Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 152 - Janji Kita


__ADS_3

"Takut?"


Satu hal yang baru Sean ketahui, istrinya takut ketinggian dan nekat naik wahana semacam ini. Apa tujuan Zalina sebenarnya? Jika memang dia suka, kenapa ketika di atas tangannya mendadak dingin begini. Padahal, beberapa saat lalu dia tampak berbinar dan tidak sabar ingin merasakan sensasinya.


Kini, melihat sang istri yang tampak gugup begini dia semakin yakin jika tujuannya bukan semata-mata karena ngidam, melainkan perihal hati. Tidak perlu dijelaskan, Sean paham jalan pikiran Zalina. Bukan karena dia percaya diri atau bagaimana, tapi untuk saat ini besar kemungkinan memang dugaan Sean tidak meleset.


"Buka matamu ... kalau ditutup apa yang bisa kamu ingat, Na," tutur Sean begitu lembut, dia yakin betul kenapa Zalina memilih bianglala, bukan kora-kora.


Ya, menghapuskan kenangan bersama Leona. Padahal, tanpa perlu Zalina lakukan semua itu sudah hilang tanpa bekas. Luka yang dahulu Leona torehkan bahkan tidak lagi terasa sakit karena memang sudah tak berarti lagi.


Memang benar semua ini adalah akibat dari mulut bocor Zean si malapetaka. Kendati demikian, Sean tidak sama sekali marah dengan cara cemburunya Zalina. Wajar, terlebih lagi dia mendengar sendiri rentetan peristiwa yang Sean lalui di masa lalu, jelas saja wanita itu merasa iri.


"Tinggi, Mas."


"Tidak ada yang lebih tinggi, selain keinginanku untuk bersamamu, Zalina."


Di sedang gombal? Iya, anggap saja begitu. Zalina berusaha mengatur napasnya, dia tidak tahu jika di atas akan semengerikan ini. Padahal, ketika membayangkan dia tidak begini, wanita itu bahkan membuat tangan sang suami sedikit perih akibat dia genggam terlalu erat.


"Mas jangan gombal dulu ... aku takut beneran."


"Tidak ada yang gombal di sini, mas serius, Na."


Tidak peduli walau wajah sang istri sudah merah lantaran takut saat ini. Salah sendiri, toh Sean tidak memaksanya. Bahkan sudah sempat dilarang, dan anehnya Zalina justru mengatakan hanya menginginkan ini.


"Tenangkan dirimu, semua akan baik-baik saja, Zalina."

__ADS_1


Butuh waktu untuk Zalina bisa tenang dan melepaskan genggaman tangannya. Sean berusaha membuat Zalina nyaman dan tidak terus menerus khawatir bianglala ini akan ambruk seperti dugaannya.


Hingga, Sean mengulas senyum hangatnya kala Zalina bisa menikmati keindahan berada di atas sini. Tatapan teduh Sean tengah mencari celah kebohongan di manik indahnya, sejak tadi Zalina sama sekali tidak menunjukkan jika suasana hatinya kacau.


Padahal, ucapan Zean jelas saja membuat hatinya tergores. Entah ditahan, atau memang tidak Zalina rasakan, tapi yang jelas Sean percaya akan keyakinannya. Merasa terus Sean pandangi, wanita itu medadak malu seketika.


"Zalina, apa ada yang ingin kamu sampaikan di sini?" tanya Sean kembali meraih jemarinya, wajah sang suami tampak serius sekali kali ini.


"Ti-tidak ada, Mas."


"Yakin?"


Zalina mengangguk pelan, dia paham sebenarnya hal semacam ini terlalu kekanak-kanakan. Namun, entah kenapa ucapan Zean terngiang dan membuat hatinya justru cemburu.


Ya, Zalina cemburu dengan masa lalu yang bahkan tidak dapat Sean temui lagi. Sadar sekali jika memang tidak seharusnya, tapi Zalina tidak dapat membohongi hati kecilnya, itu saja.


"Mas tidak pernah menggunakanmu untuk menghapus seseorang sebelum ini, kamu bukan alat. Mas mencintaimu bukan karena luka di masa lalu, kamu ya kamu, tidak ada hubungannya dengan masa lalu."


Zalina hanya cemburu, bukan berarti meminta Sean menghapus Leona sepenuhnya. Karena bagi Zalina, kehadiran sosok Sean saat ini mungkin saja buah doa yang selalu Loena panjatkan jauh sebelum Zalina menyebut Sean dalam setiap doanya.


"Aku tidak memintamu menghapusnya, Mas ... hanya saja aku ingin memliki kenangan yang bisa mas ingat juga, itu saja," tutur Zalina tersenyum getir, terdengar lucu tapi memang begitulah faktanya.


Sean bergeming sesaat, sementara Zalina mulai panik kala merasakan bianglala itu berhenti berputar dan mereka terjebak di tempat yang paling tinggi. Bukan main takutnya Zalina, wanita itu hampir menangis dan Sean masih betah memandanginya.


"Mas ... kamu kenapa bisa sesantai itu?" tanya Zalina dengan dada yang naik turun lantaran tak habis pikir dengan tingkah sang suami.

__ADS_1


Dia hanya tersenyum tipis usai meminta Zalina untuk tetap tenang. Hingga Sean merogoh sesuatu dari saku jaketnya. Zalina menginginkan kenangan yang sama, itu intinya.


"Mas sedang apa?" Zalina masih panik, kini melihat Sean yang membuka kotak kecil di hadapannya, jelas saja dia bingung.


"Sedikit menggelikan, tapi mana mungkin dia lupa hal semacam ini."


"Zalina ... bersediakah sakinah bersama mas sampai nanti ke surganya Allah?"


Meski seelumnya membatin, Sean tetap mampu meloloskan kalimat itu. Sedikit saran dari Zean karena memang pria itu yang bertanggung jawab atas kacaunya Zalina bagi Sean.


Zalina adalah wanita pertama yang Sean perlakukan seperti ini. Niat awal hanya ingin membuat sang suami juga memiliki kenangan tentangnya di tempat yang sama, tapi yang terjadi justru sebaliknya.


"Mas ...." Air matanya tumpah meski susah payah dia tahan, Zalina bahkan lupa dengan ketakutan yang tadi mencekamnya.


"Hm? Jawab, mas butuh jawabanmu sekarang."


Hanya anggukan yang Zalina jadikan sebagai jawaban, bibirnya mendadak beku bahkan jemari wanita itu bergetar kala Sean menyematkan cincin di jemarinya. Bukan cincin yang pertama, tapi bisa dipastikan malam ini tidak akan dia lupakan sebagaimana akad nikah dahulu.


"Terima kasih kesediaannya, Istriku, jangan lupakan hari ini sekalipun mas nanti pergi lebih dulu, hm?" Sean mengecup punggung tangan sang istri berkali-kali.


"Dan seandainya aku yang pergi dulu, Mas juga akan begitu, 'kan?" tanya Zalina bersamaan dengan bianglala yang kembali berputar sebagaimana mestinya, Sean tidak memperkirakan Zalina akan menjawab sebelumnya.


"Andai hal itu terjadi, bisa dipastikan hidupku tidak akan lama setelah kepergianmu, Na."


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2