Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 01


__ADS_3

Dibalik Sean yang leluasa menikmati waktu berdua dan memadu kasih bersama sang istri, ada satu pahlawan yang harus kembali begadang demi menyelesaikan masalahnya. Yudha, begitu besar peran asisten Zean yang juga merangkap orang kepercayaan Sean dalam perjalanan cinta dua beradik itu.


Setelah selesai dengan tanggung jawab di kantor, Yudha tetap harus membawa pekerjaannya di saat liburan. Ya, dalam hidup Yudha memang tidak ada liburnya, hanya ada kerja dan kerja walau tidak juga sekaya bosnya.


"Huft andai saja mimpiku itu benar adanya, pasti jam segini aku sudah tidur nyenyak."


Yudha menghela napas kasar, sepertinya mimpi semacam itu adaah hal paling mustahil dalam dirinya. Terkadang dia merasa lucu dengan kehidupan ini, terlalu lelah membuat Yudha kerap berkhayal menjadi seorang putra konglomerat yang hilang sejak bayi.


Lucu memang, bukan berarti Yudha tidak bahagia dalam asuhan ibunya. Namun, di saat lelah memang pikiran semacam itu kerap kali mendatanginya bahkan sampai terbawa mimpi.


"Kerja, Yudha kerja!! Cicilan rumahmu sedikit lagi ... semangat!! Ada si cantik yang harus dihalalkan."


Hanya dengan mengingat, energi Yudha yang tadinya terbuang habis akibat mengendong Zean seakan kembali terisi lagi. Susah payah dia menjalin hubungan bersama selebgram dengan fans rata-rata pria itu, Yudha tidak mungkin berhenti di tengah jalan.


Sebenarnya bisa saja dia nekat menikahi Lengkara dengan keadaan begini. Hanya saja, dia tahu betul dan sangat sadar diri siapa calon istrinya. Akan tidak mungkin seorang putri pemilik perusahaan besar itu akan hidup pas-pasan.


Walau Mikhail sudah pernah mengatakan finansial Yudha sama sekali tidak masalah, tapi Yudha tidak ingin memanfaatkan kebaikan orang tua Lengkara. Secara singkat, dia merasa belum mampu, itu saja.


"Ays ... aku semakin tidak fokus, kamarnya di sebelah lagi," gumam Yudha mengusap kasar wajahnya, pria itu tersenyum simpul ketika mengingat bagaimana manisnya Lengkara malam ini.


Niat hati membaca email dari pengacara yang baru sempat dia buka malam ini, mendadak tertunda kala otaknya justru tertuju pada Lengkara, sang kekasih.


Malam ini terlalu sunyi, kamar yang Sean sediakan terlalu besar dan suasana ini sangat mendukung seorang Yudha untuk berkhayal.

__ADS_1


"Hai." Suara seseorang dan sentuhan tangan di pundaknya membuat jantung Yudha seakan pindah posisi.


"Kya!! Pocoooooong ... hhmmpp!"


"Shhutt," desis Lengkara seraya menutup mulut Yudha yang memang kerap menjelma layaknya wanita di suatu kondisi.


"Bisa diam?" tanya Lengkara dengan mata yang mendelik tajam, susah payah dia menelusup masuk ke kamar Yudha dengan harapan tidak ketahuan, pria itu justru menjerit ketakutan.


Yudha mengangguk pelan, mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara apapun pasca Lengkara membekapnya persis seorang penculik. Dada Yudha naik turun lantaran kaget hingga keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya, memang dia agak lebay sedikit.


"Kaget ya?" Mata yang tadi mendelik kini berubah dengan senyum manis khasnya, senyum yang selalu berhasil membuat Yudha tergila-gila.


"Kagetlah, kamu mau apa ke sini?"


"Kangenlah, apalagi," ucapnya santai sekali, tanpa beban dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Kara ... keluarlah, Sayang. Kamu ingin aku benar-benar jadi perempuan setelah ini?"


Yang benar saja, Yudha juga pria normal walau Lengkara kerap memanggilnya generasi tulang lunak, jelas jiwanya berdebar melihat sang kekasih terbaring di hadapannya. Sadarkah Lengkara tingkahnya justru membahayakan Yudha andai Sean tahu? Sepertinya sadar, tapi dia menolak.


"Halah ancaman begitu doang takut, kak Sean mana berani motong burungmu."


Frontal sekali, matanya juga ikutan dan Yudha hanya membuang napas kasar. Tidak perlu diragukan bagaimana skill Sean, karena terbukti adiknya saja begini.

__ADS_1


"Aku serius, aku masih banyak pekerjaan ... sana kembali ke kamarmu, besok harus bangun pagi, 'kan?"


Yudha bukan tidak mau memanjakannya, bukan pula tidak mau memberikan waktu yang lebih untuk Lengkara. Hanya saja, belum waktunya.


"Masih tetap sibuk? Mas digaji berapa sebenarnya sampai selarut ini masih kerja?" tanya Lengkara bangun dan merubah posisinya duduk manis di hadapan Yudha.


"Bukan masalah itu ... tapi tanggung jawabku belum selesai, harusnya kukerjakan tadi siang, tapi baru sempat kubuka malam ini emailnya."


Sejak awal Yudha telah berjanji untuk membantu teman-teman Sean mendapat keadilan secepatnya. Dia hanya ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat saja, hingga akhir.


"Oh kerjanya cuma baca email malam ini?" tanya Lengkara yang masih tidak mengerti jika Yudha tengah mengusirnya secara halus.


"Hm, sama ada kerjaan lain sedi_"


"Aku temenin ya? Cuma duduk di samping kamu, aku tidak akan mengganggu ... janji."


Yudha terlihat bingung, tapi Lengkara yang menatapnya penuh harap membuat Yudha tidak tega pada akhirnya. Sesekali, toh hanya baca email dan perlu membalasnya, tidak perlu konsentrasi tinggi untuk melacak sesuatu atau lainnya.


"Janji tidak akan mengganggu? Kalau ganggu kuusir," ancam Yudha kemudian, Lengkara hanya tertawa pelan mendengar ancaman kekasihnya.


.


.

__ADS_1


- Edisi Lengkara ~ Yudha -


__ADS_2