Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 141 - Sesuai Harapan


__ADS_3

"Aku mencintaimu, Mas Sean ... jangan pernah pergi ya."


Seakan tengah bermimpi, Sean bahkan terdiam mendengar ungkapan cinta sang istri. Apa mungkin dia benar-benar menepati janjinya untuk berubah seperti kemarin? Jika iya, maka Sean juga harus begitu.


"Mas juga, Na, sangat-sangat cinta."


Entah kapan Zalina membawanya ke tempat ini, tapi yang jelas Sean benar-benar terkejut. Dia tidak sedang berulang tahun, masih enam bulan lagi dan sungguh aneh saja kenapa Zalina membawanya ke danau yang begitu indah.


Danau yang menjadi saksi Sean bersama wanita yang mungkin bisa dia sebut sebagai cinta pertama sewaktu SMA. Sudah lama Sean tidak datang ke tempat ini, dan semuanya masih sama.


Awalnya semua baik-baik saja, hingga Zalina perlahan mundur ke tepian tebing yang mengarah ke danau secara langsung. Wanita itu tersenyum getir, wajahnya tampak pucat dengan tangan yang melambai perlahan.


"Zalina ... apa yang kamu lakukan?"


"Titip anak-anak, aku pergi, Mas."


"Ja-jangan ... Zal_ Zalina!!" teriak Sean dengan napas yang kini terengah-engah.


Denting yang berbunyi dari jarum jam terdengar memecah keheningan. Sean menatap sekeliling, dia tidak sedang berada di tepian danau dan Zalina masih terlelap di sisinya. Tangannya bergetar bahkan kini berkeringat, dari luar juga terdengar umi Rosita memanggil nama istrinya.


"I-iya, Umi."


Istrinya masih terlelap, Sean beranjak segera dan hanya menjawab dari dalam. Jelas karena dia bingung baju dan celana dimana, kamar masih gelap dan kesadarannya belum benar-benar sempurna.


"Turun, Nak ... sudah hampir imsak."


Hah? Imsak? Sean panik tentu saja, pria itu mengiyakan panggilan mertuanya sembari menghidupkan lampu kamar. Siapa yang patut disalahkan jika sudah begini, tentu saja ponselnya. Belum sempat membangunkan Zalina, pria itu menggerutu lebih dulu.


"Dasar hp gila, padahal sudah kuatur."

__ADS_1


"Sayang, bangun ... kita hampir terlambat."


Sean menepuk pelan wajah Zalina, istrinya begitu lelap malam ini. Mungkin karena lelah, belum lagi kemarin mereka tidak hanya di rumah saja. Sean mengutuk dirinya sendiri yang kembali mengingkari janji, ditambah lagi saat ini membangunkan Zalina ternyata butuh sedikit usaha.


"Bangun, Sayang ... nanti bisa tidur lagi."


"Heum?" Zalina bingung, Sean menarik pergelangan tangannya agar segera terjaga.


"Sayang hampir imsak!! Kita terlambat bagaimana?" tanya Sean benar-benar sepanik itu.


Berbeda dengan Sean yang justru bingung hendak bagaimana. Zalina berusaha tenang dan bangun seperti biasa. Sebenarnya sejak awal firasat Zalina sudah buruk, hanya saja dia yang ternyata begitu lelah justru ikut terlena.


Melihat Zalina yang kini memunguti pakaiannya, Sean ikut saja. Meski bingung kenapa sang istri tidak langsung ke kamar mandi dalam keadaan polos begitu, dia tidak banyak tanya.


"Kita tidak mandi dulu?"


Yang Zalina utamakan Sean sebenarnya. Zalina begitu ingat jika mertuanya selalu mengkhawatirkan Sean selama dua tahun terakhir setiap kali makan sahur, Zia juga sempat mengatakan bahwa di antara anaknya yang paling tidak kuasa menahan lapar dan dahaga adalah Putranya.


"Apa sempat, Na?"


"Sempat, Mas ... aku tidak kuat kalau tidak sahur," tutur Zalina mengatasnamakan dirinya, karena jika dia menyebut alasan utama adalah Sean sendiri maka tentu pria itu akan menolaknya.


"Tapi malu, Na, nanti abi curiga," ucap Sean menatap Zalina ragu, penampilan keduanya memang acak-acakan.


Baju zalina terbalik, begitupun dengan Sean. Mereka sama-sama panik meski pembawaan zalina lebih tenang. Jangan lupakan rambut yang persis singa usai bertarung, ditambah lagi Sean yang sempat mimpi buruk berkeringat hingga leher dan juga dadanya.


"Abi sama umi sudah selesai biasanya jam segini."


Syukurlah, Sean menghela napas lega dan mempercepat langkahnya ke ruang makan. Tepat di sana, memang tidak ada abinya, tapi umi Rosita menyeduh teh hangat sebagai penutup sahurnya.

__ADS_1


"Haduh kalian, umi bangunin sampai empat kali belum juga. Tidur apa mati suri sebenarnya?"


Sean mengatupkan bibir, begitu juga dengan Zalina. Umi Rosita tidak bermaksud marah, dia hanya merasa mereka lucu saja. Pakaian yang sama-sama terbalik dan penampilan tidak seperti manusia pada umumnya hanya membuat umi Rosita menggeleng pelan.


Maklum saja, mereka terpisah dua tahun. Jadi wajar saja masih merasa pengantin baru, sudah dia duga Zalina tidak turun membantunya menyiapkan santapan sahur ada alasannya.


Sean hanya makan sedikit, selain karena merasa tidak lapar, dia juga khawatir azan subuh berkumandang tiba-tiba. Sama-sama saling mengkhawatirkan, puasa pertama yang cukup menguras tenaga.


Usai makan sahur, keduanya kembali naik segera. Suara Mardi yang melantunkan ayat suci dari mushola mulai terdengar, pertanda azan ubuh tidak lama lagi. Jika boleh diulas, mungkin mandi wajib kali ini adalah yang paling serius dan waktunya pas.


Sean tidak punya kesempatan untuk bercanda, yang ada dia hanya takut waktunya habis. Mandi namanya, tapi entah kenapa Sean merasa dadanya gerah. Hingga, kumandang azan benar-benar terdengar setelah keduanya keluar dari kamar mandi.


"Tidak terlambat, 'kan?" Zalina bertanya dengan gigi rapihnya, sang istri tampak biasa saja sembari mengeringkan rambutnya.


"Tapi jantung mas seperti mau copot, Zalina." Kebiasaan sekali, dia memang hiperbola.


"Yang penting tidak terlambat, mas siap-siaplah ... abi biasanya nunggu," ucap Zalina yang kemudian diangguki sang suami.


Masih dengan rambut yang basah, bisa dipastikan dia akan menjadi ejekan kakak iparnya. Zalina yang menatapnya saja bahkan tertawa sumbang, terlebih lagi rambut Sean memang sedikit tebal saat ini.


.


.


- To Be Continued -


Assalamualaikum semua. Author bersama segenap keluarga Megantara mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1444 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin.


__ADS_1


__ADS_2