
Pernikahan Yang Tak Diharapkan
Perlahan mata cantik Wendy terbuka, mengerjap beberapa kali menyesuaikan keadaan. Pandangannya mengedar ke sekeliling menyadari dirinya tak berada diapartemen milik Zara melainkan disalah satu ruangan serba putih dan berbau obat.
Wendy menyadari jika dirinya sedang berada dirumah sakit, bahkan ia melirik piyama ya berubah menjadi piyama rumah sakit. Meringis sedih kala mengingat terakhir kali bagaimana ia berujung sampai disini.
Tangannya seketika bergemetar hebat lalu memeluk perutnya.
“Maafkan mama yah sayang, Mama adalah mama yang terburuk bagimu. Tak seharusnya kamu memiliki mama sepertiku” semakin bergemetar dan lelehan air manapun turun begitu saja
Mengingat ketika darah merembes sangat banyak, memukul dadanya yang terasa semakin sesak sembari terus menerus mengumamkan kalimat permintaan maaf berkali-kali.
Cklek
“Astaga...Wendy apa yang terjadi??” Zara terkejut ketika menemukan Wendy yang menangis dengan sangat histeris sembari mengumamkan permintaan maaf kepada perutnya entah pada siapa.
__ADS_1
Matanya mendongak ketika mendengar suara seseorang yang ia sangat kenal...menemukan sang Kakak yang berdiri cemas didekat pintu.
“Kak Zara” sembari merentangkan kedua tangannya. Zara pun langsung menyabutnya dna merengkuh adiknya ini dengan dekapan yang hangat.
“Kak..bayi ku. Aku jahat pada bayiku, bayi pasti membenciku sekarang. Aku bukan mama yang baik untuk bayi kak. Apa yang harus aku lakukan kak biar bayi memaafkan ku hiks...” isak Wendy memeluk erat Zara.
Zara pun tak kuasa menahan tangisannya kala ia melihat adik yang ia sayang sekarang ini sangat hancur. Wendy sangat terluka, berapa banyak luka yang ditorehkan oleh Adnan kepada adik kesayangannya ini. Namun, mengapa Wendy tak pernah merasa lelah ataupun memperlihatkan semua lukanya. Kenapa ia harus menanggungnya sendiri.
Seolah Wendy memakai topeng yang sama sekali ia tak ingin perlihatkan kepada siapa pun. Tetapi, kali ini topeng itu seketika terlepas semua beban yang ia pikul dan perasaan sesak selama ini ia keluarkan dengan mudahnya karena ini adalah batas akhirnya untuk menahan segalanya. Ia sekarang kehilangan semuanya,cinta hatinya, cinta pertamanya——Adnan Pratama
Dan sekarang ia harus kehilangan.....
“Sabar yah sayang..kamu harus ikhlaskan semuanya yang terjadi hari ini. Bayi tak akan membenci mamanya, ia pasti sangat menyayangi mamanya. Ia malahan bakal bangga memiliki mama yang sangat kuat sepertimu Wendy. Bayi pasti sangat Menyayangimu”
“Adnan..kapan mama kamu pulang?, kamu tak berniat memberi tahunya sampai kapan kamu harus menutupi semuanya dari keluargamu?” Leta menatap Adnan dengan serius. Adnan hanya menghela nafasnya terhadap kekasihnya yang sebentar lagi menjadi isterinya;
Memegang kedua tangan kekasihnya itu;
__ADS_1
“Sabar ya sayang, aku pasti akan memberitahukan kepada kedua orangtuaku. Cuman menunggu waktu yang tepat saja, sampai kita selesai mempersiapkan acara pernikahan kita. Jadi, kamu tak usah khawatir sayang” ujar Adnan lembut.
Leta yang mendengarnya tersenyum bahagia; kemudian memeluk Adnan dengan erat sembari terus mengucapkan kata-kata cinta.
Adnan pun memeluk kembali Leta dengan erat, mendengar kata-kata cinta dari Kekasihnya. Namun, ada sedikit yang aneh ia tak merasakan apa-apa kala kekasihnya Leta mengucapkan kata cinta terhadapnya terasa hampa.
Serasa sangat hambar. Seolah hatinya menolak semuanya, Adnan pun memejamkan matanya kala bayangan wajah Wendy terlintas dipikirkannya.
Tatapan manis kala Wendy menunggunya, tatapan penuh puja Wendy terhadapnya ketika ia berpura-pura sedang tidur. Tatapan bahagia ketika Wendy melihatnya bahagia.
Dan juga tatapan kecewa ketika Wendy melihat ia sedang berada di pusat belanjaan sembari menggandeng Leta, atau tatapan penuh luka Wendy ketika ia meminta untuk berpisah duluan. Dan meninggalkannya begitu saja tanpa rasa bersalah.
Meringis pedih ketika ia mengingat semuanya. Namun sudah terlambat untuk ia perbaiki sekarang, dan bukankah sejak awal memang ini yang Adnan inginkan
Menikah dengan seseorang yang ia cintai dan hatinya inginkan.
“Aku sangat mencintaimu..”
__ADS_1
-Wendy Pratama