Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 109 - Tidak Seburuk Itu


__ADS_3

"Di rumahmu."


Singkat, padat dan berhasil membuat kedua pria itu kebakaran jenggot. Yudha yang biasanya melaju dengan kecepatan sedang, kini tidak peduli dengan keselamatan. Nama Irham seolah menjadi teror paling berbahaya bagi keduanya, terutama Sean.


Dalam keadaan seperti ini skill mengemudi Yudha benar-benar dipertaruhkan. Tidak hanya kecepatan yang dia pertimbangkan, tapi juga jalan yang dilewati juga demikian. Dia yang terbiasa melewati jalan pintas demi menghemat waktu rela membawa mobil mewah itu melewati jalan sempit dan tentu tidak semulus biasanya.


"Sinting!! Itu tadi apa?" tanya Sean panik seraya mengelus dadanya.


"Polisi tidur," jawab Yudha santai dan fokus dengan kemudinya, tanpa peduli saat ini Sean sudah pucat pasi.


"Kau tidak berbohong, Yudha? Kalau tahu-tahu yang kita lewati adalah sapi bagaimana?"


Perpaduan antara kecepatan dan juga tingginya benda itu membuat tubuh Sean bahkan terangkat dari tempat duduknya. Mungkin karena bukan dia yang mengemudi, goncangan itu terasa amat nyata bahkan terlalu berlebihan untuk dikatakan akibat polisi tidur.


"Mana mungkin ada sapi di sini, lagi pula kalau yang kita tabrak adalah sapi pasti ada suaranya."


Sean masih sedikit ragu, dia bahkan menoleh dan memastikan siapa tahu sudah terjadi keributan di belakang sana. Hanya karena Irham, mereka harus merasakan sensasi balap liar siang ini. Beruntung saja jalanan di sini sepi, jika tidak mungkin mereka sudah membuat celaka.


"Syukurlah jika buk_"


Gubrak


"Astagfirullah, Yudha!! Kau ingin membunuhku atau bagaimana?"


Baru saja sedikit lebih tenang karena kekhawatiran Sean tidak terbukti, kini pria itu dibuat terkejut karena Ydha berbelok di sebuah tikungan tajam hingga kepala Sean terbentur.

__ADS_1


"Kita harus cepat, Kak," ungkap Yudha menoleh sekilas dan kembali menginjak pedal gas seakan mereka masih kurang cepat saja.


"Tapi tidak begitu juga!! Anakku masih kecil, Yudha ... jangan ngajak-ngajak kalau mau celaka."


Bukannya meminta maaf, Yudha terus saja fokus dengan kemudinya. Entah kenapa hari ini Sean merasa nyawanya seolah terancam, tidak oleh Irham tapi juga oleh Yudha.


Tanpa henti dia melafadzkan zikir selama masih brada di sisi Yudha. Khawatir andai terjadi sesuatu, setidaknya dia celaka dengan menyebut Asma Allah. Hingga, mereka tiba di kediaman Mikhail setelah melewati perjalanan gila yang mungkin tidak akan pernah dia lakukan lagi.


Rohman yang mengerti jika majikannya buru-buru juga begitu sigap membuka gerbang utama. Sungguh kerja sama yang patut Sean bayar mahal, meski berakhir dengan perutnya dibuat mual dan harus duduk beberapa saat setelah turun dari mobil.


"Mabuk?"


"Kau gila? Kepalaku benar-benar sakit, Yudha!!"


Tekatnya untuk melabrak Yudha tampaknya sedikit ciut, kepalanya terasa sakit bahkan kini berputar-putar. Apa mungkin karena sudah tidak terbiasa ugal-ugalan seperti tadi? Entahlah, yang jelas Sean harus kembali pada tujuan utama.


"I'm okay ... ayo kita temui badjingan itu."


Bersama Yudha di sampingnya, Sean melangkah panjang meski sedikit sempoyongan. Sesekali dia menghentikan langkah dan memijat pelipisnya, pria itu mengabaikan nasihat Zalina untuk berhati-hati dan tidak buru-buru dalam segala sesuatu.


Sean tidak menemukan Irham menunggu di depan gerbang. Hanya ada dua kemungkinan, pria itu sudah pergi atau Mikhail ajak masuk dan dijamu sebagaimana tamu pada umumnya. Untuk saat ini, Sean berharap Irham sudah pergi.


Namun, baru saja hatinya berharap telinga Sean mendengar suara Mikhail tampak bicara dengan seseorang di ruang tamu. Benar saja, pria itu memang Irham yang kini tampak duduk manis di hadapan Mikhail.


"Pa ...." Sean menyapa, Mikhail yang tampak terkejut dengan kehadirannya sontak berdiri dan memeluk sebelum kemudian mengacak rambut Sean.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Papa."


Bukan tak suka, tapi di hadapannya kini ada Irham. Sebagai pria dewasa yang hanya dikenal angkuh, jelas saja dia sedikit malu diperlakukan seperti ini, terlebih di hadapan Irham.


"Ada temanmu, jadi papa ajak masuk dulu ... duduklah, dia sudah lama menunggu," tutur Mikhail menepuk pundak Sean sebelum berlalu pergi.


"Teman? Dia benar-benar cari perkara sepertinya."


Sean mengeraskan rahang meski dia menuruti permintaan Mikhail. Mana mungkin dia mengatakan kebenarannya bahwa Irham bukan teman, melainkan lawannya.


"Yud, gimana?"


"Aman," ucap Yudha usai memastikan pria dengan sarung kotak-kotaknya itu sudah menghilang, mungkin pergi ke rumah tetangganya.


Setelah kepergian Mikhail, barulah Sean menatap ke arah Irham. Tentu saja sama sekali tidak ada senyum keramahan, melainkan permusuhan. Bukan soal Ana lagi, tapi Irham berani membohongi papanya yang menjadi masalah.


"Apa yang kau pikirkan sampai berani datang ke rumahku?"


"Dimana Ana? Antar aku padanya."


Irham tidak ingin berbasa-basi, bukan mudah bagi seorang Irham nekat datang ke sini. Hampir tiga puluh menit dia mondar-mandir di depan kediaman orangtua Sean, sebelum itu juga dia harus mengemis pada Abrizam demi mendapatkan alamat orangtua Sean. Juga, bukan hal mudah untuk Irham mengaku sebagai teman Sean ketika pria paruh baya dengan mata teduh itu bertanya siapa dirinya.


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2