
Sean memang tidak pintar secara akademis, tidak juga begitu mengerti tentang bisnis layaknya Zean, saudara kembarnya. Kendati demikian, gen Mikhail tampaknya benar-benar menurun pada Sean tanpa sisa.
Termasuk pola pikir dan sikap tidak mau rugi yang melekat dalam diri Mikhail. 2.8 M bukan jumlah yang teramat besar bagi Sean, jika itu untuk Zalina. Namun, untuk Ayuna bagaimana? Seperak pun dia enggan dan berpikir ribuan kali.
Beberapa kali Zalina kerap menasihatinya untuk jangan menjadi pembohong. Akan tetapi, seorang Sean memang tidak bisa lepas dari itu. Kalau kata Mikhail, putranya cerdik dan jalan pikiran Sean memang tidak bisa ditebak sekalipun oleh orang-orang terdekat.
Mengetahui Abrizam terlilit hutang awalnya dia memang terkejut. Namun, ketika Zalina menyebutkan nama Subagio perasaannya seketika menjadi lebih tenang. Demi membuat Zalina yakin saja dia seolah ikutan sakit kepala.
Jika zalina kini tengah berpikir Sean tengah menyiapkan uang untuk diberikan pada abrizam, jelas saja dia salah. Tujuan utamanya ialah mendatangi kediaman Subagio secara langsung, lintah darat yang dikenal penghisap darah mangsanya, tapi bagi Sean pria itu adalah sosok yang kerap menampungnya sewaktu kuliah.
"Om."
Sudah lama mereka tidak bertemu, pria paruh baya yang sedikit lebih muda dari papanya itu perlu waktu untuk mengenali Sean. Terlebih lagi, sejak sembilan tahun lalu Sean memang tidak pernah lagi datang ke kediamannya.
"Familiar ... siapa ya?" tanya pria dengan perut buncit dan kacamata yang bertengger di hidungnya itu.
"Andre, Om."
"Ah Tama rupanya?!"
Sean mengangguk pelan, memang ayah dari salah satu teman dekatnya ini agak sulit mengingat nama Sean. Menurut Subagio, lidahnya tidak terbiasa untuk menyebut nama Sean, begitupun dengan Andre.
"Iya, Om, syukurlah masih ingat."
"Om ingat tentu saja, tapi mata om semakin parah jadi begini ... ayo masuklah, tapi Vikram belum pulang dari Jepang tidak masalah, 'kan?" tanya Subagio pada teman baik putranya itu. Dari penampilan terlihat sangat berbeda dan itulah yang membuat Subagio sedikit bingung kala Sean menyapanya.
"Tidak masalah, Om. Kebetulan saya memang ingin bertemu dengan Om Gio."
"Sama Om?"
"Hm, apa Om ada waktu?"
__ADS_1
"Wah tentu saja, ayo masuk dulu ... di sini om sendirian, semenjak kepergian ibunya Vikram benar-benar tidak mau pulang dan ya om hidup dalam kesepian begini," tutur Subagio merangkul pundak Sean.
Setelah kemarin Abrizam yang curhat, kini Subagio dan sejenak membuat Sean tersenyum kaku. Jika masih muda dia bisa saja menguatkan dengan kalimat-kalimat sederhana, tapi jika sudah tua begini jelas saja dia khawatir salah bicara.
Belum lagi, para bodyguard yang menjaganya benar-benar menakutkan. Khawatir saja jika Sean pulang dalam keadaan babak belur, agaknya ilmu bela diri yang Sean miliki akan tetap kalah dengan kekuasaan bola-bola dengan duri dari besi itu.
Setelah cukup lama, dia kembali ke rumah ini. Rumah yang menjadi saksi awal mula kenakalan serius Sean. Sayang sekali badjingan menyebalkan itu tidak ada di sini. Jika saja ada, mungkin Sean akan menghantamnya dengan bogem mentah karena benar-benar menghilang dari kehidupannya.
Sejenak Sean melupakan tentang sahabatnya itu, dia kembali fokus dengan tujuan utamanya. Yakni meminta sertifikat rumah Abrizam yang sudah disalahgunakan oleh Ayuna. Sean akan menukarnya dengan uang? Tentu saja tidak.
Pria itu sama sekali tidak punya cita-cita mengeluarkan uang seperpun untuk Ayunda. Sejak awal dia sudah bertekat untuk menyelesaikan masalah ini dengan caranya. Dengan kata lain, masalah Abrizam bisa dipastikan tuntas, tapi tidak dengan Ayunda.
Tidak begitu sulit bagi Sean merayu Subagio, dia hanya bicara apa adanya. Subagio yang memang mengenal baik siapa keluarga Sean, jelas tidak banyak bicara dan menuruti keinginan Sean.
"Dasar anak muda zaman sekarang ... padahal ngakunya belum punya suami, dia bilang sertifikat itu punya kakaknya."
Sean terbahak mendengar alasan Subagio yang mengira jika Ayunda masih perawan. Sudah Sean duga tentu ada alasan kenapa bunganya menjadi sebesar itu, ternyata benar pernyataan Vikram tentang ayahnya yang bisa disebut sebagai bandar wanita.
"Heh!! Om bakar mulutmu," ujar Subagio mengarahkan rokok yang masih menyala itu ke mulut Sean.
Seketika pria itu menunduk dan menepuk bibirnya, benar-benar lupa suasana hingga berakhir mendapat omelan pria paruh baya itu. Bukti iman Sean masih menyesuaikan tempat, dia masih bicara asal-asalan pada Subagio.
"Om ... Ikhlas sertifikatnya saya ambil?"
"Ambil saja, untuk apa aku sertifikat itu, Tama. Kupikir dia perawan, tahu begitu untuk apa aku meminjamkan uang padanya."
"Om tidak berniat menjadikan dia istri saja? Kan rumah om sepi ... televisi juga tidak ada, apa tidak bosan, Om?"
"Halah, enak di dia rugi di om!! Kalau tiba-tiba mati dia yang dapat warisannya kan rugi ... sudah pulanglah, hutang wanita itu biarkan dia yang menyelesaikannya."
Sesuai harapan, memang ini yang Sean mau agar wanita itu jera. Yang dia lakukan tidak berbeda dengan mencuri dan jelas saja salah. Misi penyelamatan harta Abrizam berhasil, semudah itu dan Sean hanya menghela napas lega.
__ADS_1
Sean berpamitan setelah tidak urusannya selesai. Namun, langkah pria itu terhenti kala Subagio berteriak memanggil namanya. Padahal, sudah hampir masuk mobil dan jelas saja hal itu membuat Sean ketar-ketir.
"Astaga, apa om Gio berubah pikiran?"
"Ada apa, Om?"
"Kemarin om baru beli durian banyak sekali, bawalah beberapa, seingat om kau sangat suka."
"Bo-boleh, Om, kebetulan saya sudah lama tidak makan durian."
"Sebentar, Jono!! Ambilkan durian untuk tamuku."
"Berapa banyak, Tuan?"
"Ya kira-kira dua lah."
"Aih, masa cuma dua mana cukup kan mas Agam pasti mau juga."
"Dua buah, Tuan?" tanya Jono memastikan, takut saja jika salah.
"Dua karung, Jon mana cukup kalau hanya dua buah," tutur Subagio memerintahkan anak buahnya, seketika Sean menganga dengan mata yang kini membola.
.
.
- To Be Continued -
Thor kok namanya jadi berubah? Buat yang lupa nama Sean is Sean Andreatama. Jadi boleh dipanggil Andre, Tama atau kalau authornya manggil Sayang sih.
__ADS_1