
Sejak kecil, hingga menjadi seorang ibu Zalina tetap dikenal sebagai putri kebanggaan umi Rosita karena memang dia yang paling pandai memasak. Namun, sebagai seorang hamba perlu dipahami bahwa kesempurnaan hanya milik sang pencipta.
Dia melakukan kesalahan pertama, parahnya lagi di hadapan sang suami. Meski hal semacam itu bisa diperbaiki, tapi fakta bahwa dirinya tidak becus masak air mungkin akan Sean jadikan senjata seumur hidupnya.
"Lain kali hati-hati ... kalau rumah kita terbakar bagaimana, Na."
"Tidak sengaja, Abi, tadi aku tinggal dulu ke belakang jad_"
Zalina ingin berbohong, tapi tatapan Sean seolah menjelaskan bahkan dia mengetahui jika kebohongannya terbaca. Memang sebelum dia berhasil mematikan kompor, sang suami dan abinya sudah lebih dulu melihat Zalina.
Jelas saja bisa dipastikan dari arah mana Zalina berlari. Belum lagi, saat ini kiyai Husain menggeleng pelan seraya meraih teh hangat yang baru saja Zalina tuntaskan. Tentu saja dengan memasak air yang baru lagi sebelum ini.
"Jangan suka menguping makanya, biasakan kalau melakukan sesuatu itu fokus ... nanti kan bisa tanya sama suamimu, tidak perlu seperti tadi."
Zalina menunduk seraya meremmas ujung kerudungnya. Pernyataan kiya Husain jelas membuat Sean mengu-lum senyum, dia seolah mendapat pendukung tanpa harus mencari lebih dahulu.
"Iya, Abi."
Memang hanya itu yang bisa Zalina berikan, iya-iya saja karena sejak dahulu dididik untuk jangan menjadi seorang pembangkang. Dia yang begitu tunduk pada abinya benar-benar membuat Sean jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, mungkin karena di rumah Sean memiliki tiga saudara perempuan yang wataknya persis kulit badak, keras.
Sama sekali Sean tidak mengalihkan pandangan dari Zalina. Bahkan hingga kiyai Husain berlalu pergi dengan secangkir teh hangatnya, Sean belum mengatakan apapun. Hingga helaan napas kasar terdengar dari istrinya, dia tampak menatap panci yang tadi dia buat berasap dan permukaannya berubah warna menjadi kehitaman.
"It's okay ... umi tidak akan marah, nanti mas yang jelasin."
Awalnya Zalina menduga sang suami akan mengejeknya habis-habisan. Akan tetapi, nyatanya kini berbeda dan dia adalah seseorang yang tidak menganggap itu sebagai sebuah candaan.
Yang Sean pikiran justru bahayanya, jika saja terlambat bisa jadi istrinya celaka. Karena tidak sedikit kejadian semacam itu berakhir celaka, beruntungnya saja Zalina tidak terlambat.
"Mas ngeledek ya?"
__ADS_1
"Tidak, jangan lalai lagi lain kali," tutur Sean mengusap pelan puncak kepalanya.
Sebagai seseorang yang mengenal Zalina lebih dari orang lain, Sean paham istrinya mana mungkin sengaja. Sejak dahulu, Zalina begitu teliti dan tidak mungkin melakukan kesalahan semacam itu secara sengaja.
"Benar kata abi, kamu bisa tanya sama mas tanpa perlu mencuri dengar seperti tadi ... lagi pula, sejak kapan mas merahasiakan apapun dari kamu, Na?"
Zalina tidak menjawab untuk beberapa saat, dia masih memikirkan nasib panci kesayangan uminya. Memang tidak rusak, tapi warnanya berubah dan dia sama sekali tidak lega sebelum bisa diselamatkan.
"Tidak perlu dibersihkan, ini sudah malam."
"Umi nanti marah bagaimana? Mas tidak tahu saja umi kadang lebih sayang panci dibanding anaknya," ucap Zalina melemah dengan wajah yang natural takut kena amukan umi Rosita.
Sebagaimana watak ibu-ibu pada umumnya, umi Rosita juga punya. Meski pada akhirnya dia maafkan, tetap saja jiwa untuk mengomel dan semacamnya melekat dalam dirinya.
"Hahahaha sama, mama juga begitu."
Sean tergelak, agaknya banyak kesamaan dalam diri orangtua mereka. Jika Umi Rosita lebih sayang panci, Zia justru seluruh perabotan rumah tangga di rumahnya. Bukan sekali dua kali Sean menjadi sasaran kemarahan Zia lantaran tidak sengaja menghilangkan kotak bekal sewaktu masih SMP.
"Astaghfirullah, istriku ... sejak menikah kita memang sudah punya KK sendiri, lupa?"
Hanya karena panci, Zalina benar-benar sekacau ini. Seolah tidak habis alasan Sean menertawakan tingkah istrinya, Zalina yang dia kenal memiliki kepribadian yang begitu tenang ternyata jika sudah panik selucu ini.
"Oh iya, kenapa bisa lupa ya."
Jika yang bicara itu adalah salah-satu adiknya, mungkin umpatan bodoh akan keluar dari mulut Sean. Berhubung yang dihadapannya kali ini adalah Zalina, dia sangat tidak masalah.
Tidak berselang lama, Zalina mendengar suara uminya di depan. Jika Zalina teliti, uminya bukan hanya bicara biasa pada abinya, melainkan mengomel entah apa sebabnya.
Tampaknya marah pada Ayunda, tapi tidak begitu jelas juga. Zalina menelan salivanya susah payah, dia menatap ke arah Sean yang kini mengedikkan bahunya. Bagi Sean hal semacam itu bukan masalah, tapi bagi Zalina jelas saja bencana.
__ADS_1
"Mas!! Lari."
"Lari kenapa?"
"Umi lagi marah, ayo buruan!!"
Zalina yang panik membuat Sean ikut panik juga, terlebih lagi dia sempat mengingat bahwa seseorang yang biasanya tidak pernah marah bisa berubah ketika suasana hatinya sedang kacau luar biasa.
"Umi kalau marah serem?"
"Sangat!! Ayo cep_ eh pancinya ketinggalan, tolong ambilin, Mas!!"
Baru juga berhasil keluar dari dapur, Sean dibuat terkejut dengan permintaan Zalina. Mata sang istri benar-benar meminta diselamatkan, Sean yang terbawa suasana tanpa pikir panjang kembali berlari ke dapur demi membawa panci itu.
"Aduh, Abi!! Pokoknya kepala umi seperti mau pecaaaaaaah!!" teriak umi Rosita menggema yang membuat pasangan itu bergetar seketika.
"Run, Na!!
Sudah lama adrenalin Sean tidak ditantang seperti ini, mungkin terakhir empat tahun lalu. Sama sekali tidak dia duga jika akan mengulang dengan cara yang sangat-sangat menyenangkan seperti ini.
"Kunci, Mas!!" teriak Zalina ketika mereka baru saja berhasil masuk kamar.
Dada Sean naik turun, dia terduduk lemas dan bersandar di pintu kamar dengan panci dan Zalina yang sama-sama berada dalam pelukannya.
"Alhamdulillah, kita selamat, Mas ... jantungku seperti mau copot."
"Ck, yang gila siapa sebenarnya," batin Sean kala menatap panci yang benar-benar dia bawa hingga ke kamar demi menyelamatkan sang istri.
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -