
Sean menggerutu, jam segini seharusnya Mikhail sudah tidur bersama istri dan cucu-cucu kesayangannya. Lantas kenapa malam-malam begini justru menghubunginya, pikir Sean.
"Hallo, Sean!!"
Sean menjauhkan ponselnya segera, belum juga sempat menyapa dan suara sang papa menerobos gendang telinganya. Ingin marah, tapi tidak bisa.
"Assalamualaikum, Papa," sapa Sean lembut meski belum apa-apa sudah diamuk, padahal tadi dia sempat menggerutu dan Zalina jelas-jelas mendengarnya.
"Waalaikumussalam, lama sekali ... kau darimana sebenarnya?"
"Tidak kemana-mana, aku tidur, Pa," jawab Sean mengelus dada dan berusaha menahan diri karena yang menghubunginya bukan Zean, jelas dia tidak bisa menggunakan urat dalam bicara.
"Syukurlah ... Papa pikir kemana."
Pria itu terdengar sedikit lebih tenang, apa mungkin dia menelpon hanya karena penasaran Sean sedang ada dimana? Jika iya, sungguh menyebalkan sekali sebenarnya.
"Ada apa, Pa?"
"Papa mimpi buruk, Sean!! Jadi Papa bangun."
Sean yang tadi mengelus dada, kini mengusap wajahnya kasar. Dia pikir apa, nyatanya hanya mimpi buruk dan jelas pria itu semakin tidak habis pikir lagi. Seperti biasa, Zalina hanya menunggu tanpa mengusik pembicaraan suaminya lebih dulu.
"Mimpi apa, Pa?"
Meski terdengar konyol, tapi Sean masih bertanya baik-baik. Khawatir saja jika papanya bermimpi tertimpa kembarannya di dunia lain.
"Ah sudah lupakan soal itu, sarung yang kemarin sudah kamu bagikan belum?" tanya Mikhail yang seketika membuat Sean menepuk keningnya.
Dia lupa tentang ini, sarung yang kemarin dipercayakan sang papa padanya sudah dia bagikan beberapa hari lalu. Tentu saja Sean yang menggenapi jumlahnya, meskipun Sean harus mengeluarkan empat kali lipat dari sang papa, sama sekali tidak masalah.
"Sudah, Pa."
__ADS_1
"Oh iya? Kapan?"
Sean merasa tengah dikejar atasan, meski memang salah dirinya tetap saja masalah ini sedikit membuatnya sakit kepala. "Malam jum'at kemarin kalau tidak salah, aku lupa laporan sama Papa ... tapi papa tenang, sudah aku bagikan seperti yang papa minta."
Sungguh, sama sekali Sean tidak bercanda. Dia memang benar-benar lupa, padahal kemarin Sean sempat menghubungi papanya untuk sekadar menanyakan kabar. Jujur saja, meski dia pemberani bukan berarti tidak memiliki rasa takut, terutama pada papanya sendiri.
"Syukurlah kalau begitu ... Papa pikir belum."
"Iya sudah, istirahatlah, Pa bukankah nanti malam harus bangun?" tanya Sean yang begitu paham bagaimana tugas sang papa di waktu sahur selama bulan puasa, kemungkinan besar pasti akan sama.
"Ck, cepat sekali kenapa kau buru-buru?"
Sudah Sean duga akan begini, biasanya jika sudah menghubungi sang papa tidak bisa hanya semenit dua menit, minimal sepuluh menit. Sementara kini, mata Sean sudah terpaku pada sang istri yang tampak sabar menunggunya.
"Ada kerjaan sedikit, Pa," ujar Sean mengedipkan mata ke arah sang istri hingga Zalina tersenyum simpul.
"Halah, pengangguran sepertimu mengerjakan apa memangnya?" Bisa dipastikan kening papanya berkerut, terdengar jelas dari nada bicara Mikhail saat ini.
"Papa mengganggu sepertinya, ya sudah papa tutup dulu ... besok puasa, jangan terlambat bangun sahurnya karena suara papa tidak akan sampai ke kamarmu, Sean."
"Iya, Pa ...."
"Sahur!! Dengar tidak?!"
"Iya, Pa iya." Belum juga tepat jamnya, Mikhail sudah membuat jantung Sean berdetak dua kali lebih cepat.
Terdengar lucu, tapi tersirat makna yang mengungkapkan kerinduan Mikhail padanya. Tidak apa, memang begitu resiko ketika sudah menikah. Sean tersenyum getir kala Mikhail mengucapkan salam sebelum kemudian mengakhiri panggilannya.
"Papa kenapa, Mas? Marah ya?"
"Tidak, cuma tanya masalah sarung kemarin sama ingetin sahur. Kamu tahu sendiri Papa bagaimana," tutur Sean mengembalikan ponselnya ke atas nakas, tidak lupa diubah ke mode senyap lebih dulu lantaran khawatir kembali terganggu.
__ADS_1
"Kita lanjutkan yang tadi, kalau tidak tahan bilang."
"Iya," jawab Zalina pasrah saja kala Sean berkuasa di atas tubuhnya.
Sean sadar sang istri tidak menyukai aroma tubuhnya, untuk itu dia dengan sengaja menutup mulut dan hidung Zalina dengan telapak tangannya. Seketika Sean seakan tengah memaksa istrinya bercinta.
Dia sangat mengerti jika Zalina tengah hamil muda, Sean mencoba melakukannya sepelan mungkin. Tidak akan ada drama istrinya menangis lantaran kerap diminta aneh-aneh. Meski tetap saja sempat terkejut kala miliknya dibuat sesak seketika, pada akhirnya Zalina terbawa permainan sang suami yang begitu tenang dan tidak menggebu seperti sebelumnya.
Jika biasanya Sean akan ambruk di atas tubuh sang istri dan menenggelamkan wajah di ceruk leher Zalina setelah mencapai puncak, kali ini dia tidak melakukan hal itu. Meski sudah menggunakan parfum milik Zalina, besar kemungkinan keringatnya akan tetap membuat Zalina mual.
"Mas kenapa jauh banget?" tanya Zalina menatap lekat Sean yang berada di tepi ranjang dengan napas yang masih terengah-engah.
"Mas bau, nanti kamu muntah."
"Tapi tidak perlu sejauh itu," ucap Zalina yang membuat Sean tanpa pikir panjang mendekat, bahkan kini sangat dekat.
"Begini?" Terlalu dekat sebenarnya, tapi Zalina mengalah dan mengangguk demi memperkecil masalah.
"Tidurlah, jangan mandi tengah malam," tutur Sean menahan tubuh istrinya yang hendak beranjak. Zalina memang terbiasa mandi segera, tapi Sean tidak mengizinkan untuk malam ini karena memang tepat tengah malam.
"Nanti kita terlambat bagaimana?"
"Tidak akan, mas yang tanggung jawab."
"Bener ya? Kita bangunnya harus lebih cepat karena harus mandi dulu ... nanti cuma sempat mandi kan bahaya, Mas."
"Shuut, percaya pada suamimu kali ini, mas sudah atur alarm di jam 02 pagi jadi santai," ungkap Sean menyakinkan sang istri, seyakin itu Sean bicara dan Zalina tentu iya-iya saja.
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -