Hanz. Wajah mereka semua pun berubah serius.
"Sebenarnya hasil ini udah keluar 3 hari yang lalu. Tapi aku tunggu pulang aja biar semua ngumpul dan bisa liat hasilnya," ucap Gery membuat semuanya mangguk-mangguk serius.
"Bagaimana hasilnya Ger?" tanya Reksa yang sudah penasaran.
"Hasil keseluruhan mengatakan kalau Hanz baik-baik aja. Kakinya juga bakal sembuh kurang lebih dalam 2 minggu, tadinya aku kira bakal sebulan. Ternyata memang Hanz sekuat itu. Jadi Hanz dinyatakan sudah sembuh total," terang Gery membuat semuanya bernafas lega dan mengucap syukur dalam hati masing-masing. Tapi tidak dengan Reksa, tentu ia masih ingat ada satu hal lagi.
"Total? Lalu bagaimana ingatannya? Ingatan Hanz kan hilang," ucapnya dan berhasil membuat semua orang kembali serius. Yah, mereka bahkan hampir lupa kalau Hanz lupa ingatan, kecuali Ara tentunya. Karna ingatan Hanz yang di lupakan itu sebagian besar tentangnya.
Sementara Hanz, ia sudah wanti-wanti dan berharap Gery tidak membocorkan kedoknya. Jika tidak, mampuslah ia. Tapi ternyata harapan hanya tinggal harapan, Gery tetaplah akan jadi dokter yang profesional.
"Masalahnya ada disana. Poin penting yang mau aku beritahukan itu masalah ini. Hanz secara keseluruhan baik-baik saja, termasuk kepalanya. Tak ada yang salah dalam test nya, jadi bisa di simpulkan kalau Hanz selama ini hanyalah berbohong, pura-pura lupa," ucap Gery tegas dan di akhir kalimat seperti dinyanyikan seperti lagu.
Hanz pun meringis kemudian menundukkan kepalanya. Saat ini mata seluruh keluarga menatapnya tajam seperti ingin membunuhnya.
"Apa-apaan kamu Hanz? Kamu bercanda soal ingatan? Kamu pikir itu lucu?" teriak Reksa membentak emosi. Reksa paling tidak suka hal serius seperti ini di bercandakan.
"Kamu seperti anak kecil tau nggak? Kamu udah buat semua orang khawatir sama kamu. Brengsek kamu," yah, jika sudah mengumpat seperti itu berarti kemarahan Reksa memang sudah di ubun-ubun. Dan semua orang hanya bisa terdiam menyaksikan dan tak berani mengatakan apapun untuk menyela.
"Kamu minta maaf segampang itu, kamu kira maaf kamu cukup membalas rasa khawatir semua orang?"
"Terus gimana dong pah? Apa Hanz harus benaran lupa ingatan biar cukup balas semua rasa khawatir kalian?" tantang Hanz tak mau kalah. Yah, selama ini hanya Hanz yang berani menantang Gery jika menurutnya ia tak salah. Tapi kali ini ia memang salah tapi ia tak mau mengalah, katakanlah ia seperti anak kecil.
"Melawan kamu ya, semakin dewasa kamu semakin keras kepala."
"Justru karna aku sudah dewasa makanya aku nggak mau di bentak kayak anak kecil gitu."
"Sudah sudah, kalian bertengkar kayak gini udah nggak pantas lagi. Kepala oma pusing dengarnya tau nggak," lerai sang oma yang tak mau ini berlanjut lagi. Jika sudah begini, ia yang lebih tua lah yang harus angkat bicara baru semuanya diam.
"Kamu juga Hanz, kamu itu keterlaluan sekali. Kamu udah buat semua khawatir sama kamu. Harusnya kamu itu lebih dewasa kalau kamu nggak mau di bentak kayak anak kecil. Lagian apa gunanya kamu lakuin itu?"
Hanz diam tertohok. Tak mungkin ia mengatakan kalau ia melakukan itu untuk mengerjai Ara, bisa-bisa semua orang curiga dan pernikahan mereka terbongkar.
"Aku cuma iseng oma, maafin aku ya. Aku nggak akan lakuin itu lagi. Aku janji," ucap Hanz kini yang sudah merasa bersalah membuat semua menghela nafas. Walaupun mereka kesal, setidaknya mereka senang karna Hanz ternyata baik-baik saja.
"Kamu sejak kapan sih suka iseng gini? Biasanya kan kamu serius terus," ucap Alea heran.
__ADS_1
"Ia, sekalinya iseng juga keterlaluan banget sih kak? Nakutin tau nggak?" sahut Anisa mengerucut sebal. Bagimana tidak? Ia sudah terlanjur kasihan melihat Ara yang seperti terpukul sekali akibat ulah kakaknya yang tak tanggung-tanggung membuat candaan.
"Uncle kelen kan Leno? Bisa bikin semua olang khawatil," ucap Rena sembari terkikik lucu. Reno pun menanggapinya dengan kikikan yang tak kalah lucu. Dan kini, semua mata menatap mereka tajam membuat keduanya terdiam menunduk.
"Itu nggak keren Rena, jangan di tiru ya, kalau sampai kalian tiru, mama marah besar," ancam Alea membuat keduanya bergetar takut. Kalau mamanya marah, itu sangat seram menurut mereka.
"Karna Hanz memang sudah sembuh, kita semua bisa lega. Gak usah marah lagi, lagian kalian harus senang Hanz sedikit berubah. Jarang-jarang Hanz bisa iseng kan?" goda Samira membuat yang lainnya mengangguk setuju.
"Kalau gitu Ara tolong bawa Hanz ke kamarnya yah. Dia harus istirahat sekarang," pinta sang oma membuat Ara mengangguk. Ia pun kemudian memapah tubuh suaminya dengan hati-hati menaiki tangga hingga ke kamarnya.
Ara membaringkan Hanz si ranjangnya kemudian menyelimutinya.
"Nggak usah pake selimut sayang, kan masih siang," ucap Hanz sok lembut. Ara pun menyibakkan selimut itu kembali kemudian bersiap pergi meninggalkan Hanz sendiri. Namun Hanz segera menarik tangannya dan membuat langkah Ara terhenti.
"Kamu marah sama mas?"
Ara terkekeh dalam hati, bisa-bisanya Hanz masih menanyakan itu. Bagaimana ia tak marah? Ia sudah hampir mati ketakutan, ia juga sangat khawatir dan sedih karna Hanz tak mengingatnya. Ia meluangkan waktu setiap hari hanya untuk menjenguk dan memastikan Hanz baik-baik saja. Bahkan terkadang ia sampai lupa pada tugas-tugasnya dan belajarnya pun kacau hanya karna Hanz.
Bagaimana ia tak marah? Bagaimana ia tak kesal? Yang lainnya memang bisa saja memaafkannya semudah itu, tapi Ara tak bisa karna ia tau apa tujuan Hanz melakukan itu. Ia tau kalau Hanz bermaksud membalas kejadian malam itu padanya, Ara tau ia juga salah tapi perbuatan Hanz sudah keterlaluan.
"Maafin mas ya dek, mas nyesal banget deh. Please jangan marah yah!" bujuk Hanz dengan wajah penuh permohonan. Tapi Ara tetap tak bergeming, ia masih marah dan akan tetap begitu.
"Kalau kamu mau marah nggak papa. Silahkan pukul mas, tendang mas, sakitin mas sesuka kamu, tapi kamu harus maafin mas ya. Mas nggak mau kamu diam kayak gini," ucap Hanz tak tau lagi harus mengatakan apa. Yah, ia benar-benar menyesal dan merasa bersalah. Ia bahkan tak peduli kalau keluarganya masih marah atau kesal dengannya, tapi Ara. Ia tak mau Ara marah seperti ini.
"Mas jahat banget tau nggak? Aku udah khawatir banget, tiap malam aku nangis karna mas nggak ingat sama aku. Aku bahkan gak konsen belajar karna mas, tapi mas malah ngerjain aku keterlaluan banget. Hiks... Hiks... Hiks...," akhirnya runtuh juga pertahanan Ara. Susah payah ia berusaha tak perduli tapi akhirnya ia menangis juga. Mengingat bagaimana seminggu ini ia melewati hari tak tenang sedikitpun, bahkan tidur pun tak nyenyak. Tapi ternyata semua yang ia khawatirkan hanya kebohongan Hanz saja.
"Maafin mas, maaf maaf maaf," ucap Hanz khawatir kemudian menarik Ara ke dalam pelukannya dan menciumi puncak kepala istrinya bertubi-tubi.
"Mas salah sama kamu, mas memang jahat. Maafin mas, mas gak tau lagi harus ngomong apa, tapi mas nggak suka kamu nangis kayak gini. Maafin mas ya..."
Ara hanya bisa mengangguk sambil terisak di dada suaminya. Sebenarnya ia tak bisa marah terlalu lama pada Hanz, ia hanya terlalu kecewa karna sudah di bohongi. Tapi tetap saja di lubuk hatinya paling dalam, ia bersyukur dan senang karna ternyata Hanz tak benar-benar melupakannya.
"Mas jangan gitu lagi ya. Mas jangan celaka lagi, aku nggak mau mas lupain aku. Aku takut," ucap Ara sedikit manja membuat Hanz kembali mengecupi kepala istrinya bertubi-tubi dengan sayang.
"Ia, mas nggak akan lakuin itu lagi. Mas juga nggak akan celaka lagi kalau kamu nggak suka itu, pokoknya mas nggak akan lakuin apapun yang nggak kamu suka, mas janji," ucap Hanz meyakinkan membuat tangis Ara perlahan mereda. Ia pun melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Aku senang mas udah sehat. Tapi aku masih kesal karna hari itu mas ngerjain aku habis-habisan. Mas nyuru aku mandiin mas sampe aku.... Aku...."
"Aku apa?" tanya Hanz dengan tatapan menggoda. Wajah Ara pun merona malu, mengingat hari itu membuatnya selalu di hantui rasa geli tapi juga ahhh, ia tak tau menjelaskannya.
__ADS_1
....