
Pernikahan Yang Tak Diharapkan
Perasaan Wendy kini sangat
kecewa,hancur,marah,sedih...semuanya ia rasakan.
Setiap malam ia sering merenung didalam kamarnya disertai lelehan air mata harus mengingat kembali nasib anaknya dimasa yang akan datang nanti.
Ia harus menjalani semuanya dengan sendiri, dari kontrol rutin tiap sebulan sekali ke dokter kandungan. Mengalami ngidam seorang diri tanpa bantuan suami, dan lebih parahnya ia harus mengantarkan malaikat kecilnya ini ke dunia dengan seorang diri tanpa sosok suami. Membuat ia mencelos seketika.
Apalagi jika buah hatinya ini akan beranjak dewasa mungkin ia akan menanyakan dimana sang ayah? Bagaimana cara Wendy menjelaskannya. Wendy sungguh takkan mampu untuk menjawabnya.
Kehamilannya sudah menginjak lima bulan; tetapi Adnan masih belum mengetahuinya.
“Kamu sudah besar ya nak, liat udah mulai menonjol diperut mama. Kita berdua sudah terlalu lama disini takut akan jadi gunjingan orang, lebih baik kita pergi dari sini ya nak. Kita cari kota yang tak akan mengenali kita” Wendy mengusap perutnya dengan kasih sayang. Sesekali bersenandung pelan guna membuat malaikat kecilnya tenang didalam sana.
__ADS_1
•
•
•
“Adnan kamu sebenarnya kenapa sih? Aku perhatikan beberapa hari ini kamu banyak melamun dan sulit sekali fokus. Ingat ini sudah tiga bulan semenjak kau bercerai. Bulan depan kau sudah bisa melepas masa lajangmu dan mulai sekarang lebih baik kita mempersiapkan untuk pernikahan kita. Aku ingin pernikahan yang mewah dan megah, harus banyak tamu undangan, lalu akupun ingin ada media yang meliputi” Adnan sama sekali tak fokus dengan apa yang disampaikan oleh kekasihnya itu. Bahkan mungkin tak mendengarkan, Adnan hanya memijiti pelipisnya yang mendadak pusing. Masalah pekerjaan menjadi faktor utamanya dan sekarang ditambah Leta semakin banyak menuntut kepadanya. Membuat Adnan diam-diam muak pada sikap kekasihnya itu. (****** kau)
Beberapa hari ini perasaannya sering tiba-tiba tak enak, ia selalu mengingat bagaimana Wendy disana, ia sedang apa?, apakah ia bahagia?,. Ia tak mengerti kenapa perhatiannya selalu terpusat pada wanita manis itu. Seolah akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap mantan istrinya itu.
•
•
•
“Leta kamu jangan membuat keputusan sepihak aku sungguh tak menyukainya. Aku minta maaf akhir- akhir ini aku lagi banyak masalah di perusahaan, bahkan tidurpun hanya cukup satu jam. Aku sangat lelah jadi maafkan aku, kumohon jangan batalkan semuanya. Jika semua urusan dan masalahku sudah selesai mari kita bicarakan tentang pernikahan kita” Adnan mencoba membujuk kekasihnya itu.
__ADS_1
“Masalah perusahaankan...bukan karena memikirkan Wendy?” Tanya Leta; memandang kekasihnya itu dalam
Adnan jelas terdiam, terlampau bingung ingin menjawab apa; sebab ia tak menyangka jika kekasihnya akan mengungkit mantan istrinya itu.
Dengan melihat Adnan terdiam; Leta jelas paham apa yang ada dipikirkannya ia hanya bisa mengulas senyum pedih dan tatapan yang seakan ia sangat terluka.
“Tak usah kamu jawab...Adnan karna aku sudah tau jawabannya”
•
•
Baru saja keluar dari kamar pribadinya. Masih memakai baju piyama Zara jalan sempoyongan kearah dapur untuk mengambil minum.
Dengan mata masih setengah terpejam menegak air dalam cangkir yang baru saja ia isikan. Mengerjap bingung dan heran kala apartemen terlihat sepi dan hening. Biasanya jam segini Wendy sudah ada diruang tamu untuk menonton TV sambil berceloteh dengan bayi yang ada dikandungannya.
“Wendy?” Beberapa kali Zara memanggil adik angkat kesayangannya itu, tetapi tak ada sama sekali jawaban dari sang adik. Kemudian, Zara pun membuka pintu kamar yang ditempati Wendy seketika ia menemukan pemandangan yang membuat ia mematung dan bergetar.
__ADS_1
Wendy terbaring lemas diatas lantai dengan mata terpejam dan wajah yang pucat. Namun bukan itu yang membuat Zara fokus— melainkan darah yang mengalir dari paha Wendy yang merembes pada piyama celana yang Wendy kenakan.
TBC...