
Semakin lama, suasana semakin tidak bersahabat. Zalina yang awalnya berusaha tenang, lama-lama terbawa suasana yang terlalu mencekam. Waktu seakan begitu lambat, Zalina meringkuk di sofa seraya menggigit ujung jemarinya.
Semenjak hampir kehilangan Sean, wanita itu memang memiliki ketakutan hampir setiap harinya. Terlebih lagi jika mereka sudah berpisah, pikiran Zalina memang tidak ada baik-baiknya.
Wanita itu terpejam, bukan karena mengantuk melainkan karena takut. Hujan di luar masih bertahan, Zalina bahkan kaku dan tidak lagi memiliki keberanian untuk mengintip dari balik tirai.
Kenangan manis di saat Sean kerap menemuinya tengah tertidur terngiang dalam ingatan. Sewaktu awal menikah, hal semacam itu yang membuat benih cinta di hati keduanya tumbuh begitu cepat.
Zalina berharap dengan cara itu akan sedikit mengurangi rasa takutnya. Matanya perlahan lelah dengan sendirinya, gemuruh di luar sana membuat Zalina bahkan menggigit ujung jemarinya.
Tanpa henti Zalina melafadzkan doa demi keselamatan sang suami. Dia hampir kehilangan Sean kala itu, jadi wajar saja jika kini bayang-bayang ketakutan selalu membelenggunya.
Hingga, lamunan Zalina semakin nyata kala seseorang mengusap pelan wajahnya. Mata Zalina yang memang begitu lelah perlahan terbuka dan kini menampilkan wajah tampan Sean dari jarak yang begitu dekat.
"Sayang, kenapa tidur di sini?" Suara lembut itu menelisik indra pendengaran Zalina, tidak hanya berhenti di sana kecupan hangat di kening Zalina terlalu nyata untuk disebut khayalan.
"Mas Sean?" Zalina menggosok pelan matanya, khawatir jika dirinya salah lihat.
"Iya ... ini mas, apa mas terlalu lama?"
"Hem, aku khawatir karena hujannya tidak berhenti dari tadi sore," jawab Zalina pelan, bahkan hampir berbisik.
Bukan hanya Zalina, Sean juga sejak tadi memikirkan istrinya. Bahkan dia meminta Bastian menambah kecepatan lantaran khawatir jika Zalina ketakutan.
"Jangan begini lain kali, pintu tidak kamu kunci ... terus ketiduran di sofa, kalau yang datang orang jahat bagaimana? Hm?"
Bukannya menjawab, Zalina justru mengalungkan tangan ke leher sang suami. Jelas saja hal ini membuat pendirian Sean untuk marah besar hancur seketika.
Padahal, beberapa saat lalu Bastian melihat sendiri bagaimana paniknya Sean kala melihat sang istri meringkuk di atas sofa ketika mereka masuk. Dada Sean yang tadinya naik turun kini tenang dengan sendirinya, hanya dengan pelukan tanpa diminta.
__ADS_1
"Maaf, Mas ... aku benar-benar tidak sengaja."
"Tidak apa-apa, yang penting istriku ini tidak celaka," ucapnya kembali mengecup kening Zalina.
Sikap lembutnya memang hanya bertahan untuk Zalina, jika yang melakukan hal serupa adalah saudaranya, jelas beda cerita. Tidak hanya marah besar, tapi mungkin Sean akan ceramah panjang lebar dan mengumpat akibat kebodohan mereka.
Meskipun Sean sudah selembut itu, Zalina tetap merasa ada yang aneh. Suaminya terasa sedikit berbeda, entah apa penyebabnya. Saat ini Zalina bahkan menarik Sean agar keduanya tidak lagi berjarak. Namun, anehnya Sean seolah membatasi dan hanya membalas pelukan Zalina seadanya.
Padahal, dahulu Sean benar-benar tidak bisa menahan diri jika Zalina sudah begini. Biasanya, Sean akan ikut naik ke sofa bahkan tanpa ragu nemeluknya lebih erat. Kini, Sean justru bertahan dengan posisinya yang masih berlutut di lantai.
"Apa masih marah?"
Hanya itu kemungkinan yang saat ini Zalina pikirkan, jika benar suaminya masih marah maka tugas Zalina tentu akan semakin berat saja. Dia tidak ingin kemarahan Sean tadi siang berkepanjangan, tapi memang pria itu aneh sekali malam ini.
"Mas, masih marah sama aku?" tanya Zalina pelan dan sedikit bergetar kala kecupannya di pipi Sean seolah tidak Sean gubris.
"Susah, Om?"
Mata Zalina membola, perlahan pelukan itu melonggar dengan wajah yang kini perlahan memerah. Kenapa bisa Zalina lupa jika Sean juga membawa serta Bastian, sudah tentu pria itu akan ikut masuk.
"Tidak, Den ... yang ini taruh mana? Buah sama kuenya sudah om taruh di dapur."
"Ya Allah, Umi!!"
Zalina menjerit dalam hatinya kala mendengar suara familiar yang kerap dia dengar dua tahun terakhir. Seketika dia benar-benar melepaskan pelukan dan memperbaiki posisinya. Susah payah Zalina bersikap biasa saja, tapi memang tidak bisa dan dia luar biasa salah tingkah.
"Taruh di meja itu saja, Om."
Jika Sean tengah fokus pada Bastian, kini Zalina tengah merutuki kebodohannya. Kenapa bisa dia tidak sadar jika Bastian dan Mardi sudah masuk dapur, sepelan apa langkah mereka? Sungguh, Zalina benar-benar tidak habis pikir.
__ADS_1
"Sudah, Den."
"Om jangan pulang, tidur di sini saja malam ini."
Habislah Zalina, kemungkinan hingga esok hari dia masih bertemu Bastian. Jangan ditanya bagaimana perasaannya, jelas saja malu luar biasa.
"Boleh, 'kan, Sayang?"
Hanya anggukan yang dia berikan, bibir Zalina sudah terlalu kaku untuk bicara. Dia sudah semerah ini, tapi anehnya Sean tampak biasa-biasa saja. Dia meminta Mardi menyiapkan kamar untuk Bastian malam ini, sementara Zalina hanya menunduk seraya meremmas jemarinya.
Hingga ketika Bastian dan Mardi benar-benar pergi, barulah Sean tertawa sumbang dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Menatap wajah Zalina penuh ejekan dan jelas saja membuat wajah sang istri tertekuk seketika.
"Kita lanjutkan yang tadi, sini peluk lagi."
"Ck, awas aku mau ke atas," kesal Zalina menepis tangan Sean yang hendak meraih pinggangnya.
"Oh maunya di atas? Ayo, siapa takut."
"Apasih? Mas jangan ngaco."
"Kenapa marah? Maksudnya di kamar, 'kan? Kamu mikirnya di atas yang bagaimana memangnya?" tanya Sean dengan gelak tawa yang tidak bisa lagi dia tahan.
"Ti-tidak mikir yang gimana-gimana," jawab Zalina semakin memerah, Sean seakan sama sekali tidak kasihan melihatnya.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1