Pernikahan Yang Tak Diharapkan

Pernikahan Yang Tak Diharapkan
Chapter 16


__ADS_3

Pernikahan Yang Tak Diharapkan



Seorang wanita yang daritadi terus-menerus meramat jari jemarinya karena gugup yang terus diperhatikan dingin oleh kedua orangtua Adnan. Leta kini merasa tidak nyaman, diam-diam ia mengutuk kekasihnya itu yang pergi begitu saja. Ingin rasanya menghubungi kekasihnya itu pulang tapi sayangnya ia merasa takut terhadap dua orang yang ada di depannya ini.


“Saya ingin bertanya apakah benar kamu hamil anaknya Adnan?” Intensi Bela terhadap Leta dingin, membuat Leta gemetaran. Bahkan rasanya ia ingin sekali menangis keras.


“Iya mama, aku hamil anak Adnan” ucap Leta ketakutan yang mana malah membuat Bela mendengus sebal melihat tingkahnya.


“Hahah sudah berapa lama—apa kamu yakin jika itu milik Adnan, mengapa aku seakan ragu tentang kehamilanmu itu?” Tanya Bela sarkas. Leta merasa tersinggung dengan secara langsung Bela seperti menganggapnya wanita murahan yang bisa tidur dengan siapapun. Ia jelas sakit hati namun dengan berbagai cara ia mencoba untuk selalu tegar.


Leta baru saja akan membalas, sebelum Adnan datang membuat ia urung. Bahkan ia menatap Adnan dengan berbinar seakan Adnan adalah pahlawannya.


“Aku pulang” dengan kedua menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Menghiraukan tatapan Bela dan Adam yang penasaran.


“Adnan bagaimana keadaan Wendy—ia baik-baik ajaa kan? Terus cucuku bagaimana?” Bela bertanya kepada Adnan, yang membuat Adnan sendiri bingung dan pusing untuk menjawabnya.


“Tidak”


“A-pa maksudmu Adnan!!” Teriak Bela


“Aku tidak menemukan Wendy, Kakak angkatnya bilang Wendy menghilang dan pergi begitu saja setelah kehilangan bayinya” sendu Adnan


Bela sontak kaget kemudian ia meraung keras setelah mendengar penjelasan Adnan. Ia bahkan terkujur lemas dilantai dan terus memanggil nama Wendy dan bayinya. Bahkan sesekali meminta maaf kepada keduanya, Adnan yang melihat sang ibu seperti ini ia merasa sangat kalut. Berbeda dengan sang ayah Adam yang hanya bisa menghela nafas panjang.

__ADS_1


“Adnan...” lirih Adam tanpa menoleh pun kepada Adnan


“Iya ayah”


“Majukan pernikahan kalian, jangan sampai kehamilan kekasihmu itu terdengar oleh orang lain yang nantinya akan menjadi senjata musuh untuk menghancurkan kita. Aku tak mau harus menanggung malu semua ini” ucap Adam dengan dingin, namun dibalas dengan tatapan tak percaya oleh Adnan


Bela sendiri tak peduli ia masih terus meraung dan menyebut nama Wendy dan bayi, berbeda dengan Leta yang menatap seperti ini adalah kemenangannya.


Namun balasan Adnan membuat Bela berhenti menangis dan meraung.


“Maafkan aku—-aku tidak bisa” ucap Adnan sembari menundukkan kepalanya





Itu sangat lucu dan pasti sangat menyenangkan bagi Adnan.


Namun semua kembali kedalam realita. Adnan seakan kehilangan separuh nyawanya, kala Zara mengatakan ‘Ia sudah kehilangan bayinya.’ Seolah kalimat itu menjadi lonceng kematian baginya.


Adnan sadar jika semua ini karna kebodohannya. Akibatnya ia harus kehilangan anak yang bahkan sama sekali ia tak tahu keberadaannya. Adnan sendiri sanga menyesal ia ingin sekali mencari dan menemukan Wendy kemudian meminta ampunan dan maaf kepadanya. Karna ia sungguh menyesal.


Namun ia terlampau sadar jika permintaan maaf tak cukup untuk seseorang yang sudah ia sakiti. Bahkan ia sudah tak yakin jika Wendy akan memaafkannya dengan mudah. Jika Wendy akan memaafkannya hanya ada dua kemungkinan;

__ADS_1


Wendy memang memiliki hati yang baik seperti malaikat atau Wendy memang menaruh perasaan terhadapnya. Yah hanya itu.


Dan ada opsi yang terakhir ia harus menguburnya dalam-dalam dalam opsi ini. Wendy jelas tak menaruh perasaan terhadapnya—tapi entah mengapa hal itu membuat dadanya sakit.





Buyar dalam lamunannya, ketika Leta menyeretnya paksa menuju halaman belakang. Ia tampak tak peduli jika sang kekasih sekarang ini sangat emosional terhadapnya. Kini perasaan Adnan sedang berkecamuk ia tak memperdulikan hal-hal di sekitarnya termasuk kekasihnya ini.


Ia terus membayangkan anaknya jika masih hidup, sepasang kaki mungil menghampirinya dengan langkah yang tergopoh semakin menyesak di dadanya ia hampir saja menjadi seorang ayah. Walaupun dari pasangan yang ia tak harapkan, namun itu tetap membuat ia bahagia. Adnan sangat menyukai anak kecil;


“Yakk Adnan Pratama!!” Adnan seketika terperanjat kaget, kala Leta menbentaknya; mengerutkan kening menatap Leta dengan tatapan tidak suka. Sebab ini kali pertama ia mendapati sikap Leta seperti ini.


“Haah? Ada apa?” Tanyanya datar bahkan terkesan tak ada minat sama sekali; jujur itu membuat Leta kaget


“Adnan, apakah kamu sadar apa yang kamu ucapkan tadi hah!” Ucap Leta menggeram marah—terlihat jelas jika kekasihnya ini sudah tersalut emosi. Tetapi, Adnan sendiri malah terlihat nampak sangat tenang.


Adnan sendiri terlihat tak paham jelas kenapa Leta sangat marah seperti ini. Namun beberapa detik kemudian ia jelas paham apa yang dimaksud Leta, ia terkekeh pelan ketika mengetahuinya.


Seketika Leta merinding kala melihat Adnan menatapnya dengan tatapan yang berbeda—seperti orang asing yang berbahaya.


“Oh jika kau maksud adalah perihal tentang penolakanku menikahmu, maka akan aku katakan jika itu benar. Aku tak bisa menikahi mu sekarang karena ada beberapa hal yang tak pernah kulakukan salah satunya aku tak merasa jika aku pernah tidur denganmu. Jika pun kamu hamil—itu harus dipertanyakan...”

__ADS_1


“—-anak siapa yang kamu kandung atau jadi selama ini kamu bermain dibelakangku hah! Dengan siapa??”


__ADS_2