
Vian memasuki sebuah bar yang cukup terkenal di kota Maldive.
Vian melangkah menuju meja yang biasa dia pesan,setelah sampai dia menepuk bahu seorang pria dan melakukan tepuk persahabatan lalu duduk di sebelahnya.
"Hallo kawan,apa kabar mu?" Tanya Elan.
"Baik." Jawab Vian singkat.
"Apa harimu buruk?"
"Kau terlihat kusut sekali,Ian."
"Hanya ada sedikit masalah di perusahaanku."
"Tak perlu khawatirkan aku." Jelas Vian.
"Ian jika kau butuh bantuanku bilang saja padaku,kau tau aku pasti akan membantumu." Ucap Elan sambil memegang bahu kiri Vian.
"Benarkah?"
"Bagaimana jika kau berikan aku beberapa pekerjaan untukku."
"Baik." Jawab Elan singkat.
"Apa aku harus berterima kasih untuk itu?" Tanya Vian.
"Tentu,kau yang traktir malam ini." Jawab Elan.
"Hahaha,setuju."
"Bagaimana kabarmu selama ini?"
Elan mendesah dengan jawabannya dan tersenyum lebar.
"Aku slalu mendengar berita tentangmu, yang bersama wanita berbeda setiap minggunya." Terang Vian.
"Hahaha."
"Apa hanya itu yang kau dengar tentang diriku?"
"Kau tau pria tampan sepertiku harus bersama wanita cantik yang sesuai denganku." Jawab Elan.
"Iya aku percaya itu,dan aku percaya mereka tulus kepadamu."
Vian menjawabnya dengan nada yang sedikit menyindir dan meneguk sedikit demi sedikit minuman keras yang ada di tangannya.
"Hei,tak perlu kau perjelas." Ucap Elan.
Vian mengangguk aguk dan tertawa pelan.
"Ian,Aaron akan datang ke pertemuan keluarga kan?" Tanya Elan.
"Pasti,pertemuan keluarga di adakan untuk dia,tak mungkin jika dia tak datang." Jawab Vian.
"Bagaimana dengan istrinya? Apa kau mengenalnya?"
"Hahaha,tentu saja."
"Apa kau setakut itu sampai tak datang ke pernikahannya."
"Apa kau bilang." Elan mengunci kepala Vian dan merusak tatanan rambut Vian.
"Sudah,sudah aku mengaku salah."
Setelah lepas dari aniaya Elan,Vian segera merapikan rambutnya.
"Kau pasti penasaran dengan istrinya kan?"
"Kau juga tak akan menyangka jika ada seorang wanita yang bisa menaklukannya." Ucap Vian.
"Hm."
"Banyak wanita yang ingin mendapatkan hatinya,kau tau bagaimana wanita wanita itu berakhir." Ucap Elan.
Vian diam sejenak teringat akan adiknya.
"Ya tentu saja." Ucap Vian sedih sambil menggoyang goyang gelasnya dan meminum dalam sekali teguk.
Mereka berbicara dan menikmati minuman yang mereka pesan sampai mereka mabuk.
****
__ADS_1
Negara A...
Kota Oregon...
Kediaman Rassam.
Di kamar...
"Sayang sayang lihat,mereka meresponku." Ucap Aaron kegirangan sambil mengusap usap perut Sora.
Sora yang melihatnya hanya tersenyum lebar.
Lebih dari setengah jam Aaron mendekatkan wajahnya di samping perut Sora dan berbicara dengan si kembar.
Usia kandungan Sora menginjak lima bulan,tapi sudah begitu terlihat membesar karena Sora mengandung bayi kembar.
"Sayang aku akan mengajakmu ke Maldive,aku sudah meminta ijin pada kakek."
"Semoga besok saat periksa ke dokter kau dan si kembar baik baik saja."
"Maldive?" Tanya Sora.
"Iya,keluarga besar kami akan berkumpul."
"Setiap keturunan dari keluarga kami yang baru menikah harus di perkenalkan."
"Seharusnya pertemuan itu di adakan seminggu setelah kita menikah."
"Karna sesuatu terjadi padamu,aku harus menundanya."
"Mereka harus tau,kamu,Sora Rassam adalah istri dari Aaron Markle." Ucap Aaron bangga.
"Bagaimana jika aku berpenampilan Rara Gwen." Goda Sora yang berada di pelukan Aaron.
"Kamu berani!"
Aaron gemas dengan perkataan Sora dan menggelitiknya.
"Hahaha."
"Udah sayang,hahaha.. berhenti!"
"Aduh."
"Ada apa?" Tanya Aaron.
"Pinggangku,pinggangku kram." Jawab Sora.
"sebelah sini?"
Sora mengangguk.
"Maafkan aku ya sayang,aku tak sengaja,aku tak akan ulangi hal itu lagi." Ucap Aaron sambil memijit pelan pinggang Sora.
Sora meletakkan kedua tangannya melingkar di leher Aaron.
"Kamu tau sayang?"
Sora menatap Aaron dan tersenyum tipis.
"Kamu adalah suami terbaik yang sudah Tuhan berikan padaku." Ucap Sora.
"Benarkah?"
Aaron terlihat bahagia mendengarnya lalu mencium bibir Sora berulang kali.
****
Sebelumnya..
Di ruang baca
"Kek ijinkan Aaron membawa Sora ke Maldive." Ucap Aaron.
"Kakek tau."
Lalu kakek berdiri dan melangkah mendekati Aaron.
"Kakek akan menyuruh beberapa orang untuk menjaga kalian." Jawab kakek.
"Terima kasih kek."
__ADS_1
"Aaron,kakek akan menceritakan sesuatu yang penting padamu."
Aaron menundukkan kepalanya,memberi isyarat pada kakek bahwa dia siap untuk mendengarkan kakek.
"Aaron,saat pesta pertemuan itu,seluruh keluargamu akan mengetahui bahwa cucu satu satunya keluarga Rassam adalah istrimu."
"Saat itu ada yang akan berusaha untuk mencari tau,bagaimana cara untuk menjatuhkanmu."
"Bagaimana kakek mengetahui hal itu?"
"Kakek telah mendapatkan sesuatu,salah satu pamanmu sudah memperlihatkan taringnya."
"Apa.. orang itu adalah paman Beval Norflox?"
Kakek diam tak menjawab pertanyaan Aaron.
"Beval Norflox adalah penyebab ketegangan antara aku dan nenekmu."
Terlihat wajah Aaron yang sedikit menegang mendengar cerita dari Ramush Rassam.
"Istri Beval adalah adik dari ayahmu."
"Setelah menikah dengan Beval dia harus mengikuti nama keluarga Norflox."
"Maka dari itu bibimu tak mendapat kekuasaan dari keluarga Markle."
"Namun setelah kakek dan ayahmu meninggal,keluarga Norflox berusaha untuk mengambil kekuasan keluarga Markle,namun itu tak bisa terjadi"
"Karna mereka tak berhasil membunuhmu."
"Jadi... yang menculikku adalah paman Bavel?"
Kakek mengangguk dengan jawabannya.
"Kenapa nenek tak pernah menceritakannya padaku?" Tanya Aaron.
"Karna nenekmu saat itu tidak tahu bahwa bibi dan pamanmu yang merencanakan penculikanmu,dan menyebabkan tiga orang yang di cintainya meninggal."
"Saat itu kakek yang telah memerintahkan untuk merahasiakannya dari nenekmu."
"Jika nenekmu tau dia pasti tak ingin hidup lagi."
"Kakek tak ingin hal itu terjadi pada nenekmu."
"Ternyata mereka yang telah membunuh ayah ibu."
"Kakek? Ayah? Ibu? Ternyata kalian meninggal karna aku?" Batin Aaron yang mulai di penuhi dengan kemarahan.
"Kematian mereka menjadi pukulan berat untuk nenekmu."
"Untuk melupakannya nenekmu meninggalkan negara ini dan kembali ke negara M."
Aaron terdiam dan menutup matanya, cerita Ramush mulai tak terdengar di telinganya,keringat dingin keluar dari dahi dan samar samar dia teringat saat berlari bersama Ramush Rassam meninggalkan gudang yang sudah di pasang bom oleh penculik.
Aaron melihat kakek dan ayah ibunya yang masih berada di dalam gudang tersebut.
Paru parunya mulai sulit untuk bernafas,ingatan yang telah hilang mulai tersusun dalam kepala Aaron.
Kedua tangan Aaron memegang kepala Aaron,dan Aaron jatuh dengan lutut menumpu tubuhnya.
"Aaron." Teriak kakek.
"Apa yang terjadi denganmu?"
Kakek memapah Aaron ke sofa.
"Tidak,tidak." Guman Aaron.
"Kakek! Ayah! Ibu!" Teriak Aaron.
Aaron tersadar dan menatap Ramush dengan tatapan penuh kebingungan.
"Kau tak apa apa Aaron?" Tanya kakek.
"Aaron tak apa apa kek."
Aaron mengatur nafasnya dan berusaha membuat kakek tak khawatir.
"Baiklah,kembalilah untuk beristirahat." Ucap kakek.
Aaron mengangguk dan pamit keluar.
__ADS_1
Setelah Aaron menutup pintu sebisa mungkin Aaron menyembunyikan keadaannya pada Sora saat nanti kembali ke kamar.