Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 144 - Tokoh Utama Dalam Kisahnya


__ADS_3

Sean menatap bingung ke arah Agam yang berdiri di sampingnya. Dia tidak salah dengar, dengan jelas Agam menyebut nama Leona, bukan Nana seperti panggilan istri dan mertuanya.


Namun, Agam tidak menjawab pertanyaan Sean dan memilih pergi menuntun istrinya segera. Hingga kembali ke rumah duka Sean juga masih di selimuti berbagai pertanyaan. Hendak menuntut penjelasan, Sean juga tidak memiliki keberanian, terlebih lagi akhir-akhir ini Zalina sensitifnya luar biasa.


"Sampai akhir dia selalu membuatku bertanya ... apa maumu, Leona."


Dulu Sean dibuat bertanya dengan keputusan yang dibuatnya. Mengakhiri hubungan tiba-tiba sementara Sean tidak tahu dimana salahnya. Tidak hanya itu, Leona benar-benar menghilang setelah hari itu. Padahal, hanya demi mendapatkan Leona, Sean bahkan menyakiti saudara kembarnya tanpa dia duga.


Pria itu masih bergeming dan tenggelam dalam pikirannya. Sembari menunggu sang istri mendekat, Sean memilih menyendiri di teras depan. Bukan karena dia anti sosial, tapi kepala Sean memang pusing saat ini.


"Sean."


"Iya, Mas?"


Agam kembali dengan senyum teduhnya, pria itu duduk di sisi Sean yang tampak gusar dalam diamnya. Mungkin kedatangan Agam bermaksud untuk menjawab semua pertanyaan Sean.


"Sebelumnya aku ingin berterima kasih, mewakili istriku sebagai kakak Leona karena kau pernah menjaga Nana dengan baik ... sejak awal aku sudah menduga ada kebaikan di dalam hatimu, dan setelah mendengar cerita Leona aku semakin yakin kau memang pria yang baik, Sean."


Sean tidak bereaksi apa-apa, dia mendengar ungkapan Agam dengan seksama. Kebaikan apa yang Leona maksud? Sean merasa semuanya normal-normal saja, jika hanya soal menjaga bukankah sudah sewajarnya.


"Cerita? Cerita yang bagaimana, Mas?" tanya Sean was-was, khawatir saja jika wanita itu justru bicara yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Kau adalah laki-laki yang berhasil membuat Leona menyadari tujuan hidupnya sebagai seorang hamba ... usiamu belum terlalu dewasa, tapi begitu menjaga kehormatannya dan Leona mengatakan jika hanya bersamamu dia tidak merasa sendirian."


Dalam kisah Leona, Sean adalah pemeran utamanya. Ya, meski pada akhirnya Sean ditinggal begitu saja, tapi memang dia sempat menjaga Leona tanpa berniat merusaknya sama sekali.


"Oh iya, kau pasti ingin tahu kenapa dia meninggalkanmu bukan?" tebak Agam menatap Sean seketika.


"I-iya, sedikit," jawab Sean singkat.


Dulu mungkin iya, bukan hanya ingin tahu, tapi dia hampir gila dengan kepergian Leona. Bisa dikatakan salah-satu penyebab pandangan Sean terhadap wanita berubah adalah Leona. Sejak wanita itu pergi dari hidupnya, Sean tidak pernah serius dalam menjalin hubungan.


Tidak jarang dia lupa nama pacarnya sendiri, karena terkadang baru berkenalan tadi siang malam harinya dia pacari. Dia buruk sekali, tapi di cerita Leona dia seolah malaikat dengan segala kesempurnaannya.


"Sederhana sebenarnya, Leona menyadari bahwa hubungan kalian salah dan memutuskan untuk ikut Latifah ke Cairo agar bisa memperbaiki dirinya ... dan kau adalah orang yang membuatnya bertekat sesuci itu."


"Dia sempat memberikan surat ini sebulan lalu sewaktu di rumah sakit ... bacalah, Sean."


"Aku tidak mau," tolak Sean khawatir jika selembar kertas itu akan menjadi masalah.


"Aku hanya menyampaikan amanah, Zalina sudah cukup dewasa dan mengenal Nana dengan sangat baik."


Agam tetap memaksa Sean menerima selembar kertas yang Leona tulis dengan tangan bergetar satu bulan lalu. Saat dimana dia semakin parah dengan tumor otak yang dia derita hingga membuatnya memilih kembali pulang ke Indonesia dengan alasan ingin menghembuskan napas terakhir di tanah kelahirannya.

__ADS_1


"Mas tidak tahu saja Zalina bagaimana? Perkara mimpi saja bisa marah apalagi surat seperti ini."


"Tidak, Sean ... Zalina tidak akan cemburu pada seseorang yang pernah menjaganya seperti kakak sendiri."


Setelah menyerahkan surat itu, Agam berlalu pergi meninggalkan Sean yang kini tampak bingung harus melakukan apa.


"Untukku?"


Pada akhirnya Sean membaca surat itu pelan-pelan, sedikit khawatir Zalina muncul tiba-tiba sebenarnya. Jantung Sean bergemuruh, baru di kalimat pertama dia sudah merasa jika Leona memata-matainya sejak dua tahun lalu.


Assalamualaikum, Sean ... lama tidak bertemu, dan sepertinya tidak akan pernah bertemu. Mungkin kamu bingung kenapa dulu aku pergi, tapi percayalah tidak ada sedikitpun niat untuk menyakiti. Waktu itu hatiku tergerak ketika membaca kisah Zulaikha yang mengejar cinta Yusuf, untuk itu aku memilih pergi dan mengejar cinta Sang Khalik dengan harapan nantinya kita akan kembali dipertemukan dengan versi yang lebih baik.


Meskipun begitu, aku tidak mengapa andai Tuhan tidak menjadikan kita berjodoh di masa depan. Tapi yang pasti, aku selalu meminta agar Tuhan memberikan yang terbaik untukmu. Hingga akhirnya, Tuhan benar-benar menjawab doaku dua tahun lalu. Mbak Latifah menyampaikan kabar buruk, Zalina, adikku yang cantik gagal dalam pernikahannya. Namun, setelah aku tahu kamu yang menjadi pengganti Irham, aku bersyukur walau awalnya memang hancur.


Aku tidak memiliki keberanian untuk menyapamu, tapi melalui pesan ini aku ingin meminta maaf atas kesalahanku di masa lalu. Sampaikan juga maafku pada Zean, semoga kalian tidak selalu bertengkar lagi. Satu lagi, Sean, jaga baik-baik adikku Zalina ... dia adalah cinta terakhir yang akan mendampingimu hingga menuju surganya Allah. ~ Leona Anandhita.


"Waalaikummussalam, cinta pertamanya mas Sean."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2