Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)

Pernikahan Paksa (Istri Rahasia)
2


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak pernikahan mereka. Dan sebulan berlalu bagi Hanz berada di desa itu, semua urusannya dan pembangunan yang ia tangani telah selesai, begitupun dengan urusan surat-surat nikahnya dengan Ara sudah selesai. Waktunya ia kembali lagi ke Jakarta. Tapi kali ini ia tak pulang sendiri lagi, ia membawa Ara bersamanya. Ia benar-benar tak menyangka pergi sendiri dan pulang berdua.


"Kau kenapa?" ia bertanya pada Ara yang kini duduk tampak sangat gugup dan cemas di sebelahnya. Saat ini mereka sedang ada di mobilnya dalam perjalanan pulang.


"Mas, a-aku takut mas. Katanya orang-orang di jakarta itu jahat," ucapnya polos membuat Hanz lagi-lagi menahan tawa melihat tingkah lucu dan polosnya gadis ini.


Selama tinggal dengan Ara seminggu ini banyak membuatnya ingin tertawa saja, mulai dari tingkah kolotnya ketika mau menggunakan perabotan vila, contohnya menyalakan gas yang ia tak mengerti caranya, hingga cara menggunakan shower semuanya harus ia terangkan secara perlahan. Sungguh ia ingin tertawa saja karna menurutnya itu sangat lucu.


Wajah menggemaskan Ara ketika dengan polosnya mengatakan tidak tau cara menggunakannya, belum lagi ketika bibir gadis itu mengerucut kesal ketika ia ledek membuatnya gemas dan sesekali merasa aneh dengan dirinya yang seakan ingin mencium bibir seksi yang begitu menggoda itu.


Yah, bagaimanapun ia adalah pria normal. Ia akui Ara memiliki bentuk bibir yang sangat seksi dengan warna pink alami. Bukan hanya itu saja, Ara memiliki bentuk tubuh dengan proporsi ideal dan di dukung dengan tonjolan-tonjolan pas yang pada tempatnya membuat Ara semakin seksi di matanya, meskipun gadis itu menggunakan pakaian-pakaian kampungan itu. Sayang sekali, usianya masih terlalu muda untuk menjadi istri Hanz.


"Tidak semua seperti itu, kau tidak perlu takut. Kan ada aku," ucapnya membuat Ara terdiam. Namun tetap saja gadis itu sesekali menggigit bibirnya cemas. Yah, kebiasaan yang sering kali ia perhatikan dilakukan Ara di beberapa kondisi tertentu.


Sebenarnya ingin sekali ia berteriak di wajah Ara agar ia tak melakukan itu. Agar gadis itu berhenti untuk menggigit bibirnya. Karna ketika ia melihat Ara melakukan itu maka ia seperti tergoda ingin menciumnya.


"Ara, sebentar lagi kita sampai jakarta. Kita mampir ke mall dulu untuk membelikan beberapa pakaian untuk mu yah."


"T-tapi mas untuk apa? Aku sudah membawa pakaian ku dari kampung."


"Pakaianmu semuanya sudah buruk. Aku mau membelikan mu yang baru."


"Tidak perlu mas, aku nggak enak. Aku biasa kok pakai baju-baju yang lama."


"Mengapa tidak enak? Aku suami mu sekarang, jadi kau harus menurut pada ku. Aku tidak suka melihat mu memakai pakaian yang kusam itu setiap hari."


Ada nada kesal di nada bicara Hanz mebuat Ara terdiam takut. Ia takut Hanz marah karna ia membantah. Meskipun sebenarnya ia sendiri merasa aneh dengan pria ini. Bukankah kemarin ia sendiri yang mengatakan untuk jangan menganggap pernikahan mereka sebenar-benarnya pernikahan? Pria itu sendiri yang mengatakan padanya kalau hubungan mereka hanya antara tuan dan pelayan. Mengapa sekarang pria itu bersikap aneh?


Sejam kemudian mereka sampai di jakarta, Hanz membawa Ara ke sebuah mall yang menurut Ara sangat besar. Ia terheran plus menatap ngeri gedung yang di depannya. Saat ia melihat gedung itu ke atas, ia terkejut karna gedung itu menjulang tinggi. Dan ketika ia melihat sekeliling, ia pun semakin terperanjat kaget karna gedung di sebelah-sebelahnya bahkan ada yang jauh lebih tinggi. Ara tak bisa menutupi ketakutannya berada di bawah antara gedung tinggi-tinggi. Ia takut bagaimana jika seandainya gedung itu roboh? Ia sangat takut karna mereka ada di bawah. Tanpa sadar tangannya pun sudah melingkar sempurna di lengan kiri Hanz yang kini menatapnya heran.


Namun sesaat kemudian pria itu mengulum senyum karna tau mengapa Ara melakukan itu. Tapi ia biarkan saja, ia hanya berharap semoga tak ada wartawan yang melihatnya. Atau tidak besok akan ada berita hangat yang sangat menjengkelkan tentangnya di media.


Hanz pun membawa Ara masuk ke dalam. Ketika tiba di tangga eskalator, ia menoleh kepada Ara yang kini semakin mengeratkan pelukan di tangannya. Ia kira pasti gadis itu sangat ketakutan melihat tangga berjalan. Tapi ia rasa, ia perlu membawa Ara menaiki tangga itu. Ia ingin mengajarkan Ara banyak hal, agar gadis itu perlahan membiaskan diri akan hidup di kota.


"Ara, kita naik tangga itu yah," ucap Hanz sembari menunjuk eskalator di depannya. Tapi Ara dengan cepat menggeleng takut.


"A-aku takut mas, tangganya seram seperti terbang."


"Tidak, kita akan tetap menaiki itu. Kau harus membiasakan diri hidup di kota, jadi kau harus terbiasa menggunakan fasilitas seperti ini karna nanti kau juga akan sering menemukan seperti ini dimana pun."


Ara tetap saja tak bergeming, jujur ia sangat ketakutan. Kakinya gemetar dan wajahnya sudah memucat. Tapi Hanz tampaknya tak perduli dan terus memaksanya menaiki tangga itu.


"Kau tak perlu takut, itu tak terlalu berbahaya jika kita melakukannya dengan benar. Kau hanya perlu mengikuti langkah ku. Apa kau paham?"

__ADS_1


Ara pun hanya bisa mengangguk pasrah saja. Ia tak bisa menolak Hanz karna takut membuat pria itu marah. Ia menatap sekeliling, ia sangat malu karna ternyata banyak yang menatap mereka dengan heran. Ia rasa mungkin orang-orang menertawakannya atau tidak orang-orang itu heran melihat pria setampan Hanz berjalan dengan gadis kampungan sepertinya. Sangat tampak dari wajah para wanita yang menatap Hanz dengan tatapan penuh pemujaan. Entah mengapa ia jadi ciut berada di dekat suaminya sendiri. Mungkin inilah juga alasan mengapa Hanz ingin membawanya kesana untuk membeli pakaian. Karna Hanz malu dengan penampilannya.


Perlahan Hanz melangkahkan kakinya mendekati eskalator, dan Ara pun mengikutinya melakukan hal yang sama.


"Ara, dalam hitungan ketiga aku akan melangkah ke salah satu tangga paling bawah ini. Jadi kau juga harus mengikuti ku. Kau jangan takut, relaks dan pegang tangan ku kuat. Apa kau paham?"


"Iya mas."


"Baiklah, satu, dua, tiga... " Hanz melangkahkan kakinya tepat di hitungan ketiga. Dan dengan cepat pula Ara mengikuti langkahnya hingga kini mereka berada di atas tangga eskalator yang sedang berjalan.


Ara sangat takjub, awalnya ia memang sangat takut. Tapi ketika tangganya berjalan, semua tak semenakutkan yang ia kira. Ia menikmati menggunakan eskalator ini. Apalagi ketika bersama dengan Hanz, entah mengapa jantungnya berdegub sangat kencang ketika pria itu tersenyum dan dengan gemas mengacak-acak rambutnya dan mengatakan kalau ia hebat. Wajahnya merona malu ketika Hanz memujinya.


"Baiklah ara, sebentar lagi kita akan sampai. Kau perhatikan langkah ku dan dengan cepat ikuti seperti tadi. Oke?"


"Iya mas."


___


Mobil Hanz memasuki gerbang rumahnya. Gerbang itu sangat besar menurut Ara, ia juga menatap takjub rumah yang di maksud Hanz. Menurutnya itu bukan rumah lagi, tapi seperti kastil kerajaan. Ia tak pernah menyangka dalam hidupnya akan memasuki rumah sebesar ini dan sebentar lagi ia akan tinggal disana. Ia menebak-nebak dalam hati, seperti apakah keluarga Hanz, apakah seperti yang dikatakan bahwa orang kaya itu rata-rata sombong dan suka menghina orang miskin sepertinya? Memikirkan itu membuatnya jadi gugup. Ia berharap semoga keluarga Hanz memiliki sikap yang tidak jauh beda dengan Hanz yang awalnya memang tampak sangat dingin dan terkesan sombong, namun lama kelamaan mengenalnya pria itu ternyata sangat baik.


"Ayo masuk," ajak Hanz, ia pun melangkahkan kakinya mengekor di belakang pria itu memasuki rumah mewah tersebut.


"Siang semua...." sapa Hanz pada keluarganya yang memang sedang berkumpul menyambut kedatangan Hanz yang sudah dikabarkan akan pulang hari itu.


"Uncle..." teriak dua orang bocah kembar berumur sekitaran 5 tahun berlarian kepada Hanz dan memeluk kaki pria itu satu-satu.


"Uncle, Lena lindu sama uncel. Lena tiap malam mimpiin uncle, tiap hali nanya bunda kapan uncle pulang tapi bundanya malah-malah sama Lena kalna katanya Lena nanya itu telus," bocah bernama asli Rena itu berbicara dengan lucu dan cadelnya mengungkapkan kerinduannya pada Hanz membuat pria itu tertawa sambil menciumi wajah Rena gemas.


"Hanz, jangan ciumi anak ku terus. Ciuman pertamanya hilang karna mu, menjijikkan. Makanya cari istri biar bisa bebas cium-cium," suara protes itu dari bibir cablak kakaknya yang bernama Alea. Alea adalah ibu dari si kembar Rena dan Reno.


"Lena suka kok bunda di cium sama uncle. Lena mau di cium uncle telusss," ucap Rena sembari mengerucutkan bibir mungilnya lucu. Seisi ruangan pun tertawa dibuatnya.


Namun seketika semua suara tawa pun terhenti ketika Anisa adik bungsu Hanz tak sengaja menangkap siluet orang lain di balik punggung kakaknya dan berkata...


"Kak, yang di belakang kakak siapa?"


Ara dan Hanz pun terkesiap dan salah tingkah. Pria itupun menurunkan kedua bocah itu dari gendongannya kemudian menyuruh mereka duduk di sofa.


Lalu sedetik kemudian ia manarik tangan Ara untuk berdiri di sampingnya dan memperkenalkan gadis itu.


"Dia... Ara, pengasuh baru Rena dan Reno," ucapnya membuat semua orang melongo tak percaya. Sejak kapan Hanz mulai ikut campur mengurus pengasuh baru si kembar?


"Dia dari kampung, dia anak dari bu Wahida yang mengurus vila. Kebetulan dia sedang mencari pekerjaan, terus aku ingat kalau kak Alea kan lagi nyari pengasuh buat si kembar. Jadi aku kepikiran buat bawa dia aja kesini. Tenang saja, dia bisa dipercaya kok. Orangnya baik, dan dia penyayang, " ucapnya menjelaskan sebelum keluarganya semakin salah paham dan beranggapan yang tidak-tidak.

__ADS_1


Sementara Ara yang mendengar suaminya memujinya seperti itu membuat wajahnya merona malu. Entah mengapa ia begitu padahal ia tau kalau Hanz melakukan itu untuk meyakinkan keluarganya.


"Oh begitu, baiklah Hanz. Kakak percaya sama pilihan mu. Makasih yah sudah membawa pengasuh baru si kembar. Kamu jadi repot begini," ucap Alea membuat Hanz menggeleng dengan cepat.


"Nggak kok kak, sama sekali gak merepotkan. Kan sekalian juga. Oh yah, kenalkan namanya Ara. Ara, ini keluarga ku. Yang disana oma ku, terus yang disana mama sama papah ku, terus itu kak Alea dan suaminya mas Gery. Yang disana itu Anisa, seumuran sama kamu. Dia masih sekolah SMA. kalau yang kedua bocah itu kembar, namanya Rena dan Reno. Kamu nanti bakal ngasuh mereka berdua. Kamu paham?" jelas Hanz membuat Ara mangguk-mangguk mengerti.


Berbanding terbalik dengan anggota keluarga yang lain yang menatap Hanz tak percaya. Menurut mereka Hanz ini agak sedikit berubah sejak kembali dari kampung. Ia menjadi lebih hangat dan wajahnya banyak tersenyum cerah, tak seperti biasanya yang mereka ketahui Hanz lebih banyak diam dan datar. Bahkan mereka lebih dikejutkan lagi akan cara Hanz menjelaskan mereka pada Ara. Mereka rasa ada sedikit nada aneh dari caranya bicara, terkesan terlalu lembut untuk ukuran seorang pengasuh seperti Ara.


"Halo semuanya, saya Ara. Pengasuh baru si kembar," ucap Ara kembali dengan sopan memperkenalkan dirinya meskipun tadi Hanz sudah memperkenalkannya.


"Tante Ala cantik sekali. Ia kan Leno?"


"Ia, cantik sekali. Reno suka sama tante Ara."


Si kembar berceloteh sambil tertawa bahagia mendapatkan pengasuh baru yang cantik. Biasanya pengasuh mereka itu wanita yang sudah berumur. Jikapun ada yang muda, tak ada yang secantik Ara.


"Tante Ala cocok sama uncle," celoteh Rena membuat semua membelalak menatapnya terkejut. Anak kecil ini sok tau. Sementara Hanz dan Ara malah salah tingkah, yang sedari tadi di tatap curiga oleh Anisa.


"Nggak mau, tante Ara nggak cocok sama uncle. Tante Ara cocoknya sama Reno, nanti kalau udah besar, Reno mau nikahin tante Ara," ucap Reno mengungkapkan kecemburuannya dengan aksen dan logat khasnya yang masih kanak-kanak.


Suara gelak tawa pun kembali nyaring di ruangan itu.


"Sepertinya Rena mau comblangin Ara ini sama kamu Hanz," ucap Gery membuat Hanz menatap kakak iparnya itu sok kesal. Padahal jantungnya sudah berdegub kencang.


"Mas Gery jangan mulai deh," ucapnya sok sebal.


"Ara cantik kok Hanz. Glowing alami lagi," kini Alea yang bicara dengan santainya. Hanz heran, mengapa suami-istri itu sangat suka meledeknya. Sifat mereka sama, entah mengapa bisa berjodoh.


"Baiklah Ara, sepertinya anak dan cucu-cucuku menyukai mu pada pandangan pertama. Mulai hari ini kau diterima bekerja disini," ucap Samira sang nyonya besar, ibu dari suaminya. Orang yang seharusnya ia panggil mertua.


"Ia, selamat datang di rumah ini Ara." tambah sang oma sambil tersenyum ramah.


"Terimakasih semua." ucap Ara sambil tersenyum dan menunduk sopan. Kini ia tau, bahwa ia salah menilai. Keluarga Hanz tak seburuk yang ia kira. Mereka semua sama dengan Hanz, baik dan ramah. Ia yang di akui sebagai pengasuh pun merasa di hargai. Tapi tetap saja itu tak cukup membuat ia siap untuk mengakui statusnya yang sebenarnya meskipun Hanz bersedia mengungkapkannya hari ini. Ia lebih merasa nyaman di akui sebagai pengasuh.


"Anisa, antar Ara ke kamarnya." titah Reksa sang tuan besar.


"Tidak perlu, biar aku saja. Kebetulan aku juga mau istirahat, aku lelah sekali. Byee semua," ucap Hanz cepat sebelum Anisa sempat beranjak dari kursinya. Ia pun menarik tangan Ara cepat ke lantai atas tanpa memperdulikan tatapan heran keluarganya yang kini menatap mereka penuh tanya.


"Ma, sejak kapan kamar pengasuh ada di lantai atas?" tanya Anisa yang bukan satu-satunya orang terheran disana.


"Sejak Ara yang jadi pengasuh," ucap Samira yang masih bengong tak percaya dengan penglihatannya.


"Apa cuma aku yah yang merasa ada yang aneh sama mereka?" tanya Gery pelan lebih kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


....


 


__ADS_2