
"Innalillahi wainnailaihi rojiun ... umi jangan bercanda."
Sebuah kalimat yang kerap menggetarkan hati siapapun jika sudah terucap. Sean yang tadinya tidak dipanggil oleh umi Rosita, seketika turut bergabung lantaran penasaran kabar duka dari siapa yang dibawa sang mertua.
"Bersiaplah, siang ini jenazah Nana akan dikebumikan ... Agam dan Latifah baru saja pergi."
Jenazah? Apa ini maksud dari mimpi buruk Sean semalam tentang kepergian Zalina? Meski tahu pikiran semacam itu tidak baik, tapi Sean berharap memang benar demikian.
Umi Rosita juga tampak terburu-buru, Zalina juga sama. Tinggal Sean yang mengerutkan dahi dan bingung sendiri menerka siapa yang meninggal dunia. Seperti biasa, jika sedang panik begini Zalina tidak bisa ditanya, untuk itu Sean hanya menurut saja ketika Zalina memintanya bersiap.
Agaknya memang kabar itu datang dari keluarga dekat mereka. Terlihat jelas dari mata Zalina yang membasah dan bahunya yang bergetar ketika mengenakan hijab. Sean bahkan turut serta membantunya merapikan anak rambut karena memang Zalina sudah sekacau itu.
"Tenang, Zalina ... jangan panik begini."
"Mbak Nana meninggal, Mas bagaimana bisa aku tenang."
Sean hanya mengangguk mengerti, dia tahu bagaimana rasanya kehilangan. Beberapa tahun lalu dia juga sempat merasakan luka paling sakit setelah meninggalkan rumahnya. Karena itulah, Sean tidak ingin menasihati seseorang yang tengah berduka.
Bersama mertua dan sang istri, Sean berperan sebagai supir pagi ini. Dia tidak tahu kemana arahnya, tapi yang jelas tugas pria itu hanya mengikuti petunjuk abi Husain. Perjalanan yang mereka tempuh mungkin akan sedikit lama, dan selama di perjalanan itu pula Sean mengetahui bahwa yang meninggal dunia adalah adik kandung Latifah, istri Agam yang tidak lain kakak iparnya.
__ADS_1
Wajar saja mereka benar-benar berduka. Sejak dahulu Sean ketahui jika keluarga sang istri terutama abinya begitu menyayangi para kerabat layaknya keluarga kandung, jadi wajar saja jika adik ipar Latifah begitu spesial bagi mereka.
Awalnya Sean biasa-biasa saja, hingga setelah tiba di sebuah rumah yang kini ramai dengan para pelayat, langkah Sean seakan berat. Padahal, mertuanya bahkan berlari demi bisa masuk segera. Namun, Sean justru menghalangi langkah Zalina hingga sang istri mengerutkan dahinya.
"Mas kenapa?"
"Kamu yakin ini rumahnya? Kita tidak salah tempat, Zalina?" tanya Sean terus menahan kepergian sang istri.
"Benar, ayo masuk, Mas," ajak Zalina menarik tangan sang suami tanpa paksaan, beruntungnya Sean menurut walau langkah pria itu teramat lambat.
Tanpa Zalina ketahui jika saat ini dada Sean bergemuruh. Sekian tahun lamanya, kenapa takdir kembali membawanya ke rumah ini. Rumah yang dahulu pernah dia datangi sendirian di malam hari saat libur sekolah demi menemui sang kekasih, Leona Aninditha.
"Tidak, mungkin rumahnya saja yang sama ... Leona tidak pernah kembali ke Bandung seingatku."
Hingga, semua pertanyaan Sean terjawab setelah dia memastikan nama lengkap seorang wanita yang Zalina sebut mbak Nana itu. Matanya membola, Sean bergeming seketika dan tenggelam dalam diam di sela isak tangis dan jeritan histeris Latifah di sana.
Berita ini tidak hanya buruk untuk Zalina, tapi mungkin untuk Sean juga. Benar, sebelum Leona menjadi bagian dari keluarga kiyai Husain, Sean mengenalnya lebih dahulu. Kendati demikian, Sean memilih diam dan menyibukkan diri dengan mengikuti Agam serta para pria lainnya.
Menjelang siang hari, Leona dimakamkan. Sean tidak menangis, hatinya bahkan tidak lagi berdebar ketika melihat tubuh yang terbujur kaku dengan balutan kain kafan di hadapannya.
__ADS_1
Mereka sudah lama tidak bertemu, Setelah Leona mengakhiri hubungan secara sepihak, Sean tidak pernah mencarinya lagi. Kini, takdir kembali memertemukan mereka. Bukan hanya perasaan yang sudah berbeda, tapi juga alamnya.
Sean tidak dendam, dia berdiri dengan gagahnya di hadapan jenazah Leona. Bahkan, dia dengan sigap ikut mengantarkan Leona ke peristirahatan terakhirnya. Bukan karena wanita itu adalah seseorang yang pernah bertahta di hatinya, tapi Sean melakukan itu sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang hamba.
Suasana duka masih begitu terasa, terutama bagi Latifah yang merupakan satu-satunya keluarga Leona. Karena itulah, Zalina tidak bisa lagi selalu berada di dekat sang suami demi bisa menguatkan kakak iparnya.
Hingga, ketika semua mulai beranjak pergi Latifah masih terduduk lemas menatap nisan bertuliskan nama adiknya. Sean tahu seberapa sakitnya, tanpa sadar matanya juga ikut membasah.
"Kau tidak ingin mengucapkan terima kasih untuk Leona sebelum pergi, Sean?"
"Hm? Apa maksudmu, Mas?" tanya Sean tersentak, dia panik dan bingung dalam satu waktu ketika Agam berbicara.
"Aku tidak begitu mengenalmu dahulu, tapi melalui Leona aku dan Latifah semakin yakin jika kau memang imam yang baik untuk Zalina."
"A-aku tidak mengerti apa yang mas katakan, sungguh." Susah payah Sean berpura-pura seakan tidak megenal, tapi ucapan Agam benar-benar membuat Sean bingung sendiri saat ini.
"Kau pasti mengerti, Sean."
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -