Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
54. Datang ke kantor


__ADS_3

Mobil untuk menjemput Sora sudah menunggu di depan pintu rumah utama keluarga Rassam.


Pak Chow yang mendapat perintah untuk menjemput Sora sudah berada di samping mobil untuk membukakan pintu mobil.


Pak Chow yang melihat penampilan Sora terpana akan kecantikan Sora,dia tak lagi berpenampilan seperti orang tua.


Hari ini Sora memakai gaun berwarna salem berlengan panjang dan bawahannya sepanjang batas lutut,dengan tali yang di ikat di depan leher.


"Nyonya Rara?" Tanya pak Chow.


"Pak Chow,panggil aku Sora aja."


"Rara bukan nama saya yang sebenarnya."


"Ooh baik nyonya Sora."


Pak Chow tak pernah melihat Sora yang berpenampilan seperti nona besar. Setiap bertemu dengannya hanya di kantor dengan penampilan seperti ibu ibu yang sudah menikah.


"Tak ku sangka istri pak Aaron adalah nona muda dari keluarga Rassam,dan dia secantik itu." Batin pak Chow.


Mobil sudah sampai di depan perusahan M,Pak Chow turun dan membukakan pintu untuk Sora.


"Trima kasih pak Chow."


Sora berjalan menuju pintu masuk,langsung menuju lift."


"Dret dret dret."


Sora mengangkat ponselnya.


"Sayang kau sampai mana?" Tanya Aaron di seberang telepon.


"Aku sekarang di dalam lift."


"Kamu ke ruanganku dulu."


"Ada hal yang mau ku sampaikan ama kamu."


"Oke."


Tak berapa lama Sora sampai di depan pintu kantor Aaron.


Tanpa mengetuk pintu Sora langsung masuk ke kantor.


Aaron tersenyum dengan kedatangan Sora,dia berdiri dan menyambut kedatangannya,memeluk dan mencium keningnya lalu membelai rambut Sora dengan lembut.


"Sayang kau terlihat cantik sekali."


Mendengar pujian Aaron,Sora semakin memeluk Aaron dengan erat.


"Sayang kau ingin ngomong apa?"


Aaron menggandeng tangan Sora dan menyuruh Sora untuk duduk,dan memberikan kotak yang berisi kalung.


Sora membukanya,tersirat kebahagian di wajah Sora.


"Sebenarnya mau aku berikan ke kamu saat kita di kota Portland."


"Karna kamu di culik aku gak jadi deh ngasih ke kamu."


"Makasih sayang ini indah banget."


Aaron mengambil kalung itu dan memakaikannya di leher Sora.


"Sayang apa kau sudah mencari tau siapa yang ingin menculikku?"


"Aku udah selidiki tentang hal itu,jika dugaanku benar semua ini berkaitan dengan keluarga Alves."


"Keluarga Alves?"


"Kayaknya aku pernah denger deh."


"Apa mereka pemilik dari Alveshine?"


"Iya."


"Trus apa kaitannya ama aku?"


"Dulu sebelum kita nikah,aku akan nikah dengan Calista Alves."


"Dia nona besar dari keluarga Alves."


Sora mengerutkan kedua alisnya,masih mencerna perkataan Aaron.


"Apa gara gara aku,kamu gak jadi nikah ama dia?"


"Enggak lah,aku malah bersyukur nikah ama kamu." Ucap Aaron sambil menyentuh pipi Sora dengan lembut kemudian kedua tangannya mencengkeram kedua telinga sora,menempelkan dahinya ke dahi Sora.


"Aku gak akan biarkan orang lain mencelakai kamu."


Sora memegang kedua pergelangan Aaron.


"Tok tok tok."


Suara ketukan pintu membuat mereka menghentikan kemesraan yang tengah terjadi.


"Cekleeek..."


"Tuan muda maaf mengganggu."


"Ini dokumen penawaran yang sudah di revisi oleh tim satu."


"Mereka meminta persetujuan anda untuk penurunan harga."


"Dan juga mengambil tempat daerah pantai."


"Daerah pantai?"


"Sayang aku pernah iseng membuat desain di wilayah pantai,jika aku ubah sedikit mungkin kita bisa selesai tepat waktu." Ucap Sora.


"Mmm ok,aku akan bantu kamu untuk mengubahnya."


"Fredy untuk harga penawaran turunkan dua persen dari harga semula."

__ADS_1


"Baik tuan muda." Jawab Fredy lalu meninggalkan mereka berdua.


"Sayang ntar kita lanjutin soal yang tadi saat di rumah ya." Ucap Sora.


"Iya."


"Aku mau ke tempat Jean dulu."


"Dia yang menyimpan beberapa file yang ku tinggal."


"Ok."


"Jangan lama lama setelah selesai kau cepetan kembali ke sini." Pinta Aaron.


Sora mengangguk dan tersenyum secara bersamaan.


Dia keluar dari ruangan Aaron menuju ke ruangannya dulu yang sekarang sudah menjadi punya Jean.


Masuk ke dalam ruangan,Sora tak menemukan Jean,lalu Sora menelepon Jean.


"Jean,kau di mana? Sekarang aku udah di ruangan Kabag nih."


"Hah kapan kau datang?"


"Kok aku gak liat kamu masuk?"


"Ya iyalah,aku kan lewat lift khusus."


"Haa gitu ya,bener deh kamu kan istri pak Ceo sekarang."


"Ok,aku akan kesana sekarang."


Tak menunggu lama Jean datang dan membawa beberapa lembar dokumen.


Jean menyerahkan dokumen itu pada Sora.


"Kau udah ubah semua?"


"Belom sih, itu hanya sebagian."


"Anak anak sekarang sedang ngitung penurunan harga yang udah di setujui ama pak Aaron."


"Oiya Jean,kau simpan di mana flashdisk yang aku tinggal?"


"Aku pernah menggambar desain di pantai di dalam flashdisk itu."


"Aku simpan di laci."


Jean bergegas mengambilnya dan memberikan flashdisk itu pada Sora.


"Jean konsep apa yang akan kau pakai?"


"Menikmati malam yang indah di pantai."


"Napa gak skalian 'Honeymoon at the beach' aja." Ucap Sora.


"Iya itu juga bagus deh."


"Apa kamu gak kasian ama para jomblo yang ingin menikmati liburan di pantai?"


"Aah bener juga."


"Kasih ide dong."


"Ganti aja 'Memory at the beach."


"Kau tinggal sesuaiin aja ama desainku."


"Wuih keren,kayaknya dalam banget deh."


"Ok kalau gitu,ngikut kamu aja."


Mereka keluar ruangan dan berpisah untuk melakukan kerjaan masing masing.


Jean kembali mengomando anak buahnya sedang Sora kembali ke ruangan Aaron untuk mengubah desainnya.


Terlihat mereka sangat sibuk hingga tak terasa jika sudah waktunya makan siang.


"Sayang udah jam dua belas lebih,makan dulu ya,kasian arsa pasti udah kelaparan."


Sora mengangguk dan menghentikan pekerjaannya.


"Kamu pesen makanan?" Tanya Sora.


"Enggak ini yang bikin bi kana."


"Aku minta tolong buat bikinin makanan kesukaanmu."


Saat Aaron membuka mangkuk yang berisi sup.


"Huek huek."


Sora kembali merasakan mual.


Sejak kehamilannya apa yang menjadi kesukaannya sekarang menjadi sesuatu yang harus dia hindari.


Aaron menutup kembali mangkuk sup itu.


Sambil mengelus elus punggung Sora,Aaron meminta maaf karna ia lupa akan kondisi Sora sekarang.


Aaron segera menelpon sekretarisnya dan menyuruhnya untuk membawa keluar sup yang ada di ruangan Aaron.


"Aku udah gak apa apa."


"Kita lanjutin makan aja."


"Beneran gak apa apa." Tanya Aaron.


"Iya."


Setelah sup itu di bawa pergi oleh sekretaris Aaron,mereka melanjutkan makan siang.


Karna Sora tak ingin menghabiskan waktu terlalu lama,setelah makan dia melanjutkan kembali menggambar desain.

__ADS_1


Hampir tiga jam gambar itu selesai di ubah oleh Sora dan Aaron.


"Akhirnya." Ucap Sora yang merenggangkan otot tangan dan kepalanya.


Sora mengambil ponselnya dan menelpon Jean jika desain yang dia gambar sudah selesai.


"Jean,desainnya udah selesai,kamu ambil ya di ruangan pak Aaron."


"Saat ini aku gak ada di kantor,aku ama pak Davin sedang keluar,ada rapat di perusahaan Phelps."


"Aku udah pesen ama Vivi kok,kalau desainmu udah selesai,dia yang aku suruh antar ke sini."


"Kamu kasih aja ama Vivi."


"Oke."


Sora menekan layar ponselnya untuk menelepon Vivi.


"Vi kamu ke ruangan pak Aaron sekarang ya,desainnya udah selesai."


"iya bu Rara."


"Saya sekarang ke sana."


Di ruangan pegawai tim satu...


"Siapa Vi yang telpon?"


"Bu Rara." Jawab Vivi sedikit bingung.


"Bu Rara?"


"Ngapain bu Rara telpon kamu?"


"Aku di suruh ngambil desain di ruangan pak Aaron."


"???"


"Emang bu Rara ada di sini?"


"Enggak tau."


"Udah deh,aku ke sana dulu,desainnya udah di tungguin kak Jean."


***


"Tok tok tok."


Vivi dengan gugup mengetuk pintu ruangan Aaron.


Selama setahun setengah dia bekerja di sana baru kali ini dia masuk ke ruangan Ceo.


"Kreeek.."


Vivi berjalan ke arah meja Aaron sambil menunduk dia tak berani sekalipun untuk melihat sekeliling ruangan itu.


"Maaf pak saya ke sini mau ambil desain untuk perusahaan Phelps."


"Vivi bisa liat aku kalau kamu bicara?" Ucap Sora yang berdiri dari duduknya dan mendekati Vivi.


Mendengar suara seorang wanita Vivi langsung mengalihkan pandangannya ke depan.


"I iya bu."


"Hah ni wanita siapa ya,cantik banget."


Batin Vivi yang terpesona dengan kecantikan Sora.


Vivi terbengong selama beberapa detik dan kembali pada kesadarannya penuh.


"Vi kamu gak lupa ama aku kan?"


"Kalau suaranya sih kayak suara bu Rara."


Batin Vivi sambil memandang dan bertanya tanya dalam hatinya.


"Bu Rara?"


"Beneran bu Rara?"


Sora hanya tersenyum merasa geli karna Vivi kaget dengan penampilannya sekarang.


"Ya ampun bu Rara cantik banget."


Vivi kegirangan dan menggenggam tangan Sora.


"Ehem ehem."


Suara Aaron menyadarkan Vivi dan melepaskan genggamannya pada tangan Sora.


"Ini gambar desainnya kau segera antar kepada Jean!"perintah Aaron.


"I iya pak Aaron." Jawab Vivi.


Setelah menerima desain itu vivi keluar dari ruangan Aaron.


"Sayang ngapain sih mesti gitu."


"Jadi takutkan dia."


"Kalo gak nakutin ntar kerjaannya gak bener sayang." Jawab Aaron.


"Gak gitu juga dong." Sungut Sora.


"Huft istriku sekarang lebih galak ketimbang dulu." Batin Aaron.


"Udah gak usah marah."


"Kamu mau pulang sekarang atau nanti?"


"Nanti aja deh aku mau nungguin kamu sampai selesai."


Sora kembali duduk dan mengamati Aaron yang sedang serius bekerja.

__ADS_1


__ADS_2