Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Emosi.


__ADS_3

20.30


Rafka baru saja selesai makan di suapi Umi nya. Tampak wajah laki-laki itu sendu, Aria terus menanyakan apa yang membuat putranya terlihat sedih, tapi Rafka hanya menjawab dengan senyuman saja.


"Apa yang Abang pikirkan?" tanya Aria pada Rafka.


"Tidak ada, Umi."


"Apa kau memikirkan istrimu?" tanya Aria mulai paham. Terlihat wajah Rafka semakin sendu ketika Aria membahas Keyla.


Razka sudah pergi ke apartemen untuk melihat apa yang sedang dilakukan Keyla hingga begitu lama mengambilkan pakaian ganti untuk Rafka.


Namun ketika sampai di apartemen, ia tak melihat siapapun di sana. Tempat itu seperti sudah tak di huni dalam beberapa jam terakhir.


Mendengar itu Rafka hanya bisa tersenyum kecut. Bukankah istrinya sangat khawatir tadi pagi, lalu mengapa sekarang istrinya sudah tak ada.


"Lupakan saja dia, bang. Dia itu bukan wanita baik. Lihat saja kelakuannya, dia bahkan meninggalkan suaminya dalam keadaan sakit," sela Razka yang duduk di sofa bersama Gabriel.


Mendengar perkataan Razka, hati Rafka langsung sakit. Tangannya mengepal mendengarkan ucapan sang adik.


Tok..


Tok..


Tok..


Terdengar suara pintu di ketuk, dengan cepat Razka membuka pintu. Ternyata Vano yang datang.


"Darimana saja kau? Bang Rafka sedari tadi mencari mu," tanya Razka. Vano tampak menggaruk kepalanya, ia seperti orang kebingungan.


"Vano," panggil Rafka. Dengan cepat Vano mendekat, laki-laki itu tau apa yang ingin di tanyakan tuan nya ini. Pasti tentang Keyla.


"Apa kau melihat istriku?" tanya Rafka ramah.


Vano tampak terdiam, hatinya gundah. Apa yang harus ia katakan.


"Mengapa kau diam?" tanya Rafka.


"Vano diam karena dia tak mau Abang sakit hati karena istri Abang itu kabur," sela Razka. Gabriel menepuk tangan Razka agar menutup mulutnya. Laki-laki itu terlalu ikut campur.


"Vano, apa kau di panggil hanya untuk diam mematung?" tanya Gabriel membuat tubuh Vano menegang.


"Maafkan saya, tuan."


"Apa kau melihat istriku?" tanya Rafka penuh kesabaran, berharap Vano mau menjawab pertanyaan nya.


"Maafkan saya," lirih Vano membuat orang dalam ruangan bingung.


"Ada apa, Vano?" tanya Rafka.


"Saya tak bisa mencegah nona muda, dia terlalu keras kepala." Mendengar itu Rafka tampak tertegun, mencegah apa? Apa Vano tak bisa mencegah istrinya yang kabur.


"Kan sudah aku bilang dia kabur," gumam Razka.

__ADS_1


"Nona muda tidak kabur, tuan." Vano mencoba menyangkal perkataan Razka.


"Lalu dimana dia?" tanya Razka.


"Nona, nona ada di sebelah ruangan ini," jawab Vano semakin membuat Rafka dan yang lainnya kebingungan.


"Apa maksud mu?" tanya Rafka mencoba untuk duduk namun Aria mencegahnya.


"Maafkan saya, tuan."


"Apa maksud mu, Vano? Istriku ada di sebelah ruangan ini, lalu mengapa Keyla tak datang kemari? Apa dia takut pada Abi dan Umi?" tanya Rafka masih berbaik sangka.


Tampak Vano menggelengkan kepalanya membuat semua orang semakin penasaran.


"Lalu apa maksud mu!" teriak Rafka sudah tersulut emosi. Bukan hanya Vano yang terkejut, Aria, Gabriel dan Razka sama terkejutnya seperti Vano. Ini pertama kalinya Rafka berteriak pada orang lain.


"Maafkan saya, tuan."


"Kemari lah," ucap Rafka. Vano pun mendekati Rafka.


"Katakan pada Keyla untuk jangan takut, keluarga ku tak akan memarahinya. Dia tak bersalah, dia tak tau apa-apa," lirih Rafka semakin membuat Vano merasakan rasa bersalah.


"Suruh Keyla kemari," pinta Rafka.


"Tidak bisa, tuan."


"Apa maksud mu tidak bisa? Mengapa Keyla tak bisa datang kemari?" tanya Rafka mencoba menahan amarahnya karena Vano terlalu berbelit-belit.


"Oh, Keyla sedang beristirahat yah. Dia pasti lelah kan menunggu ku bangun dan dia takut berada di ruangan ini," ucap Rafka kembali berbaik sangka.


"Nona muda beristirahat karena dia baru saja melakukan operasi."


Deg


Mendengar perkataan Vano, sontak Rafka langsung terdiam membeku. Apa maksud laki-laki yang ada di depannya ini.


"Operasi? Operasi apa? Keyla sakit apa?" tanya Aria yang juga penasaran.


"Itu...


"Tidak boleh!" teriak Rafka menarik tangan Vano lalu mencengkeram kerah baju laki-laki itu hingga terbungkuk menghadap Rafka.


"Jangan bilang kalau Keyla melakukan itu!"


Mata Rafka sudah memerah menahan amarah.


"Nona muda melakukan nya, tuan." Seketika buliran bening jatuh membasahi kelopak mata Rafka.


"Saya minta maaf, saya sudah berusaha membujuk nona tapi dia tidak mau, dia tetap bersikukuh mendonorkan ginjalnya," ucap Vano membuat seisi ruangan terkejut.


"Kenapa? Kenapa kau membiarkan nya! Aku akan membunuh mu!" hardik Rafka mencekik leher Vano dengan keras


"Rafka." Gabriel langsung melerai dan menjauhkan Vano dari jangkauan Rafka.

__ADS_1


"Istighfar nak," ucap Gabriel mencoba menenangkan putranya yang sudah tersulut emosi.


"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah." Rafka beristighfar, ia sudah di bawah kendali setan tadi. Ia mengusap kasar wajahnya.


"Bagaimana keadaan istriku? Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah makan? Apa ada yang sakit? Ranjangnya empuk atau tidak? Dokter sudah memeriksanya kan?" tanya Rafka dengan suara bergetar menahan tangis.


"Kondisi nona sudah sedikit membaik, tuan. Nona sudah makan dan dokter sudah memeriksa nona sebelum tidur tadi," jawab Vano sembari masih memegangi lehernya yang sakit.


"Aku ingin menemuinya," ucap Rafka ingin bangun tapi Gabriel langsung mencegahnya.


"Istrimu sudah tidur, kau juga harus istirahat. Kalau kau memaksa menemuinya itu akan semakin memperburuk suasana," ucap Gabriel mencoba menenangkan putranya. Ia paham apa yang sedang di rasakan Rafka karena ia pernah berada di posisi Rafka yang mengkhawatirkan keselamatan sang istri.


"Tapi Keyla tak akan tidur kalau kepalanya belum di elus," lirih Rafka dengan air mata yang terus mengalir membasahi bantal.


"Kau akan mengelus kepalanya nanti jika kau sudah sembuh, untuk sekarang istirahat lah dulu. Kau harus kuat dan sehat agar bisa menjaga istrimu. Istrimu sudah memberikan ginjalnya untuk mu, jika kau tak bisa merawat dirimu sendiri maka pengorbanan istrimu akan menjadi sia-sia," ucap Gabriel.


"Tapi...


"Abi paham perasaan mu, Rafka. Abi paham, tapi untuk sekarang bukan waktu yang tepat untuk melihat istrimu. Biarkan dia istirahat dan kau juga butuh istirahat. Ada Abi dan Umi yang akan melihat istrimu, kami juga akan merawatnya," jelas Gabriel.


"Istirahatlah dulu, sayang. Umi akan melihat kondisi Keyla," ucap Aria mengelus kepala Rafka.


Rafka tampak sedikit lebih tenang setelah mendengar Abi dan umi nya akan merawat Keyla juga.


"Istirahatlah," pinta Gabriel.


"Baiklah."


Gabriel pun berjalan keluar dari ruangan, begitu juga dengan Razka dan Vano. Mereka akan membiarkan Rafka beristirahat dengan tenang dulu.


"Umi, tolong rawat Keyla seperti merawat anak umi juga yah," pinta Rafka menatap sang ibu.


"Iya sayang, Umi akan merawat Keyla seperti umi merawat darah daging umi sendiri, istirahatlah dan cepat sembuh." Aria mengecup kening Rafka lalu mengelus kepala sang putra hingga Rafka tertidur.


"Semoga rumah tangga kalian diberikan kebahagiaan," lirih Aria menatap mata Rafka yang masih berair.


Laki-laki berhati lembut itu sudah menampakan sisi amarahnya dan juga sisi lemah nya.


_


_


_


_


_


_


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.

__ADS_1


__ADS_2