
Sarah terkulai lemas tanpa sehelai baju yang menutupi tubuhnya.
Air mata terus mengalir membasahi pipi dan kursi mobil.
Setelah melakukannya,dua pria itu keluar dari mobil dan meninggalkannya.
Sarah mendudukkan tubuhnya perlahan dan mengambil pisau yang dia simpan di laci dashboard.
Sarah termenung untuk beberapa saat,menatap pisau yang saat ini dia pegang.
Dia mengiris perlahan pergelangan tangannya hingga membuat darah mengalir sangat banyak,dan membuat dia lemas karena kehabisan darah.
Jacky yang mengawasi tak jauh dari mobil Sarah mulai curiga,karena tak ada pergerakan dari Sarah.
Dia mengutus anak buahnya untuk melihat.
Namun saat anak buah Jacky melihat ke dalam Sarah sudah tergeletak tak sadarkan diri.
"Bos,wanita itu menyayat pergelangan tangannya." Terang anak buah Jacky dari seberang telpon.
"Selamatkan dia,kak Aaron tak memperbolehkan dia mati."
"Baik."
***
Pagi harinya..
Sora membuka mata perlahan melihat atap langit langit,menyusuri setiap sudut. Sora menghentikan penyusurannya ketika melihat Aaron yang duduk dan tertidur di pinggiran bed hospital sambil menggenggam tangannya.
Dengan wajah yang pucat dan tak bertenaga,Sora berusaha memanggil Aaron.
Hingga akhirnya panggilan Sora membangunkan Aaron dari tidurnya.
"Sayang kau sudah sadar."
Aaron terlihat senang dan segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaaan Sora.
"Istri anda sudah melewati masa krisis,dia hanya lemas karena kehilangan banyak darah."
"Dia akan baik baik saja setelah beberapa hari." Terang dokter.
"Syukurlah." Batin Aaron.
"Trimakasih dok."
Aaron berjalan mendekat ke bed hospital,mencium kening Sora.
"Sayang maaf ya harusnya aku temenin kamu saat ke kamar."
Sora menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Enggak..,gak pa pa"
"Akukan udah gak papa." Jawab Sora dengan suara yang sedikit parau.
Sora berusaha untuk duduk namun di cegah oleh Aaron karena dokter tak memperbolehkannya duduk agar bayinya stabil di dalam kandungan.
"Kamu makan ya,aku suapin." Ucap Aaron.
"Iya."
Aaron dengan tenang menyuapi Sora,tak ingin menunjukkan kesedihan dan kecemasannya pada Sora.
"Sayang apa orang di rumah tau jika aku di sini?" Tanya Sora.
Aaron diam sesaat menghentikan suapannya dan menunduk.
"Maaf aku gak kasih tau mereka,aku tak ingin mereka khawatir."
"Aku juga mengirim pesan pada mereka jika pagi ini kita pergi ke Bali untuk bulan madu."
"Trimakasih."
"kamu sudah melakukan dengan baik.
"Sayang kemarin malam.."
"Sudah kamu gak usah ngomong dulu,kamu gak usah mikir apa apa."
__ADS_1
"Semua udah aku beresin."
"Kamu harus pulihkan keadaan mu dulu." Pinta Aaron kembali menyuapi Sora.
Aaron belum mengatakan pada Sora jika salah satu bayi mereka telah meninggal.
Jika waktunya sudah tepat dia akan menyampaikannya.
...
Matahari telah beranjak di atas kepala.
Di kamar perawatan,namun di rumah sakit yang berbeda, salah satu anak buah Jacky duduk mengawasi keadaan Sarah.
Sarah membuka matanya perlahan,mencoba mengerti kondisi dan keadaannya sekarang.
"Apa aku belom mati?" Batinnya.
Menyadari dia benar-benar belum mati,Sarah melepas jarum infusnya dan turun dari bed hospital.
"Nona anda harus tetap di sini."
"Siapa kamu?" Ucap Sarah yang ketakutan.
"Maaf nona,saya yang membawa nona ke rumah sakit."
"Kenapa kamu tak membiarkan aku mati."
"Biarkan aku mati!" Sarah berteriak dengan histeris,mencoba lompat dari jendela,namun di tahan oleh anak buah Jacky.
Dokter dan perawat yang kebetulan lewat saat mendengar teriakan Sarah,segera berlari masuk ke dalam kamar perawatan Sarah.
Melihat Sarah yang menangis sambil berteriak,dokter menyuruh perawat untuk mencari dokter yang menanganinya agar segera di suntik obat penenang.
"Tuan sebaiknya anda menghubungi keluarga pasien."
"Kondisi pasien yang seperti ini harus mendapatkan semangat dari orang terdekat." Terang dokter.
"Baik dok,saya akan mencari keluarga pasien."
Setelah dokter keluar,anak buah Jacky mengeluarkan ponselnya dan mengabari hal ini pada Jacky.
"Baik bos."
***
"Trililit trililit"
Ponsel Aaron berbunyi,melihat nama Jacky yang muncul Aaron pamit keluar untuk menjawab telpon.
"Kak aku udah laksanakan perintahmu."
"Dia sudah sadar,namun dokter terpaksa menyuntiknya agar dia bisa tenang."
"Baik,kau tetap tempatkan orang di sekitarnya untuk mengawasi."
"Dia tak boleh mati tanpa seijinku."
"Baik kak."
***
Vian yang mendapat kabar keadaan Sarah segera datang ke rumah sakit.
Di dalam kamar dia melihat Sarah berbaring,masih tertidur.
"Dok apa yang terjadi pada adik saya." Tanya Vian.
"Adik anda mengalami pelecehan,hal itu membuat jiwanya sangat terguncang."
"Pelecehan?"
"Bagaimana itu bisa terjadi..."
"Dok siapa yang membawanya kemari."
"Pria itu mengatakan jika dia menemukan adik anda di dalam mobil mencoba bunuh diri."
"Apa pria itu masih di sini dok?"
__ADS_1
"Dia sudah pergi sejak tadi."
Seorang perawat datang menyampaikan pada dokter jika ada dua orang polisi ingin bertemu keluarga pasien.
"Dok di luar ada dua orang polisi ingin bertemu dengan keluarga pasien."
"Tuan apa anda mau menemui mereka." Tanya dokter itu pada Vian.
"Baik."
Vian keluar dari kamar perawatan dan berbicara pada polisi.
"Tuan,apa hubungan anda pada korban?"
"Saya kakaknya." Jawab Vian.
"Apakah anda tau dengan siapa adik anda bertemu?"
"Saya tidak tau."
"Maaf pak polisi saya tidak akan meneruskan penyelidikan ini."
"Saya selaku keluarga korban akan mencabut laporan yang di laporkan pihak rumah sakit."
"Tapi tuan,apa anda tak ingin menghukum orang yang telah merusak masa depan adik anda?"
Polisi itu berusaha membujuk Vian agar melanjutkan penyelidikan,namun Vian mengacuhkannya dan kembali ke kamar perawatan.
Sambil meremas sandaran pembatas kaki bed hospital,Vian menahan kemarahannya.
"Sial,siapa yang lakuin hal ini pada Sarah."
"Akan ku habisi dia."
Lalu Vian menelepon seseorang.
"Pekerjakan seseorang untuk menyelidiki kejadian yang menimpa Sarah."
"Baik tuan."
***
Di perusahaan M.
"Jean bagaimana keadaan istri pak Aaron?"
Jean yang mendengarnya langsung membekap mulut Zain,dan menariknya ke sudut ruangan yang tak ada orang.
"Ssst."
Jean menempelkan jari telunjuknya memberi isyarat pada Zain agar tak berbicara lagi.
"Pak Zain,plis jangan bicarakan apapun tentang istri pak Aaron."
"Pak Aaron memintaku untuk merahasiakan hal ini." Bisik Jean di dekat telinga Zain.
"Ta..ta..pi."
Jean kembali membekap mulut Zain,namun kali ini wajah Jean terlalu dekat dengan wajah Zain.
"Aku sudah bilang kan,gak usah bicara!!"
Kembali Jean membisikkan kata kata itu lebih dekat ke telinga Zain.
Bisikan Jean yang terlalu dekat di telinga Zain membuatnya menahan kegelian,hingga membuat wajah dan telinganya memerah.
Dengan paksa Zain menarik tangan Jean dan melemparnya.
"Oke,oke aku ngerti."
Zain secepatnya meninggalkan Jean agar tak melihat perubahan pada wajahnya.
Setelah agak jauh dari Jean,zain menepuk pipinya sendiri.
"Sial,apa yang terjadi padaku ya?"
"Juga kenapa jantungku jadi deg deg an." Ucap Zain sambil menyentuh dadanya sendiri.
"Ah sudah sudah,mungkin karna telingaku terasa geli saat Jean tadi berbisik." Pikir zain.
__ADS_1