Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 121 - Jalan Tengah


__ADS_3

"Pergilah, Ayunda ... bukankah aku selalu mengecewakanmu? Silahkan kemasi barang-barangmu dan angkat kaki dari sini."


"Mas, coba pikirkan lagi," tutur Ayunda hendak meraih tangan Abrizam, tapi secepat itu Abrizam menggeleng cepat.


"Jangan menyentuhku, sudah kubilang pergilah, Ayunda!!" tolak Abrizam tak terbantahkan, bisa dipastikan ini adalah hari pertama dan terakhir dia bersikap kasar.


Langkah Abrizam sudah sangat tepat, di hadapan keluarga besarnya pria itu menjatuhkan talak. Tidak peduli sekalipun putranya masih kecil, toh Ayunda sendiri yang mengatakan jika tugasnya sudah selesai. Hanya sebatas mengandung dan melahirkan, parahnya lagi untuk hal itu Abrizam harus berterima kasih dan membebaskan Ayunda setelah melahirkan.


Tepat jum'at pagi, di penghujung bulan sya'ban Abrizam terpaksa melakukan hal yang tidak Tuhan sukai sekalipun dihalalkan, talak. Dia tidak menemukan masa depannya lagi bersama Ayunda, terlebih ketika Ayunda melakukan hal tidak pantas pada adik iparnya.


Sejak lama dia menampik fakta bahwa istrinya bukan wanita baik-baik. Bukan sekali dua kali Abrizam menerima laporan baik dari santri ataupun uminya sendiri tentang Ayunda. Namun, dengan mengatasnamakan cinta Abrizam tutup mata dan yakin jika wnaita itu masih bisa berubah.


Perkara harta dia sudah berusaha, tapi mengetahui Ayunda nekat meminjam uang dari seorang renternir dengan bunga mencekik hanya demi memenuhi gengsi ibunya, Abrizam benar-benar merasa terhina.


"Umi ... tolong bantu bicara pada mas Abrizam, sebelum Zalina menikah kami baik-baik saja. Bukankah umi tahu sendiri soal itu?"


Bahkan di saat terdesak semacam ini Ayunda masih tetap menyalahkan Sean atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Miris memang, sejahat itu hati wanita yang merasa tidak mampu meraihnya.


"Umi tidak bisa, Ayunda."


Ayunda berharap dengan tangis dan air matanya dapat meluluhkan hati mereka. Jika saja tidak menyeret Sean, mungkin Zalina akan tersentuh sebenarnya. Namun, untuk kali ini hati Zalina benar-benar keras.


Suasana tengah setegang ini, tapi Sean tersenyum tipis melihat akhir dari drama rumah tangga kakak iparnya. Jika boleh Sean bicara, ingin sekali dia mengutarakan bahwa kejadian itu adalah karma Abrizam yang menginginkan rumah tangannya kacau balau.


Tangisan Ayunda kali ini tidak bercanda, tapi keputusan memang ada di tangan Abrizam. Bahtera mereka berakhir di sana, bahkan kiyai Husain tidak lagi mampu turun tangan. Selain itu, kesalahan Ayunda yang kali ini memang tidak lagi mampu diterima oleh keluarga mereka.

__ADS_1


"Sean, biar abi yang di sini dan kalian berdua pulanglah."


Sayang sekali Sean tidak menyaksikan kepergian wanita gila itu. Padahal, dia masih ingin di sini. Kendati demikian, dia menurut dan menarik pergelangan tangan sang istri.


Sean sudah menyiapkan mental untuk menghadapi omelan sang istri. Meski bukan kehendaknya, bukan tidak mungkin Zalina tetap akan marah akibat Sean yang nekat masuk padahal sudah tahu jika Ayunda bukan wanita baik-baik.


"Duduk."


Benar saja dugaan Sean, baru saja tiba di kamar Zalina memintanya duduk di tepian tempat tidur. Sean mendongak, menatap lekat gurat kekesalan di wajah Zalina. Menggemaskan sejujurnya, tapi untuk tertawa mungkin wajah Sean akan menjadi sasaran telapak tangannya.


"Kenapa bisa pulangnya duluan? Biasanya juga mas pulang bareng abi?" selidik Zalina dengan dahi berkerut dan jelas saja kali ini benar-benar penuh kecurigaan.


Gayanya yang kini bersedekap dada sama sekali tidak membuat Zalina terlihat seram, melainkan lucu. Belum lagi caranya bertanya dengan mata bulat khas marah yang dia paksakan.


"Jawab, Mas!!"


"Oh iya? Selama ini Mas tidak pernah sakit perut subuh-subuh, kenapa sekarang begitu?"


"Mana mas tahu, Na, panggilan alam mana bisa diprediksi," jelas Sean mencari jawaban yang sekiranya paling masuk akal.


"Ngeles banget, kan bisa di sana kenapa harus pulang?"


"Sekalian pulang, kan sudah selesai shalatnya jadi mas pulang ... lagi pula mas tidak betah asal tempat, kecuali benar-benar terdesak."


Dia tidak berbohong sebenarnya, tapi entah kenapa jawaban Sean masih membuat Zalina merasa ada sesuatu yang bertentangan dengan hatinya. Mungkin karena dia masih tidak rela, Ayunda menyentuh sang suami hingga begini. Dahulu saja baru tersentuh sedikit, dia sangat marah. Lantas bagaimana sekarang?

__ADS_1


"Jangan marah, Zalina ... mana mungkin mas cari kesempatan untuk bisa masuk, memang Zaffan menangis kencang dan mas pikir dia benar-benar jatuh," tambah Sean serius kali ini, sama sekali tidak terpikir jika Ayunda akan melakukan hal semacam itu.


"Percayalah, milikmu jauh lebih indah buat apa mas melihat milik wanita lain, hm," tutur sean seraya mengusap pelan wajah Zalina.


Suaranya melembut, wajah Zalina tetap cemberut. Hingga, sang istri mencebik juga pada akhirnya, mata Zalina tampak berkaca-kaca dan bisa dipastikan dia akan menangis.


"Benar pulang cepat karena sakit perut?"


Sean menarik Zalina dalam pelukan, seorang wanita tidak akan cukup jika hanya dengan kata-kata. Akhir-akhir ini semesta memang berpihak pada Sean, sakit perut yang tadi sempat susah payah dia tahan di kediaman Abrizam mendadak kembali terasa.


"Heh!!"


Hingga Zalina menjauh seketika kala mendengar bunyi yang cukup familiar di telinganya. Tidak lupa wanita itu menutup hidung usai menepuk pundak sang suami hingga Sean meringis seketika.


"Jorok banget sih! Ke kamar mandi sana!" ucap Zalina menjauh seketika, sementara Sean hanya terbahak seraya menatap mata bulat Zalina.


"Percaya, 'kan? Mas tidak mungkin boh_"


"Sudah buruan sana!! Ih sumpah jorok banget demi Tuhan," kesal Zalina mendorong tubuh Sean agar segera menuntaskan permasalahan perutnya.


"Menyesal aku bertanya."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued-


__ADS_2