Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
106. Mengejar mata mata


__ADS_3

Malam hari di kediaman


Aaron datang menemui kakek di ruang kerja.


"Duduklah."


"Ada beberapa hal yang harus kakek sampaikan padamu."


"Bukalah kotak itu."


Aaron mengambil kotak atas perintah kakek.


"Ini..."


Aaron terkejut setelah membuka kotak itu.


"Benar."


"Sudah saatnya semua ku serahkan padamu."


"Tapi Kakek,Aaron tidak pantas menerimanya."


Kakek menggeleng pelan.


"Aku tidak ingin mendengar penolakan."


"Hanya kamu yang mampu memimpin mereka."


"Hanya kamu yang dapat mengendalikan mereka."


"Kakekmu,ayahmu,dan ibumu,berusaha mati matian mempertahankannya."


"Sudah waktunya ku kembalikan ini kepada keluarga Markle."


"Bukankah giok harimau putih sudah ada padamu."


"Dua benda itu sudah di tanganmu."


"Tak akan ada yang berani menentang keputusanku."


"Tapi kamu harus ingat jangan percayai mereka sepenuhnya."


"Jika mereka ingin pembuktian,TEKAN MEREKA!"


"Kamu tau apa yang harus kamu lakukan kan?"


Aaron menatap tajam kakek dengan perasaan rumit.


"Baiklah. Aaron menerima keputusan kakek."


Kakek mendekati Aaron lalu menyentuh bahunya dan berbicara pelan di samping telinga Aaron.


"Jaga Sora dan anakmu."


Setelah itu kakek menyodorkan amplop coklat.


"Baca saat kau sendirian." Pinta kakek.


Mulut Aaron tertutup dan mengangguk pelan.


Kakek berjalan pelan ke arah pintu setelah mengatakan semua apa yang harus dia beritahukan pada Aaron.


Ada perasaan campur aduk saat Aaron melihat amplop yang di tangannya, bahkan genggaman kuat pada pinggir amplop menyebabkan kerutan. Ekspresi kemarahan Aaron tak dapat di sembunyikan.


****


Seorang wanita masih terduduk di depan layar monitor dan terlihat jarinya menari nari di atas keyboard dengan lincahnya menekan tombol.

__ADS_1


Suara langkah kaki yang mendekat membuatnya mempercepat salinan yang sudah di copy ke dalam usb.


"Kau tidak pulang Bella?" Suara Zain memecah keheningan.


Bella Garcia dengan tenang dan tersenyum menjawab pertanyaan Zain.


"Setelah menyelesaikan laporan ini saya akan pulang pak"


Terlihat tergesa gesa Bella mencabut Usb yang tertancap di CPU dan pamit pada Zain untuk pulang.


"Tunggu!"


Bella pun berhenti dan hanya diam mematung tanpa memutar tubuhnya.


"Berikan usb itu padaku,biar ku cek sekarang laporan yang kau buat" pinta Zain karena merasa curiga dengan tindak tanduk Bella.


Bella memutar tubuhnya dan sekarang menghadap Zain.


"Hehehe maaf pak,laporan yang saya buat belum selesai"


"Saya akan menyelesaikan di rumah,besok pagi akan saya serahkan pada bapak"


"Tak apa apa biar ku bantu menyelesaikannya"


Zain mengangkat telapak tangannya,meminta usb yang ada pada Bella.


Bella mengepalkan telapak tangannya lebih erat,seakan akan tidak rela menyerahkan usb itu kepada Zain.


Dengan pelan Bella meletakkan usb itu di telapak tangan Zain,sedetik kemudian Bella merampasnya,terjadi adu pada tangan mereka yang satu ingin merampas dan yang satu ingin mempertahankan.


Terjadi perkelahian yang imbang di antara mereka.


"Siapa bos mu?" Tanya Zain dengan geram.


"Kau sangat terlatih,kau bekerja pada siapa?"


Leon mengambil kesempatan itu dan mengambil usb tersebut lalu dengan perlahan mendekat pada Zain.


"Apa dia orang keluarga Alves?" Tanya Zain pada Leon.


"Tidak,aku tak pernah melihatnya."


"Kau lihat tato itu kak."


"Aku melihatnya" jawab Zain dan matanya teralihkan pada tato yang terlihat di leher belakang Bella.


"Hati hati dia sangat terlatih."


Leon mengangguk dengan jawabannya,Leon dan Zain saling menatap dan memberi isyarat untuk menyerang.


Penyerangan tiba tiba terhadap Bella tak membuat dia kalah hingga pertarungan sengit terjadi. Dan akhirnya pertarungan dua lawan satu membuat Bella sedikit tumbang,melihat lawannya yang hampir tak berkutik lalu Zain dan Leon bertubi tubi menyerang tanpa jeda.


Bella benar benar kewalahan,bersamaan dengan itu anak buah Leon datang dan ikut menyerang Bella.


Bela mundur pelan pelan dan meraih kursi yang ada di sampingnya lalu melemparnya pada Leon dan melarikan diri ke arah jendela yang terbuka.


Leon dan Zain berlari mencegah agar Bella tak kabur,namun terlambat karna Bella sudah mempersiapkan parasut di luar jendela.


"S*al dia kabur" pekik Leon.


"Kakak apa yang akan kau lakukan?"


Tangan Leon menahan lengan Zain yang naik ke jendela.


"Aku harus menangkapnya"


"Tak perlu kakak,kita sudah mendapatkan usb itu."

__ADS_1


Namun Zain tetap bersikukuh mengejar Bela,dia melompat setiap sisi yang dapat di pijak agar dapat mengejar Bella.


Leon beserta anak buahnya hanya bisa melihat Bella terbang menjauhi gedung dan melihat kakaknya mengejar Bella dari gedung ke gedung.


"Kita keluar,kejar dia" Perintah Leon.


....


Bella mendarat dengan sempurna di bawah setelah melalui dua gedung.


Zain yang masih di belakang terlihat bergelantungan di atap berusaha untuk mencari pijakan untuk mendarat.


Setelah Zain berpijak di tanah dia berusaha sekuat tenaga berlari mengejar Bella yang sudah masuk ke dalam mobil.


Bella melesat dengan cepat membuat Zain yang berlari kehabisan nafas.


"S*al." Umpat Zain sambil melepaskan dasinya yang menjadi terasa ketat setelah berlari.


"Ciiit."


Derit rem mobil terdengar keras saat berhenti di depan Zain.


"Kakak cepatlah masuk!" Teriak Leon dan membukakan pintu untuk Zain.


Zainpun segera masuk ke dalam mobil,matanya fokus ke depan mencari mobil Bella.


Setelah menemukan mobil Bella,kejar kejaran tak terelakkan. Leon mengeluarkan pistol di sakunya dan mengarahkan pada Bella yang sudah sejajar dengan mobilnya.


"Jangan di sini!" Terlalu banyak warga berkeliaran." Perintah Zain.


Bella hanya tersenyum sinis,tidak ada rasa takut sedikitpun yang terlihat di wajahnya,dia berusaha mati matian kabur dari kejaran Leon dan Zain. Dan akhirnya kesempatan itu tiba saat Bella melewati palang rel kereta api yang sedang lewat. Mata Bella beradu antara laju mobilnya dan laju kereta api yang lewat,Bella menekan gas pada mobil lebih dalam agar bisa melewati kereta tanpa tertabrak.


"Tuut...tuuut"


Suara kereta yang memberi peringatan terdengar sangat keras.


"Whuss." Akhirnya senyum kemenangan di bibir Bella terlihat,dia mampu melewati kereta api itu tanpa tertabrak.


Di sisi lain Leon dan Zain yang tertahan kereta api itu terlihat geram.


"****." Umpat Leon dengan memukul stir mobil.


****


"Harusnya kita bisa menangkap dan memenjarakannya!" Ucap Leon.


"Tidak,wanita itu lebih dari yang kita pikirkan." Potong Zain.


"Apa yang kau tau Zander?" Tanya Jack.


" wanita itu sangat terlatih,saat aku bertarung dengannya tak ada rasa takut di matanya,aku yakin jika seseorang sudah mempersiapkan dirinya untuk masuk ke sini" Ungkap Zain.


"Apa dia orang keluarga Alves? Tanya Jack.


"Tidak,wanita itu bukan orang keluarga Alves."


"Dia terlalu bersih,dan aku hampir mengenal semua orang orang keluarga Alves." Terang Leon.


"Seseorang yang menempatkan mata mata itu bukan keluarga Alves ataupun keluarga Norflox."


"Jack,wanita itu punya tato yang sama dengan orang orang yang pernah menculik nyonya Sora." Jelas Zain.


"Apa kau yakin?" Tanya Jack.


"Ya aku yakin."


Zain menjawab dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


__ADS_2