Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
61. Kedatangan kakak sepupu


__ADS_3

Aaron berjalan menuju lift di ikuti pak Chow di belakangnya.


Sesampai di depan ruangan,pak Chow berlari mendahului Aaron untuk membukakan pintu.


Setelah duduk Aaron memencet tombol telepon yang ada di mejanya.


"Fredy kemarilah."


"Baik tuan muda."


Fredy memasuki ruangan Aaron,sesampai di sana Aaron sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


"Baik ayah, aku akan segera mengirimkan lewat email."


"Iya baik." Aaron menutup telponnya.


"Fredy segera kau urus siapa saja tamu yang akan kita undang,setelah itu kirim pada ayah mertuaku."


"Jangan masukkan Leon untuk daftar keamanan."


"Taruh dia di ruang kamera."


"Aku yakin keluarga istriku mengundang keluarga Alves."


"Baik tuan muda."


"Ah saya hampir lupa,tuan muda,tuan Zain Ernest dari kota Mvile sudah datang ke kantor tadi pagi."


"Apakah anda ingin bertemu dengannya?"


"Setelah makan siang suruh dia untuk menemuiku."


"Baik tuan muda."


Setelah itu Fredy meninggalkan ruangan Aaron.


***


Di perusahaan Alveshine...


"Hallo pa,aku sudah membereskan proyek Beach Phelps,semua berjalan sesuai rencana."


"Bagus."


"Papa harap kamu tidak melakukan kesalahan,karna proyek ini berhubungan dengan Aaron."


"Lista mengerti pa."


"Papa tenang aja,Calista udah menempatkan Lucy di perusahaan Aaron."


"Apa kau sebodoh itu??"


"Kamu pikir Aaron tidak mengetahui."


"Papa akan mengirim kakak mu untuk membantumu di sana."


"Aaron bukan orang yang bisa di remehkan,apalagi sekarang dia adalah menantu dari keluarga Rassam."


"Kau harus tau keluarga Rassam tidak bisa sembarangan kita sentuh."


"Maksud papa Aaron udah nikah?"


"Papa peringatkan kamu Lista,papa tau kamu melakukan sesuatu di belakang papa,untuk saat ini keluarga kita harus berhati hati."


"Belum saatnya kita bertindak."


"Baik pa." Ucap Calista pelan sambil mengepalkan tangannya menahan kemarahan.


"S**lan..."


"Aaargh.. " Calista berteriak dan meletakkan ponselnya dengan keras di atas mejanya.


"Silvia datang ke ruanganku."Perintah Calista lewat telpon yang di atas meja.


Segera asisten Calista datang ke ruangan Calista.


"Silvia kau cari tau tentang keluarga Rassam,terutama putri dari keluarga Rassam."


"Baik Nona."


Silvia segera keluar dari ruangan Calista setelah mendapat perintah.


"Aargh aku terlalu bodoh menganggap Aaron seperti pria lainnya,ku pikir dia akan tetap mau menikahiku walau aku bermain dengan pria lain."


"Bahkan aku sudah berusaha menggodanya pun,namun tetap tak dapat menaklukan Aaron."

__ADS_1


"Baik aku akan buktikan wanita yang kau pilih,sama sepertiku."


***


"Hatcuuh."


"Sayang kau sakit?" Tanya mama Sora.


"Enggak ma,tiba tiba hidungku terasa gatal." Ucap Sora sambil mengusap usap hidupnya dan memencetnya.


"Bi kana,tolong buatkan teh hangat untuk Sora."


"Baik nyonya."


"Ma aku gak papa."


"Tadi hidungku hanya gatal."


"Sayang,nurut sama mama deh."


"Beberapa hari lagi pesta pernikahanmu,kau harus jaga diri,apalagi kau saat ini sedang hamil.


"Iya ma,terserah mama aja deh."


Sora melanjutkan membaca buku novel favoritnya.


Sedangkan mamanya merangkai bunga yang baru saja di petik dari rumah kaca.


Mereka berdua duduk di teras samping rumah.


Sebuah mobil berjalan memasuki sekitaran kediaman keluarga Rassam,mobil itu terlihat dari samping teras rumah utama,membuat Sora dan mamanya bertanya tanya,siapa yang datang berkunjung,karna keluarga mereka jarang kedatangan seorang tamu.


"Hallo tante." Ucap seorang pemuda dengan penampilan yang terlihat ramah dan mempesona.


"Thian?"


"Kapan kau sampai?" Ucap Olivia sambil memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Tian,begitu juga dengan Sora.


"Kak Thian."


"Kami rindu kak Thian."


"Setelah paman dan kak Thian pindah ke negara M,aku kesepian." Ucap Sora.


Thian hanya tersenyum mendengar perkataan Sora.


Sora mengeluarkan isi dalam bag paper itu ternyata berisi sebuah mantel berwarna merah maroon,warna favorit Sora selain warna ungu.


Sedangkan Olivia mendapat sebuah kalung berlian yang berasal dari negara M.


"Kau ini kenapa repot repot bawa oleh oleh buat kami." Ucap olivia.


Thian hanya tersenyum,dia merasa bahagia bisa membawakan oleh oleh untuk keluarga di sini.


"Oiya tan ini untuk paman dan kakek."


"Makasih ya Thian." Ucap Olivia.


"Tante gak usah berterimakasih,Thian yang harusnya ngucapin makasih ama tante."


Olivia tersenyum mendengarnya.


"Kak Thian ke sini ama siapa?" Tanya Sora.


"Ama papa."


"Tapi papa gak bisa mampir ke sini,papa harus bertemu dengan koleganya dulu."


"Bi kana!" Olivia memanggil sedikit berteriak.


"Iya nyonya?"


"Kau ambilkan minuman untuk Thian."


"Baik nyonya."


"Kak Thian akan tinggal di sini berapa hari?"


"Setelah pesta pernikahanmu selesai." Jawab Thian.


"Kenapa papa mu tidak mengabari kami kalau akan datang hari ini." Tanya Olivia.


"Kalau Thian bilang namanya bukan surprise dong tan."


"Hahaha oke,tante sungguh terkejut."

__ADS_1


Thian memandang Sora dengan dalam dan membelai rambut Sora dengan lembut.


"Tenyata kamu sekarang udah gede ya,dan sekarang udah mau nikah."


Sora tersenyum dan menunduk dengan malu.


"Kamu juga akan mendapat keponakan Thian." Terang Olivia.


"What!!"


Thian kaget mendengarnya.


"Kamu hamil duluan?"


"Kak Thian apaan sih,gak kayak gitu."


"Aku ama Aaron udah nikah,pesta yang akan datang itu hanya pergelarannya,untuk memberitahukan semua orang kalau putri keluarga Rassam udah nikah."


"Fiuh,untunglah."


"Ku pikir kamu bergaul terlalu bebas."


"Apaan sih." Sora memukul Thian yang berada di samping Sora.


Olivia yang melihat hanya bisa geleng geleng dengan perilaku mereka.


"Thian selama di kota ini kau akan tinggal di sini kan?"


"Iya tante,Thian kangen dengan rumah ini."


"Baiklah,tante akan persiapkan kamar untukmu dan papa mu."


Olivia berdiri meninggalkan mereka berdua.


"Sora aku ingin bertemu dengan calon suamimu." Ucap Thian.


"Bukan calon suami kak,dia udah jadi suamiku."


"Oh."


"Trus dia di mana?"


"Sedang kerjalah." Jawab Sora.


"Kenalin dong,kakak ingin tau seperti apa suamimu."


"Pasti."


"Kak gimana kalau kita keluar malam ini,sudah lama kita tidak bersenang senang bersama."


"Takk."


Suara jari Thian menjitak dahi Sora.


"Aduh."


"Sakit."


"Apaan sih kakak ini sama aja seperti Aaron."


"Kamu kan sedang hamil."


"Bisa bisanya kamu mengajak kakak bersenang senang seperti itu."


"Kamu tau kan kakek,apa kamu gak mikirin masa depan kakak."


"Baik kalau kakak gak mau,sebagai gantinya kakak temani aku berbelanja,karna sebagian bajuku sudah gak muat aku ingin membeli beberapa baju."


"Apa suamimu tak bisa menemanimu."


"Akhir akhir ini dia sibuk dengan pekerjaannya."


"Sesibuk itukah?"


"Mm kakak dengar kau selalu menolak semua pria yang di jodohkan oleh kakek untukmu ya?"


"Kakak penasaran siapa pria yang menaklukan hati adikku." Ucap Thian sambil merangkul Sora.


"Sora yakin kakak akan terpesona olehnya." Ucap Sora sambil tersenyum.


Sejak kecil Sora dekat dengan Thian,Thian adalah kakak sepupu Sora.


Dia adalah putra dari paman Sora,adik dari mamanya,anak bungsu keluarga Rassam.


Pamannya memiliki perusahaan di bidang entertainment,baik majalah,agensi,perfilman,semua di kuasai oleh pamannya,bahkan majalah XXX yang dulu pernah memotretnya adalah milik pamannya.

__ADS_1


Sejak kecil Thian di asuh oleh kakek dan orang tua Sora,namun setelah ibunya meninggal karena sakit,Thian memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya di negara M,Thian berumur tiga belas tahun saat meninggalkan negara A.


__ADS_2