Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 128 - Diagnosa dr. Sean


__ADS_3

Sean tidak perlu banyak berpikir, meski jantungnya seakan hampir copot akibat ketahuan mertuanya ketika mengumpat begitu kasar pada adik sepupunya. Sama sekali Zalina tidak mengetahui kemana suaminya pergi, yang jelas Sean pergi karena sang istri yang merasa terganggu dengan kehadirannya.


Pria itu tidak ingin membuang waktu, dia segera kembali setelah mendapatkan apa yang dia mau. Meski sadar besar kemungkinan Zalina akan tetap kembali menolaknya, Sean sama sekali tidak peduli. Namun, dia tetap membawa sogokan berupa jus alpukat yang mungkin saja akan membuat Zalina sedikit lebih baik.


"Mas bawa apa? Alpukat ya?" tanya Zalina berbinar, dia yang sejak tadi berbaring sontak terbangun kala Sean masuk.


Firasat Sean memang tidak pernah salah, raut wajah Zalina sedikit lebih baik kala melihat jus alpukat yang dia bawakan. Bahkan, sang istri tidak protes kala Sean jikut duduk di sampingnya, tapi tetap saja harus berjarak.


"Iya, minumlah."


Sean menghela napas perlahan, senyumnya tertarik begitu tipis menyaksikan Zalina yang menggoyangkan tubuhnya sembari menikmati jus alpukat itu. Jika dia tahu obatnya alpukat, Sean rela meski dia sedikit mual.


"Mas beli dimana?"


"Hm dekat rumah kita, enak?" tanya Sean susah payah menahan tangannya karena ingin sekali mengelus puncak kepalanya.


"Enak, manisnya pas aku suka yang begini ... besok beli lagi ya, Mas."


Kalimatnya setiap kali memuji makanan atau minuman selalu sama. Hal itu yang sama sekali tidak dapat Sean lupakan dari sang istri, Zalina memang begitu melekat dengan tingkah lucunya sebagai seorang wanita dewasa.


"Tentu saja, apapun yang kamu minta."


Pria itu menghempaskan tubuhnya, dengan posisi seperti ini Sean dapat memandangi punggung sang istri begitu jelas. Meski begitu tertutup, tapi di mata Sean sang istri seksi dalam segala keadaan.


Dia memang hanya terdiam, tapi pikirannya menjalar kemana-mana. Terlebih lagi mengingat kemungkinan terbesar penyebab istrinya begitu berbeda kali ini.


"Mas ... itu yang di kantong putih apa? Coklat bukan?" tanya Zalina menunjuk kantong plastik berwarna putih di sisi Sean, sejak tadi yang dia lihat memang hanya alpukat saja sepertinya.

__ADS_1


"Kamu mau?"


Zalina yang mengira jika benda itu benar-benar coklat jelas saja mengangguk. Melihat sang istri tampak penasaran, Sean memberikan barang yang paling utama itu ke arahnya.


"Mas?"


Ekspresi Zalina sama sekali tidak terbaca. Antara terkejut, bingung dan ingin marah karena isinya berbeda juga menyeruak dalam dirinya. Namun, secepat mungkin Sean bangkit dan menjelaskan maksudnya.


"Mas tidak mengerti ... tapi besok pagi coba kamu pastikan, mas merasa kamu aneh akhir-akhir ini, Na."


"Apa iya aku aneh?"


Sejak awal Sean pulang sebenarnya Zalina memang aneh. Meski tidak segila sekarang yang tergila-gila pada alpukat dan juga memaksakan kehendak, sang istri sedikit lebih manja dan Sean jelas saja merasakannya.


"Hm, aneh sekali ... dulu sewaktu hamil apa kamu tidak begini?"


Zalina terdiam sejenak, apa mungkin dia benar-benar hamil lagi? Tapi kenapa bisa secepat ini? Bukankah mereka baru melakukan hubungan itu dua kali selama Sean bebas? Itu pun ketika sudah berada di Bandung, tepatnya dua hari lalu.


"Mas jangan bercanda, lagi pula aku aneh dimananya? Kan cuma minta jus alpukat, alpukat kocok sama apa yang aku min_"


"Minta duluan, merayuku dan lainnya itu bukan kamu sama sekali," sahut Sean singkat dan berhasil membuat Zalina merah padam.


"Jangan keras-keras, nanti Abi dengar gimana, Mas?"


"Abi tidak jahil, mana mungkin mereka menguping pembicaraan kita, Sayang."


Hingga detik ini, Zalina masih tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Seketika dia meletakkan jus alpukat itu di atas nakas dan berusaha untuk tidak tergiur lagi.

__ADS_1


"Jadi menurut mas aku benar-benar hamil?"


Sean mengangguk, rasanya dia tidak perlu dokter lagi dalam kasus ini. Semua yang terjadi sudah sangat jelas, dan menurut diagnosa Sean istrinya memang tengah berbadan dua. Bisa dia simpulkan, istrinya yang sedikit berbeda akhir-akhir ini adalah puncak ngidamnya.


"Tapi kita bikinnya kapan, Mas?" tanya Zalina gusar, dia bahkan mengusap kasar wajahnya.


"Dua bulan lalu mungkin," jawab Sean sesantai itu, berbeda dengan Zalina yang mendadak tersedak ludah hingga batuk dan wajahnya memerah.


"Dua bulan lalu? Kita melakukan itu ya, Mas?" tanya Zalina yang pada akhirnya mendekat dengan sendirinya, padahal sejak tadi dia selalu menolak kehadiran Sean.


"Hm, kamu lupa?"


Harusnya Zalina tidak perlu malu, tapi entah kenapa ketika Sean yang bicara dia masih salah tingkah bahkan menatap matanya saja tidak berani. Bagi Sean hal semacam ini adalah kabar paling membahagiakan meski hanya baru dugaan, tapi bagi ZalinaTidak.


Air mata wanita itu menetes seketika, bukan tangis bahagia tapi dia tampak bingung hingga menghambur ke pelukan Sean dengan tangis yang benar-benar tidak dapat dia tahan.


"Mana mungkin, Mas ... a-aku haid saja tidak lancar bahkan dua bul_ benar aku sudah lama terlambat, tapi kenapa tidak sadar."


"Mana mungkin gimana? Kamu punya suami jadi kalau hamil ya wajar saja, Zalina."


"Tapi apa kata orang nan_"


"Shuut, kenapa peduli dengan kata orang? Yang menjalani kita, Zalina ... selagi mas percaya kamu mengandung anak kita tidak masalah."


Melihat perubahan Zalina yang memang seolah bukan dirinya jelas membuat Sean semakin yakin saja. Sejak dahulu dia tahu, istrinya tidak selemah ini, tapi ketika menjelaskan ketakukannya akan menjadi gunjingan orang Zalina kehilangan dirinya.


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2