
"Cih, bukankah perkataanku sudah cukup jelas? Ana ada dalam perlindunganku ... dia yang memintaku melindunginya, Irham," ucap Sean serius masih dengan tatapan tajamnya.
"Kau pikir aku tidak tahu siapa dirimu? Mana mungkin Ana meminta perlindungan dari orang-orang yang menghancurkan hidupnya."
"Oh iya? Lalu bagaimana dengan papamu? Bukankah yang sesungguhnya menghancurkan adalah dia?"
Irham terdiam, Sean benar-benar pandai menusuk hatinya jika sudah bicara. Namun, hendak membatah juga percuma, lagi pula tujuan Irham saat ini hanya ingin menemukan Ana. Dia merindukan adik serta keponakannya, itu saja.
"Apapun itu, izinkan aku bertemu dengannya, Sean ... hanya bertemu dan memastikan keadaanya, tidak lebih."
Sean tampak berpikir lebih dahulu, dia menatap Yudha kemudian hingga pria itu mengangguk. Mata itu tidak mungkin berbohong, Irham memang terlihat kacau seakan tidak berdaya sebenarnya.
"Baiklah, aku akan memberikan alamatnya padamu. Hanya bertemu, tidak untuk membawanya pergi, paham?"
Sean mengetikkan alamat yang Irham minta melalui ponsel Yudha, mana mau dia mengirimkan pesan pada Irham melalui nomor pribadinya. Setelah Irham membacanya, kening pria itu tampak berkerut dan dia mendongak menatap Sean.
"Bandung?"
"Hm, kenapa memangnya?"
Irham tampak bingung, sungguh rumit sekali. Jika tahu Ana di Bandung, dia tidak mungkin susah payah menghubungi teman dekatnya untuk meminjam uang beberapa hari lalu.
Kesal, malu dan bingung bercampur menjadi satu. Irham terdiam beberapa saat, Sean menyadari bagaimana Irham yang kini terlihat seperti orang bodoh.
"Ehem."
"Sean ... boleh aku minta tolong satu hal lagi?"
Tidak ada jalan lain selain ini, persetan hendak dianggap tidak tahu malu atau dianggap menjilat ludah sendiri. Irham akan meminta bantuan Sean untuk bisa kembali pulang ke Bandung, dia memang terlalu nekat dan tidak bisa berpikir panjang sebelum pergi.
__ADS_1
"Apa?"
"A-aku tidak punya uang untuk pulang ... bisakah aku meminjam uangmu lebih dulu? Suatu saat aku akan kembalikan."
Sean tidak segera menjawab pria itu benar-benar meminjam uang. Baru saja tadi pagi Sean melihat dompetnya, hati Sean sempat tersentil kala itu. Kini, Irham justru benar-benar mengakui bagaimana sulit dirinya.
Tidak ada waktu untuk jual mahal, semua memang nyata Sean berhasil mengubah dunia Irham dan keluarganya. Tidak ada lagi harta dan kekayaan yang bisa Irham banggakan, mungkin itu sebab kenapa Abrizam seolah enggan berhubungan baik seperti dahulu padanya.
"Aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar ... kau pasti paham, Sean, dan jika kau menganggapku tidak tahu diri atau semacamnya juga tidak masalah."
Terlihat sedang menjual kesedihan, tapi tidak sama sekali. Irham benar-benar berada di titik rendahnya, setelah Bramanto menerima akibat dari semua perbuatannya, Irham juga ikut menderita.
Bukan hanya teman, tapi juga keluarga baik dari pihak mama maupun papanya menghilang. Bahkan, ketika Irham meminta bantuan tiket pulang pergi, teman dekatnya tidak bersedia membantu sepenuhnya.
Ditambah lagi, gajinya sebagai pengajar di pondok pesantren memang dia tolak dari awal. Jelas hal itu membuat Irham benar-benar kesulitan, sikap sok demi mencari nama di hadapan Abrizam nyata membuat dirinya sengsara di masa depan.
"Tiket saja, selebihnya aku akan usaha sendiri jika sudah pulang."
"Tiga puluh ribu? Memalukan, kenapa cuma segini?"
Di pesawat dia sempat merasa iba dengan isi dompet Irham, tanpa dia duga jika uang tunai di dompetnya juga sama mengenaskan. Pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat, besar kemungkinan Irham mengetahui hal itu.
"Mana rekeningmu."
Sean berusaha mempertahankan wibawanya dengan meminta cara lain. Dia benar-benar lupa jika seluruh fasilitas Irham tidak dapat digunakan, padahal dia sendiri yang melakukannya.
"Tidak bisa digunakan, Sean."
"Ah iya ... sebentar, aku tidak pegang uang tunai."
__ADS_1
Pegang sebenarnya, tapi hanya tiga puluh ribu. Itu pun mungkin kembalian dari belanjaan Zalina yang ternyata tidak dia gelapkan, Sean menatap Yudha yang kini susah payah menahan tawa. Mungkin baginya lucu, tapi bagi Sean ini memalukan.
Secara kebetulan, bidadari dari lokasi syuting mengetuk pintu dan memerlihatkan tubuh seksinya. Mata Yudha bahkan membola, sampai tidak sadar yang dia lihat bukan Lengkara, melainkan Ameera.
"Kebetulan ada Dewi Fortuna," gumam Sean kala adiknya semakin dekat.
"Ameera!!" panggil Sean yang kemudian membuat Ameera membuang muka.
Seakan paham panggilan Sean yang hanya ada maunya. Dia melangkah cepat, tapi sayang kaki Sean terlalu panjang untuk dia hindari. Hingga, pemerasan itu kembali terjadi dan Ameera harus merelakan tasnya Sean periksa sebelum dia berhasil masuk kamar.
"Pinjam sebentar, nanti kakak kembalikan."
"Transfer sekarang ... 4 juta sama bunganya 25%," tutur Ameera menekuk wajahnya, dia juga bingung kenapa bisa Sean mendadak peduli pada musuh bebuyutannya itu.
"Gila 25% ... dosa, Ameera."
"Halah, kemarin Bony aku perbaiki pakai dana sendiri juga pada akhirnya. Kakak tidak bisa dipercaya, jadi bayar sekarang."
Terpaksa, lagi dan lagi dia melakukan semua ini demi Irham. Meski yang pria itu minta hanya tiket pulang, tapi Sean tidak setega itu karena paham betul bagaimana rasanya hidup yang tadinya mewah tiba-tiba nelangsa.
"Iya-iya, sudah sana masuk."
"Kakak bantuin ustadz jadi-jadian itu ya? Dia jahat banget loh ... jangan buta deh."
"Menjadi jahat adalah pilihan, kita tidak perlu melakukan hal yang sama ... karena jika kita juga begitu, maka kita tidak ada bedanya seperti mereka."
Sean benar-benar berubah setelah jatuh dalam pelukan Zalina, bukan hanya Ameera, tapi seluruh anggota keluarganya paham akan hal ini. "Oh iya, perbaiki pakaianmu ... kau sudah dewasa dan jangan membuat dosa papa semakin menumpuk ... adikku ini lebih cantik jika tertutup," ucap Sean menepuk puncak kepalanya sebelum berlalu pergi.
.
__ADS_1
.
- To be Continue -