Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Kau hebat yah.


__ADS_3

06.00


Malam sudah berganti pagi, terlihat Rafka tengah diam melamun menatap langit-langit ruangan. Tatapannya tampak kosong.


"Rafka, Abang sarapan dulu yah," ucap Aria membuka rantang yang ia ambil dari apartemen dan sudah ia isi dengan menu sarapan.


"Apa Keyla sudah bangun, Umi?" tanya Rafka menatap sang Ibu.


"Belum, dia masih tidur," Aria duduk di tepi ranjang memposisikan ranjang agar sedikit terangkat.


"Makanlah dulu," ucap Aria menyuapkan makanan ke mulut Rafka. Namun, Rafka tak kunjung membuka mulutnya.


"Rafka," lirih Aria menghela nafas berat


"Bagaimana Rafka bisa makan kalau Keyla belum makan," ucap Rafka membalikkan tubuhnya membelakangi Aria.


"Kalau Abang tak mau makan, kapan Abang akan sehat? Lalu bagaimana bisa Abang merawat Keyla jika kondisi Abang saja masih seperti ini," ucap Aria berharap Rafka mengerti.


Rafka pun akhirnya mengerti dan membalikkan kembali tubuhnya. Perlahan namun pasti Rafka menghabiskan sarapan pagi nya.


"Assalamualaikum, Nyonya, tuan muda." Vano mengetuk pintu lalu masuk ke ruangan.


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh."


"Nona muda sudah bangun, nyonya." Mendengar itu Rafka langsung bersemangat dan ingin bangun namun Aria mencegahnya.


"Biar Umi saja yang kesana," ucap Aria.


"Tidak Umi, Rafka juga ingin melihat Keyla." Rafka benar-benar ingin melihat istrinya dan berbicara empat mata dengan Keyla.


"Abang kesana setelah kursi roda datang," ucap Aria.


"Tapi umi...


"Tidak ada tapi-tapian! Umi bilang tunggu kursi rodanya yah harus di tunggu!" tegas Aria.


Rafka pun hanya bisa pasrah melihat Aria pergi keluar ruangan, ia juga ingin ikut tapi Abi nya belum datang membawa kursi roda.


"Vano, bilang pada Abi agar cepat!" titah Rafka.


"Baik tuan."


Di sisi lain.


Keyla sudah bangun dari tidurnya, wanita itu tak melihat siapa-siapa di sampingnya ketika membuka mata. Sunyi dan hampa yang ia rasakan, beginilah rasanya ketika ia di tinggalkan semua keluarga nya dan hidup tanpa arah di kota yang besar ini.


Ceklek.


Pintu terbuka, terlihat Aria masuk ke dalam ruangan perawatan Keyla sembari membawa rantang makanan.


Melihat itu mata Keyla membulat sempurna, apa keluarga suaminya sudah tau. Ah, pasti Vano tak bisa menjaga rahasia.


"Kau sudah sadar?" tanya Aria meletakkan rantang makanan di atas nakas.


"Sudah Bu."


"Panggil Umi saja, sayang. Kau itu putri ku juga," ucap Aria tersenyum manis ke arah Keyla.


"I-iya Umi."


"Apa ada yang sakit?" tanya Aria duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Tidak ada, umi."


"Jangan bohong, mana mungkin tidak ada yang sakit," sahut Aria.


Keyla tampak terdiam dan hanya menghela nafas panjang saja. Wanita itu tampak tak mempunyai gairah hidup.


"Umi bawakan sarapan, ayo sarapan. Sebelum itu kita ke kamar mandi dulu untuk membasuh wajah mu," ucap Aria.


"Iya Umi, letakan saja makanan nya di situ, nanti Keyla makan."


"Nanti itu kapan? Orang sakit itu susah makan, kalau mereka bilang nanti akan di makan itu berarti kode mereka tak akan makan,"


"Ayo kemari, Umi bantu." Aria mencoba membantu Keyla untuk bangun, di ruangan itu sudah ada kursi roda. Vano sudah siap siaga sedari malamnya.


"Keyla bisa sendiri, Umi." Keyla menjalankan kursi rodanya menuju kamar mandi. Namun, Aria tetap mendorong kursi roda itu hingga masuk ke dalam kamar mandi.


"Umi tunggu saja di luar," ucap Keyla pelan.


"Baiklah, kalau ada apa-apa panggil umi yah."


"Iya umi."


Aria pun keluar dari kamar mandi dan menutup pintu membiarkan Keyla sendiri di dalam kamar mandi.


Bertepatan dengan keluarnya Aria dari kamar mandi, Rafka sudah masuk ke dalam ruangan menggunakan kursi roda yang di dorong Gabriel.


"Dimana Keyla, Umi?" tanya Rafka mencari kesana-kemari.


"Di kamar mandi," jawab Aria.


"Mengapa umi membiarkan nya sendiri! Bagaimana jika Keyla tak bisa berdiri?" tanya Rafka khawatir.


"Abi dan Razka serta Vano keluar dulu yah, Keyla tidak pakai jilbab soalnya." Aria mengalihkannya pembicaraan, percuma saja menjelaskan pada Rafka yang setiap detik selaku khawatir pada istrinya.


"Umi bukan tak mau menemani, sayang. Hanya saja Keyla tak mau umi temani, Keyla ingin sendiri katanya."


Aria mendorong kursi roda Rafka mendekati ranjang Keyla.


"Rafka ingin Keyla di rawat satu ruang dengan Rafka, umi."


"Iya, sayang."


Tak lama kemudian tampak pintu kamar mandi terbuka, terlihat Keyla berusaha keluar dari kamar mandi. Melihat itu Aria langsung membantu mendorong kursi roda Keyla.


Keyla membulatkan matanya melihat suaminya sudah ada di hadapannya. Apa yang harus ia katakan, ia sedang tidak mood untuk berbicara dan menjawab apapun itu.


"Kau sudah sehat, sayang?" tanya Keyla tersenyum manis ke arah Rafka. Rafka tak menjawab, ia hanya menatap Keyla dengan tatapan tak bisa diartikan. Hal itu membuat Keyla salah tingkah.


Aria membantu Keyla untuk kembali berbaring di ranjang. Setelah itu Aria pun membuka rantang dan menyiapkan sarapan untuk Keyla.


"Kenapa diam? Apa masih sakit?" tanya Keyla menatap suaminya yang hanya diam dan menatapnya intens.


"Sarapan dulu, nak." Aria memecahkan kecanggungan. Ia tahu Rafka tengah mengontrol emosinya, itulah mengapa ia memilih menengahi anak dan menantunya itu.


Selesai sarapan.


"Umi, tolong tinggalkan kami sebentar," pinta Rafka halus.


"Iya, sayang. Bicaralah dengan kepala dingin," jawab Aria mengelus kepala Rafka lalu keluar dari ruangan.


Setelah Aria keluar terjadi lagi keheningan yang membuat Keyla semakin salah tingkah.

__ADS_1


"Kau hebat yah," ucap Rafka memecah keheningan.


"Hebat apa, sayang?" tanya Keyla berusaha tenang.


"Kau hebat. Hebat melakukan sesuatu tanpa izin dari ku," ucap Rafka penuh penekanan.


"Aku sudah izin kok," kilah Keyla.


"Kapan?" tanya Rafka.


"Ketika kau tak sadarkan diri. Saat itu aku meminta izin padamu, karena kau diam saja aku menganggap diam mu adalah izin," jawab Keyla sembari tertawa kecil.


"Alasan macam apa itu? Mana bisa aku menjawab iya dan tidak dalam keadaan tidak sadarkan diri?" tanya Rafka kesal.


"Jangan marah-marah, sayang. Nanti cepat tua, kalau cepat tua nanti aku akan cari yang muda lagi," goda Keyla mencairkan suasana.


"Aku sedang tak ingin bercanda, Key."


"Siapa juga yang bercanda? Aku selalu serius tau," jawab Keyla tertawa kecil.


"Sebahagia itukah dirimu? Apa kau tak merasa sakit dan kehilangan sesuatu?" tanya Rafka merasa aneh melihat Keyla yang terus tertawa.


"Aku tak kehilangan apapun, sayang. Untuk apa aku bersedih, kalau aku bersedih akan memperburuk keadaan ku saja," jawab Keyla santai.


"Ck, susah bicara dengan mu. Kau itu tak bisa diajak serius," ketus Rafka. Laki-laki itu tampak lebih berbeda dari sebelumnya menurut Keyla. Suaminya itu tampak lebih ketus dan juga pemarah. Apa ini sisi lain dari suaminya yang ramah lingkungan itu.


"Jangan marah dong, suamiku yang tampan." Keyla berusaha menggoda Rafka agar laki-laki itu kembali bersikap lembut.


"Aku tidak marah, aku hanya kesal dan khawatir saja. Kau itu wanita ceroboh," ucap Rafka mendekatkan dirinya pada Keyla.


"Walau kau sakit tapi kau tetap tampan, sayang. Entah mataku ini bermasalah," goda Keyla membelai wajah Rafka.


Rafka meraih tangan Keyla lalu mengecup punggung tangan istrinya itu. Hal itu membuat pipi Keyla langsung memerah.


"So sweet," ucap Keyla terkekeh kecil.


"Di sini juga dong," pinta Keyla menunjuk keningnya. Dengan senang hati Rafka menuruti kemauan Keyla. Mulai dari kening, pipi kanan dan kiri hingga bibir Keyla pun mendapatkan jatah pagi.


"Mau lagi," pinta Keyla semakin semena-mena. Tapi, dengan senang hati Rafka meladeni kemauan istrinya yang terbilang manja itu.


_


_


_


_


_


_


_


Segini dulu yah guys. Udah 1200 kata nih😂 standar satu eps.


Maaf yah kalau kurang seru bab ini.


Author ngantuk kali soalnya 😂😂😁


Padahal idenya masih ngalir deras loh, cuma karena jari author capek dan mata minta di tutup jadinya author jeda dulu😁😁

__ADS_1


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.


tbc.


__ADS_2