
Benar, jika Zalina menyebut adik sudah tentu termasuk Zean. Selain itu, memang nyata selama Sean di penjara memang Zalina terbiasa pergi beramai-ramai, mungkin saja dia memiliki rencana yang sama. Namun, untuk kali ini agaknya Sean merasa sangat keberatan jika makhluk bernama Zean itu ikut.
"Dulu pas hamil pertama, aku pernah ikut jalan-jalan sewaktu pulang dari ulang anniversary om Syakil ... Syila sama Zean terlihat manis sekali, Zean gandeng tangan Syila sambil gendong Hudzai."
Mata Zalina mengembun seketika, dia tersenyum getir di hadapan Sean mengingat betapa hancurnya dia kala itu. Bagaimana tidak, menyaksikan pria yang sama persis seperti suaminya di depan mata di saat kerinduan tengah menyiksa bukanlah hal mudah.
Zalina tidak pernah menceritakan hal ini pada Sean sebelumnya, bahkan tidak ada yang tahu betapa sulit Zalina menahan air mata agar tidak tumpah melihat betapa sempurnanya hidup Nasyila. Dia tidak iri, hanya sedikit merasa teriris saja waktu itu.
"Tapi aku tidak sendirian, Mas, ada Habil dan Iqlima yang menemaniku waktu itu," tambahnya sebelum kemudian mengulas senyum hangat.
"Maaf, Na ... seharusnya mas mendengarkan kak Evan dulu."
Sean mengerti maksud istrinya, dia tengah membahas tentang waktu yang tidak bisa Sean penuhi. Zalina hanya ingin merasakan jua yang dia lihat selama bertahun-tahun di kala penantiannya.
"Dulu aku pernah membayangkan, kalau kita berempat lengkap pasti semakin manis ... iya, 'kan?"
"Berempat?"
"Iya, Syila juga pernah punya rencana kita double date kalau mas sudah bebas ... dan kemarin Syila sempat tanya soal itu lagi, kenapa tidak sekalian saja, Mas?"
__ADS_1
Malas sebenarnya, Sean pernah double date sewaktu mengenalkan Zean soal cinta ketika SMA. Namun, bukannya seru yang ada Sean naik darah lantaran Zean justru tidak bisa lepas dari keteknya.
Saat ini memang keadaannya sudah berbeda pria itu tidak lagi cupu, bahkan sampai dua kali menikah. Namun, mengingat lokasi yang Zalina tentukan adalah pasar malam, agaknya Sean harus berpikir berkali-kali.
Bukan tanpa alasan, pasar malam juga merupakan tempat yang membekas dalam ingatannya tentang Zean. Sama seperti soal cinta, Sean juga pernah mengajak adik kembarnya untuk merasakan pergaulan yang berbeda.
Tapi ternyata makhluk cupu itu benar-benar menyebalkan dan menangis sejadi-jadinya karena Sean ajak memasuki rumah hantu. Berdalih uji nyali dan menunjukkan jika mereka memang laki-laki, Sean justru merasakan telinganya panas luar biasa akibat Zean mengadu ketika di rumah.
"Mas boleh tidak? Kalau tidak juga tidak masalah, Mas ... asal jangan batal saja," tutur Zalina lantaran lelah menunggu jawaban Sean, padahal dia sangat-sangat berharap ucapan Syila waktu itu tidak hanya sebatas angan.
"*Tunggu-tunggu, tapi bukankah ini kesempatan yang baik? Gara-gara mulut bocornya Zalina mendadak ingin naik bianglala dan membahas soal rinjani, lagi pula aku sudah lama tidak membuatnya menangis ... hm menarik, b*iang kerok satu itu perlu diberi pelajaran."
"Okay deal!! Dengan syarat ada ruang untuk kita benar-benar berdua ... aku tidak mau jika sepanjang waktu selalu berempat dan pamer kemesraan."
Sean tidak mau, karena memang dia tidak seterbuka Zean yang mampu mencium istri di depan umum. Selain itu, dia juga geli jika nanti menjadi pusat perhatian orang-orang karena mereka yang begitu sulit dibedakan.
"Iya, Mas."
"Kedua, jangan coba-coba membuat mas terlihat kembar dengannya seperti waktu itu ... mas tidak suka, Na, sungguh."
__ADS_1
Banyak sekali persyaratannya, padahal Zalina sama sekali tidak memiliki pikiran untuk membuat mereka terlihat kembar sebagaimana yang Zia lakukan setelah Sean bebas. Mendengar persyaratan sang suami, Zalina hanya mengangguk pelan karena menurutnya jika Sean sudah bicara setegas itu artinya sudah mutlak dan tidak dapat dibantah.
Zalina menyetujui permintaan Sean, sama halnya seperti anak kecil yang mendengar kabar bahagia dari ayahnya, Zalina meraih ponsel dan menghubungi Syila segera. Semudah itu dia terseyum, Sean hanya memandanginya dari kejauhan.
Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas Sean merasa sudah melebar. Ya memang begitu fitrah seorang wanita, terlahir dengan kemampuan bicara yang lebih banyak dari pria.
"Mas mau kemana?"
Seingat Sean sang istri masih sibuk berbincang bersama adik iparnya, lantas kenapa bisa sadar jika dia hendak berlalu keluar, pikir Sean. "Lihat anak-anak," jawab Sean singkat yang kemudian Zalina angguki seketika.
Alasan Zalina ingin mengajak adik-adiknya turut serta terjawab sudah. Nyatanya, sang istri semata-mata hanya ingin menebus kerinduan yang belum tuntas selama dua tahun kepergiannya.
"Aku akan membayar semua waktu yang kita lewatkan, Na ... untukmu dan juga anak-anak kita," gumam Sean pelan sembari memandangi Zalina dari celah pintu yang belum dia tutup sempurna.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1
Yang menunggu Extra Part di Zean sudah aku up ya, itu dua bonus terakhir dan sudah aku tuntaskan semua. Next time bonus di Renaga-_